Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 33



Aiken bersikap tenang juga dengan tatapan dinginnya pada Adras. Ia berjalan dan duduk di sofa dalam ruangan itu, duduk dengan begitu santai tanpa ia sadar jika ia tengah berhadapan dengan seorang CEO tersohor di Tokyo.


"Apa anda tahu. Jika pangkat level tinggi atau rendahnya seseorang bukan hanya pada kekayaan mereka saja, tapi juga sikapnya yang menjadi pacuan kshusus. Dan aku rasa anda belum tahu tentang itu," ucap Aiken dengan begitu santainya.


"Lucia, kamu dapat darimana pria ini?" tanya Adras sembari ia duduk dengan kedua tangannya terlipat bertopang dagu.


"Sebelumnya dia teman sekelasku. Tapi ... ayah!"


"Kau memilih orang yang tepat, Lucia," sebelum Lucia melanjutkan ucapannya, ia sudah terkejut dengan apa yang sudah ayahnya katakan. Tapi Aiken yang sudah mendapat restu dari Adras, ia justru yang masih terlihat tenang dan santai, duduk tenang sambil membaca buku yang berada di atas meja.


"Apa yang ayah katakan benar?" tanya Lucia memastikan perkataan ayahnya yang benar-benar cukup membuatnya terkejut.


"Tentu saja. Apa yang dikatakannya benar. Bukan hanya kekayaan, tapi juga sikap," sahut Adras.


"Aiken, bagaimana kau bisa berpikir dengan cara yang kau lakukan tadi?" tanya Lucia pada Aiken saat mereka sudah pergi dari perusahaan ayah Lucia.


"Ini diluar dugaanku. Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar. Aku juga tak suka jika sampai ada orang yang sampai menghinaku, walau mereka CEO atau polisi sekalipun," sahut Aiken. Ucapan Aiken membuat Lucia kagum padanya, wajahnya memerah karena kagum dengan perkataan Aiken.


"Terimakasih. Dengan ini kau sudah menyelamatkan masa depanku," ucap Lucia.


"Hei, yang aku lakukan tadi harus ada tambahan imbalan. Tiga hari sekali kau kirimi aku uang, maka aku akan tetap membantumu," ucap Aiken.


Lucia menghela nafas pelan. "Oke, oke. Kau itu mata duitan ya."


"Tentu saja," sahut Aiken dengan bangganya.


"Apa kau juga akan memilih uang jika ada seorang gadis cantik yang ingin menjadi pacarmu?" tanya Lucia.


"Hah! Pacar, aku bahkan tidak ingin mengingat kata itu lagi. Pacar itu hanya akan menyusahkanku saja. Tidak berguna," kata Aiken dengan bangganya.


"Tapi ... "


"Tapi apa? Sudahlah, lebih baik sekarang aku pulang dan istirahat. Daripada meladenimu di sini," Aiken berjalan pergi sembari ia melambaikan tangannya pada Lucia.


Malam itu, ketika Aiken tengah berjalan santai menuju apartemennya melewati jalan yang saat itu sedang cukup sepi, tiba-tiba saja seorang mayat seorang pria terjatuh tepat di depan Aiken. Membuat Aiken tersentak kaget, saat ia mendongak, ia melihat seseorang yang tampak misterius berlarian melompati atap-atap perumahan. Mayat itu lagi-lagi sudah terlihat begitu pucat, sudah kehilangan semua darahnya.


"Apa benar itu vampir? Apa benar di dunia ini ada vampir? Tapi kalau vampir seharusnya ada bekas gigitan dilehernya kan. Dan ini tidak ada," ucap Aiken, ia kembali memeriksa mayat itu. Dan tak ada bekas gigitan vampir dilehernya.


"Hei, itu dia!" tiba-tiba saja beberapa orang datang dan mengerumuni mayat itu. Tapi mereka datang bukan hanya untuk membantu mayat itu, tapi mereka menangkap Aiken.


"Hei, dia pasti yang sudah membunuhnya!" ucap salah seseorang.


"Hei, apa yang kau katakan! Mana mungkin aku yang membunuhnya?!" sahut Aiken membela diri, tentu ia tak mau jika sampai difitnah seperti itu.


"Tapi, hanya kau yang berada di sini. Pasti kau yang sudah membunuhnya! Lebih baik kita bawa dia ke penjara aja!"


