Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 28



Ketika Alice akan mulai menghilang, Aiken sedikit membuka matanya. Ia melihat Alice yang akan melihat dengan tatapan sedih, tangannya sedikit tergerak dan memegang wajah Alice. Tubuh Alice yang saat itu sudah akan mulai menghilang, ia tersenyum pada Aiken dan memegang tangan Aiken.


"Aiken, aku... " sebelum Alice menyelesaikan ucapannya, ia sudah menghilang, saat itu juga Aiken jatuh pingsan.


Ayumi, ia menatap marah pak Yoshi yang dengan begitu santai berdiri seakan-akan ia melihat film bioskop di depannya. Ayumi memegang pedangnya, ia dengan kekuatan supranatural nya menyerang pak Yoshi. Tapi pak Yoshi sama seperti Ayumi, memiliki kekuatan supernatural. Dengan begitu santainya pak Yoshi menghindari serangan gesit dari Ayumi, bahkan secepat apapun Ayumi bergerak, pak Yoshi masih dengan mudahnya menghindari serangannya. Melesat lebih cepat, pak Yoshi berada di belakang Ayumi, menggunakan kekuatannya, pak Yoshi membuat Ayumi terpental cukup jauh sampai menghantam tiang listrik.


"Payah! Sangat payah! Kalau seperti ini rasanya sudah tidak seru lagi," lalu pak Yoshi berjalan mundur perlahan-lahan, lalu lelaki itu langsung menghilang tanpa jejak.


Ayumi beranjak berdiri, ia berjalan tertatih-tatih mendekati Aiken yang masih terjatuh pingsan. Lalu Alex juga Alyssa membawa Aiken ke rumah sakit. Berkat Akira, Aiken dapat bernafas kembali dengan jantung milik Akira. Tepatnya Akira telah memberikan jantungnya pada Aiken kakaknya. Hiroshi terlihat begitu mengkhawatirkan Aiken, ia duduk di samping ranjang Aiken, mengelus-elus kepala Aiken dengan lembut. Sampai pada akhirnya Alex datang membawa beberapa polisi.


"Kapten Hiroshi, maaf. Tapi anda harus ditangkap. Selama ini anda telah menyalahgunakan ekperimen yang anda kuasai. Anda harus masuk dalam penjara!" ucap Alex, polisi itu datang dan langsung memborgol kedua tangan Hiroshi.


Hiroshi tampak pasrah, ia juga telah menyadari kesalahan yang ia perbuat. Karena dendamnya pada Akira yang telah menyebabkan istrinya meninggal dunia, Hiroshi sampai mengorbankan putrinya dan menjadikannya sebagai iblis. Sementara Hiroshi telah pergi dibawa polisi, Alex, Alyssa dan Ayumi yang saat ini menjaga Aiken sampai Aiken tersadar.


Disela-sela perbincangan ringan mereka, Alyssa dan Alex juga menjelaskan pada Ayumi tentang Akira dan juga Hiroshi.


"Jadi, selama aku pergi Aiken sudah terkena banyak masalah. Aku bahkan baru tahu jika Aiken bertahan hidup dengan jantung buatan, aku benar-benar merasa bersalah karena telah meninggalkannya lama," ucap Ayumi, mukanya tertunduk.


"Jangan khawatir. Sekarang Aiken akan baik-baik saja," sahut Alex, mencoba untuk mencairkan suasana.


"Ya. Aku percaya jika Aiken bukan pria lemah," sambung Alyssa.


Ayumi mengangkat wajahnya, "Kalian benar. Aiken orang yang hebat. Dia mampu bertahan," ucap Ayumi.


Dan ketika mereka bertiga tengah berbincang-bincang santai, mereka dikejutkan dengan sadarnya Aiken secara tiba-tiba. Bahkan ketika Aiken sadar, ia langsung meneteskan air matanya tanpa ia sadar. Aiken sendiri bahkan bingung kenapa dia sampai meneteskan air matanya.


"Aku kenapa?" Aiken mengusap air mata yang terus menetes, lalu ia teringat dengan wajah seorang anak kecil, anak kecil adik Aiken Akira. Tapi wajah gadis kecil itu tak Aiken kenal, ia hanya menangis tanpa ia sadari.


Ayumi yang melihat Aiken sadar, gadis itu dengan senang langsung memeluk erat Aiken. Dan pemuda itu masih merasa bingung kenapa ia menangis, ia merasa sedih tapi ia tak tahu penyebab ia bersedih.


