Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 43



Matanya yang merah darah masih menatap kosong mata Aiken. Hembusan angin menerpa cukup kasar, mengibas-ibaskan beberapa helai rambut acak-acakan itu. Aiken masih berdiri dalam diam menunggu sang gadis angkat bicara. Namun hening, tak ada satu katapun keluar dari mulut sang gadis.


Aiken mengerutkan kening, kepalanya memiring. Dia berdecak kesal, lantas berbalik badan dan melangkah pergi.


"Tunggu!" Sang gadis akhirnya angkat bicara. Kevin berhenti, membalikkan tubuh dan kembali memandang gadis itu di bawah lampu jalan temaram.


"Akhirnya kau mau bicara. Apa maumu? Aku tak punya waktu untuk menunggumu terus diam saja begini," kata Aiken sembari mengangkat kedua bahu.


"Tolong aku ... aku membutuhkan bantuanmu." Sang gadis perlahan melangkahkan kakinya mendekati Aiken. Kedua tangannya terulur, seakan meminta bantuan pemuda di depannya.


Matanya masih kosong, tangannya terulur, seperti zombie yang ingin menerkam. Aiken mengerutkan kening, entah kenapa kakinya melangkah mundur, menjauhi sang gadis.


"Bantuan apa yang kau butuhkan dariku? Ada apa denganmu? Dan siapa pula kau?" tanya Kevin, kakinya terus melangkah mundur saat dirinya dengan sang gadis hanya berjarak satu meter.


Sang gadis berhenti tepat di bawah lampu jalan lain. Cahaya temaram itu menyinari rambut ungunya yang nampak lurus, serta bola matanya yang merah darah. Aiken berhenti, kembali memandang gadis itu dalam diam.


Tubuhnya mulai bergerak-gerak aneh, suara tulang-tulang yang digerakkan ya terdengar melengking di telinga. Seperti tulang patah, Aiken bergidik ngeri. Rambut ungu itu perlahan mulai meluntur, bercampur cairan merah kental yang juga turun dari atas kepala, menetesi wajah dan tubuhnya.


Mata Aiken terbelelak, dia kembali melangkah mundur perlahan-lahan menjauhi sang gadis. Dia masih mengulurkan kedua tangannya, seakan meminta bantuan pada Aiken. Hendak kembali melangkahkan kakinya, namun tubuhnya mulai bergemeretak, dan tepat di hadapan Aiken. Tubuh sang gadis meledak, membentuk cairan merah kental berbau anyir.


Sekali lagi Aiken dibuat terbelalak. Tak mengerti dengan apa yang matanya tangkap saat ini. Kepalanya menggeleng kasar, sesekali tangan kanannya yang sedikit gemetar mengusap pelipisnya.


"Apa yang baru saja terjadi?" Aiken melangkahkan kakinya mendekati cairan merah kental. Bau anyir langsung memekakkan hidungnya saat Aiken mendekati tubuh sang gadis yang berubah menjadi cairan merah kental.


Aiken berjongkok, tangan kanannya terulur, hendak menyentuh cairan merah kental di hadapannya. Namun tiba-tiba saja tangannya terasa mati rasa, tak bisa ia rasakan gerakan yang dibuatnya.


"Ada apa ini?"


Aiken mengayun-ayunkan kasar tangannya, namun tetap tak bisa ia rasakan. Retakan muncul di punggung tangannya, Aiken terbelalak tak percaya. Dia beberapa kali mengerjapkan kedua mata, berharap jika apa yang dilihatnya tak pernah terjadi.


Namun hal itu tak bisa ia tepis saat tiba-tiba saja retakan di punggung tangannya perlahan-lahan meluntur menjadi cairan merah kental yang nampak sekali berbau anyir.


"Kenapa ini? Ada apa denganku!" Aiken tetap mengayunkan tangannya dengan kasar, berusaha menjauhkan cairan merah kental itu darinya.


Namun saat wajahnya pun terasa mati rasa, tangan kirinya yang masih utuh meraba wajahnya. Tak terasa apapun, tangannya merasa menyentuh sesuatu yang rapuh. Matanya berusaha melirik wajah, tangannya kembali meraba pipi kanannya itu.


Dan terjadi hal yang sama. Wajahnya pun meluntur, menjadi cairan merah kental yang berbau anyir menyeruak hidung. Kepalanya menggeleng kasar, namun wajahnya yang meluntur tak bisa ia hentikan.


