
"Siapa pria tadi? Kenapa dia memakai topeng? Dia sepertinya mengenalku, tapi kenapa aku tidak?" batin Aiken sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Tendangan dari pria itu benar-benar kuat, bahkan sampai membuat Aiken terpental.
"Aiken, apa kau baik-baik saja?" tanya Ayumi langsung mendekati Aiken.
"Tidak, aku baik-baik saja. Siapa dia?"
"Aku tidak tahu. Tapi, aku seperti pernah melihatnya di Wastaly," jawab Ayumi.
"Benarkah? Siapa sebenarnya dia? Tapi... dia tadi sempat ingin mengambil manset telingaku."
"Heh... tapi untuk apa?"
"Dia tak boleh tahu tentang manset telingaku."
"Aku tidak tahu. Aku akan pulang saja, rasanya badanku benar-benar terasa sakit," Aiken berjalan meninggalkan Ayumi.
Sementara Alice masih berusaha untuk beranjak berdiri. Alice mengeluarkan muka kecutnya saat Aiken sama sekali tak merasa khawatir dengannya.
"Dia itu. Kenapa tidak ada rasa khawatirnya sama aku sih," gerutu Alice.
Aiken langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur saat dia pulang ke apartemennya. Dia membuka bajunya, melihat perutnya yang terkena tendangan pria tadi. Aiken terkejut saat melihat bekas tendangan pria tadi. Tendangan tadi sampai membuat perut Aiken membiru, saat Aiken menyentuh perutnya pun terasa sangat sakit.
"Siapa sih pria tadi? Dia kuat banget. Cih... apa yang dia inginkan sebenarnya," pikir Aiken sambil menutup kembali perutnya dengan bajunya.
Markas Agen Reco ...
"Kapten, maaf," Alyssa berdiri di dalam ruangan pemimpin agen Reco dengan kepalanya tertunduk. Si pemimpin agen Reco itu duduk membelakangi Alyssa.
"Kenapa kau minta maaf?"
"Kamera drone yang kita luncurkan telah hancur tertembak," jawab Alyssa sopan.
"Alyssa, kau harus terus mengawasinya. Dia adalah jalan menuju keberhasilan tujuan kita."
"Baik, kapten. Saya akan mengawasinya," Alyssa berjalan pergi meninggalkan ruangan si pemimpin agen Reco.
Aiken kembali berada di ruangan yang serba putih itu lagi. Tapi kali ini Aiken tak akan terkejut, karena dia tahu jika Alice yang sudah melakukan hal itu.
"Alice, dimana kau? Lebih baik cepat katakan ada apa kau membawaku ke sini. Walau ini dunia mimpi, tapi rasanya tetap melelahkan untukku berdiri di sini menunggumu."
Alice pun keluar dari ruangan samar-samar itu. Tersenyum pada Aiken sembari berjalan mendekati Aiken.
"Sudah selesai."
"Apa yang coba ingin kau katakan?"
"Tinggal satu langkah lagi. Dan kau akan menyelesaikan tugas ini."
"Baguslah. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan ini, rasanya aku benar-benar sudah muak dengan semua ini.
Tapi... ngomong-ngomong apa kau tahu kenapa aku tidak bisa mengingat apapun di masalaluku? Apa kau tahu apa penyebabnya?"
Alice tersenyum tipis, mukanya tertunduk. Alice memegang kedua tangan Aiken, mukanya terangkat kembali.
"Maafkan aku. Ini semua karena aku, kau pasti akan paham.
Sekarang aku akan memberikanmu sebuah pilihan."
"Ingatanmu akan kembali. Tapi kau akan melupakanku, jika kau ingin ingatan masalalumu kembali kau akan melupakanku."
"Tapi kenapa? Aku memang tidak suka kau. Tapi aku juga tidak mau melupakanmu."
"Begitulah hidup, Aiken. Pasti ada saatnya kau akan melupakan seseorang, pasti ada saatnya kau akan meninggalkan orang itu. Dan itu termasuk aku."
"Tapi... aku tidak mau melupakanmu! Aku sudah nenganggapmu sebagai seorang teman."
"Tapi... jika kau ingin ingatanmu kembali lagi kau harus mengorbankan ingatanmu tentangku."
