
Setelah beberapa hari, akhirnya Aiken dapat keluar dari rumah sakit. Mungkin lukanya belum dapat sembuh total, tapi dokter sudah membolehkannya untuk pulang. Melihat Aiken tampak memebenahi pakaian dan semuanya yang ada di rumah sakit, Alex menghampirinya sembari bertanya.
"Apa kau yakin akan menemui tuan Hiroshi?"
"Tentu saja. Aku akan menemuinya, aku ingin tahu keadaannya."
Aiken menjawab tanpa menoleh dengan ekspresi tenang. Mungkin akan ada banyak hal yang Aiken ingin tanyakan pada sang ayah, tapi mungkin itu tak terjadi mengingat ayahnya sekarang yang mendekam dalam penjara, dan waktu membesuk sang ayah pun terbatas.
Tiba di kantor polisi, Aiken menghela nafas pelan sebelum berjalan sendiri untuk menemui sang ayah. Alex tersenyum ringan melihat Aiken yang ingin menemui sang ayah. Bukan apa-apa, tetapi Alex juga tahu jika Hiroshi sangat merindukan putranya itu. Dan Alex hanya bisa berharap jika Aiken tak akan membenci sang ayah.
Melihat Hiroshi yang tampak buruk, Aiken sudah hampir akan meneteskan air matanya. Tetapi ia menghentikannya dengan menarik nafas panjang dan membuangnya sebelum ia menyapa sang ayah.
"Ayah ..."
Mendengar suara yang tidak asing, Hiroshi sontak menoleh ke sumber suara. Dengan air mata keluar yang sudah tak bisa ditahan, Hiroshi berjalan mendekati jeruji besi dan berkata.
"Aiken, apakah itu kamu?"
"Iya, ayah. Aku datang."
"Tunggu! Kamu ..."
Hiroshi terkejut, ia tentu tahu jika putranya tak akan pernah mengingat dirinya lagi. Tapi apa yang dia lihat saat ini benar-benar diluar dugaannya.
"Aku sudah mengingat semuanya, ayah. Aku tahu bagaimana ayah bisa berada di sini. Maaf, ayah ..."
Aiken tampak tertunduk sedih, mengepal erat kedua tangannya, kemudian Aiken berkata dengan wajahnya yang masih tertunduk.
"Aku bukan anak yang bisa diandalkan. Aku tahu, ayah sangat menyayangiku. Walau cara ayah salah, tapi aku tetap menghargainya.
Aku ... benar-benar payah. Ayah sampai mau aku tidak mengingatmu hanya untuk keselamatanku."
Hiroshi mengeluarkan kedua tangannya lewat jeruji besi dan hendak meraih kedua tangan Aiken yang masih mengepal erat. Merasakan hangatnya kedua tangan Hiroshi, Aiken mengangkat wajahnya dan menatap sang ayah lekat-lekat.
"Ayah tahu itu. Maafkan ayah, Aiken. Ayah benar-benar bukan ayah yang baik. Ayah juga menyesal karena menyakiti Akira."
"Akira akan senang mendengar ucapan ayah ini. Dia sekarang berada dalam tubuh Aiken, ayah. Aku pasti akan menjaga apa yang sudah Akira berikan padaku."
Memegangi dadanya, Aiken hamrpir akan meneteskan air matanya. Menyeka sedikit air mata di sudut matanya, Aiken kemudian berkata.
"Aku harap ayah akan baik-baik saja di sini. Aku tidak bisa lama di sini, ayah. Jaga ayah baik-baik."
Beberapa jam kemudian.
Melihat Aiken yang keluar, Alex yang sebelumnya duduk santai langsung beranjak berdiri dan menghampiri pemuda tampan di depannya sebelum bertanya.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
Aiken mengerutkan kening. Merasa jika temannya merasa tidak peka, Alex memukul pelan kepala Aiken sebelum berkata.
"Bagaimana kau dengan ayahmu? Kau tidak membencinya kan?"
Menggeleng ringan, Aiken berkata dengan senyuman tipis dibibirnya.
"Jangan khawatir. Akira pasti tidak akan suka jika aku membenci ayah."
Mendengar jawaban Aiken, Alex menghela nafas lega.
"Baguslah. Aku tadi udah benar-benar panik, kasihan tuan Hiroshi kalau kau membencinya."
