Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 20



Pelacakan yang dilakukan oleh agen Reco tidak membuahkan hasil. Bahkan mereka sampai melacak menggunakan alat khusus untuk bisa melacak aura supranatural itu, tapi mereka atau bahkan alat itu tetap tak bisa melacak aura supranatural itu sampai sekarang. Aura itu hanya terasa saja, tapi tak bisa terlacak.


"Sepertinya ini hanya percuma saja, Alex. Mereka tak bisa menemukan apapun," ucap Aiken yang duduk di samping Alex, menunggu kabar dari agen Reco, tapi ternyata mereka tak mendapatkan laporan yang bisa berguna untuk mereka.


"Yah... ternyata ini cukup sulit untuk kita," sahut Alex.


"Aku akan coba pergi ke jalan area Kahabara. Mungkin aku akan menemukan petunjuk di sana."


"Apa kau yakin akan pergi ke sana? Karena jarak Kahabara dari sini cukup jauh lho."


"Tenang saja. Aku akan tetap pergi," ucap Aiken yakin.


"Alice roh iblis. Mungkin dia bisa membantuku," batin Aiken.


Sebelum pergi Aiken menghubungi Alice, dan Alice pun datang tepat pada waktunya untuk mereka berdua pergi ke jalan area Kahabara. Di sana tak terasa apapun, tapi Alice bisa merasakannya. Tapi sama seperti agen Reco, dia juga tak bisa melacak apa yang saat ini dia rasakan.


Alice sampai menggunakan kekuatan iblisnya untuk bisa melacak aura iblis yang sangat kuat di sana. Tapi Alice tak menemukan apapun. Dia roh iblis, dan sekarang ini dia merasakan terdapat aura iblis yang sangat kuat.


"Ada aura kekuatan iblis yang sangat kuat di sini," ucap Alice.


"Sudah kuduga, ini pasti iblis. Tapi apakah ini iblis kelas SR?" pikir Aiken.


"Apa kau tak bisa menemukan dimana lokasi aura iblis ini, Alice?" tanya Aiken.


"Maaf, aku tak bisa menemukannya. Aku bahkan sampai menggunakan kekuatanku, tapi tetap tak bisa."


"Pasti ini bukanlah iblis biasa. Dia bahkan bisa menyembunyikan dirinya," ucap Aiken.


"Kau benar. Dia tak bisa terlacak di sini, tapi auranya sangat terasa di sini. Dan ini sangat aneh menurutku," ucap Alice.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja pemuda misterius bertopeng itu datang lagi. Dan pemuda itu saat ini tengah berdiri di atas tiang listrik.


"Oi! Anak buah Reco!" teriak pemuda itu pada Aiken, dan Aiken pun menoleh ke arah suara itu berasal.


"Kau?"


"Apa kau terkejut karena aku masih hidup?" pemuda itu berbicara dengan nada menantang pada Aiken.


"Kenapa kau datang lagi? Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" tanya Aiken dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Karena kau cukup menarik untuk membuatku tertantang," jawab pemuda itu.


"Hah... apa itu benar! Coba kau buka topengmu! Aku ingin tahu, siapa kau sebenarnya!"


Pemuda itu menggerakkan tangannya dan mendekati topeng yang dia pakai. Aiken sudah sangat berharap jika pemuda itu akan membuka topengnya. Tapi saat pemuda itu hampir saja akan membuka topengnya, dia kembali menutup topengnya.


"Ini belum saatnya, Aiken," ucap pemuda itu dengan nada sedikit pelan.


"Kau berhenti? Aku tahu, kau pasti takut kan!"


"Bukan takut. Tapi... ini belum saatnya aku memberitahu wajah asliku," sahut pemuda itu.


"Cih."


"Ngomong-ngomong kenapa kau dan roh iblismu itu berada di sini?" tanya pemuda itu yang masih duduk santai di atas tiang listrik.


"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?"


"Yah... itu harus sih."


"Kau pasti tahu apa tujuanku datang ke sini," ucap Aiken.


"Jangan berpura-pura lagi! Ini pasti ulahmu!"


"Aku bahkan belum bergerak. Tapi kau sudah menyalahkanku saja."


