Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 8



"Tunggu! Apa ini gerbang Hollow?" pikir Aiken.


Dan cahaya tadi bergerak mendekati pintu gerbang itu dan cahaya itu menyatu bersama dengan pintu gerbang itu. Aiken berjalan perlahan mendekati pintu gerbang itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku buka pintunya atau aku biarkan saja?" pikir Aiken.


"Lebih baik aku tak membukanya. Jika ada bencana aku akan terkena nantinya," Aiken pun memutuskan untuk tidak membuka pintu itu dan berjalan pergi.


Tapi saat Aiken akan berjalan pergi keluar dari gua, tiba-tiba saja cahaya hijau itu kembali muncul dan muncul di depan Aiken. Cahaya itu bergerak mengitari Aiken, seakan-akan cahaya itu ingin memberitahukan sesuatu pada Aiken.


"Astaga... kenapa cahaya ini mengganggu sih," menghela nafas panjang, Aiken kembali mendekati pintu itu.


Aiken memutuskan untuk membuka pintu itu. Perlahan-lahan tangan Aiken bergerak mendekati gagang pintu. Saat pintu itu terbuka, tiba-tiba saja cahaya yang begitu menyilaukan datang dan membuat Aiken berjalan mundur menjauhi pintu itu karena matanya terasa silau dengan cahaya putih yang muncul.


Dan saat cahaya itu mulai menghilang, Aiken kembali membuka matanya. Dia terkejut saat seorang gadis berambut hijau tua panjang dengan iris matanya berwarna merah berdiri di depannya tersenyum ramah padanya.


"Heh... kau, siapa?" tanya Aiken bingung.


"Namaku adalah Alice. Senang bisa bertemu denganmu," ucapnya dengan nada yang begitu sopan pada Aiken.


"Alice? Apa kau tadi keluar dari pintu itu?" tanya Aiken.


"Benar," jawabnya.


"Jadi pintu itu bukan gerbang Hollow, ya," ucap Aiken.


"Itu memang benar gerbang Hollow," ucap Alice.


"Heh... tapi bukankah gerbang Hollow adalah pintu gerbang yang menyatukan antara dunia manusia dengan dunia gaib dan iblis? Dan kau... tidak seperti makhluk gaib ataupun iblis bagiku," ucap Aiken.


"Kenapa kau bisa berpikir jika gerbang Hollow adalah pintu penyatu dunia manusia dan dunia alam gaib dan iblis? Itu tidaklah benar," ucap Alice.


"Tunggu! Sebenarnya ada apa ini? Apa Alyssa membohongiku?" ucap Aiken.


"Gerbang Hollow adalah pintu menuju ruang dimensi ujung dunia. Dan aku datang dari sana," ucap Alice.


"Kenapa cahaya itu menuntunku sampai kemari? Kenapa kau ingin keluar dari pintu itu? Dan apa tujuanmu membawaku menemuimu?" tanya Aiken.


Alice tersenyum manis pada Aiken, lalu Alice memegang kedua tangan Aiken. "Karena kau adalah orang yang tepat untuk membantuku," jawabnya.


"Heh... "


Aiken langsung melepas kedua tangannya dari genggaman Alice dan berjalan mundur menjauhi Alice. "Tunggu, tunggu. Aku tidak akan mau jika sampai terlibat dengan masalah ini ya.


"Tapi... " sebelum Alice menyelesaikan bicaranya, Aiken langsung menyela. "Tidak, tidak! Apapun yang ingin kau lakukan lakukanlah. Tapi jangan sampai aku ikut-ikutan.


Apa kau pikir hidupku ini untuk menjadi budakmu?" ucap Aiken dengan wajahnya yang merasa kesal. Dia sudah merasa kena tipu oleh Alyssa, dan sekarang dia harus menjadi budak dari seorang gadis yang entah darimana asalnya. Jika ada bayaran, mungkin Aiken bisa mempertimbangkannya. Tapi dia melihat jika sepertinya Alice tak punya apa-apa untuk diberikan pada Aiken.


Lalu Alice mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik bajunya, dan memperlihatkan kantong itu pada Aiken. "Apa yang kau pegang itu? Apa jangan-jangan itu racun?" tanya Aiken yang mulai merasa benar-benar kesal menghadapi gadia yang berdiri di depannya itu.


