Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 35



Sore itu, Lucia menghubungi Aiken jika Adras mengajak Aiken untuk makan malam bersama. Aiken menghela nafas pelan, ia harus menjalankan tugasnya saat malam hari untuk mencari tahu tentang mayat-mayat manusia yang berjatuhan. Tapi ia tahu jika ia membutuhkan uang untuk ia menjalani kehidupan yang pahit ini, dan Lucia adalah satu-satunya penghasilan terbesarnya yang ia bisa ia dapatkan tiga hari sekali, dengan jumlah uang yang banyak.


Adras mengajak Aiken makan malam di sebuah restoran bintang lima. Aiken sampai geleng-geleng kepala ketika ia melihat harga makanan yang ada di menu, ia benar-benar sulit untuk memilih makanan yang akan ia pesan dengan harga-harga tinggi. Memang bukan dengan uangnya ia membayar makanan itu, tapi tetap saja satu makanan seharga makanan yang Aiken beli selama satu Minggu kedepan.


"Sultan memang beda. Aku sampai kaget lihat semua harga makanannya," batin Aiken.


Disela-sela mereka makan, mereka juga berbincang-bincang bersama. Sebisa mungkin Aiken menyeimbangkan gaya bicara Adras agar ia bisa terus dapat uang dari Lucia.


"Aiken, boleh aku bertanya?" Tanya Lucia pada Aiken yang sibuk pada makanannya.


"Tanya apa?" sahut Aiken.


"Tadi di sekolah kamu kenapa?"


"Aku kenapa memangnya?"


"Nggak. Hanya saja tadi ada yang berubah darimu," sahut Lucia.


Aiken mendekatkan bibirnya pada telinga Lucia, membuat wajah Lucia memerah. "Apa hakmu mencari tahu. Kita hanya pacar pura-pura, nggak lebih!" bisik Aiken, lalu ia fokus kembali pada makanannya.


"Kalian lagi bisikin apa?" tanya Adras.


"Tidak. Hanya masalah kecil," sahut Aiken.


Setelah acara makan malam, Aiken langsung pergi setelah ia berpamitan dengan Adras. Saat Aiken pergi, raut wajah Lucia menjadi murung.


"Kamu kenapa? Apa kamu sudah merindukan Aiken? Kamu tadi baru bertemu dengannya lho," ucap ayah Lucia, ia mengelus-elus kepala Lucia.


"Ya, aku sudah rindu saja padanya," sahut Lucia, ia tersenyum pada ayahnya.


Malam itu Aiken tampak berdiri di atas atap gedung, ia mengawasi perkotaan dengan teropong jarak jauh. Tampak terlihat jelas seseorang misterius itu datang lagi, dan kali ini dia tengah membawa seorang gadis yang sudah pingsan ke atas atap gedung. Aiken mengintip bagaimana seseorang berjubah hitam memakai topeng itu menyerap semua darah gadis itu dengan hanya dengan menggunakan tangannya. Perlahan-lahan tubuh gadis itu mulai pucat, saat itulah orang itu langsung pergi meninggalkan mayat gadis.


"Jadi gitu cara dia menyerap darah. Cih, dia jelas bukanlah manusia biasa. Dan bagaimana caraku mencari tahu?" pikir Aiken.


Terdapat satu ide yang terpikirkan oleh Aiken. Ia pergi ke sebuah hotel bintang lima, ia pergi menuju sebuah kamar yang berada di lantai paling atas. Ia memencet bel pintu, dan seorang lelaki membuka pintu hotel.


"Kau siapa?" tanya lelaki itu.


Saat ini Aiken sudah berpenampilan seperti seorang pelayan hotel yang membawakan makanan untuk lelaki itu.


"Saya mengantar makanan," jawabnya.


"Tapi aku tidak memesan makanan tadi," sahut lelaki itu.


"Ini diberikan gratis untuk anda yang bernama tuan Gravil, benar?"


"Iya, kalau begitu bawa masuk saja makanannya."


Saat Aiken masuk dalam kamar, sontak ia langsung menutup rapat pintunya membuat Gravil terkejut.


"Apa yang kau lakukan!"


