Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 30



Ketika pulang sekolah, Aiken tengah berjalan santai dengan earphone yang sudah ia pakai. Saat itu, tiba-tiba saja Lucia lewat dengan jalan yang begitu cepat, ia sampai tak sadar menyenggol Aiken yang berjalan cukup santai. Di halaman sekolah itu ada genangan air, saat menginjaknya, sontak Lucia terpeleset dan hampir jatuh. Beruntung saat itu Aiken menopang tubuh Lucia yang hampir terjatuh, sekilas mereka saling bertatapan.


"Lepaskan aku," ucapan Lucia sontak langsung membuat Aiken melepas tangannya dari memegang pinggang Lucia, dan pada akhirnya Lucia terjatuh.


"Kenapa kau lepaskan sih!" geram Lucia.


Aiken diam saja, ia terlihat begitu tenang, membuat Lucia menjadi bingung juga salah tingkah dengan sikap tenang Aiken. Lalu Aiken pun pergi meninggalkan Lucia yang masih terduduk di halaman sekolah.


"Aiken, sepertinya bapak baru melihat kamu masuk sekolah hari ini. Kamu ke mana aja?" tanya pak satpam yang melihat Aiken melewati pintu gerbang.


Aiken menoleh ke arah pak satpam itu, lalu ia melepas earphone nya dan mengkalungkannya di leher.


"Aku kemarin sakit pak. Bapak apa kabar? Bapak tidak sakit kan? Bapak baik-baik saja kan?" tanya Aiken.


"Bapak selalu sehat. Pantas saja bapak sudah lama tidak melihatmu terlambat sekolah."


"Seharusnya bapak tuh doain aku supaya tidak sering terlambat agar aku terbebas dari hukuman Bu Hana."


"Iya deh. Bapak doain."


"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi," Aiken pun pergi menuju halte bus terdekat. Terlihat sekali Lucia tampak kesal pada Aiken.


"Tadi aku bicara padanya dia diam aja. Dia benar-benar menyebalkan," gerutu Lucia kesal.


Ketika Aiken tengah berdiri dengan santai sembari mendengarkan musik, tiba-tiba saja seorang lelaki memakai kacamata hitam memakai kemeja dan berjas hitam dengan dasi hitam celana hitam berdiri di samping Aiken sambil lelaki itu membaca buku. Aiken sadar jika lelaki itu membaca buku secara terbalik.


"Pak, apa bapak ada syndrom?" tanya Aiken pada lelaki yang berisi di sampingnya itu.


"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya lelaki itu, ia pun membalikkan bukunya kembali setelah ia sadar jika ia memang buku yang ia pegang terbalik.


"Tadi bapak baca buku terbalik. Aku pikir bapak ada syndrom yang hanya bisa membaca secara terbalik," sahut Aiken.


"Sepertinya penglihatanmu sangat jeli. Tidak salah jika agen Reco ingin terus memperkejakan kamu," ucap lelaki itu, sontak Aiken langsung terkejut mendengar ucapan dari lelaki itu.


"Apa bapak mengenalku?" tanya Aiken.


"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku sampai berdiri di sini lama hanya untuk menunggu bus datang. Aku di sini hanya ingin bicara denganmu."


"Siapa bapak sebenarnya? Jika bapak salah satu dari agen Reco, sepertinya aku belum pernah melihat bapak."


"Belum pernah. Dari dulu aku ingin bertemu dengannya. Tapi Alyssa selalu saja tidak memperbolehkan aku untuk bertemu dengannya dengan selalu membuat alasan," sahut Aiken, ia berbicara pada lalaki itu pelan tanpa memandang ke arahnya.


"Namaku Galan. Sebelumnya aku memimpin agen Reco yang beroperasi di luar kota Tokyo. Tapi, karena pemimpin dulu sekarang ini dipenjara, aku yang akan menggantikannya. Lagipula, pemimpin yang sebelumnya sudah dikeluarkan dari agen Reco."


"Heh ... aku tidak tahu itu. Pantas saja anda berada di sini. Jadi, apa yang anda inginkan dengan berbicara padaku di sini?" tanya Aiken.


