
Sebentar lagi pesawat sudah akan terbang, dan Elena juga sudah menunggu di bangku tunggu. Dia duduk dengan mukanya tertunduk, kedua tangannya terlipat erat, tubuhnya sedikit gemetar, tanpa sadar air mata keluar menetes ke lantai.
"Perhatian ... untuk penumpang segera naik ke pesawat ..."
Suara itu membuat Elena cukup terkejut, ia beranjak berdiri sambil menggendong tas nya. Dia melihat sekeliling, kanan kiri, tapi sepertinya dia tak melihat seseorang yang ia harapkan. Ketika Elena akan meletakkan kopernya, tiba-tiba saja seorang pria yang tidak lain pria itu adalah Alex datang menghampiri Elina.
"Maaf, apa kau nona Elena?" tanya Alex.
"Benar. Maaf, tapi kau siapa?"
"Nona, kumohon jangan pergi dulu. Aku datang ke sini atas perintah tuan Hiroshi."
"Tuan Hiroshi?" Elena terkejut, tentu ia mengenal nama itu, ayah Takamura.
"Kenapa? Siapa kau?"
"Aku hanya ingin mengatakan jika ..."
Di ruangan laboratorium, Aiken masih berdiri terdiam, kepalanya tertunduk. Yoshi seperti sudah cukup puas membuat Aiken terkejut, ia seperti mengharapkan jawaban yang akan ditentukan oleh Aiken.
"Kau tahu, aku tidak butuh informasi apapun darimu pak yoshi. Karena tanpamu pun aku akan tetap tanu informasi yang ingin aku ketahui," jawaban Aiken sontak langsung membuat Yoshi cukup terkejut, rencana yang sudah dia buat gagal. Aiken menodongkan pistolnya pada wajah Yoshi, membuat lelaki itu tak dapat berkutik lagi, Akihiko hanya bisa diam saja.
"Tunggu Aiken. Kau salah jika melawanku."
"Aku tidak melawanmu. Bapak justru yang tidak bisa diajak kompromi."
Yoshi berjalan mundur, ia langsung menyekap leher Akihiko dan menyuntikkan sesuatu dilengan Akihiko, membuat Akihiko berontak. Saat efek dari suntikan itu mulai bekerja, sontak Akihiko langsung terlihat aneh, dia mulai berubah menjadi devil. Yoshi malah tersenyum menyeringai dengan apa yang dia lakukan pada rekannya itu.
"Aiken, aku pikir kau akan menjadi rekan terbaikku. Tapi ternyata aku salah."
Tubuh dari devil Akihiko mulai membesar menjadi monster iblis yang begitu ganas. Melompat ke atas, melubangi atap dan melompat keluar laboratorium, Aiken langsung berjalan menghampiri devil itu sementara Galan mengurus Yoshi.
Akihiko sekarang telah menjadi iblis, tubuhnya yang berukuran cukup besar, begitu ganasnya. Mencoba melawan iblis itu dengan pistolnya, Aiken tetap saja tak bisa menembus kulit keras dari iblis yang memiliki tubuh seperti seekor banteng juga kepalanya yang seperti kepala banteng, tapi ekornya seperti ekor kambing.
Dengan tanduknya, iblis itu menyerang Aiken dan membuatnya terjatuh ke tanah. Keluar darah dari pipi Aiken akibat dari serangan iblis itu. Iblis mulai meraung, kedua tanduknya mulai memanjang dan berubah menjadi besi. Iblis akan menyerang Aiken, tapi saat itu Elena datang dan akibat menolong Aiken, tubuhnya terluka cukup parah terkena tanduk dari iblis. Darah menetesi wajah Aiken yang masih terduduk di belakang Elena.
"Elena ..."
Elena terjatuh dalam pelukan Aiken, sebuah senyuman menis keluar dari bibir Elena, ia menyentuh pipi Aiken sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
"Elena bangun! Kumohon jangan tinggalkan aku!" teriak Aiken.
Iblis kembali akan melancarkan serangannya, tanduknya mulai terayun. Aiken yang sadar, ia langsung memasang tangan kanannya tepat saat tanduk itu akan kembali melukai Elena. Tangan kanan Aiken sampai terputus, terpental ka atas udara, dia hanya bisa merintih kesakitan.
