
Hembusan angin terasa menerpa rambut hitam pekat acak-acakan itu semakin kasar. Gulungan ombak yang tidak terlalu besar menghantam tubuhnya yang masih terduduk di bibir laut. Tak peduli sudah berapa kali gulungan ombak kecil menerpa tubuh dan rambutnya yang hitam pekat, juga bahkan membasahi pakaiannya. Hoodie hitam dan celana jeans itu sekarang basah kuyup karena hantaman gulungan ombak.
Sosok pemuda tampan berambut hitam pekat dengan iris matanya berwarna biru kristal tengah menikmati angin laut yang kian menerpa dengan kasar. Pemuda itu seakan menatap kosong gulungan ombak yang bergerak-gerak di bibir pantai. Langit sudah mulai berubah warna, matahari kian tenggelam. Tapi pemuda itu masih saja duduk sembari memeluk kedua lututnya di bibir pantai.
"Aiken!"
Alex berteriak memanggil Aiken yang masih duduk di bibir pantai. Pemuda itu nampak terlihat gusar mengamati temannya yang juga tengah gelisah yang entah memikirkan apa. Gulungan ombak di sore hari kian membesar. Dari tengah laut nampak gulungan besar yang akan mendekati Aiken di bibir pantai.
Alex dengan cepat berlari menghampiri Aiken lantas tangannya menarik tudung hoodiie Aiken dan menyeretnya menjauh dari gulungan ombak yang hampir saja akan menyeret Aiken ke dalam laut.
"Kau kenapa Aiken? Hampir saja nyawamu akan melayang!" seru Alex. Matanya nampak berkaca-kaca, dan Aiken seperti orang linglung yang tidak menyadari kehadiran Alex.
"Ada apa?" Aiken beranjak berdiri. Raut wajahnya nampak terlihat linglung memperhatikan pakaiannya yang basah kuyup.
"Kau kenapa? Kau hampir saja akan tenggelam diseret ombak!" Alex masih dengan matanya yang berkaca-kaca menatap Aiken.
Mengedarkan pandangannya pada bibir pantai, Aiken memegangi pelipisnya, menepuknya pelan seraya berkata dengan wajahnya yang tertunduk.
"Maaf, aku banyak pikiran. Setengah bulan sudah berjalan, dan Elena belum ada tanda-tanda akan bangun."
"Jangan lemah, Aiken!" seru Alex. Aiken mengangkat kepalanya, matanya mengerjap-erjap.
"Mana Aiken yang dulu? Suka dengan uang, bekerja hanya untuk uang. Apakah itu akan hilang?" pekik Alex. Dia benar-benar terlihat jengkel.
"Apa yang kau katakan. Aku masih Aiken yang dulu," katanya tersenyum tipis.
"Tidak," Alex geleng-geleng kepala, "kau bukan Aiken yang dulu lagi."
Aiken terdiam. Matanya mulai bergetar. Tanpa sadar air yang terasa hangat menitik dari sudut matanya. Menepuk kasar pelipisnya, Aiken menggelengkan kepalanya dengan kasar.
"Kau benar. Sekarang aku lemah! Aku benar-benar kacau!" pekiknya.
"Tidak, Aiken!" Alex memegang kedua pundak Aiken dan menatapnya lekat-lekat.
"Kau masih yang dulu! Hanya saja, keadaan sekarang benar-benar sudah membuatmu melupakan segalanya."
Aiken tersenyum tipis. Pemuda itu lantas berbalik dan memandang matahari yang kian tenggelam mulai tak terlihat. Mengepal erat kedua tangannya, Aiken menghela nafas pelan sebelum berkata.
"Ya, Alex. Kau sudah manyadarkan diriku. Di mana aku yang dulu? Aku pasti akan mengembalikannya lagi!" Aiken berbalik dan menatap Alex.
"Elena juga akan sedih jika melihat keadaanku yang sudah kacau."
"Ya, jadi Aiken yang dulu harus kembali. Dan sikapmu yang menyebalkan itulah, yang juga membuat Nona Elena menyukaimu." Alex mengangguk pelan seraya mengepal erat satu tangannya, lantas mengulurkannya pada Aiken.
Aiken tersenyum tipis, lantas mengepal erat satu tangannya, memukul kepalan erat tangan Alex. Angin berhembus cukup kencang, menerpa setiap helai rambut kedua pemuda tampan itu.
