Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 38



Elena terkejut dengan ciuman Aiken, sontak ia langsung melepas ciuman itu.


"Apa yang kau lakukan!" Elena beranjak berdiri dan menjauh dari Aiken.


"Elena, kau tidak bisa menahan diri lagi. Aku tahu kau juga mencintaiku, tapi aku diam karena mungkin ini akan membutuhkan waktu," sahut Aiken, ia berjalan mendekati Elena, tapi gadis itu justru menjauh darinya.


"Ini sudah malam. Sebaiknya kau kembali ke apartemenmu, Aiken," Elena membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Aiken untuk keluar.


"Elena, kau jangan menyembunyikan perasaanmu. Itu pasti tak akan berjalan lama," Aiken menepuk lembut kepala Elena, lalu dia pun keluar dari apartemen Elena.


Besoknya, Elena pergi ke bandara. Ia tampak sedang memesan tiket pesawat di bandara, lalu ia duduk di kursi tunggu. Ia memandangi tiket pesawat itu, tiket pesawat keberangkatan menuju Amerika untuk Elena besok lusa. Elena tampak sedih memandangi tiket pesawat itu, air mata menetes pada tiket pesawat itu.


"Maaf, Takamura. Seharusnya aku dapat menepati janji untuk hanya selalu mencintaimu," ucapnya sambil mengusap air matanya yang terus menetes.


"Tapi kenapa saat bertemu dengan Aiken, aku merasakan kedekatan ku denganmu. Maaf, Takamura."


Pertemuan Elena dengan Takamura terjadi saat mereka berumur sepuluh tahun. Selama tiga tahun mereka selalu bersama, bermain dan sekolah di sekolah yang sama. Sampai pada saat mereka berumur tiga belas tahun ...


"Elena, kamu mau membuat janji denganku?" tanya Takamura pada Elena saat mereka bermain di taman bermain.


"Berjanji?" Elena mengerikan dahinya.


Takamura memasang jadi kelingkingnya pada Elena. "Berjanjilah jika saat besar nanti kita akan bersama-sama dan saling mencintai satu sama lain," Takamura tersenyum senang, begitu juga dengan Elena.


Elena memasang jari kelingkingnya pada jari kelingkingnya Takamura. "Ya! Aku janji!"


Tiga Minggu telah berlalu, tapi sepanjang hari Elena tidak bertemu dengan Takamura di sekolah maupun di tempat biasa mereka bermain, dan itu membuatnya sedih. Elena akhirnya datang untuk menemui ayah Takamura.


"Paman, di mana Takamura? Apa dia di rumah?" tanya Elena.


Ayah Takamura berjongkok dan mengelus-elus kepala Elena. "Maaf, Elena. Takamura meninggal dunia. Paman tahu ini menyedihkan, tapi paman juga sedih sama seperti dirimu," Elena terdiam tercengang, matanya membulat.


Awalnya Elena masih tidak percaya jika Takamura sudah meninggalkan dirinya, sampai pada akhirnya ayah Takamura memperlihatkan makam Takamura. Setelah kejadian itu, Elena memutuskan untuk pindah ke Amerika. Sampai pada saat ia menginjak umurnya yang ke tujuh belas tahun, ia kembali ke Tokyo dan bersekolah di SMA sana. Jika Elena mengingat masa lalunya bersama Takamura, itu akan kembali membuatnya sedih dan menangis.


Setelah dari bandara, Elena pergi mengunjungi makam Takamura. Ia membawa satu buket bunga dan meletakannya di makam Takamura.


"Takamura, maafkan aku. Aku akan berusaha untuk tetap setia padamu apapun yang terjadi!"


Saat di sekolah, Elena tengah makan siang di kantin. Aiken juga berada di kantin bersama dengan Alvin, ia melihat Elena saat itu.


"Kawan, kau mau pesan apa?" tanya Alvin, tapi Aiken diam saja fokus memandangi Elena.


"Oi!" Alvin berteriak di dekat telinga Aiken, membuatnya tersentak kaget.


"Ada apa?"


"Kau mau pesan apa?"


"Aku tidak lapar," sahut Aiken.


Aiken menghela nafas pelan, lalu ia mencoba untuk menghampiri Elena.


"Kenapa kau makan di sini sendirian?" tanya Aiken yang duduk di depan Elena.


"Aku sudah terbiasa sendiri," jawab Elena tanpa memandang Aiken, ia fokus pada minumannya.


"Apa kau masih marah padaku?"


