Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 22



"Saat kontrakku denganmu selesai, aku akan pergi. Aku masih berada di sini karena aku masih terikat kontrak denganmu," ucap Alice sambil dia membereskan makanan yang ada di atas meja.


"Hah... aku belum pernah tidur dengan seorang gadis. Dan ini kali pertama aku akan tidur dengan seorang gadis.


Tapi... kenapa kau ingin tidur denganku?" tanya Aiken. Dia masih merasa bingung dengan sikap Alice yang selalu saja baik padanya, selalu mengurus apartemennya.


"Emm... aku hanya ingin saja. Lagipula dari sejak kecil aku belum pernah tidur dengan ayah atau ibuku. Jadi... aku ingin mencoba tidur denganmu."


"Hah... itu sudah beda lagi Alice. Saat kau masih kecil memang ayah atau ibumu harus menemanimu kan."


"Apa kau tidak ingin aku tidur bersamamu?" tanya Alice, raut wajahnya terlihat sekali berharap jika Aiken akan mau tidur dengannya hanya untuk satu hari saja.


Aiken menghela nafas panjang, mau tidak mau dia harus menerima hal ini. Lagipula menurut Aiken, Alice adalah orang yang baik juga sudah membantu banyak Aiken. Dan Aiken juga harus membantu Alice saat dia membutuhkan Aiken.


"Hah... sepertinya aku tidak bisa menolaknya. Sepertinya dia memang ingin sekali tidur bersamaku," batin Aiken.


"Baiklah. Kau boleh tidur denganku," pada akhirnya Aiken hanya pasrah dan menerima apa yang Alice inginkan. Walau pasti akan tidak terasa nyaman untuk Aiken tidur dengan seorang gadis yang seumuran dengannya.


Malam itu Aiken dan Alice akan bersiap untuk pergi tidur, saat masuk dalam kamar, tampak gelap. Saat Aiken akan menyalakan lampu, Alice malarangnya. Alice ingin lampunya tidak menyala, kamar itu hanya terlihat sedikit terang karena paparan cahaya bukan di malam hari.


"Alice, kau tidurlah. Tenang saja, aku tidak akan mendengkur kok," ucap Aiken.


Alice masih tampak duduk diam saja di ranjang. Tampaknya Alice ingin berbicara pada Aiken.


"Aiken... " panggil Alice dengan nada pelan.


"Ada apa? Apa kau ingin sesuatu? Alice, jangan coba-coba untuk menyuruhku mengambilkan air putih ya," ucap Aiken.


"Tidak, bukan itu."


"Lalu, kau ingin apa?"


"Begini... emm. Aku ingin menyerap kembali energimu, aku merasa jika besok aku akan membutuhkannya."


"Apa malam-malam gini aku harus memelukmu? Astaga, kenapa roh iblis itu sangat aneh. Mereka menyerap energi orang dengan cara yang aneh," gerutu Aiken.


"Bukan memeluk."


"Jika bukan memeluk, lalu dengan apa?"


Alice menatap mata Aiken, lalu Alice menarik tangan Aiken dan Alice mendorong Aiken sampai membuat Aiken terbaring di ranjangnya. Alice mendekati wajah Aiken saat Aiken sudah terbaring di ranjang.


"Tunggu! Kau ingin melakukan apa? Jangan melakukan hal yang aneh-aneh ya!" Aiken sudah merasa panik saat Alice mendekati wajahnya.


"Dengan cara yang lebih cepat. Pasti akan cepat terserap energimu," ucap Alice.


Satu tangan Alice menutup kedua mata Aiken. "Aiken, mungkin ini adalah ciuman kedua dan terakhirku untukmu."


Alice lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Aiken, dengan agresif Alice mencium bibir Aiken. Alice mencium bibir Aiken sambil satu tangannya masih menutup kedua mata Aiken. Alice sampai memainkan lidahnya saat dia mencium Aiken. Setelah ciuman itu, wajah Alice dan Aiken memerah. Alice memeluk Aiken.


"Alice, apa yang baru saja kau lakukan! Kau benar-benar membuatku pusing. Kau menyerap energiku sangat banyak. Tubuhku terasa lemas," ucap Aiken sambil dia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.


Aiken beranjak dari tempat dia tidur, saat dia berdiri pun hampir saja dia akan terjatuh. Beruntung Alice menopang tubuh Aiken. Energi Aiken terkuras habis karena sudah diserap oleh Alice.