"Aiken, sudahlah. Kenapa kau harus meladeninya. Lebih baik sekarang kita fokus untuk mencari aura iblis ini. Selama dia tak membuat keributan, lebih baik kita tinggalkan saja dia," ucap Alice.


"Kau benar juga. Ayo, kita pergi saja!"


Aiken dan Alice pergi dari area itu dan meninggalkan pemuda yang masih duduk santai di atas tiang listrik itu.


"Apa mereka benar-benar akan mencari tahu? Mereka tak akan menemukan apapun," ucap pemuda itu sambil sedikit membuka topengnya, terlihat saat ini dia tengah tersenyum menyeringai.


Aiken dan Alice sudah berputar di semua sudut tempat, sampai mereka memeriksa di area pelabuhan. Di tempat itu juga dekat dengan pelabuhan Karuma, tapi sampai di sana pun mereka tetap tak bisa menemukannya.


"Ini benar-benar aneh. Bagaimana bisa kita tidak menemukan aura itu? Apa kita melupakan sesuatu?" pikir Aiken.


"Tidak. Pasti ada sesuatu yang kita belum ketahui," sahut Alice yang tampak berpikir.


"Sudahlah. Aku menyerah, aku tak akan mendapat bayaran dengan bekerja sangat keras begini. Lebih baik aku pulang, apa kau mau ikut? Atau... "


"Aku akan di sini dulu. Kau bisa kembali," jawab Alice.


"Oke. Cari sampai kau akan merasa pusing ya! Aku akan mendoakaanmu!" teriak Aiken sambil berjalan pergi.


"Ini pasti ada yang aneh. Ini adalah tugas terakhirku untuk melindungi Aiken. Dan aku akan menyelesaikannya!" batin Alice.


Setibanya di apartemen, Aiken langsung membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Tatapan Aiken tertuju pada arah meja yang berada di depan ranjangnya, dia melihat laci mejanya sedikit terbuka. Terdapat sebuah kertas berwarna putih yang berada dalam laci meja itu, Aiken yang penasaran beranjak dari ranjangnya dan mendekati laci mejanya.


Dan ternyata bukan sebuah kertas yang berada dalam laci meja itu, melainkan sebuah foto. Terdapat foto seorang pria muda berumur sekitar 38 tahunan berambut coklat bermata biru di dalam foto itu. Aiken merasa tidak asing dengan foto itu.


"Aku hampir saja lupa dengannya. Tapi... ngomong-ngomong apa sekarang dia tinggal di Tokyo, ya? Aku ingin menemuinya," ucap Aiken sambil memandangi foto itu.


"Hah... aku sepertinya masih menyimpan nomornya. Aku akan mencoba menelfonnya nanti," ucapnya sambil dia meletakkan foto itu kembali dalam laci meja.


Di sebuah gedung mewah yang tersembunyi itu, pemuda misterius itu tampak tengah memandangi ruangan rahasia yang hanya dia yang bisa membuka pintu dari ruangan itu. Pemuda itu sedikit membuka topengnya, terlihat dia tersenyum jahat saat menatap pintu ruangan rahasia itu.


"Menarik. Sebentar lagi akan ada kejutan untuknya. Apa kali ini dia akan bisa mengalahkannya?"


"Tuan, apa anda ingin membuka pintu itu? Apa anda akan memulai rencana anda?" tanya Akihiko.


"Tunggu sebentar lagi, Akihiko. Sebentar lagi, dan aku akan memulainya."


"Tuan, sebenarnya saya masih sedikit bingung dengan rencana anda."


"Akihiko, rencanaku ini sudah aku siapkan jauh-jauh hari. Dan aku hanya perlu memulainya saat waktunya tiba," ucap pemuda itu.


Malam itu Alice datang ke apartemen Aiken. Dia tampak membawa sekantung plastik. Kantong plastik hitam itu dia berikan pada Aiken.


"Apa ini, Alice?"


"Makan malam untuk kita. Maaf, tadi karena aku berada di tempat tadi aku belum sempat memasak. Jadi aku pesen makanan aja," sahut Alice.


"Wah... kau sampai repot-repot gini. Tapi... terimakasih," ucap Aiken.


"Ya."


"Emm, apa mungkin nomornya bisa dilacak lokasinya oleh Alex, ya?" pikir Aiken di sela-sela dia menyantap makanannya.