Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 37



Sore hari tepat pukul tiga, saat Aiken tiba di taman Hafari, ia sudah melihat Elena yang duduk di kursi menunggunya.


"Apa kau menunggu lama?" tanya Aiken, ia berdiri di depan Elena.


"Aku baru datang. Aku pikir aku akan menunggu lama," sahut Elena.


"Kenapa kau bisa berpikir begitu?"


"Emm, hanya tebakanku saja."


"Aku tadi ingin mengajakmu jalan-jalan, tapi aku malah bingung mau ajak kau jalan-jalan ke mana," ucap Aiken.


"Emm ... bagaimana kalau kita ke pantai?"


"Tapi ini sudah sore. Pasti dingin," sahut Aiken.


"Tenang. Sore begini pantai akan sepi, aku malah suka ke sana saat sore. Ada pantai kok di dekat sini, ayo!" Elena memegang tangan Aiken dan menariknya pergi ke pantai.


Benar saja, saat sore hari pantai terlihat sepi, hanya ada beberapa pengunjung, dan itupun tak bertahan lama mereka sudah pergi karena cuaca yang terasa dingin. Tapi Elena malah terlihat begitu menikmati saat ia di pantai di sore hari, melihat kesenangan Elena, Aiken hanya berdiri melihat apa yang gadis itu lakukan.


Aiken mulai merasakan dingin yang kuat, Aiken yang sebelumnya hanya duduk di atas pasir pantai, ia beranjak berdiri dan melepas jaketnya. Lalu ia pakaian jaketnya pada Elena.


"Dingin, apa kau tidak apa-apa di sini?" tanya Aiken sembari ia memakaikan jaketnya pada Elena.


"Aku sering datang ke pantai saat sore. Dan ini terasa menyenangkan," Elena berdiri di pinggir pantai, ia mengambil sedikit air dan menyipratkannya pada Aiken.


"Gimana, dingin?"


"Ini dingin, tapi kau malah santai aja," jawab Aiken sambil mengusap air yang berada di wajahnya.


"Aiken, ini kan udah mau malam. Kita makan di rumah makan dekat pantai ya," usul Elena, Aiken hanya mengangguk menurut.


Makanan di rumah makan dekat pantai terasa lebih khas. Mereka berdua bersama-sama menikmati makanan itu, sembari menikmati malam tenang dekat pantai.


"Elena, apa kau memang sering datang ke pantai ini?" tanya Aiken.


"Ya. Aku tinggal di apartemen, jadi saat aku senggang selain membaca buku aku juga akan pergi ke pantai saat sore hari," sahut Elena sambil ia menikmati segelas choco latte, sama seperti Aiken.


"Nanti aku akan mengantarmu pulang ke apartemen. Ini sudah malam, akan bahaya jika kau pulang sendiri," ucap Aiken.


"Bahaya? Apa kau sudah tahu tentang bahaya yang terjadi akhir-akhir ini? Mayat manusia yang selalu ada di malam hari?"


"Ya," Aiken memegang tangan Elena. "Dan aku tidak mau jika kau kenapa-kenapa. Aku seperti sudah merasakan kebersamaan seperti ini denganmu di masa lalu. Tapi, aku tidak tahu pasti," sahut Aiken.


"Di masa lalu?" raut wajah Elena langsung berubah, ia terlihat sedih.


"Kau, kenapa?" tanya Aiken.


"Kau mengatakan itu. Aku jadi ingat pada teman masa kecilku," sahut Elena.


"Sekarang di mana temanmu itu?" tanya Aiken.


"Dia ... sudah meninggal. Ayahnya yang memberitahuku," jawab Elena.


"Maaf, apa aku membuatmu sedih?"


"Tidak kok. Aku hanya tiba-tiba ingat saja dengannya," sahut Elena, ia tersenyum pada Aiken.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam," Aiken menggandeng tangan Elena, gandengan tangan Aiken membuatnya ingat pada teman masa kecilnya.


"Apa kau tinggal di apartemen ini?" tanya Aiken saat mereka tiba di apartemen yang sama seperti apartemen milik Aiken. Hanya saja Aiken berada di lantai bawah dan Elena berada di lantai atas dari lantai kamar Aiken.


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Aku baru sadar. Aku juga tinggal di apartemen ini, kenapa aku baru sadar ya. Apa kau tidak sering keluar rumah?"


"Aku lebih sering di apartemen membaca buku daripada keluar. Aku keluar jika ada kepentingan saja," jawab Elena.