Saat memperhatikan kalung liontin dengan bentuk kristal berwarna hijau dendro tersemat di leher Aiken, Alex mengerutkan kening seraya bertanya.
"Itu, kalung liontin siapa?"
"Oh ini. Em, aku tidak tahu ini apa. Aku hanya menemukan kristal ini di dalam gua di dalam hutan belantara.
Aku pikir kristal ini indah, jadi aku membawanya pulang dan menjadikannya sebagai liontin."
"Kau benar." Alex mengulurkan satu tangannya, menyentuh liontin itu.
"Litontinya benar-benar indah. Seakan warnanya yang hijau terang sudah menghipnotis diriku."
"Ngomong-ngomong, Alex. Aku akan kembali bekerja sebagai Assassin untuk Agen Reco!" ucap Aiken. Alex terbelalak kaget, sungguh jawaban yang diluar nalar.
"Benarkah? Tapi, bukankah kau sudah ingin berhenti?"
"Aku tidak akan berhenti. Aku menyukai pekerjaan ini. Melihat darah segar adalah tujuan hidupku," ucapnya seraya mengedipkan satu matanya pada Alex. Hampir membuat pemuda itu muntah.
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu," Alex mengulurkan tangannya, Aiken maraih dan menjabat tangannya, "selamat datang kembali di Agen Reco, Aiken!"
"Ya, Alex!" sahut Aiken dengan tatapan penuh arti.
Saat Aiken tengah berjalan dengan langkah kaki yang santai, kedua tangannya masuk dalam saku hoodienya. Sebuah suara seperti besi diseret menarik perhatian Aiken.
Berhenti, berbalik sembari mengedarkan pandangannya pada semua arah. Tapi hanya ada lampu jalan yang berkedip-kedip tak beraturan di pinggir jalan yang nampak sepi nan sunyi itu.
Aiken kembali melangkahkan kakinya saat terdengar kembali suara besi diseret. Suara itu kian mendekat, Aiken semakin waspada. Pemuda itu masih berdiri terdiam, tapi kedua bola matanya beralih ke semua sudut tempat.
Tak ada suara yang datang, hanya ada hembusan angin malam yang cukup kasar. Tiba-tiba saja sebuah tongkat besi melayang di udara dan hendak mengenai kepala Aiken. Masih berdiri memunggungi tongkat besi itu. Lantas Aiken berbalik dan menangkap tingkat besi dengan satu tangannya yang terangkat.
Aiken mengerutkan kening. Kembali dia mengedarkan pandangannya pada semua sudut tempat. Pemuda itu menyipitkan kedua matanya saat pandangannya beralih pada depan lampu jalan.
Nampak ada sosok yang berdiri terdiam sedikit menjauh dari lampu jalan, tak menunjukkan wajah atau bentuk tubuhnya. Aiken tak bisa melihat siapa sosok itu karena dia berdiri bukan di bawah lampu jalan, melainkan sedikit menjauh dari lampu jalan.
"Kau ingin main-main denganku?" tanya Aiken. Dengan santai pemuda itu melempar tingkat besi yang ia pegang dan terlontar ke depan kaki sosok itu.
Sedikit mendekatkan kepalanya pada tiang lampu. Sekarang terlihat sosok itu memakai topeng yang menutupi wajahnya, kecuali bagian mulutnya saja. Deretan gigi-gigi sedikit keruh terlihat saat sosok itu tersenyum menyeringai.
"Jangan coba-coba untuk main-main padaku. Aku tidak takut sama sekali denganmu!" seru Aiken.
Sosok itu diam tak bergeming. Usai memperlihatkan deretan giginya yang nampak keruh, sosok itu melangkah mundur secara perlahan. Tubuh dan kepalanya kian tak terlihat bagai ditelan kegelapan malam.
"Cih. Siapa dia? Apa urusannya denganku?" gumam Aiken berdecak tidak puas.
Aiken hendak melangkah pergi saat sebuah tepukan lembut menghantam punggung belakangnya. Aiken menoleh, sosok gadis berambut ungu panjang sebahu bermata merah darah berdiri di belakang Aiken dengan tatapan kosong.
"Siapa, kau?" tanya Aiken.
Gadis itu diam tak bergeming. Matanya benar-benar kosong, seakan tak mempunyai tujuan untuk hidup.