
Pagi harinya, sudah pukul tujuh pagi, tapi Aiken masih tidur santai masih berada di alam mimpi, dengan memeluk guling dan merasakan kehangatan dari selimutnya yang tebal. Jam alarm nya bahkan sudah berbunyi dari saat pukul enam pagi, dan sudah satu jam jam alarm itu berbunyi. Hembusan angin yang datang membuka gorden jendela kamarnya, membuat sinar matahari masuk lewat pintu jendela. Dan akhirnya membuat Aiken terbangun, dengan kesadarannya yang masih belum sempurna, ia mematikan alarm yang masih berbunyi. Aiken langsung melebarkan matanya saat ia sudah terlambat pergi ke sekolah.
Ia segera bergegas beranjak dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan pergi mandi. Ia sampai memakai seragam terbalik karena terburu-buru, beruntung ia sadar dan langsung memperbaikinya. Berlari cepat Aiken menuju helte bus. Karena ia sudah tertinggal bus yang seharusnya datang sudah saat pukul setengah tujuh, ia harus menunggu bus selanjutnya yang akan datang sekitar pukul setengah delapan pagi, atau mungkin pukul delapan tepat. Tapi sepertinya waktunya sudah semakin siang, dan tentu ia akan mendapat masalah dari Bu Hana jika ia lebih memilih menunggu bus datang.
"Sial. Aku akan terlambat jika begini!"
Aiken melihat sekeliling, tak ada taxi yang lewat. Akhirnya Aiken memilih untuk berlari menuju sekolahnya. Ia mengambil jalan pintas, melewati jalan gang kecil yang selalu sepi, menyebrangi sungai tempat pembuangan sampah, dan ia harus melompati pagar yang terbuat dari besi, satu besi menyangkut di punggungnya. Sambil terus berlari, ia mengambil dan membuang besi itu.
Sampai pada akhirnya ia tiba di depan pintu gerbang yang tentu saja sudah tutup rapat, dikunci dengan gembok. Pak satpam sudah duduk santai sembari menikmati kopi hangat di pagi hari.
"Pak, buka gerbangnya!" seru Aiken.
Pak satpam itu menghela nafas panjang. "Tidak bisa! Bukankah sudah beberapa kali bapak mengatakan jika pintu gerbang tak akan dibuka sebelum jam istirahat."
"Aduh, bakalan lama ini pak! Gawat kalau Bu Hana sampai tahu aku terlambat!"
"Peraturan tetaplah peraturan. Dan harus ditaati!"
"Gini aja deh. Kalau bapak mau bukain gerbangnya sekarang. Nanti jam istirahat aku traktir makan deh," ucap Aiken, ia tersenyum pada pak satpam.
"Beneran nih?"
"Iya, pak janji! Buruan pak, sekarang ini belum jadwalnya Bu Hana masuk ke kelas. Jadi aku akan aman."
"Sekalian nanti traktir bapak kopi ya."
"Iya pak," sahut Aiken.
Akhirnya negoisasi antara pak satpam dan Aiken pun berhasil, ia membuka pintu gerbang. Dengan cepat Aiken masuk setelah ia mengucapkan terimakasih pada pak satpam. Ia berjalan mengendap-endap melewati pintu kantor agar Bu Hana tak melihatnya.
Aiken menghela nafas lega saat ia sudah berhasil melewati kantor tanpa Bu Hana tahu.
"Huh ... aku selamat."
"Selamat dari apa?" Aiken menelan ludahnya saat terdengar suara yang tidak asing baginya, perlahan-lahan ia menoleh ke belakang.
"Bu Hana. Selamat pagi Bu."
Bu Hana berdiri di belakang Aiken sambil berkacak pinggang, ia menatap tajam Aiken.
"Kamu terlambat lagi, benar?"
"Nggak kok Bu. Tadi itu aku habis dari kamar mandi," sahut Aiken.
"Ke kamar mandi tapi bawa tas?"
"Aduh ... udahlah pasrah aja aku."
"Gini deh Bu. Apa ibu tidak merasa kasihan padaku? Ibu sudah sering kali menghukumku, dan lagi-lagi hukuman yang sama. Membersihkan semua toilet kelas sebelas!"
"Oo ... jadi kamu pengen hukuman lain?"
"Bukan itu, Bu!"
