Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 13



Saat Aiken masih dengan santai berjalan melewati gang kecil dan sepi, tiba-tiba saja di depan Aiken ada beberapa lelaki yang sepertinya para lelaki itu memiliki rencana jahat pada Aiken. Dan Aiken hanya menatap mereka dengan tatapan dingin.


"Hei kawan, kenapa jalan sendirian di sini? Apa kau baru saja di putusin?" mereka tertawa kencang, dan Aiken masih diam saja menatap mereka dingin.


"Sepertinya asik kalau kita olahraga sebentar nih," lelaki itu mulai meregangkan otot-otot mereka dan juga berjalan mendekati Aiken dengan mereka juga menyiapkan pukulan tangan mereka.


"Apa kalian ingin bermain-main denganku?" tanya Aiken.


Para lelaki itu mulai menyerang Aiken, dan salah satu dari mereka juga membawa tongkat yang terbuat dari besi. Mereka bersama-sama menyerang Aiken. Tapi walau mereka menyerang Aiken berkeroyok, Aiken masih dengan santainya menghindari serangan mereka. Aiken mendekati lelaki yang membawa tongkat itu. Saat lelaki itu menyerang Aiken dengan tongkatnya, Aiken masih dengan santai menghindari serangannya lalu dengan satu tangannya yang mengepal, Aiken menonjok perut lelaki itu sampai membuat lelaki itu terjatuh. Aiken mengambil tongkat yang pria itu pegang.


"Cih, dasar payah. Jika ingin bermain-main denganku, kau harus berlatih dengan keras dulu," ucap Aiken dengan tatapan dinginnya.


"Hei, biar kuberitahu cara bermain-main yang menyenangkan," lalu Aiken mengambil tongkat besi itu, dan dia mulai mengayunkan tongkat itu ke arah lelaki itu.


Lelaki itu sudah mulai takut dan panik, dia mulai mengeluarkan keringat dingin saat Aiken dengan santainya mengayunkan tongkat besi yang dia pegang itu.


"Apa yang akan kau lakukan! Ampuni aku... aku janji tak akan mengganggumu lagi," ucapnya. Saat lelaki itu akan berusaha untuk beranjak berdiri, Aiken dengan santainya memukul kaki lelaki itu dengan tongkat besi dan langsung membuat lelaki itu teriak.


"Aaaa!" Aiken terus memukul kaki pria itu dengan tongkat besi yang dia pegang sampai membuat pria itu tak bisa berdiri lagi.


"Bagaimana? Apa ini cukup?" tanya Aiken tersenyum jahat pada lelaki itu.


Lelaki yang lain hanya bisa terdiam tercengang melihat teman mereka sudah lumpuh tak bisa berjalan. Mereka dengan cepat berlari meninggalkan Aiken tanpa melihat keadaan teman mereka.


"Lihatlah mereka... sudah lari. Pengecut!" lalu Aiken langsung melempar tingkat itu dan berjalan pergi meninggalkan satu lelaki yang masih tergeletak, merasa kakinya sangat sakit.


Setibanya di apartemen, Aiken langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Aiken berbaring sambil melihat langit-langit atap. Aiken mencoba untuk mengingat ingatan sebelumnya, tapi dia masih tak bisa mengingat apapun kecuali Alice dan rencana yang dia buat bersama Alice.


Tiba-tiba saja Aiken mendengar ada yang mengetuk pintu jendela yang berada di balkon kamarnya. Aiken terbangun, dia melihat arah balkonnya. Dan dia melihat seorang gadis berambut ungu panjang dengan iris matanya berwarna merah cantik yang tidak lain gadis itu adalah Alice.


Aiken beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan membuka pintu jendela dan membiarkan Alice masuk.


"Kau, siapa?" tanya Aiken dengan tatapan dinginnya.


Alice tersenyum tipis saat dia menatap wajah Aiken. "Hah... kau cepat sekali melupakanku. Apa kau tidak ingat, namaku Alice," ucapnya sembari berjalan mendekati Aiken.


"Alice? Kau... bukan Alice yang aku kenal. Kau, siapa sebenarnya?"


"Yah... nama Alice tuh bukan hanya ada satu lho," lalu Alice berjalan mendekati wajah Aiken. "Apa kau tak bisa mengingat apapun?"