"Arghh!" keluar banyak darah dari tangannya yang sudah terputus.
Tapi Aiken tidak menyerah, ia bangkit berdiri. Tubuhnya mengeleuarkan aura yang berbeda, seperti terdapat energi yang sangat besar. Kalung yang dia pakai, kalung mutiara hijau dari Alice roh Dewie mengeluarkan cahaya hijau, membuat Aiken terkejut.
"Apa ini?" tubuhnya terasa memiliki energi yang sangat besar, membuatnya dapat mengeluarkan kemampuan memanipulasi alam.
"Aku tidak akan memaafkanmu!" dengan kemarahan besar, Aiken menghancurkan tubuh iblis dengan kekuatan yang tiba-tiba saja keluar dari dalam tubuhnya, batu mutiara yang dia bawa mengeluarkan cahaya hijau.
Sesaat setelah iblis hancur, Galan juga sudah berhasil menangkap Yoshi bersama dengan Alex yang tadi datang bersama dengan Elena, Aiken berjalan tertatih-tatih sambil memegangi tangan kanannya yang terus mengeluarkan darah menghampiri Elena yang sudah tergeletak pingsan dengan tubuhnya bersimbah darah.
Aiken terjatuh, ia merangkak mendekati Elena dan memeluknya, dan dia pun terjatuh pingsan memeluk Elena.
Aiken membuka matanya, ia melihat sekeliling. Ternyata ia sudah berada di rumah sakit. Melihat tangan kanannya, terlihat tampak diperban, tapi tangannya sudah kembali walau masih diperban. Alex dan Alyssa datang dan berkata.
"Tanganmu berhasil tersambung. Kami menemukan sambungan tanganmu, dan tanganmu berhasil tersambung kembali berkat infusi darah yang dokter berikan."
Aiken bangun, ia mencoba untuk menggerakkan tangannya, walau masih terasa sakit tapi ia merasakan jika tangannya sudah kembali.
"Di mana Elena?" tanya Aiken saat ia mulai teringat dengan Elena yang saat itu juga terluka cukup parah.
"Dia kehilangan banyak darah, dokter berhasil mengobati lukanya dengan infusi darah. Tapi dokter tak bisa membuatnya bangun lebih cepat. Kemungkinan besar nona Elena akan mengalami koma," sahut Alex, jawabannya benar-benar membuat Aiken terkejut.
Pemuda itu langsung beranjak berdiri, mencoba untuk berjalan walau tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia berjalan sambil membawa infus keluar dari ruangan dia dirawat, Alex dan Alyssa hanya bisa mengikutinya tanpa menghentikannya.
Tak ada yang boleh masuk dalam ruangan di mana Elena dirawat kecuali dokter. Aiken hanya bisa melihat Elena lewat jendela kaca yang dapat melihat Elena dari sana.
"Dokter, biarkan aku masuk. Elena membutuhkan aku!" seru Aiken pada dokter.
"Maaf, dengan keadaannya saat ini, aku tidak bisa mengambil resiko."
"Dokter, berusahalah! Jangan biarkan Elena kenapa-kenapa!"
"Kami akan berusaha."
Aiken pun kembali ke dalam kamarnya, mencoba untuk memulihkan tubuhnya.
"Aiken, siapa nona Elena?" tanya Alex.
"Alex, bawa aku menemui ayah."
"Heh? Kau ..." Alex terkejut, dia hanya tahu saat ini Aiken masih belum dapat mengingat ayahnya ataupun adiknya, tapi sekarang ...
"Ingatanku sudah kembali. Galan sudah membantuku, dia bilang aku akan dapat mengingat masa laluku jika aku berhasil menangkap pak Yoshi."
"Apa kau juga ingat dengan adikmu?"
Aiken memegangi dadanya, "Ya. Aku masih tidak percaya jika adikku memberikan jantungnya demi aku, kakaknya yang tidak berguna untuknya."
"Aiken, kau salah jika berpikir begitu. Akira benar-benar beruntung memiliki kakak seperti kau. Dan itu perasaannya selama ini."
"Ya, aku tahu itu. Selama ayah membencinya, aku berusaha keras untuk menghiburnya. Berusaha untuk membuatnya melupakan perlakuan ayah padanya."