"Kenapa aku harus marah. Itu bukan hakku," sahut Elena.


"Elena, jangan mencoba untuk menghindariku. Ini menyakitkan untukku."


"Kau merasa sakit jika jauh dariku. Tapi aku juga sakit saat aku dekat denganmu dan melupakan janjiku pada Takamura," Elena beranjak berdiri dan pergi meninggalkan kantin dengan kesal.


Aiken tertunduk, ia menghela nafas pelan. Lalu datang Lucia dan duduk bersama Aiken.


"Kau kenapa?" tanya Lucia.


"Bisakah kau tidak menggangguku dulu? Aku benar-benar muak!" dengan kesal Aiken langsung pergi meninggalkan kantin.


"Aku tidak berbuat apa-apa. Kenapa kau main nyalahin aja!" seru Lucia pada Alvin, mereka saling bertatapan tajam.


"Sebelumnya kau nggak pernah dekat dengan siapapun. Tapi kenapa kau deket-deket sama Aiken? Apa maumu?!"


"Dia pacarku, aku pantas dong!" jawab Lucia tegas, membuat Alvin terkejut.


"Pacar?" Alvin bergegas pergi menemui Alvin yang sedang duduk sendiri di taman dekat sekolah.


"Aiken!" teriak Alvin.


"Apa kau juga akan menggangguku sama seperti gadis itu?" Aiken menatap tajam Alvin.


"Tenang dulu kawan. Aku mau minta penjelasan darimu!"


"Penjelasan?"


"Benar ya kau pacaran sama Lucia?"


"Pacar pura-pura," sahut Aiken santai.


"Kenapa kau sampai kau pacaran dengannya, walau hanya pura-pura?"


"Dia ngasih uang, ya aku terima," jawab Aiken.


"Kalau saja Lucia minta kau lompat jurang terus dikasih uang. Kau mau?"


"Kau duluan aja. Jelas aku menolak, aku pasti mati dan uangnya pasti akan sia-sia," jawab Aiken.


"Aku harus bicarakan ini sekali lagi dengan Elena. Aku tidak mau kehilangan dia," batin Aiken.


Sekitar pukul tujuh malam, Elena tiba di apartemennya. Tapi Aiken sudah berdiri di depan pintu apartemen Elena, bahkan ia masih memakai seragamnya. Elena mengabaikannya, tapi Aiken tetap mengikuti Elena.


"Kenapa kau ikut masuk?!" seru Elena.


"Tunggu, Elena. Aku ingin membicarakan ini baik-baik padamu," ucap Aiken.


"Kau keluar dari apartemen ku!" seru Elena, ia langsung masuk dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.


Aiken mengetuk pintu kamar, berharap Elena akan membukakan pintu.


"Elena, dengarkan aku dulu! Aku benar-benar tidak ingin kau menjauhiku!" seru Aiken sambil terus mengetok pintu.


"Aiken, aku ingin menjauhimu. Lebih baik kau juga lupakan aku!"


"Tidak semudah itu untukku, Elena! Aku tidak akan melupakanmu, Elena!"


"Aku tidak ingin perasaan ini bertahan, aku tidak ingin!" seru Elena, ia menangis, dan terduduk di lantai. Pintu tidak terkunci, akhirnya Aiken dapat masuk.


Aiken langsung memeluk Elena hangat. "Elena, kumohon jangan pernah mengatakan jika kau akan meninggalkanku. Aku tidak ingin meninggalkanmu, Elena!"


Elena mengusap air matanya, ia beranjak berdiri.


"Aku hanya ingin tetap memegang janji ini."


Aiken memegang kedua pundak Elena, ia menatap mata Elena.


"Apa kau akan tetap seperti ini sampai kau tua?! Kau juga butuh orang yang akan terus bersama dengan dirimu, dan Takamura pasti juga akan berpikir hal yang sama padamu," sahut Aiken.


Aiken memeluk Elena dengan erat, Aiken menjatuhkan Elena ke atas ranjang, Elena tampak pasrah saja saat ia sudah terbaring di atas ranjang. Aiken mendekatkan wajahnya pada Elena.


"Elena, aku tidak ingin melupakanmu ataupun menjauhimu, dan selalu ingatlah ini!"


Aiken melonggarkan dasinya, ia juga melepas jas almamater nya dan melemparkannya ke lantai. Elena meneteskan air matanya, ia menyentuh wajah Aiken.


"Aku mencintaimu, dan akan tetap mencintaimu," ucap Aiken dengan nada lembut, ia memegang tangan Elena.