
Dengan cepat Aiken pergi ke dalam hutan untuk menemui Alice. Di sana Aiken melihat Alice tampak duduk di atas batu besar, menatap langit dari lubang besar yang berada di atas gua. Aiken menghampiri Alice dan duduk disampingnya.
"Apa aku terlambat?" tanya Aiken pada Alice.
"Tidak kok. Selamat datang."
"Maaf, tadi ada sesuatu yang harus membuatku berhenti cukup lama."
"Aku mengerti."
"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Apa kau yakin jika ingin membuatku melupakanmu?"
"Yakin tidak yakin. Tapi aku akan berusaha untuk yakin!"
Aiken mengambil master telinganya dan memberikannya pada Alice. Alice menerima manset telinga itu.
"Saat Hollow sudah normal, maka makhluk gaib itu kemungkinan besar tak akan datang lagi."
"Baguslah. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan manset telinga itu?"
"Aku akan menyalurkan inti dari kekuatan makhluk gaib itu ke dalam Hollow."
Alice mendekati pintu Hollow itu. Saat manset telinga itu mendekat pada pintu Hollow, manset telinga itu langsung mengeluarkan cahaya berwarna hijau. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk sebuah bulatan besar yang kemudian cahaya itu mengelilingi pintu Hollow.
"Aiken, sebelum aku pergi. Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, karena kau sudah mau membantuku. Saat inti kekuatan makhluk gaib itu sudah tersalur pada Hollow, ingatanmu akan kembali perlahan-lahan."
"Sama-sama. Aku juga ucapkan terimakasih padamu. Kau juga membantu bumi."
"Ya! Aku akan sangat merindukanmu. Walau kau akan melupakanku, tapi aku akan selalu mengingatmu."
"Ya. Maafkan aku jika aku harus melupakanmu. Kau adalah temanku yang sangat aku sayangi. Semoga kita bisa bertemu lagi dan berteman seperti saat ini."
"Teman, ya. Tapi... aku menganggapmu lebih dari teman!"
"A-pa yang kau bicarakan?"
Alice tersenyum pada Aiken, dia mendekati Aiken dan menyentuh wajah Aiken dengan lembut. "Aku mencintaimu, Aiken! Ini yang kurasakan saat aku pertama kali bertemu denganmu."
Wajah Aiken sedikit memerah, tentu saja. Baru kali ini dia mendapat pengakuan perasaan cinta dari seorang gadis. Dan gadis itu adalah seorang roh dewi.
"Maaf... "
"Tidak apa. Aku tahu jika kau hanya menganggapku sebagai temanmu. Aku mengerti akan hal itu."
Alice mendekati wajah Aiken, dan dia mencium bibir Aiken. Aiken terkejut dan wajahnya sedikit memerah.
"Mungkin bisa dikatakan ini adalah ciuman pertama dan terakhir kita."
Alice berjalan mundur perlahan-lahan, tubuhnya mulai transparan. Tubuhnya mulai menghilang.
"Selamat tinggal," ucap Aiken tersenyum pada Alice.
Saat pintu Hollow dan Alice menghilang, saat itu juga Aiken mulaiendapat penglihatan kabur. Dan dia terjatuh pingsan, dia pingsan hampir selama 15 menit. Saat dia kembali tersadar, dia sudah tak bisa mengingat Alice. Tapi ingatannya yang sebelumnya mulai kembali.
"Kenapa aku bisa berada di sini?" Aiken memegangi kepalanya yang merasa sedikit pusing.
Saat Aiken akan pergi dari dalam gua itu, dia melihat baru mutiara berwarna hijau. Di dalam mutiara itu ada bentuk elemen dendro (tanaman hijau).
"Ini, apa? Apa aku bawa pulang saja."
Aiken pergi dari gua itu dan juga dia membawa batu mutiara hijau itu bersamanya. Dia menyimpan batu mutiara itu dalam kotak khusus saat dia tiba di apartemennya.
"Entah kenapa aku seperti merasa tidak asing dengan mutiara ini."
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel pintu apartemennya berbunyi. Aiken pergi untuk membukakan pintunya.
"Alice? Kenapa datang? Apa jangan-jangan kau belum mendapatkan tempat tinggal?"
