
Aiken melihat luar jendela yang sekarang ini tengah hujan lebat. Tidak tahu kapan rintik-rintik hujan itu mulai turun, Aiken bahkan baru sadar jika dia ternyata tertidur di dalam kelas. Dan sekarang ini kelasnya sudah kosong, tanpa ada satupun murid selain dirinya.
"Ini, sudah jam pulang sekolah ya," ucap Aiken lalu dia beranjak dari tempat duduknya sembari menggendong tasnya dan pergi keluar kelas.
Di emperan sekolah, ternyata Alice dan Ayumi masih berada di sana, menunggu hujan reda. "Kalian, belum pulang ya," ucap Aiken pada mereka.
"Kau sudah bangun, ya. Aku tidak tega tadi mau bangunin. Karena aku lihat tadi kau terlihat tidur pules banget," ucap Ayumi.
"Ya," sahut Aiken singkat.
Aiken mengaktifkan manset telinganya, mencoba untuk melacak jejak dari makhluk gaib itu. Dari tempat dia berdiri saat ini, Aiken melihat jejak makhluk gaib yang kali jejak itu berwarna merah kehitaman pekat. Apakah itu mungkin makhluk gaib kelas S?
Hujan yang masih lebat, Aiken langsung berlari menerobos rintikan hujan yang mulai membasahi seragamnya.
"Aiken, tunggu!" Alice juga berlari mengikuti Aiken begitu juga dengan Ayumi. Sebenarnya Ayumi dan Alice sama-sama membawa payung, tapi karena mereka memang sengaja menunggu Aiken keluar, jadi mereka sengaja menunggu di emperan sekolah.
Jejak dari makhluk gaib itu membawa Aiken ke pusat kota dekat dengan taman Hamazaki. Dan benar saja, terdapat satu makhluk gaib. Tapi ukuran dari makhluk gaib itu sangatlah besar dari makhluk-makhluk lain yang pernah Aiken temui.
Dan makhluk gaib itu memilki dua tanduk di kepalanya, tubuhnya yang sama seperti seekor harimau tapi dengan ukuran yang lebih besar lagi. Makhluk gaib itu menghancurkan sekitar area taman dan jalan raya.
"Dia. Apakah itu makhluk yang dimaksud Alice?"
Makhluk itu menyadari Aiken yang berdiri cukup jauh di belakang makhluk itu. Menoleh ke arah Aiken, makhluk itu berjalan perlahan mendekati Aiken dengan kedua tanduknya yang mengeluarkan cahaya berbentuk bulat mengelilingi kedua tanduk itu.
"Apa itu kekuatannya? Sial!"
Saat sebuah kekuatan besar berbentuk lingkaran bercahaya berwarna merah kehitaman datang tepat pada arah Aiken berdiri saat ini, Alice datang tepat waktu dengan dia sudah berubah menjadi seorang iblis setengah manusia. Alice menahan kekuatan itu dengan kekuatannya.
"Aiken, berikan aku energimu!"
Aiken menghela nafas. "Cih, kau benar-benar iblis yang merepotkan," lalu Aiken memegang tangan Alice dan menariknya mendekatinya dan Aiken memeluk Alice. Wajah Alice memerah saat itu.
Alice menutup matanya, mencoba untuk menyerap energi yang Aiken miliki. Energi telah terserap, Alice menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Iris matanya sekarang menjadi warna merah terang menyala. Pedangnya menjadi bersinar dan begitu juga dengan kekuatannya sekarang.
"Baiklah. Serahkan makhluk itu padaku," ucap Alice.
"Tunggu! Dasar bodoh!" seru Aiken dan membuat Alice berhenti saat dia akan menyerang makhluk itu.
"Kenapa?"
"Kau hanya akan membuat energimu cepat habis jika kau menyerangnya tanpa tahu dimana letak kelemahannya."
"Makhluk itu tak akan terluka jika kau tidak menyerang tepat pada titik lemahnya."
Aiken mencoba untuk menganalis seluruh tubuh makhluk itu. "Alice, kau alihkan perhatiannya! Aku akan mencoba untuk mencari titik lemahnya.
Tapi kau jangan menyerangnya dengan kekuatanmu. Alihkan saja perhatiannya," ucap Aiken.
