
"Tunggu dulu kawan. Kenapa kau terlihat buru-buru begitu."
"Minggir! Jangan halangi jalanku!"
"Heh... kau kejam sekali. Apa kau masih marah dengan peristiwa kemarin? Aku hanya menendangmu saja lho, dan itu pasti tidak akan terasa sakit kan?"
"Apa yang kau inginkan?" tanya Aiken sambil menatap waspada pemuda itu.
"Aku menginginkan manset telinga itu," jawab pemuda misterius itu.
"Apa? Jangan harap!"
"Heh... aku pikir kau akan langsung memberikannya."
"Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau mengincar manset telinga itu?"
Pemuda itu mengayunkan tangannya dan akan mendaratkan tangannya yang mengepal pada wajah Aiken. Tapi Aiken dengan sergap langsung menghindari tonjokan dari pemuda itu.
"Kau tidak seharusnya tahu kan? Aku bukan hanya menginginkan manset itu. Tapi juga kau... "
"Aku tidak tahu apa sebenarnya rencanamu. Tapi yang pasti aku tak akan memberikan manset telinga itu padamu."
"Hah... aku masih belum akan membunuhmu. Tapi... kau sangat sulit untuk diajak bernegosiasi."
Pemuda itu berjalan mendekati Aiken. Aiken berjalan mundur menjauhi pemuda itu. Dengan cepat tanpa Aiken sadari, tiba-tiba saja pemuda itu sudah berada di belakang Aiken. Tangan pemuda itu memegang dagu Aiken dan bibir pemuda itu mendekati telinga Aiken dan membisikan sesuatu pada Aiken.
"Jangan coba-coba untuk melarikan diri dariku. Aku bisa saja membunuhmu jika aku mau," bisik pemuda itu sambil satu tangannya yang lain mendekati saku jaket Aiken dan dengan cepat dia mengambil kotak kecil itu.
"Hei, kembalikan itu!" Aiken mencoba untuk merebut kembali kotak itu. Tapi pemuda itu lebih hebat dari dugaan Aiken.
Aiken mengeluarkan pistolnya dan mulai menembak pemuda itu. Tapi tembakannya tidak melukai pemuda itu, sebuah perisai telah melindungi pemuda itu.
"Hei... jangan habiskan pelurumu untuk menyerangku. Karena itu tak akan mempan untukku."
"Cih."
"Kau tahu... aku menginginkan manset telinga ini untuk membangunkan sang iblis kelas SR."
"Kelas SR?"
"Benar. Dengan iblis tingkat SR, bumi sudah pasti akan bergetar ketakutan melihat kedatangannya. Dan aku bisa melihat drama itu."
"Jangan coba-coba kau melakukan hal itu! Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi!"
Aiken berlari mendekati pemuda itu sambil terus menembakinya. Walau tembakannya tidak mempan untuk pemuda itu, tapi Aiken masih berusaha untuk tetap menembaknya. Aiken menyerang pemuda itu dengan menonjok dan juga menendangnya. Tapi bukannya pemuda itu yang kalah, justru Aiken yang terjatuh terkena serangan dari pemuda itu.
"Kau jangan coba untuk melawanku. Kau tak akan bisa melawanku."
Pemuda itu membuka kotak kecil itu, dan dia mengambil manset telinga itu dan dia buang kotak itu ke arah Aiken terjatuh saat ini.
"Baiklah. Sampai jumpa! Aku akan menemuimu lagi nanti!"
Pemuda itu berjalan pergi meninggalkan Aiken. Sementara Aiken masih terduduk di atas tanah, tubuhnya masih terasa sakit karena serangan pemuda tadi.
"Aku tak akan membiarkan orang itu merusak apa yang selama ini Alice pertahankan."
Pemuda misterius itu berjalan santai di tengah jalan raya sambil melempar tangkap manset telinga itu. Orang-orang yang membawa kendaraan mereka di jalan itu cukup kesal pada pemuda itu. Pemuda itu berjalan di tengah jalan raya tanpa memikirkan jika jalan raya akan banyak pengendara yang lewat, dan dia tetap masih dengan santainya berjalan di tengah jalan, tidak membiarkan para pengendara mobil maupun sepeda lewat.