Aiken terdiam, dia langsung menarik tangannya dari genggaman Alice. Aiken berjalan mundur dengan perlahan-lahan.
"Alice, aku memang tidak terlalu menyukaimu. Tapi aku juga tidak mau melupakanmu. Aku tidak ingin melupakanmu, tidak ingin!" Aiken menundukkan kepalanya.
Alice tersenyum kecil, dia berjalan mendekati Aiken. Menyentuh wajah Aiken dan mengangkat wajah Aiken.
"Aku tahu itu. Tapi... walau kau melupakanku, aku akan tetap selalu mengingatmu. Dan aku janji, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.
Dan disaat itu tiba, aku pasti akan membuatmu mengingatku kembali."
"Kau adalah temanku, Alice. Aku tidak ingin jika melupakan temanku."
"Ya, aku tahu itu. Tapi... ini akan lebih baik lagi. Jika saja aku tak pernah ada, mungkin kau tidak akan menderita.
Kau akan mendapatkan kehidupan tenang tanpa adanya musuh dan hambatan."
Aiken langsung memeluk Alice dengan erat. "Maaf, Alice. Maaf jika aku ada salah, maaf jika aku sering membuatmu kesal."
"Tidak. Kau tidak berbuat salah, justru kau sudah membantuku. Rasanya aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi ini memang takdir untuk kita."
Aiken melepas pelukannya. "Terimakasih. Berkat kau aku jadi bisa merasakan hal-hal yang menantang."
"Ya. Satu langkah yang akan kau lakukan cukup mudah. Kau harus pergi menemuiku ke tempat itu dan memberikan manset telinga itu padaku.
Aku tidak bisa melakukannya di sini. Aku pergi dulu, aku menunggumu," Alice langsung menghilang dan begitu juga dengan Aiken yang langsung terbangun dari tidurnya.
Aiken masih berada di atas kasurnya. Aiken melepas manset telinganya, memandanginya. Aiken berpikir jika dia tak akan melupakan Alice. Dia memang tidak terlalu menyukai Alice karena dia yang sudah menyebabkan Aiekn kehilangan masa ketenangan dan kedamaian.
Tapi Aiken juga mengganggap Alice sebagai temannya. Dia tidak ingin jika sampai melupakan temannya itu. Baginya, Alice adalah orang yang berjasa bagi bumi ataupun dunia Hollow. Alice lah yang melindungi bumi dan Hollow, dan itulah yang membuat Aiken menganggap Alice sebagai temannya.
"Apa aku yakin akan melupakan Alice? Apa aku yakin ingin meninggalkan kenangan sedikit aku dengan Alice?
Apa aku yakin akan melupakan temanku?" Aiken beranjak dari tempat tidurnya, berjalan mendekati balkon.
Akhirnya Aiken meyakinkan pikiran dan hatinya untuk pergi menemui Alice yang berada di hutan. Mungkin hari ini adalah hari terakhir Aiken akan bertemu dengan Alice. Sebelum pergi, Aiken mengambil sebuah kotak kecil, dia meletakkan manset telinganya ke dalam kotak kecil itu dan membawanya pergi menemui Alice.
Burung-burung yang berkicau indah di ranting pepohonan di sepanjang jalan, suara hembusan angin yang bertiup tidak beraturan. Suara aliran air yang berada di bawah sebuah jembatan yang Aiken lewati terdengar sangat tenang dan damai.
Saat Aiken tiba di perbatasan memasuki hutan, ada seseorang yang berdiri di perbatasan itu. Jika Aiken mengamati orang itu dari jauh, ia kenal siapa dia. Orang itu tidak lain adalah pemuda misterius yang selalu memakai topeng. Dia juga yang juga sebelumnya mencoba untuk mengambil manset telinga Aiken, dan juga menyerang Aiken.
Melihat pemuda misterius itu, Aiken mulai waspada dan menyembunyikan kotak kecil berisi manset telinga itu ke dalam saku jaketnya. Aiken berjalan perlahan mendekati jalan perbatasan memasuki hutan tanpa melihat arah pemuda itu berdiri.
Tanpa melihat pemuda itu, Aiken berjalan melwatinya. Sampai pada akhirnya pemuda itu menghentikan Aiken.