"Tunggu! Kalian jangan seenaknya gini dong! Aku kan sudah bilang jika tidak membunuh orang ini! Lihatlah dia, apa ada bekas luka yang membuktikan jika aku yang membunuhnya?!"


"Dan kalian lihat aja. Dia sudah kehilangan darahnya, artinya bukan manusia yang membunuhnya kan!" lanjutnya.


"Kau benar. Tapi tetap saja kami harus membawamu ke kantor polisi!"


"Hah! Jangan bercanda! Aku tidak terlibat dengan hal ini! Aku tadi hanya lewat saja dan tidak sengaja tiba-tiba aja dari atas ada mayat ini terjatuh!" seru Aiken.


Tapi ucapannya sama sekali tak membuatnya terbebas dari hukuman. Ia tetap dibawa oleh orang-orang itu ke kantor polisi. Tapi sebelum mereka akan membawa Aiken pergi, tiba-tiba saja seorang lelaki berambut coklat bermata hitam memakai celana hitam kemeja putih, jas coklat juga dasi merah datang.


"Tunggu!" sergap lelaki itu.


"Dia tidaklah bersalah. Dan saya saksinya. Tadi saya ada di daerah sini," ucap lelaki itu.


"Apa kau tidak sedang berbohong? Atau kau memang bekerja sama dengannya?"


"Hei! Kalian ini gimana sih! Udah ada bukti juga masih aja nyalahin!" sahut Aiken kesal.


Lalu lelaki itu menunjukkan sebuah kartu identitas yang menyebutkan bahwa dia adalah salah satu anggota kepolisian di kota Tokyo. Setelah melihat kartu identitas itu, mereka langsung melepaskan Aiken.


"Maaf, ya. Kami pikir kau bersalah."


"Hah. Untung aja aku baik," sahut Aiken. Dan orang-orang itupun pergi membawa mayat itu juga.


"Apa kau baik-baik saja? Mereka tidak memukulimu kan?" tanya lelaki itu setelah orang-orang itu pergi jauh.


"Aku oke. Aku tahu bapak lho. Ternyata seorang bapak Galan pintar menyamar ya," ucap Aiken.


Lelaki itu tersenyum tipis, lalu ia melepas topeng yang ia pakai untuk menutupi wajah aslinya.


"Kamu pintar. Memang tidak salah jika agen Reco masih mempekerjakan kamu," sahut Galan.


"Bagaimana bapak bisa tahu aku di sini? Apa bapak sedang berpatroli atau semacamnya?" tanya Aiken.


"Aku sedang berpatroli. Aku mengawasi kota, kau pasti sudah tahu jika akhir-akhir ini banyak mayat manusia kan."


"Ya. Banyak yang mengatakan jika itu ulah vampir. Tapi ... aku masih ragu dengan itu," sahut Aiken.


"Keraguanmu benar. Ini bukanlah ulah Vampir."


"Apa bapak tahu sesuatu tentang seorang misterius yang tadi datang?"


"Ya. Kemungkinan ini ulah dari ilmuwan ilegal," sahut Galan.


"Hah! Bagaimana bisa. Bagaimana caranya?"


"Aku masih belum tahu. Dan kamu yang akan mencari tahu."


"Aku? Kenapa harus aku? Ini bukan tugasku, aku hanya bertugas untuk membunuh kan."


Galan memberikan sebuah koper pada Aiken, dalam koper itu berisi banyak uang. Tanpa berpikir panjang Aiken langsung mengambil koper itu.


"Oke. Serahkan ini padaku!" dan Aiken pun pergi.


Sebenarnya malam itu ia juga akan menjalankan tugasnya untuk membunuh target keduanya. Tapi, setelah apa yang dikatakan Galan, ia gagal melakukannya. Ia harus memecah misteri tentang mayat-mayat manusia yang banyak berjatuhan di malam hari.


Sampainya di apartemen, ia melihat Ayumi yang veridiri di depan pintu apartemen Aiken.


"Ayumi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aiken.


"Kamu ke mana aja? Aku tungguin daritadi juga."


"Aku ada urusan. Ada apa?"


"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja kok," jawab Ayumi.


Aiken mengelus-elus kepala Ayumi, dan membuat wajah Ayumi memerah. "Tenang, tenang. Aku oke."