"Kalau gitu, kamu berdiri di lapangan sampai jam istirahat!" seru Bu Hana.
Mau tidak mau Aiken harus melakukan apa yang Bu Hana inginkan. Ia berdiri di lapangan, merasakan panasnya terik matahari.
"Kalau gini mending aku bersihin toilet aja. Cih ... benar-benar apes aku hari ini," gerutu Aiken.
"Kawan, semangat ya!" teriakan Alvin dari lantai atas terdengar oleh Aiken.
"Aku doain moga kau juga akan terlambat!" sahut Aiken, ia menatap sinis Alvin.
Aiken tampak terlihat masih kesal saat ia berada di kantin bersama dengan Alvin dan Ayumi. Terlebih lagi ia harus kehilangan banyak uang untuk mentraktir makan dan juga segelas kopi.
"Bapak boleh nambah kan, Aiken?" tanya pak satpam sembari ia menikmati makanannya.
"Pak, jangan macam-macam deh. Aku ini tinggal sendirian, jangan sampai keunganku menipis karena ini!" seru Aiken.
Aiken tak begitu berselera untuk makan, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dengan sikap tenang dan dingin, ia pergi untuk membayar pesanan pak satpam dan ia pun berjalan pergi keluar kantin.
"Alvin, dia berubah lagi," ucap Ayumi.
"Kau benar. Tapi mungkin itu karena dia lagi lelah aja," sahut Alvin, ia masih bersikap santai menikmati makanannya bersama dengan Ayumi.
Aiken berdiri termenung di atas atap sekolahan, menikmati hembusan angin yang datang. Tatapan Aiken saat ini benar-benar dingin dan tenang.
"Kau di sini?" Lucia datang dan beridiri di samping Aiken.
"Kenapa kau di sini?" tanya Aiken dengan tatapan dingin dan tenang.
"Aku hanya ingin cari udara segar aja," sahut Lucia.
Aiken diam saja, ia langsung pergi meninggalkan Lucia. Ia berjalan dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya dengan tatapan dingin.
"Dia kenapa?" pikir Lucia.
Sepulang sekolah, Aiken berjalan melewati koridor sekolah. Saat itu tiba-tiba saja seorang gadis berambut perak panjang dengan pita berwarna biru di belakang rambutnya bermata ungu cantik menabrak Aiken, mereka jatuh dengan Aiken terjatuh di atas gadis itu, membuat wajah gadis itu memerah saat Aiken terjatuh di atasnya.
Aiken manatap gadis itu dingin, wajah gadis itu semakin memerah. Aiken menggerakkan tangannya menyentuh kening gadis itu, ia membelai poni gadis itu dan menyentuh keningnya. Gadis itu sontak langsung menutup matanya, dan Aiken menyentuh kening gadis itu yang tampak memerah.
"Kau ... terluka," ucap Aiken, sontak gadis itu kembali membuka matanya.
"Heh? I-ya sepertinya," sahut gadis itu.
Aiken tersenyum tipis pada gadis itu, membuat gadis itu bingung juga gugup karena Aiken masih berada di atasnya.
"Kau, kenal aku?" tanya Aiken dengan sikap tenangnya, ia mereka masih terbaring di lantai, Aiken masih berada di atas gadis itu.
"Tidak. Aku berada di kelas sebelas A," sahut gadis itu.
"Entahlah. Tapi ... aku merasa jika kita memiliki kedekatan. Tapi ... aku tidak tahu apa," sahut Aiken.
"Heh. Emm ... kedekatan apa maksudmu?"
"Entahlah. Aku pikir ini kedekatan istimewa," Aiken kembali menyentuh kening gadis itu, ia membelai kening itu. "Maaf jika aku membuatmu terluka. Tapi sejujurnya kaulah yang jalannya tidak hati-hati," ucap Aiken.
"Siapa namamu?" tanya Aiken, masih dengan sikap tenangnya.
"Elena," jawabnya.
"Aku akan mengingat nama itu."
Akhirnya Aiken pun bangkit berdiri, ia mengulurkan tangannya membantu Elena berdiri. Lalu Aiken pun berjalan pergi meninggalkan Elena, tapi saat ia sudah berjalan sampai depan, ia kembali menghampiri Elena.
"Ini, usap lukamu itu," Aiken memberikan sapu tangannya dan pergi meninggalkan Elena.