
"Apa ini yang dimaksud dari inti kekuatan mereka?" pikir Aiken sembari berjalan mendekati bola-bola cahaya itu lalu mengulurkan tangannya. Cahaya itu langsung terserap masuk ke dalam manset telinga Aiken saat Aiken mengulurkan tangannya.
"Ternyata memang benar. Tapi, apa aku harus selalu mengulurkan tanganku saat akan mengambil inti kekuatan mereka? Aku pikir itu tidak diperlukan selama kemampuan manset telingaku masih dalam keadaan aktif," ucap Aiken.
Lalu Aiken melihat ke arah manusia yang sekarang ini bagian tubuhnya yang masih tersisa hanya bagian tangan, kaki dan kepalanya saja. Mata manusia itu masih terbuka, wajahnya penuh dengan darah, begitu juga dengan kaki dan tangannya.
"Mereka pilih-pilih ternyata kalau makan," ucap Aiken lalu dia berjalan pergi meninggalkan area sekitar gedung tua itu.
Setibanya di apartemen, Aiken langsung duduk santai di sofa sembari menyalakan tv nya. Aiken berbaring di sofa itu sembari menonton tv. Masih ada camilan, Aiken mengambilnya dari dalam kulkas dan menikmatinya sambil menikmati acara tv yang menurutnya hari ini acaranya cukup bagus dibanding dengan acara tv hari-hari kemarin. Tapi tiba-tiba saja Aiken mulai melamun. Dia mencoba untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Dia pikir sebelum pergi ke gedung tua tadi, dia sempat memikirkan hal yang ingin dia lakukan. Tapi entah kenapa dia dengan mudahnya melupakan hal itu.
"Kenapa rasanya pikiranku jadi kosong begini sih. Kenapa aku jadi pelupa gini sih," gerutu Aiken sambil mengusap-usap kepalanya.
Setelah makan Aiken pergi ke kamarnya, dia terkejut saat melihat dalam kamarnya yang terlihat begitu berantakan.
"Apa sebelumnya aku belum bersih-bersih ya tadi? Astaga di bagian ini pun aku juga sudah lupa," lalu Aiken pun membersihkan kamarnya setelah cukup lama dia jarang sekali bersih-bersih apartemen ataupun kamarnya.
Pagi hari yang cerah, tapi cuaca terasa cukup dingin walau matahari sudah mulai terbit. Aiken yang bangun tidur pun masih bersama dengan selimut dan bantalnya di atas kasur. Cuaca hari ini memang terasa cukup dingin karena sebentar lagi akan musim dingin. Bahkan di kamar mandi pun, Aiken masih memandangi air keran yang saat dia sentuh saja sudah terasa sangat dingin.
"Cih. Dingin banget. Apa aku nggak mandi aja ya. Tapi kalau nggak mandi nggak enak rasanya," Aiken menatap air yang keluar dari keran itu hampir selama sepuluh menit. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk tetap pergi mandi.
Setelah mandi, Aiken bersiap untuk berangkat sekolah. Karena belum sempat membuat sarapan, Aiken pagi ini hanya sarapan satu potong roti lapis saja dan setelah itu dia langsung berangkat sekolah naik taxi.
Saat Aiken tiba di sekolahnya, dia berdiri di depan sekolahnya yang mewah dan besar itu. Tatapan Aiken saat dia memandangi sekolahnya terlihat seperti tatapannya saat dia baru pertama kali melihat sekolah itu.
"Kenapa aku jadi asing gini dengan sekolahku? Padahal udah dua tahun aku sekolah di sini," ucap Aiken sembari berjalan masuk ke dalam sekolahnya.
Saat Aiken tiba di dalam kelasnya, temannya Alvin langsung merangkul Aiken. Tapi entah kenapa Aiken seperti baru mengenal Alvin. Tatapan Aiken menjelaskan bahwa dia seperti baru kenal dengan temannya itu.
"Kau, Alvin kan?" tanya Aiken dan pertanyaan aneh Aiken membuat Alvin terkejut. Alvin langsung memegang kening Aiken.
"Kawan, apa kau sakit? Apa kemarin kau habis kebentur?" tanya Aiken sembari terus memegangi kening Aiken.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Pertanyaanmu itu lho. Benar-benar aneh," ucap Alvin.
Dan tidak lama kemudian Ayumi juga datang. Dia langsung menghampiri Aiken dengan wajahnya terlihat senang.
"Selamat pagi, Aiken!"