"Mau masuk dulu? Aku akan buatkan teh hangat, atau kopi hangat, jus juga bisa. Ngomong-ngomong, aku ada buku bagus, aku bisa meminjamkannya padamu," ucap Elena.


"Oke. Lagipula aku tinggal di lantai bawah lantai ini. Jadi, dekat kok," sahut Aiken.


Aiken cukup kaget ketika ia melihat ruangan apartemen Elena yang tampak bersih dan rapi. Di dalam kamar Elena ada banyak sekali buku juga boneka, tapi lebih banyak buku di dalam kamarnya. Elena menyalakan lampu kamarnya, terlihat begitu rapi dan bersih, ada banyak sekali buku.


"Wah ... semua ini buku? Kau mengoleksi banyak buku?"


"Ya, itu adalah hal yang aku sukai. Kau di sini saja, aku akan buatkan teh hangat."


Elena kembali sambil membawa camilan juga teh hangat untuk Aiken. Elena juga memperlihatkan buku-buku bagus yang sudah ia baca, semua buku itu ia pinjamkan pada Aiken. Bahkan Aiken sedikit kesulitan untuk mengambil buku yang mana karena banyaknya buku itu.


"Kau tahu. Dulu aku juga sering membaca buku bersama dengan teman masa kecilku," ucap Elena, ia duduk di samping Aiken.


"Apa dia juga suka membaca buku?"


"Sebenarnya dia tidak terlalu suka. Tapi karena aku yang memaksa, jadi dia mencoba untuk mau membaca buku," sahut Elena.


"Ternyata temannya itu sama denganku. Aku tak terlalu suka baca buku," batin Aiken.


"Maaf, tapi aku juga tak begitu tertarik membaca buku. Tapi, karena kau ingin aku membacanya, aku akan coba untuk membaca salah satu," sahut Aiken.


"Terimakasih! Kau adalah orang kedua yang mau mendengarkanku," ucap Elena.


"Yang pertama temanmu, benar?"


"I-ya," wajah Elena memerah.


Aiken melihat wajah Elena yang memerah, ia memegang wajah Elena, dan Aiken menatap mata Elena, membuat Elena sedikit gugup.


"Kenapa?" tanya Elena gugup.


"Aku ... tidak ingin jauh darimu. Aku tidak tahu kenapa, aku seperti sudah bersama denganmu sebelumnya di masa lalu. Aku hanya ingin mengingatnya kembali jika benar," ucap Aiken.


"Apa ini yang membuatmu aneh sebelumnya?" tanya Elena.


"Elena, aku bukannya bersikap aneh. Tapi ... aku memang tidak bisa jika jauh darimu. Ini perasaan aneh," ucap Aiken.


"Kau tahu. Sebenarnya aku merasa hal yang sama. Tapi, aku mencoba untuk tidak menganggap hal itu serius. Sudah jelas jika kita baru kenal, tapi aku seperti sudah mengenalmu lama," sahut Elena.


"Elena, siapa nama teman masa kecilmu?" tanya Aiken.


"Heh ... emm aku hanya tahu nama keluarganya saja. Takamura," jawabnya.


"Kau tahu, namaku Aiken Takamura. Siapa nama ayahnya?"


"Tuan Hiroshi," jawab Elena lagi.


"Namaku memang Aiken Takamura. Tapi kalau soal ayah, aku tidak tahu siapa ayahku. Dari saat kecil aku dirawat pak Yoshi," sahut Aiken.


"Mungkin ini memang hanya kebetulan saja," sahut Elena.


"Tidak apa jika memang itu hanya kebetulan. Tapi, aku akan tetap dekat denganmu," Aiken mendekatkan wajahnya pada Elena, membuat Elena semakin gugup.


"Kau tahu. Mungkin ini namanya cinta. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan perasaan aneh dalam hatiku saat bertemu denganmu. Kau tahu, saat tadi pria itu mendekatimu, rasanya aku ingin langsung membunuhnya," sahut Aiken, wajah Elena memerah.


"Cinta?!"


"Ya, dan aku hanya ingin bersamamu. Dekat denganmu, tidak apa jika kamu tidak menerimanya. Tapi, aku akan tetap bersamamu, melindungimu, Elena."


"Maaf, ya Aiken. Tapi, aku sudah janji dengan Takamura. Aku berjanji kalau aku akan terus mencintainya," sahut Elena.


Aiken tersenyum. "Ya, pasti ada saat kamu akan menerimaku. Dan saat itu tiba, maka hal bahagia akan terjadi padaku," Aiken mencium bibir Elena dengan lembut, membuat Elena terkejut.