
Di sekolah, saat Aiken tengah berjalan santai menuju kelasnya dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, di koridor sekolah ia melihat salah satu murid laki-laki yang tengah berbincang-bincang dengan Elena. Tapi terlihat pria itu seperti ingin dekat dengan Elena, tapi gadis itu seperti terlihat takut dengan pria dengan wajah bringasnya itu.
"Elena, kamu lah satu-satunya gadis yang sudah membuat pria sepertiku merasakan jatuh cinta. Kamu mau kan jadi pacarku? Aku pasti akan membahagiakanmu," ucap pria itu. Ia berjalan mendekati Elena, tapi justru gadis yang membawa buku itu berjalan mundur menjauhi murid laki-laki.
Perlahan-lahan Elena mundur, ia sampai menabrak Aiken yang berdiri di belakang Elena. Sontak Elena tersentak kaget saat Aiken memegang pundaknya saat ia menabraknya. Aiken menatap tajam murid laki-laki itu, sudah seperti seekor singa yang kelaparan, membuat pria dengan wajah bringas sedikit takut melihat tatapan tajam Aiken.
"Oi! Lepaskan dia! Kau siapa sampai memegang pundaknya, ha!" seru pria itu kesal pada Aiken.
Aiken diam saja, ia malah memeluk Elena dari belakang, membuat pria itu semakin kesal, ia sampai mengayunkan tangannya untuk menonjok wajah Aiken. Tapi justru wajah pria itu yang bonyok karena tonjokan tiba-tiba dari Aiken.
"Apa kau diganggu sama pria bodoh itu?" tanya Aiken dengan wajah tenang, tapi berbicara pada Elena dengan nada lembut, sangat ramah.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah membantuku," sahut Elena.
"Aku pasti akan mengingatmu. Kau ingat dengan apa yang aku katakan kan. Kita seperti mempunyai ikatan dekat yang istimewa," sahut Aiken, ucapannya membuat Elena bingung, tapi ia juga gugup karena masih berada di pelukan Aiken.
Aiken melepas pelukannya, lalu ia berjalan mendekati pria yang masih memegangi pipinya yang bonyok.
"Kau pernah merasakan bagaimana rasanya patah tulang?" tanya Aiken pada pria itu. Sebelumnya wajahnya yang terlihat bringas, sekarang sudah berbeda, ia terlihat sedikit takut pada Aiken.
"Apa yang kau katakan!"
"Kalau kau belum pernah merasakannya. Aku bisa membantumu," Aiken memegang kedua tangan pria itu, ia melintirnya, benar-benar hampir membuatnya patah tulang.
"Hentikan! Oke, aku tidak akan mengganggunya lagi!" seru lelaki itu, dan Aiken pun melepaskannya. Pria itu langsung pergi meninggalkan koridor sekolah.
Aiken tersenyum lembut pada Elena, ia berjalan mendekati Elena. Ia langsung memeluk Elena, sekali lagi itu membuat gadis itu bingung dengan tingkah laku aneh Aiken selama ini.
"Ada apa?" tanya Elena saat Aiken memeluknya.
"Entahlah. Tapi ... aku seperti merasa nyaman jika dekat denganmu. Rasanya seperti ... " Aiken memejamkan matanya. "Seperti aku terbebas dari semua beban yang aku hadapi selama ini. Aku seperti merasa ringan dan bebas dari semua hal yang membuatku terbebani," ucap Aiken.
"Apa kau baik-baik saja?" Elena mulai merasakan jika Aiken memang tertidur. Elena terduduk di lantai, saat ia sudah duduk, Aiken malah membaringkan kepalanya di atas pangkuan Elena.
"Kumohon, biarkan aku merasakan kenyamanan ini," ucap Aiken, ia memejamkan matanya di atas pangkuan Elena.
"Kau pasti kenapa-kenapa. Ini lantai dingin, tapi kau malah memilih untuk tiduran di sini," ucap Elena.
"Entahlah. Aku tak merasakan dingin, justru hangat dan nyaman yang aku rasakan. Apa kau tahu, kemarin aku benar-benar apes," ucap Aiken.
"Apes?" Elena mengerutkan dahinya.
"Pagi aku terlambat ke sekolah dan dapat hukuman dari Bu Hana. Siangnya aku harus habiskan uang jajanku untuk traktir makan pak satpam," sahut Aiken, ia akhirnya bangun dan duduk di depan Elena.