"Aku dapat kok! Aku tinggal di apartemen sini juga, berada di lantai bawah lantai ini."
"Hah... apa kau benar-benar tidak punya ide untuk tinggal di tempat lain selain tempat ini?" tanya Aiken.
"Aku kan udah kontrak denganmu lho. Jadi... aku harus selalu dekat denganmu."
"Ngomong-ngomong, hari ini tumben makhluk gaib itu tidak ada. Ada apa, ya?" pikir Alice bingung.
"Kenapa kau harus bingung. Seharusnya kau senang saat makhluk gaib itu sudah tak ada lagi."
"Tapi... " wajah Alice mulai sedih.
"Artinya kontrak kita akan segera berakhir. Dan saat kontrak itu berakhir dan aku melepaskan kontrak itu, maka kau akan... "
"Aku akan kenapa? Kalau ngomong itu yang benar."
Alice tiba-tiba saja langsung memeluk Aiken dengan erat. "Ada apa. Kau kenapa?"
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Kumohon!"
"Sebenarnya dia kenapa?"
"Aiken, aku akan memasak makanan kesukaanmu!"
"Heh... kenapa tiba-tiba?"
"Tidak apa. Kita hari ini akan makan malam bersama," dengan senang Alice pergi ke dapur dan mulai memasak.
Aiken masuk ke dalam kamarnya, membersihkan kamarnya yang terlihat berantakan. Saat dia tidak tengah membersihkan kamarnya, dia tak sengaja menemukan sebuah foto. Di dalam foto itu ada seorang gadis yang sekitar berumur 12 tahun berambut coklat sedang bermata biru dengan jepit rambut berada di kepalanya.
"Ini, siapa?" pikir Aiken, dia tampak tak mengenali foto gadis itu.
Alice pun masuk dalam kamar Aiken saat dia selesai memasak. "Siapa gadis kecil yang imut itu?" tanya Alice dan membuat Aiken terkejut.
"Aku tidak tahu."
"Heh... kau tidak tahu tapi kau menyimpan foto itu?"
"Aku tidak sengaja menemukannya."
"Coba kau ingat-ingat lagi. Siapa tahu dia teman masa kecilmu atau dia saudaramu gitu."
"Aku tetap tak bisa mengingat gadis dalam foto ini."
"Kalau tak ingat jangan dipaksakan. Lebih baik ayo kita makan malam!" Alice memegang tangan Aiken dan menarik tangannya keluar dari kamar.
Di meja makan, ada banyak sekali makanan kesukaan Aiken. "Kenapa kau harus masak banyak sekali?"
"Nggak papa. Sekali-kali."
Mereka berdua pun bersama-sama menikmati makan malam. Setelah itu, Alice membereskan piring-piring kotor dan gelas kotor lalu mencucinya.
"Apa kau yakin tak butuh bantuanku?"
"Ya. Aku bisa kok."
"Ngomong-ngomong siapa ya gadis dalam foto itu? Kenapa aku menyimpan fotonya?" pikir Aiken.
Saat di dalam kamarnya, Aiken kembali melihat foto itu. Dia mencoba untuk mengingat siapa gadis itu. Tapi dia tetap tak bisa mengingatnya walau dia sudah berusaha keras.
"Aiken, apa aku boleh masuk?" Alice berada di depan pintu Aiken.
"Masuk saja," Alice pun masuk ke dalam kamar Aiken dan dia duduk di samping Aiken.
"Kau melihat foto itu lagi?"
"Aku ingin mengingat siapa dia. Tapi kenapa aku tetap tak bisa mengingatnya?"
"Jangan memaksakan dirimu untuk mengingatnya. Mungkin kau akan ingat sendiri nanti."
"Sepertinya kau benar. Ngomong-ngomong, ada apa? Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya ingin berada di sini sebentar."
"Oh iya. Terimakasih."
"Terimakasih untuk apa?"
"Kau sudah memasak makan malam untukku."
Alice tersenyum tipis, lalu dia memeluk Aiken. "Ya, sama-sama."
"A-da apa? Kenapa kau selalu saja memelukku."
"Aku hanya suka saja memelukmu."
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu tentang iblis kelas SR?"
"Iblis kelas SR?"