"Hei! Aku masih belum selesai denganmu!" Aiken datang dari arah lain.
"Heh... apa kau masih ingin melawanku? Lebih baik kau menyerah saja dan biarkan manset telinga ini menjadi milikku."
"Tidak semudah itu aku akan menyerah. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan kembali manset telinga itu untuk Alice!"
"Alice? Maksudmu gadis roh Dewi itu? Hah... dia bukanlah apa-apa, dia hanya roh Dewi yang berbual ingin melindungi dunia Hollow dan sebagainya. Aku muak dengan gadis itu, ingin sekali aku menghabisinya."
"Dia tidak berbual! Aku yakin, dia adalah ornag yang tepat untuk menjadi pelindung Hollow dan juga bumi! Dan aku percaya padanya!"
"Hah... kau itu tidak tahu apa-apa tentangnya. Jangan mudah percaya dengan apa yang dia katakan."
"Seharusnya kau melihat dirimu sendiri. Apakah kau benar-benar lebih baik dari Alice?"
"Heh... apa kau baru saja menyindirku?"
"Bagus jika kau merasa."
Pemuda itu mengeluarkan sebuah kekuatan supernatural berwarna ungu dari tangannya. Pemuda itu melempar kekuatan itu ke arah Aiken. Aiken sontak langsung melompat ke atas sebuah tiang untuk menghindari serangan dari pemuda itu.
"Aku memang hanyalah manusia biasa yang tidak punya kekuatan khusus sepertimu. Tapi... aku pasti akan mengambil manset telinga itu darimu!"
"Hah... coba saja kalau bisa."
Aiken menembak pemuda itu dengan pistolnya. Banyak peluru meluncur ke arah pemuda itu, tapi bahkan pemuda itu tak terluka sama sekali.
"Sudahlah... jangan coba-coba untuk mengalahkanku. Aku benar-benar merasa kasihan denganmu."
"Ini belum berakhir!"
Aiken kemudian menembakkan satu pelurunya ke arah pemuda itu. Saat peluru itu meluncur ke arah pemuda itu, tiba-tiba saja sebuah asap putih tebal muncul dan membuat pemuda itu tak bisa melihat sekeliling.
Saat pemuda itu membersihkan asap tebal itu dengan kekuatannya, dia tidak sadar jika Aiken sudah berada di belakangnya.
"Ini yang aku maksud!"
Aiken langsung menyerang pemuda itu dari belakang dan membuat pemuda itu terjatuh. Manset telinga yang dia pegang terhempas, Aiken langsung menangkap manset telinga itu.
"Masih butuh beberapa tahun lagi untuk kau bisa membodohiku," ucap Aiken dengan tatapan penuh rasa marah pada pemuda misterius yang masih terbaring di atas jalan raya.
"Cih. Kau hebat juga ya," pemuda itu beranjak berdiri. "Tapi... aku tidak mudah dikalahkan."
Pemuda itu dengan cepat menyerang Aiken, tapi Aiken masih bisa membalas dan menghindari serangannya. Aiken diam-diam mengambil pistolnya, lalu dengan cepat dan gesit dia dekatkan pistol itu sampai menyentuh perut pemuda misterius itu. Lalu Aiken menembak perut pemuda misterius itu dengan bertubi-tubi sampai akhirnya perisai yang melindungi tubuh pemuda misterius itu hancur. Satu tembakan yang lain berhasil melukai pemuda misterius itu.
"Sekarang kau tamat."
Aiken mendekati pemuda misterius itu, dia akan membuka topeng dari pemuda itu. Tapi sebelum Aiken membuka topeng dari pemuda itu, tiba-tiba saja sebuah kabut tebal datang dan membuat penglihatan menjadi kabur.
Saat kabut itu menghilang, pemuda misterius itu sudah tidak ada.
"Cih. Di mana dia! Aku hampir saja membuka topengnya," gurutu Aiken. Tapi untuknya yang paling penting adalah manset telinga itu kembali maka di tangannya.