Alex hendak pergi dengan Aiken di belakang, tapi dia berhenti dan kembali menoleh.
"Ngomong-ngomong. Kau mau ngapain setelah ini? Apa kau masih bekerja dengan kami?"
"Entahlah. Aku akan menunggu Elena sadar. Saat dia sadar dan sembuh, aku akan membawanya pergi jauh dari kota ini. Kita akan menjalani kehidupan baru nantinya."
"Ah ... apa kau benar-benar akan meninggalkan kami? Nona Elena pasti akan cepat bangun dengan teknologi yang canggih sekarang ini."
Melihat wajah kecut Alex, Aiken menghela nafas pelan. Memegang pundak Alex, Aiken berkata dengan senyuman tipis dibibirnya.
Kami sudah saling menjauh beberapa tahun. Dan sekarang kami ditakdirkan untuk bertemu kembali."
"Aku mengerti. Ternyata nona Elena adalah cinta pertama Aiken. Sungguh aneh menurutku."
Aiken mengerutkan kening mendengar ucapan Alex.
"Kenapa? Apanya yang aneh?"
"Ya aneh saja. Kau yang selalu dengan wajah dingin benar-benar jatuh cinta dengan seorang gadis?
Memang sih Nona Elena tuh cantik. Aku aja ingin mendapatkan dirinya kalau dia masih sendiri."
"Apa kau akan melakukan itu?"
Aiken bertanya dengan nada dingin. Melihat itu, Alex langsung berkata.
"Tenang saja kawan. Walau nona Elena cantik, aku hanya cinta dengan Alyssa."
"Benarkah? Kenapa kau tak ungkapkan perasaanmu padanya?"
"Dia pasti akan menolak. Alyssa bukanlah tipe wanita yang mudah untuk diluluhkan."
"Tapi tak ada yang tahu sebelum kau mencobanya kan?"
"Aku akan mencobanya saat waktunya tiba."
Alex pun pergi diikuti Aiken di belakang. Mungkin setelah ini tidak mungkin Aiken akan kembali bekerja sebagai seorang assassin. Dia bertahan di Tokyo hanya ingin menunggu Elena bangun sebelum ia akan membawa gadis cantik itu pergi jauh dari Tokyo dan memulai hidup yang baru.
"Aiken, kau habis darimana aja?"
Mendengar itu, Aiken yang tengah menikmati mie instan bersama Alex langsung menoleh ke sumber suara. Melihat Ayumi, Aiken tersenyum kecil sebelum berkata.
"Ayumi, halo. Mau makan bareng?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Aiken?"
"Hah ... aku tadi habis menemui ayah. Aku merindukannya."
"Benarkah? Bagaimana? Apa ayahmu baik-baik saja?"
"Ya, dia baik-baik saja. Aku hanya sedih saat melihatnya mendekam dalam penjara."
Melihat Aiken yang tertunduk sedih, Ayumi duduk di sampingnya dan menepuk pelan pundak Aiken sembari berkata.
"Jangan khawatir. Ayah kau pasti akan baik-baik saja kok. Dia itu pria yang hebat, sama seperti dirimu."
"Ya, kau benar. Aku pikir apa yang kau katakan memang benar."
**
Beberapa hari telah berlalu. Elena belum ada tanda-tanda akan terbangun dari tidur panjangnya. Aiken masih sering datang untuk melihat keadaan Elena, sering kali Aiken membawakan makanan untuk Elena, berharap jika gadis itu akan segera bangun.
"Elena, cepatlah bangun. Aku benar-benar sedih melihatmu begini."
Pagi itu, setelah Aiken dari rumah sakit, ia langsung berangkat ke sekolah. Sebentar lagi hari kelulusan akan tiba, dan Aiken akan beranjak ke kelas duabelas.
"Kawan, apa kau ada harapan?"
Pertanyaan aneh Alvin membuat Aiken mengerutkan keningnya.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kita akan segera pindah kelas. Kau tidak menginginkan harapan apa gitu?"
Alvin bertanya dengan ekspresi penasaran pada Aiken. Dengan ekspresi tenang, Aiken menjawab.
"Kalau begitu ..." tersenyum menyeringai, "aku ingin membuatmu menderita."
Melihat tawa kencang Aiken, Alvin hanya bisa menghela nafas berat.