"Aiken, maafkan aku. Aku terlalu banyak menyerap energimu," ucap Alice sambil menopang tubuh Aiken.


"Alice, ambilkan aku air," Alice langsung mengambilkan air putih untuk Aiken. Walau Aiken meminum banyak air putih, tubuhnya tetap saja terasa lemas. Semua di sekujur tubuhnya terasa mati rasa, kakinya gemetar saat dibuat berjalan.


"Sial! Tubuhku mati rasa. Sial!"


"Aku akan mencoba untuk tidur saja. Alice, lebih baik sekarang kau juga tidur saja."


Pagi itu, Alice terlihat murung. Saat dia memasak untuk sarapan pun dia tampak tidak fokus memasak. Hampir saja masakannya gosong, beruntung Aiken datang dan mematikan kompornya.


"Alice, kenapa kau melamun! Astaga, kau akan membuang-buang bahan makanan kalau kayak gini," ucap Aiken.


"Aiken, maafkan aku," wajah Alice tertunduk.


"Hah... aku sudah memaafkanmu. Tapi... aku tidak menyangka jika kau akan sangat brutal," ucap Aiken, lalu dia berjalan mendekati meja makan, dan duduk di kursi.


Wajah Alice langsung memerah, "Bagaimana lagi! Ini kesempatan untukku!"


"Kesempatan?"


"Lupakan saja apa yang kukatakan!" Alice menyiapkan makanan di atas meja. "Lebih baik sekarang kita sarapan aja."


"Hah... aku hampir saja lupa. Hari ini aku akan menemuinya," batin Aiken.


Siangnya sekitar pukul 10.00, Aiken datang ke sebuah hotel bintang lima yang lokasinya berada di distrik Nomoya. Aiken menaiki lift menuju lantai sepuluh. Dia menuju depan pintu kamar nomor 666. Aiken tampak sedikit ragu untuk menekan bel pintu, tapi dia memberanikan diri dan dia menekan bel pintu itu.


Seorang pria yang wajahnya sama persis dengan foto yang Aiken simpan membuka pintu hotel itu. Pemuda itu tampak asing melihat Aiken, tapi sepertinya Aiken mengenal pemuda itu.


"Maaf, tapi anda siapa? Apa anda salah kamar?" tanya pemuda itu.


"Pak Yoshi, apa bapak sudah melupakanku?" tanya Aiken.


"Maaf, tapi sepertinya saya tidak mengenal kamu."


Aiken memegangi dadanya. "Bagaimana bisa bapak melupakan orang yang sudah bapak selamatkan?"


"Tunggu!" pak Yoshi tampak sedang mengingat sesuatu. "Apa kau... "


"Aku Aiken pak. Orang yang sudah bapak selamatkan," ucap Aiken tersenyum pada pak Yoshi.


Pak Yoshi tersenyum senang, dia langsung memeluk Aiken dan begitu juga dengan Aiken yang juga membalas pelukan pak Yoshi.


"Bagaimana kabarmu, Aiken. Bapak tidak menyangka jika akan bertemu denganmu lagi."


"Aku hampir saja akan melupakan bapak. Maafkan aku, pak Yoshi," ucap Aiken.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Jantungmu tidak bermasalah kan? Apa kau juga sering periksa medis?"


"Ya. Terkadang aku juga periksa medis saat aku sedang tidak sibuk."


"Masuklah!" Aiken pun masuk dalam kamar hotel pak Yoshi. Pak Yoshi membuatkan sebuah coklat panas pada Aiken.


"Bapak masih tahu minuman kesukaanku?"


"Tentu saja. Kau sudah bapak anggap sebagai putra untuk bapak," sahur pak Yoshi.


"Aiken, jangan lupa. Kau juga harus sering periksa medis. Jantungmu sangat langka, bapak akan sulit untuk mencari gantinya jika terjadi sesuatu pada jantungmu," ucap pak Yoshi.


"Ya, aku tahu. Walau jantung ini hanyalah jantung buatan, tapi aku benar-benar beruntung masih bisa diberi kesempatan untuk hidup. Dan semua ini berkat kak Yoshi," ucap Aiken.


"Bapak sebisa mungkin akan terus membantumu, Aiken."