"Tidak!" Aiken berteriak sekencang mungkin. Tubuhnya perlahan ikut meluntur, menjadikannya sebagai cairan merah darah kental.


* * *


"Hah .... hah!" Aiken tersentak bangun.


Keringat dingin menetesi dahi dan lehernya. Tangannya kembali meraba-raba wajah, dan tubuhnya yang lain. Tak ada apa-apa, Aiken beranjak berdiri. Lantas memandang dirinya di depan cermin. Beberapa kali tangannya meraba-raba anggota tubuh, namun tak ada retakan ataupun dagingnya yang meluntur menjadi darah.


"Hanya mimpi?" Aiken menghela nafas lega, mengusap-usap dadanya.


Aiken cukup terkejut ketika dirinya mendapatkan mimpi aneh sekaligus mencekam baginya. Tak bisa dipungkiri jika mimpi itu sungguh membuatnya terkena mental. Ketika dia memandangi wajahnya depan cermin, mimpi itu kembali muncul dalam pikirannya.


Aiken langsung mengguyur wajahnya dengan air di wastafel, mencoba untuk melupakan mimpi buruknya. Sesekali tangannya menepuk pelan kedua pipi, menggelengkan dengan kasar kepalanya.


"Kenapa mimpi itu datang padaku? Aku benar-benar bingung. Sungguh mimpi aneh," gumam Aiken.


Ponselnya bergetar, Aiken tersentak. Tangannya meraih benda pipih itu, lantas memandang sebuah pesan dari Alex.


"Ada tugas? Tidak, aku justru harus datang ke markas Reco."


Aiken menghela nafas pelan, lantas beranjak berdiri. Menyambar jaketnya dan melangkah pergi keluar kamar.


Terik matahari mulai terasa panas saat Aiken berdiri di luar ruangan. Tangan kanannya menutupi wajah yang terasa panas.


Alex dan Alesya nampak sibuk pada layar komputernya. Sesekali Alex menyesap segelas kopi yang sudah tak mengepulkan asap tipis di atas meja. Sesekali Alesya meregangkan lehernya yang terasa nyeri, juga jari-jari tangannya yang terasa berdenyut.


"Alex, kenapa kau memanggilku?" tanya Aiken. Dia duduk di belakang Alex, merebahkan tubuhnya bersender pada kursi.


"Ada kasus aneh," ucap Alex sembari menoleh pada Aiken.


"Kasus aneh? Kasus apa itu?" tanya Aiken, wajahnya terlihat santai.


"Akhir-akhir ini banyak orang-orang yang saat pulang dari kerja di malam hari. Tiba-tiba saja sesuatu terjadi, tubuh mereka tiba-tiba saja meledak dan menjadi darah." Alex nampak antusias, namun raut wajahnya sedikit takut.


"Hah!" Aiken terbelelak, tangannya memegang erat pegangan kursi.


"Kenapa? Kau kayak ketakutan gitu?" Alex mengerutkan kening.


"Ini sama seperti dimimpiku!"


"Mimpi? Jadi maksudmu mimpimu jadi kenyataan gitu?" tanya Alex, nadanya setengah meledek.


"Aku dengar nada meledekmu itu. Aku beneran mimpi gitu semalam! Sampai sekarang aja aku masih takut kalau liat wajahku di depan cermin." Aiken bergidik ngeri, tangannya nampak tergenggam erat.


"Kok bisa? Ini pasti bukanlah kebetulan." Alex mengelus dagu, matanya nampak bergerak-gerak aneh.


"Jadi, aku harus gimana? Aku nggak mau ya kalau disuruh nyari tahu. Sungguh aku beneran takut."


"Heh ... kau bisa takut juga ya. Pintar membunuh, dan tidak segan untuk melukai siapapun. Tapi dapet mimpi gitu aja langsung menciut tuh nyali." Alex menatap jahil Aiken.


"Kau nggak tahu aja apa yang aku alami dalam mimpi. Beneran kayak nyata!"


"Jadi, urusan ini gimana? Masa mau kita biarin?"


"Hei kawan. Apakah kedua matamu sudah tidak sehat? Di mana anggota Reco yang lain? Kenapa harus aku? Tugasku itu membunuh, bukan menjadi detektif," kata Aiken panjang lebar. Alex terkekeh.