Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 29



Setelah sekian lama, akhirnya Aiken akan masuk sekolah. Tak banyak berubah sekolahnya sekarang ini, mungkin sedikit berubah dengan murid-murid di sekolah yang setelah sekian lama baru melihat Aiken masuk sekolah. Beruntung Ayumi sudah mengizinkan pada guru jika Aiken sakit, jadi mungkin akan aman untuk Aiken saat ini jika tak ada murid yang memergoki apa yang selama ini Aiken lakukan sampai lama tidak masuk sekolah. Alvin, ia langsung merangkul Aiken ketika ia masuk ke dalam kelas. Terlihat sekali rasa kerinduan Alvin pada Aiken, walau Aiken dulunya yang sering menyuruh-nyuruh Alvin untuk melakukan apa yang dia inginkan, tapi jika Aiken tidak ada, maka Alvin juga akan merasa kesepian. Mereka sudah menjadi teman saat sejak mereka kelas sepuluh, dan sampai sekarang ini mereka duduk di kelas sebelas.


"Kawan, kau benar-benar jahat padaku. Kau bahkan tidak menghubungiku jika kau sakit. Apa kau sudah sembuh sekarang?" tanya Alvin, sebelumnya Aiken masih sedikit bingung, tapi Ayumi memberikan kode isyarat pada Aiken, membuatnya paham.


"Aku baik-baik saja sekarang. Alvin, apa kau rindu ku suruh-suruh?" tanya Aiken.


Mendengar ucapan Aiken, Alvin kembali merangkul temannya itu. "Akhirnya kau seperti dulu lagi. Berarti sekarang kau sudah sembuh."


"Memangnya aku kenapa sebelumnya?"


"Kau seperti orang linglung. Kau bahkan sudah berubah, tidak menyuruh-nyuruh ku lagi. Tapi sekarang kau sudah kembali lagi."


"Hah! Sebenarnya aku lupa ingatan apa bagaimana sih! Aku benar-benar heran dengan apa yang sebenarnya terjadi," batin Aiken.


"Hei, Alvin. Hari ini kita tidak usah ikut pelajaran," Aiken tersenyum nakal pada Alvin, itu artinya Aiken memang sudah kembali seperti dulu.


"Kau mulai lagi. Baru aja masuk, tapi udah mau buat ulah lagi. Beruntung kau hari ini tidak terlambat."


"Kau tahu, lebih baik sekarang kita cari apa yang perlu kita lakukan untuk dapat uang," ajak Aiken.


Ayumi langsung menarik kedua telinga Aiken juga Alvin, membuat mereka berdua akhirnya diam dan duduk santai setelah melihat kemarahan Ayumi.


"Kalian jangan coba-coba berbuat yang aneh-aneh! Sampai Bu Hana tahu, bisa gawat."


Saat jam pelajaran, lagi-lagi untuk yang ke sekian kalinya, Aiken terlihat tidak mendengarkan apa yang Bu Hana terangkan hari ini. Bahkan Aiken malah menidurkan kepalanya di atas buku paket yang memang sengaja dia tumpuk. Ayumi dan Alvin yang melihat tingkah biasa Aiken yang setelah sekian lama tidak dilakukannya, kali ini mereka hanya diam saja tanpa menegur apa yang Aiken lakukan. Tentu sekarang ini Ayumi juga Alvin merindukan masa-masa di mana Aiken kembali dengan sikap lamanya yang sebelumnya menghilang karena kejadian aneh yang terjadi.


Bu Hana pun akhirnya melihat kelakuan Aiken. Dengan raut wajah kesal, Bu Hana berjalan mendekati bangku Aiken. Terlihat begitu pulas Aiken tertidur di atas tumpukan buku paketnya. Bu Hana memukul punggung Aiken dengan kayu yang ia pegang, sontak langsung membuat Aiken tersentak kaget.


"Enak tidurnya? Kamu ini baru masuk sekolah, tapi sudah buat ulah saja. Keluar!" bentak Bu Hana. Aiken masih dengan santainya pergi keluar kelas, berjalan dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.


Berdiri menyender tembok, tampak begitu malas Aiken berdiri di sana sampai menunggu jam istirahat tiba. Mulai bosan, akhirnya Aiken memutuskan untuk pergi ke atap sekolah. Tapi, ketika ia akan menaiki tangga, ia tak sengaja menabrak seorang gadis berambut pirang bermata hijau yang tengah membawa beberapa buku. Gadis itu terlihat dengan tatapan dinginnya pada Aiken, ia bahkan tak sedikitpun mengeluarkan senyuman pada Aiken.


