Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 6



Lalu Alyssa mengambil beberapa dokumen dari atas mejanya dan berjalan pergi. "Tidak bisa. Untuk saat ini kapten tak bisa ditemui," ucap Alyssa lalu dia berjalan pergi.


"Cih. Ada apa dengannya. Aku kan hanya ingin tahu tentang pemimpin agen ini, tapi dia seperti ingin merahasiakannya dariku," ucap Aiken sembari beranjak berdiri dan pergi meninggalkan markas.


Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja seorang pria misterius datang menghampiri Aiken. Dan Aiken masih dengan sikap tenang dan santainya saat pria itu menatap serius Aiken.


"Kau, siapa?" tanya Aiken dengan wajah tenangnya.


"Kau tak perlu tahu siapa aku. Aku menemuimu hanya ingin tahu siapa wajah sebenarnya dari seorang pembunuh bayaran terhebat di Tokyo," ucap pria itu tersenyum misterius.


"Kau sudah melihatnya kan?" ucap Aiken lalu dia berjalan pergi meninggalkan pria itu.


Tapi saat Aiken berjalan dengan tenangnya, tiba-tiba saja pria itu melemparkan sebuah pisau tajam ke arah Aiken. Tapi Aiken tahu itu, dengan tenang dan santai Aiken menghindari serangan pisau itu dan juga menangkap pisau itu dengan tangannya.


Pria itu tersenyum puas. "Hebat, kau benar-benar hebat. Aku pasti akan bertemu denganmu lagi," ucapnya lalu berjalan pergi dengan melambaikan tangannya pada Aiken.


"Apa urusannya denganku? Dan kenapa dia sampai tahu identitasku?" ucap Aiken sembari memandang pisau tajam itu.


Tapi saat Aiken lebih teliti memandangi pisau itu. Sebuah tulisan latin yang bertuliskan 'Hollow Lier' berada pada gagang pisau itu. Aiken mencoba untuk memahami arti dari tulisan itu. Tapi sepertinya otaknya belum sampai pada tulisan latin itu. Walau ada tulisan Hollow di sana, tapi Aiken masih bingung dan tidak mengerti dengan artinya.


"Sebenarnya siapa pria tadi, ya?" pikir Aiken sembari berjalan pergi.


Setibanya di apartemen, Aiken langsung duduk di sofa empuknya. Entah kenapa perasaannya hari ini benar-benar kacau. Biasanya Aiken akan tetap merasa tenang dan santai saat di situasi apapun. Tapi hari ini dia merasakan hal aneh dari saat dia bertemu dengan Ayumi dan bertemu dengan pria aneh tadi.


"Kenapa rasanya aku akan terlibat dengan hal yang tidak ingin aku ikuti? Kenapa rasanya hari ini aku tidak bisa merasa tenang?" gerutu Aiken sembari melihat ponselnya. Melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan jam 14.00 siang.


Aiken memejamkan matanya. Mencoba untuk melupakan rasa ketidaktenangannya hari ini. Dan tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya berwarna hijau tua dari penglihatan Aiken. Karena terkejut Aiken langsung membuka kembali matanya.


"Apa itu, tadi. Apa yang aku lihat tadi?" pikir Aiken sembari mengusap-usap matanya.


Markas Agen Reco ...


Di markas agen Reco, sebuah ruangan khusus yang berisi barang-barang elit, seseorang duduk menghadap belakang di sebuah kursi dengan sebuah tulisan di atas meja bertuliskan 'Pemimpin Agen Reco'. Itu artinya ruangan itu adalah ruangan tempat di mana pemimpin agen Reco berada saat ini. Alyssa berjalan memasuki ruangan itu setelah dia mengetok pintu. Saat Alyssa masuk ke dalam ruangan itu, aura yang membuat canggung dan dingin mulai terasa. Tentu saja, dari yang semua anggota Aden Reco ketahui, pemimpin mereka yang sebenarnya mempunyai sikap yang kejam dan tegas pada siapapun. Terlebih lagi jika sampai ada salah satu anggota yang tidak menaati peraturan, maka orang itu akan langsung berhadapan dengan pemimpin mereka.


"Permisi, kapten! Apa anda memanggil saya?" tanya Alyssa dengan nada tegas dan juga hormat.


"Alyssa, siapa yang menyuruhmu untuk melibatkannya dengan masalah makhluk gaib yang sekarang ini berada di Tokyo?


Apa kau ingin dikeluarkan dari agen Reco?" tanya orang yang masih duduk membelakangi Alyssa. Suara seorang pria muda tampak terdengar.