"Kau aneh," Elena tersenyum manis, senyuman Elena membuat wajah Aiken sedikit memerah.
"Aneh kenapa?"
"Kau malah menceritakan hal ini padaku, padahal kan kita baru kenal."
Aiken mendekatkan wajahnya pada Elena, sontak langsung membuat Elena gugup, Aiken menyentuh kening Elena.
"Apa lukamu sudah sembuh?"
"Iya. Kemarin sudah sembuh kok," jawab Elena gugup.
"Ngomong-ngomong, kau mau ke mana? Sayang sekali aku mendapat kelas C," ucap Aiken. Padahal selama ini Aiken akan sangat santai dan tidak peduli jika ia harus mendapat kelas paling rendah sekalipun.
"Aku mau ke perpustakaan. Jadi kau berada di kelas C, ya."
"Ini sudah bel masuk. Apa kau yakin akan pergi ke sana?" tanya Aiken.
"Ya, guru juga tak mempermasalahkan jika aku pergi ke perpustakaan kok," jawab Elena, ia pun pergi meninggalkan Aiken.
Aiken menghela nafas panjang. "Hah ... aku ingin terus dengannya," gerutu Aiken, pandangannya masih tertuju pada Elena.
Ketika Elena akan membuka pintu perpustakaan, Aiken datang dan memegang tangan Elena.
"Kau? Ada apa?" tanya Elena.
"Kau belum tahu namaku kan?" tanya Aiken.
"Aku lupa. Aku sempat bingung saat memanggilmu," sahut Elena.
"Namaku Aiken. Elena, apa nanti sore kau sibuk?" tanya Aiken.
"Tidak juga. Hobiku membaca buku, jadi aku mungkin tidak terlalu sibuk selain hanya membaca buku," sahut Elena.
"Ayo kita jalan-jalan!" ajak Aiken.
"Heh, emm ... bisa saja."
"Oke. Sampai jumpa nanti sore. Aku akan menunggumu di taman Hafari," dan Aiken pun pergi.
Setibanya di kelas Alvin dan Ayumi langsung menghampiri Aiken, mereka terutama Ayumi tampak terlihat khawatir pada Aiken. Tapi kelihatannya Aiken malah bingung dengan tingkah laku mereka berdua.
Ayumi memegang kedua tangan Aiken, membuat Lucia kesal saat ia melihatnya. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau marah padaku dan Alvin?"
"Aku marah pada kalian? Marah tentang apa?"
"Yah ... kemarin setelah dari kantin kau nggak ngomong lagi dengan kami," sahur Alvin.
"Maaflah. Aku bukannya marah, hanya sedang meratapi uang jajanku yang habis dalam waktu satu hari. Bahkan sebelumnya aku selalu dapat menyisakan uang jajanku, dan ini ... "
"Apa perlu kau bekerja denganku, aku akan membayarmu," ucap Alvin, ia terlihat begitu menghayati.
"Ada bayaran aku jalan!" ucap Aiken.
"Kau bisa mencuci semua baju-baju kotorku, mengepel lantai rumahku, dan juga membersihkan rumahku. Lima tahun sekali aku akan memberimu gaji," ucap Alvin.
"Kau mau mati?" Aiken merangkul Alvin dengan erat. Ayumi menghela nafas lega saat ia tahu jika Aiken tak marah padanya.
"Kalian jangan bercanda lagi. Bu Hana akan datang sebentar lagi," ucap Ayumi.
"Hei, Ayumi. Sepertinya kau akan cocok jika pacaran dengan Alvin," ucap Aiken.
Alvin langsung mengedipkan satu matanya pada Ayumi saat gadis itu menatap ke arahnya.
"Kau bercanda pasti! Itu tak akan pernah terjadi!" seru Ayumi kesal. Ia langsung kembali duduk di bangkunya.
"Yah ... dia nya nggak mau," ucap Alvin.
"Hah, tenang kawan," Aiken merangkul Alvin. "Dia tuh lagi malu-malu kucing aja."
"Ngomong-ngomong, gimana sih caramu merubah sikap dengan sangat cepat? Mungkin itu yang membuat Ayumi tertarik denganmu," ucap Alvin.
"Ayumi ... tertarik denganku? Mana mungkin. Kita kan cuma teman aja, Alvin," sahut Aiken.