"Baik!" Alice pun berlari mendekati makhluk itu dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya yang ingin menghancurkan kota.
"Tubuhnya begitu keras. Dan kalau matanya... ada sebuah perisai yang melindungi matanya. Sepertinya aku tahu dimana letak kelemahan makhluk itu," ucap Aiken.
Saat Alice lengah, makhluk itu berhasil menyerangnya dan membuatnya terjatuh menimpa sebuah tiang yang berada di pinggir jalan.
"Aiken, apa kau masih belum menemukan kelemahannya?" teriak Alice.
"Serang bagian tanduknya! Aku juga akan membantu," ucap Aiken.
Alice beranjak berdiri, dengan pedangnya dia menyerang bagian tanduk makhluk itu. Dan lagi-lagi dengan serangan makhluk itu, Alice terhempas menjauh dari makhluk itu.
"Aku akan membantu! Kau serang tanduknya, aku yang akan mengalihkan perhatiannya!" ucap Aiken lalu dia berlari mendekati makhluk itu sembari dia terus menembakinya, juga memasukkan amunisi peluru saat peluru dalam pistolnya habis.
"Aku akan membantu!" teriakan seseorang terdengar, orang itu adalah Ayumi yang sudah siap dengan pedangnya yang begitu besar.
Alice dan Ayumi bersama-sama menyerang bagian tanduk makhluk itu, sementara Aiken terus menembaki makhluk itu agar makhluk itu tak bisa melindungi kedua tanduknya.
Tanduk dari makhluk gaib itu pun telah berhasil dihancurkan. Saat itu juga Aiken dengan cepat menembak makhluk itu sampai membuat makhluk itu hancur. Saat darah mulai keluar, Ayumi dengan perisainya melindunginya, Alice dan juga Aiken agar darah itu tak mengenai mereka.
Dan inti dari kekuatan makhluk gaib itu pun telah masuk dalam manset telinga Aiken. Lalu Aiken menonaktifkan manset telinganya.
"Sudah selesai, ya. Ap... " Aiken belum selesai berbicara dan tiba-tiba saja seseorang tidak dikenal memakai topeng datang dari atas dan orang itu akan mengambil manset telinga Aiken.
Tapi Aiken tahu, dia langsung menghindari orang yang akan mengambil manset telinganya. "Cih, hampir saja!"
"Aiken, apa kau baik-baik saja?" tanya Ayumi.
"Ya."
Orang itu adalah pria misterius yang selalu memakai topeng saat bertemu dengan Aiken. Tapi mungkin saja saat ini Aiken sudah melupakannya.
"Halo lagi, anak buah Reco," ucapnya dengan nada meledek.
"Reco?"
Saat itu Aiken tak sengaja menatap ke arah atas, dia baru sadar jika ada kamera drone yang mengawasinya sedari tadi. Karena mendongak terlalu lama, pria misterius itu dengan cepat berlari mendekati Aiken dan dengan kakinya, pria misterius itu menendang perut Aiken dengan kerasnya sampai membuat Aiken terhempas cukup jauh.
Alice yang melihat itu tidak terima dengan perlakuan pria misterius itu. "Hei, dasar bedebah! Apa yang kau lakukan pada Aiken!" Alice dengan tatapan marah berlari dan dengan pedangnya dia menyerang pria misterius itu.
Tapi serangan Alice sama sekali tidak melukai pria itu. Bahkan pria itu hanya berdiri diam saja saat diserang Alice, seperti ada sebuah tameng perisai transparan yang melindunginya. Pria itu dengan santainya menonjok perut Alice dan dia juga menendang Alice sampai membuatnya terjatuh.
"Anak buah Reco. Apa kau hanya pura-pura lupa atau kau memang ingin membodohiku?" pria itu mendekati Aiken yang masih terbaring di tanah, pria itu sekilas memandangi manset telinga Aiken.
Pria itu berjalan mundur menjauhi Aiken. "Aku akan pergi, aku akan menemuimu lagi," pria itu langsung menghilang dengan tiba-tiba.
Masih terbaring di atas tanah,kepala Aiken sedikit mendongak ke atas, melihat kamera drone itu. Aiken mengambil pistolnya, sembari dia beranjak berdiri, dia menembak kamera drone itu sampai hancur lebur.