"Ayumi, aku kenapa?" tanya Aiken.


"Sekarang kau akan baik-baik saja, Aiken. Maaf, aku meninggalkanmu lama," ucap Ayumi, ia memegang kedua tangan Aiken.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Aiken. Pertanyaan Aiken sekali lagi membuat Alex, Alyssa juga Ayumi terkejut. Sudah jelas jika Aiken tak mengingat peristiwa itu, ia bahkan sudah melupakan pertemuannya dengan adiknya ataupun Alice, ia bahkan sudah melupakan pertemuannya dengan Hiroshi.


"Tidak apa-apa. Ini akan lebih baik," ucap Alex, ia tersenyum lalu ia menepuk-nepuk pundak Aiken.


"Hei, kawan. Bagaimana dengan jantungmu?" tanya Alex.


Aiken memegang dadanya, ia mencoba merasakan detak jantungnya. Ia terkejut ketika ia dapat merasakan detak jantung. Ia tahu jika jantung buatan yang berada dalam tubuhnya tak bisa berdetak seperti jantung manusia pada umumnya.


"Jantungku berdetak?" ucap Aiken, ia bahkan masih belum percaya jika jantungnya berdetak.


"Itu sebuah keajaiban, Aiken. Jangan terkejut, seharusnya kau senang," ucap Alex, ia merangkul Aiken.


"Ayumi, bagaimana kabarmu? Sepertinya aku sudah cukup lama tak melihatmu?" tanya Aiken pada Ayumi.


"Hei, Ayumi," panggil Aiken.


"Ya, ada apa?" sahut Ayumi, ia melepas pelukannya.


"Aku seperti telah melupakan hal penting. Hal yang sangat penting. Aku seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat aku sayangi, kira-kira apa itu, Ayumi?" tanya Aiken.


Ayumi terdiam, ia hanya menatap arah Alyssa dan Alex.


"Mungkin itu hanya karena kau sedang sakit. Saat kau sembuh kau akan baik-baik saja," sahut Alex.


"Apa begitu? Aku pikir aku sudah melupakan banyak hal," sahut Aiken.


"Jangan khawatir, Aiken. Itu pasti hanya efek samping dari obat yang sudah dokter suntikkan padamu," sahut Alyssa.


"Sepertinya begitu. Kira-kira kapan aku bisa pulang? Ayumi, apa aku sudah lama tidak masuk sekolah?"


"Yah, begitulah. Tapi, tenang. Aku sudah mengurusnya. Saat kau sembuh kita akan pergi ke sekolah," sahut Ayumi.


"Ini sulit dipercaya. Jantungku benar-benar berdetak, seakan-akan ini hanya mimpi untukku," ucap Aiken, sekali lagi ia masih belum mempercayai dengan adanya suara detakan dari jantungnya.


"Kenapa kau sampai mengira begitu? Seharusnya kau senang kan?" tanya Alex.


"Sudah saat aku berumur tiga belas tahun jantungku mulai tidak berdetak. Dan sampai saat ini tiba akhirnya jantungku akan berdetak kembali," sahut Aiken.


Saat Aiken pulang dari rumah sakit, Ayumi terus berada disisi Aiken. Ia yang sudah merawat Aiken sampai Aiken benar-benar mulai kembali sembuh. Ayumi juga yang merawat apartemen Aiken, ia juga yang memasak untuk Aiken.


"Sekarang aku baik-baik saja, Ayumi. Terimakasih, karena saat aku sakit kau yang sudah merawatku," Aiken tersenyum pada Ayumi.


"Ya, jangan ragu untuk meminta bantuanku," jawab Ayumi.


"Ayumi, apa kau akan selalu bersamaku? Sepertinya aku sudah melupakan banyak hal, dan mungkin kaulah satu-satunya orang yang tidak aku lupakan," ucap Aiken.


"Aku tak akan meninggalkanmu," Ayumi tersenyum pada Aiken.


"Oh iya! Bagaimana dengan pekerjaanku! Pasti aku sudah kehilangan banyak kesempatan untuk dapat bayaran besar!" ucap Aiken, ia baru teringat dengan pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran agen Reco.


"Memangnya kau bekerja apa?" tanya Ayumi.


"Aku lupa. Ayumi belum tahu aku. Aku harus tetap diam!" batin Aiken.


"Ada lah. Itu rahasia!" jawab Aiken.


"Astaga, aku kehilangan kesempatan untuk mendapat uang banyak!" gerutu Aiken.