"Darimana kau tahu itu? Aku bahkan baru melihatmu."


"Hah, ini tidak seru. Aku tidak ingin kau melupakanku," ucap Alice dengan pipinya yang menggembung.


"Lebih baik kau pergi saja," ucap Aiken dengan nada dingin.


"Tidak! Aku datang ke sini karena ingin membuatmu tidak akan melupakanku," ucapnya tersenyum.


"Apa yang kau maksud?" lalu Alice mendekati Aiken dan Alice memeluk Aiken sampai membuat Aiken berjalan mundur dan terjatuh di atas kasurnya dengan Alice berada di atas Aiken yang terbaring.


Alice mendekati bibir Aiken, Aiken berusaha untuk lepas dari Alice. Tapi dia tak bisa, dan Alice pun mencium bibir Aiken. Setelah ciuman itu, Aiken langsung pingsan.


"Tenang saja, kau akan baik-baik saja. Aku datang ke sini karena ingin melindungimu, Aiken. Aku tak akan membiarkan apapun terjadi padamu," ucap Alice sembari memeluk Aiken yang sudah pingsan itu.


Pagi harinya, sinar matahari yang mulai datang memasuki kamar Aiken dan membuatnya membuka matanya. Saat Aiken melihat samping tempat tidurnya, dia terkejut saat melihat Alice yang masih tertidur pulas di samping Aiken tidur.


"Alice? Kenapa kau bisa berada di sini?" Aiken langsung bangun. Dia mencoba mengingat kejadian semalam, tapi dia tak bisa mengingatnya.


Dan Alice pun terbangun, dia mengucek-ucek matanya dan mencoba untuk membuka matanya. "Heh... Aiken kau sudah bangun? Selamat pagi."


"Apa kau bisa jelaskan padaku kenapa kau tidur di sini?"


"Aku akan tinggal di sini bersamamu," jawab Alice, jawaban Alice membuat Aiken terkejut.


"Tapi... kenapa?"


"Karena aku sudah menjalin sebuah kontrak denganmu semalam," jawab Alice tersenyum pada Aiken.


"Kontrak apa? Aku tak bisa mengingat kejadian semalam."


"Hah... apa kau melupakan bagaimana rasanya saat aku menciummu?"


"Heh... "


"Benar... aku menjalin kontrak denganmu dengan aku menciummu."


"Kontrak apa yang kau maksud?"


Lalu Alice beranjak dari tempat dia tidur dan berdiri di depan Aiken. Alice memejamkan matanya, dan secara tiba-tiba saja tubuh Alice mengeluarkan cahaya berwarna ungu, dan saat Alice membuka kembali matanya, tiba-tiba saja dia mulai berubah menjadi sosok iblis. Alice memakai gaun berwarna ungu-hitam dan di belakang punggungnya ada sayap seperti sayap iblis tapi dengan ukuran lebih kecil berwarna hitam-merah. Di tangannya juga ada sebuah pedang iblis berwarna hitwm-merah.


"A-pa... kau siapa sebenarnya?" Aiken sampai terkejut melihat perubahan penampilan dari Alice.


Alice tersenyum tipis. "Aku bukanlah manusia biasa. Tapi aku adalah manusia roh iblis. Dan aku datang ke sini karena aku ingin melindungimu dan menjalin kontrak denganmu untuk menghabisi iblis-iblis jahat dan juga makhluk gaib."


"Tapi... kenapa harus aku? Kau bisa mengalahkan mereka tanpa aku kan," ucap Aiken.


"Tidak mungkin. Aku membutuhkan energimu untuk lebih memperkuat kekuatanku," ucap Alice.


"Energiku?"


"Benar. Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku merasakan adanya energi yang sangat besar dalam tubuhmu, bahkan energimu itu bisa untuk menambah kekuatan lebih dari satu roh iblis sepertiku," ucap Alice.


"Bagaimana bisa? Aku hanyalah manusia biasa. Dan... bagaimana cara aku memberikan energiku untukmu?


Kenapa aku selalu saja terlibat dengan hal seperti ini? Aku benar-benar muak," Aiken memegangi kepalanya. Dia merasa jika masalah yang terjadi selama ini dia selalu saja ikut terlibat. Bahkan dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang masalah itu, tapi dia selalu saja terlibat.