"Maaf, kapten. Tapi bukankah akan bagus jika dia membantu kita? Kemampuannya benar-benar hebat," ucap Alyssa.


Lalu tiba-tiba saja orang itu mengambil sebuah pistol dari atas mejanya dan tiba-tiba saja peluru datang tanpa aba-aba ke arah Alyssa. Beruntung peluru itu hanya melewati Alyssa dan tidak mengenai tubuh Alyssa. Tubuh Alyssa langsung gemetar, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Tentu saja, itu artinya pemimpin agen Reco itu merasa marah saat dia mulai menggunakan senjatanya.


"Maaf, kapten. Saya akan bicara dengannya lagi, sekali lagi maafkan saya," ucap Alyssa tertunduk hormat pada pemimpinnya itu yang masih duduk membelakangi Alyssa.


"Baik, kapten! Saya mohon permisi," Alyssa pun berjalan pergi keluar dari ruangan itu dengan tubuhnya yang masih gemetar ketakutan.


Bahkan bukan hanya Alyssa yang sudah merasakan hal itu. Itu juga terjadi pada semua anggota Agent Reco saat mereka akan berhadapan langsung dengan pemimpin mereka.


Sementara itu, Aiken tampak masih sibuk dengan komputernya di apartemennya dalam kamarnya. Dengan jajanan yang berserakan di lantai, wadah bekas minuman yang juga berserakan di lantai masih belum Aiken sadari. Rambutnya yang terlihat acak-acakan karena terlalu lama memandangi komputernya. Dan sekarang ini pun Aiken mulai merasa pusing saat dia masih belum menemukan petunjuk apapun tentang gerbang Hollow itu.


Sampai akhirnya terdengar suara bel pintu apartemennya berbunyi. Dengan rambut yang masih acak-acakan, Aiken beranjak dari tempat tidurnya dan pergi membuka pintu.


"Kau? Aku belum menemukan petunjuk apapun jika kau datang ke sini untuk membicarakan tentang Hollow itu," ucap Aiken sambil mengusap-usap rambutnya yang baru dia sadari terlihat acak-acakan.


"Bolehkan aku masuk?" tanya Alyssa.


"Silakan," ucap Aiken, dan Alyssa pun masuk ke dalam apartemen Aiken lalu duduk di sofa.


"Aku datang ke sini bukan untuk menanyakan hal itu. Aku datang ke sini karena...


Aku ingin membatalkan tentang perintahku kepadamu untuk membantuku mencari tahu tentang gerbang Hollow itu," ucap Alyssa.


"Apa bayaran yang sudah kau berikan juga akan kau ambil?" tanya Aiken.


"Tidak, aku tidak akan mengambilnya. Selama ini kau sudah bekerja keras," jawab Alyssa.


"Baguslah kalau gagal. Karena kepalaku hampir mau pecah karena masalah ini," ucap Aiken.


"Baiklah," lalu Alyssa mengeluarkan sebuah foto seorang pria yang umurnya sekitar 27 tahunan dan meletakkan foto itu di atas meja. "Sebagai gantinya kau akan membunuh dia," ucapnya sembari menunjuk arah foto itu.


"Siapa lagi ini?" tanya Aiken sembari mengambil foto itu dan memandanginya.


"Hamaguchi Kazoari. Dia adalah pimpinan di sebuah perusahaan ternama Einko, Tokyo," jawab Alyssa.


"Heh... kenapa kalian ingin aku membunuhnya? Memangnya apa masalahnya dengan kalian agen Reco?" tanya Aiken.


"Hamaguchi saat ini bekerja sama dengan pimpinan ******* di Tokyo ini. Masih belum tahu siapa dan dimana ******* itu berada. Tapi ******* itu saat ini mengincar tempat pariwisata yang baru ini akan dibuka.


Hamaguchi pasti sudah diperalat oleh ******* itu. Jika kita membunuhnya, maka bos dari ******* itu akan kehilangan pion pentingnya," ucap Alyssa.


"Itu jawaban yang membosankan. Baiklah, sekarang di mana dia?"


"Saat ini dia berada di Okagari, tempat pariwisata yang saat ini baru buka. Hamaguchi datang ke sana bertujuan untuk menyabotase acara pembukaan tempat pariwisata itu!"


"Baiklah. Kira-kira apa yang akan Hamaguchi lakukan untuk menghentikan pembukaan tempat pariwisata itu, ya?" pikir Aiken.