Aiken menoleh ke arah Ayumi. Tapi lagi-lagi tatapannya itu terlihat seakan-akan Aiken baru melihat wajah Ayumi.
"Kau, siapa?" tanya Aiken dengan wajah bingung. Alvin sampai kembali terkejut, begitu juga dengan Ayumi.
"Aku Ayumi, Aiken. Ada apa? Apa kau baik-baik aja?" tanya Ayumi berjalan mendekati Aiken. Wajah Alvin memerah saat Ayumi mendekati Aiken.
Aiken memegangi kepalanya, dia merasa jika ingatannya semakin hari semakin memudar. "Kenapa aku seperti tidak bisa mengingat apa-apa? Ada apa denganku?" ucapnya sembari berjalan mendekati tempat duduknya.
"Alvin, dia kenapa? Apa jangan-jangan kemarin kalian berantem terus kau menonjok kepalanya?" hanya Ayumi.
"Ngawur! Ngapain aku harus bertengkar dengannya," jawab Alvin.
Saat jam istirahat, Aiken memegangi manset telinganya. Dia masih bisa mengingat Alice dan tujuannya dengan manset telinganya. Tapi entah kenapa dia seperti sudah tidak bisa mengingat apapun yang terjadi di waktu sebelumnya? Semakin waktu berjalan semakin ingatan Aiken sebelumnya menghilang.
"Ngomong-ngomong, apa yang akan terjadi jika aku mengaktifkan manset telinga ini, ya? Apa di sini juga ada makhluk gaib?" pikir Aiken.
Aiken pun mengaktifkan manset telinganya dengan menekan tombol kecil yang berada di manset telinganya itu. Saat manset telinganya aktif, tiba-tiba saja Aiken melihat jejak kaki berwarna merah muda di lantai kelasnya. Aiken merasa jika itu bukanlah jejak dari makhluk gaib, karena jejak itu seperti jejak dari manusia.
"Jejak apa itu? Apa aku ikutin aja," lalu Aiken pun mengikuti jejak itu sampai jejak itu membawanya sampai atap sekolah. Jejak itu langsung menghilang saat Aiken tiba di atas atap sekolah.
Di sana Aiken melihat seorang gadis berambut ungu panjang cantik tampak tengah berdiri di atap itu sembari melihat langit-langit. Aiken berjalan menghampiri gadis itu.
"Kau? Apa kau murid baru di sekolah ini? Aku seperti baru melihatmu di sini," ucapnya sembari mendekati gadis itu.
Saat menoleh ke arah Aiken, iris matanya yang berwarna merah cantik menatap mata Aiken. Saat menatap mata gadis itu, tiba-tiba saja Aiken seperti terkena hipnotis. Lalu Aiken memalingkan pandangannya dari gadis itu dan mencoba untuk kembali menyadarkannya karena hampir saja Aiken kehilangan kendali tubuhnya.
"Siapa gadis itu sih! Kenapa aku tadi seperti terkena hipnotis saat menatap matanya?" pikir Aiken sembari mengusap-usap matanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya gadis itu sembari mendekati Aiken. Suaranya yang lembut keluar dari mulut manis gadis itu.
"Aku baik-baik saja. Kau, siapa?" tanya Aiken.
"Namaku Alice," jawab gadis itu. Aiken terkejut saat gadis itu menyebutkan namanya, nama dari gadis itu sama persis dengan Alice yang berada di gerbang Hollow.
"Alice?" Aiken masih terkejut. Tapi dia tidak bisa juga menganggap hadis itu Alice gadis yang dia kenal. Nama Alice bukanlah satu-satunya, Aiken mencoba untuk tidak berpikir jika gadis itu bukanlah Alice yang dia kenal.
"Kenapa kau di sini sendirian?" tanya Aiken.
"Aku suka menyendiri. Itu akan membuatku tenang, lagipula... " lalu Alice kembali menatap mata Aiken lalu jadinya menunjuk arah Aiken. "Aku hanya ingin dekat denganmu," ucapnya.
"Heh...?" Aiken masih belum mengerti maksud dari perkataan Alice. "Apa maksudmu?"
Alice tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa. Aku pergi dulu," lalu Alice berjalan pergi meninggalkan Aiken.
"Ada apa dengannya?"
Sepulang sekolah, Aiken ingin mencari makhluk-makhluk gaib itu. Dia langsung pergi ke arah kota untuk mencari mereka. Tapi tanpa manset telinganya, Aiken ternyata cukup kesulitan mencari mereka. Mereka bisa saja berada di mana-mana, tapi kota begitu luas.