"Aku ada tugas untukmu. Tugas ini bersifat rahasia, bahkan kamu orang pertama yang akan aku beritahu tugas ini. Ingat! Jangan beritahu tugas ini pada siapapun termasuk agen Reco sekalipun!"


"Memangnya kenapa? Apa tugas ini diluar dari oeprasi agen Reco?" tanya Aiken.


"Bisa dikatakan ini oeprasi agen Reco. Tapi, aku hanya percayakan tugas ini padamu saja."


"Apa tugasku? Jika ada bayaran, aku akan bekerja."


"Tentu. Bayaran yang sangat besar akan menantimu," lalu Galan memberikan kertas putih yang sudah dilipatnya pada Aiken. Sebelumnya pemuda itu masih bingung dengan apa yang diberikan oleh Galan, tapi setelah ia membuka dan membacanya, ia mulai mengerti akan tugasnya itu.


"Kau hanya memberitahuku nama orang yang harus aku bunuh. Tapi kau tak memberitahuku foto dari orang yang kau tulis. Bagaimana jika aku salah orang?!"


"Fotonya akan aku kirimkan lewat ponsel. Nanti sore aku akan kirimkan fotonya."


"Siapa orang-orang ini? Apa aku harus membunuh mereka langsung? Bisakah kau jelaskan semuanya padaku?"


"Bisa dikatakan, ini adalah operasi untuk menumpas para pembuat eksperimen ilegal," sahut Galan, lalu ia pun pergi setelah bus datang.


"Menumpas para pembuat eksperimen ilegal? Aku rasa ini bukan hanya karena itu. Tapi, bahkan dia tidak mau jujur padaku. Hah, sudahlah. Ini diluar keinginanku yang tak ingin banyak berbicara, tapi banyak bekerja," dan Aiken pun menaiki bus.


Sorenya setelah Aiken baru selesai mandi, ponselnya berdering. Ternyata Galan sudah mengirimi semua foto orang-orang yang harus Aiken bunuh.


"Dia bilang jika aku harus perlahan-lahan untuk membunuh mereka. Artinya aku tidak boleh langsung membunuh mereka semuanya kan? Baiklah! Aku rasa pekerjaan ini akan menjadi pekerjaan dengan bayaran besar."


Target pertama yang harus Aiken bunuh adalah seorang pria muda yang berumur sekitar 27 tahun. Pria itu adalah seorang ilmuwan ilegal yang baru beroperasi ketika ia sudah menginjak umur 22 tahun. Pria yang memiliki rambut coklat bermata hitam itu bernama Berchius, orang yang membuat eksperimen untuk membuat hewan dapat berbicara. Tapi jika itu diteruskan, tentu itu akan merusak ekosistem makhluk hidup di bumi ini, dan Aiken tak boleh membiarkan itu terjadi. Walau sebenarnya ia tidak peduli, atau bahkan masih belum mengerti motif sebenarnya dari tugasnya, demi uang ia harus melakukan tugas ini dengan sangat hati-hati tapi juga cepat.


Target pertamanya itu saat ini tinggal di sebuah apartemen mewah yang berada di lokasi distrik Nomoya. Distrik Nomoya, lokasi dengan banyaknya orang-orang yang berasal dari kelas elit, orang-orang yang kaya raya, banyak uang dan harta. Bahkan, Aiken sedikit merasa jika ia tak ingin membunuh Berchius, karena saat ini dia sedang menghitung banyak sekali uang dan perhiasan emas di dalam apartemennya. Itu terlihat dari atas atap gedung dengan menggunakan teropong jarak jauh.


"Yah, dia lagi ngitung uang. Jadi nggak tega untuk membunuhnya. Pasti beruntung siapapun yang jadi bagian dari keluarganya, punya banyak uang dan harta," ucap Aiken.


Di sana ia sudah menyiapkan senapan jarak jauh. Membunuh perlahan-lahan bukan hanya tidak membunuh mereka dalam satu waktu, tapi juga membunuh mereka secara rahasia, tanpa ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Karena, Berchius juga salah satu ilmuwan yang sudah naik pangkat, banyak orang-orang yang menghormatinya, walau mereka sebenarnya belum tahu jika dia ilmuwan ilegal.