"Maaf. Aku tidak sengaja menabrakmu," ucap Aiken, gadis itu diam saja dan langsung pergi tanpa menanggapi permintaan maaf Aiken.


"Gadis aneh," ucap Aiken, lalu ia pun gagal pergi ke atap sekolah karena bel istirahat sudah berbunyi.


"Alvin, kau punya uang?" tanya Aiken. Saat ini Aiken dan Alvin tengah duduk santai di kantin sembari menikmati makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.


"Kenapa kau bertanya? Aku curiga."


"Begini. Aku kan baru masuk sekolah nih setelah cukup lama. Jadi, hari ini traktir aku lah, jarang kan kau traktir aku?"


Alvin hanya dapat menghela nafas panjang, pada akhirnya Alvin tetap mau menraktir Aiken.


"Ngomong-ngomong, apa ada murid baru di sekolah ini?" tanya Aiken. Setelah makan mereka masih duduk di kantin, berbincang-bincang sebentar.


"Murid baru? Emmm, ada sih. Tapi... "


"Tapi kenapa? Apa murid baru itu perempuan? Berambut pirang panjang bermata hijau?"


"Apa kau sudah bertemu dengannya?"


"Aku tidak sengaja menabraknya tadi. Dia benar-benar aneh."


"Kalau satu kelas. Kenapa dia tadi nggak ngikut pelajaran?" tanya Aiken.


"Dari dulu dia kan memang begitu."


"Dan kenapa guru tidak ada yang mau menghukumnya? Aku aja yang tidur di kelas langsung disuruh keluar. Lah dia! Ini tidak adil!" gerutu Aiken.


"Karena dia berasal dari keluarga kaya raya. Dan bahkan orangtuanya sudah melunasi semua biaya sampai nanti Lucia kelas duabelas. Jadi, guru tak ada yang berani menghukum atau memarahi Lucia. Keluarganya adalah salah satu anggota CEO terkenal di Tokyo. Apalagi Lucia gadis yang sangat pintar, walau tidak mengikuti pelajaran, dia tetap selalu mendapat nilai tertinggi," ucap Alvin.


"Hah! Gitu aja mereka nggak berani. Kalau aku yang jadi guru, udah aku tendang keluar tuh dia!"


"Yah, kau dengan guru berbeda. Kau malah bisa dikatakan lebih aneh dari gadis itu. Kadang sikapmu itu akan berubah tergantung dengan mood mu," ucap Alvin.


Saat jam masuk pelajaran, Lucia masih berada di kelas, Aiken juga Alvin melihat arah Lucia dengan tatapan aneh. Dan bahkan tatapan itu hanya bukan dari Aiken dan Alvin, tapi juga dari murid yang lainnya. Tentu, karena biasanya Lucia akan langsung pergi keluar kelas saat jam pelajaran. Dan hari ini untuk yang pertama kalinya dia mau mengikuti pelajaran.


"Alvin, dia pasti punya banyak uang," ucap Alvin.


"Sebenarnya daritadi yang kau lihat dari dia tuh apa? Cuma uangnya doang?" tanya Alvin.


"Iya lah! Nggak peduli aku sama yang lainnya selain itu," sahut Aiken. Alvin hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan biasa Aiken itu.


"Coba bayangin, jika aku pacaran dengannya. Pasti aku juga akan kebagian uangnya kan? Sayangnya aku tak ingin berpacaran dengannya, walau ada uang," batin Aiken.


"Aiken, hari ini kau akan ke mana?" tanya Ayumi.


"Aku ada pekerjaan hari ini. Memangnya ada apa?"


"Bukan apa-apa."


"Rasanya aku sudah kehilangan banyak uang selama aku sakit. Hah, aku harus memulainya dari awal lagi," batin Aiken.


"Aiken!" panggilan dari Bu Hana sontak langsung membuat lamunan Aiken tersadar.


"Iya, Bu. Ada apa?"


"Kamu maju. Coba jawab yang ada di papan tulis," pinta Bu Hana.


Tanpa ragu Aiken beranjak berdiri dan maju. Tanpa ragu ia juga langsung menjawab yang berada di papan tulis.


"Gimana Bu?" tanya Aiken.


Bu Hana memukul kepala Aiken. "Ini masih salah!"


"Lucia, kamu maju. Jawab ini," pinta Bu Hana, dan Lucia pun maju dan menjawab yang ada di papan tulis.


"Dia pasti juga akan salah," batin Aiken.


"Kamu seperti biasa, Lucia. Selalu benar menjawab," Bu Hana tersenyum pada Lucia.


"Lah!" Aiken tampak kesal dengan Lucia, lalu ia langsung kembali ke tempat duduknya.