Alice menggelengkan kepalanya. "Ambil saja!" dan Aiken dengan ragu mengambil kantong itu. Saat Aiken membukanya, dia terkejut saat ada sebuah mutiara berwarna hijau menyala dalam kantong itu. Dan di dalam mutiara itu ada sesuatu berbentuk daun berwarna hijau menyala.


"Kenapa kau memberikan ini padaku?" tanya Aiken yang merasa bingung dengan mutiara itu.


"Ambil saja. Itu adalah mutiara dendro. Aku hanya bisa memberikan bayaran itu padamu. Jadi, kumohon bantu aku!" ucap Alice dengan matanya berkaca-kaca, wajahnya mendekati wajah Aiken.


Lalu Aiken perlahan mendorong wajah Alice untuk sedikit menjauhi wajahnya. "Hei! Apa kau pikir aku seorang dewa yang bisa dengan mudahnya membantumu? Aku tidak punya kemampuan hebat yang bisa membantumu," ucap Aiken sembari mengembalikan mutiara itu pada Alice.


"Tapi aku percaya jika kau adalah orang yang aku cari-cari! Kau adalah orang yang tepat! Kumohon bantu aku! Ini semua demi kedamaian negara ini," ucap Alice.


"Apa yang coba ingin kau katakan? Kau ingin aku berbuat apa?" tanya Aiken.


"Bantu aku untuk menyingkirkan makhluk-makhluk gaib itu! Makhluk gaib itu adalah penyebab gerbang Hollow muncul. Karena mereka dunia Hollow Sekarang terancam," ucap Alice.


"Terancam? Apa maksudmu terancam?"


Gerbang Hollow adalah sebuah pintu menuju dunia Hollow. Dunia Hollow itu sendiri adalah dunia dimensi menuju ujung dunia dari inti bumi. Dan Alice adalah manusia roh Dewi yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi Hollow. Belum diketahui penyebab munculnya makhluk gaib itu. Tapi jika makhluk gaib terus berdatangan ke bumi, maka itu akan berpengaruh buruk untuk Hollow. Dunia Hollow akan mati, saat dunia Hollow akan mati, maka seluruh kehidupan di bumi juga akan ikut mati.


Bisa dikatakan Alice sendiri adalah seorang manusia sama seperti Aiken. Tapi karena sebuah peristiwa yang menjadikannya sebagai manusia campuran roh Dewi, membuatnya harus melindungi dunia Hollow dan tinggal di dalamnya. Alice sendiri tak akan bisa pergi jauh dari gerbang Hollow. Karena akan berakibat buruk. Alice akan menghilang saat dia pergi jauh dari gerbang Hollow. Dan tujuannya datang ke dunia manusia akan gagal hanya karena dia melanggar peraturan itu.


Karena itulah Alice hanya menggunakan cahaya itu untuk menuntun Aiken datang menemuinya. Cahaya itu Alice namakan dengan sebutan Selly, Dan selama ini yang masuk dalam mimpi Aiken adalah Selly itu. Alice memiliki kemampuan untuk memasuki dunia mimpi manusia, tapi kemampuannya itu juga terbatas. Hanya bisa dikeluarkan satu kali dalam sehari, itu pun juga tergantung dengan kesehatan fisiknya.


"Jadi... apakah bumi akan hancur jika dunia Hollow hancur?" tanya Aiken yang mulai sedikit mengerti dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Alice.


"Benar!" jawabnya.


"Tapi... kenapa harus aku? Apa kau tidak salah? Bagaimana bisa aku membantumu?"


"Kau pasti bisa! Penglihatanku selama ini tidak pernah salah! Dan dalam penglihatanku, kaulah yang aku cari!" ucap Alice yakin dengan insting dan kemampuannya.


"Bagaimana cara untuk menyingkirkan makhluk-makhluk gaib itu? Menghabisi mereka saja itu tak akan cukup," ucap Aiken.


"Kau benar. Membunuh mereka tak akan mengubah apapun," lalu Alice memejamkan matanya sembari mengulurkan tangannya. Lalu tiba-tiba saja cahaya berwarna hijau tua muncul tepat pada telapak tangan Alice. Dan muncullah sebuah manset telinga logam berada di tangannya.


"Manset telinga? Apa gunanya itu?" tanya Aiken bingung.