Aiken membuang semua penyamarannya, ia tersenyum setengah pada Gravil. Lalu Aiken langsung menangkap Gravil, ia mengikat kedua tangan dan kedua kaki Gravil. Saat ini Aiken memakai topeng penutup mata, agar Gravil tak mengenalinya.


"Namamu Gravil, jadi kaulah targetku," ucap Aiken.


"Apa maksudmu? Lepaskan aku!" seru Gravil, ia mencoba untuk lepas dari ikatan tali, tapi ia tak bisa.


"Sudahlah pak. Lebih baik kau diam saja dan jawab saja apa yang akan aku tanyakan padamu. Kau akan selamat jika kau jujur padaku."


"Oh ya. Aku lupa satu hal," Aiken mengeluarkan pistol yang ia simpan di balik jaketnya, ia menembak kamera cctv dalam kamar itu, membuat Gravil semakin ketakutan.


"Nah sekarang sudah beres. Jadi ... bapak siap dengan pertanyaan yang akan aku tanyakan?"


Gravil diam saja, ia tampak takut dengan pistol yang Aiken pegang.


"Kau diam. Artinya kau siap."


"Oke. Pertanyaan pertama. Kau tahu kan tentang akhir-akhir ini yang banyak ditemukan mayat manusia di malam hari kan?" tanya Aiken.


"Pertanyaanmu sungguh bodoh! Aku tidak tahu apa-apa!" jawab Gravil, ia agak sedikit gugup.


"Kau bohong, aku tahu itu. Kau itu hanya perlu menjawab dengan jujur saja, apa salahnya."


"Aku sungguh tidak tahu apa-apa!"


"Benarkah? Aku masih tidak percaya dengan jawabanmu itu," Aiken menodongkan pistol yang ia pegang pada kepala Gravil, langsung membuat Gravil mengeluarkan keringat dingin.


"Cepat jawab agar ini cepat selesai!" bentak Aiken.


"Oke, aku akan jawab!" seru Gravil, Aiken kembali menurunkan senjatanya.


"Sebenarnya itu bukanlah mosnter atau Vampir," ucap Gravil.


"Aku sudah menduga. Pasti bukan Vampir, lalu apa?"


"Seorang ilmuwan telah membuat penelitian untuk menjadikan manusia sebagai devil," sahut Gravil.


"Devil? Pantas saja dia selalu menyerap darah. Siapa ilmuwan yang kau maksud?"


"Apa aku juga harus menjawab itu?!"


"Kau ingin mati?"


"Aku tidak tahu siapa ilmuwan itu. Kami memang menjalankan kerja sama untuk membuat penelitian, tapi aku bahkan belum pernah bertemu dengannya."


"Oke, kau menjawab jujur. Kau punya nomor telponnya?"


"Aku punya!"


"Bagus, berikan nomornya padaku. Dan masalah ini akan selesai," Gravil tanpa berpikir panjang langsung memberikan nomor itu pada Aiken.


"Oh iya, sebelum aku pergi aku ingin mengatakan. Kau harus berhenti membuat penelitian yang nantinya akan membuat ekosistem alam jadi hancur!"


"Apa?!"


"Berhentilah meneruskan penelitian itu. Aku sudah tahu apa yang saat ini kau buat! Jika kau ingin hidup, maka hentikan!" lalu Aiken berjalan mendekati pintu jendela.


"Aku akan terus mengawasimu, tuan Gravil," Aiken meninggalkan kamar hotel itu lewat pintu jendela. Ia melompat ke atas atap gedung lain.


"Ini benar-benar melelahkan. Tapi setidaknya aku sudah mendapat informasi penting," ucap Aiken, ia membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk dan ia pun pergi tidur.


"Apa kau masih akan melanjutkan rencana ini?" tanya seorang wanita berambut coklat panjang yang tampak dengan tubuh telanjang berada di atas ranjang, dengan tubuh telanjangnya, ia memeluk pak Yoshi yang juga dengan tunggu telanjangnya berada di atas ranjang dengan Winata itu. Tubuh mereka hanya bertutupkan selimut saja.


"Tentu saja. Aku masih belum terima dengan apa yang terjadi. Aku ingin membuat banyak drama lagi, terutama pada Aiken. Dia harus melihat drama ini," sahut pak Yoshi.


Wanita itu memeluk pak Yoshi. "Ya, aku akan mendukungmu."