Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 31



Aiken mulai menyiapkan senapan jarak jauhnya. Ia menghela nafas pelan, lalu ia memulai untuk melihat targetnya dan mengunci targetnya itu, dan ia pun mulai menembakkan peluru dari senapan jarak jauhnya ke arah kamar apartemen yang berada di lantai enam itu. Satu peluru melesat dan masuk dalam apartemen melewati jendela kaca itu, memecahkan jendela kaca. Membuat Berchius terkejut, tapi ketika ia menoleh ke arah suara kacanya yang pecah, peluru tanpa henti melesat tepat mengenai kepala Berchius. Langsung membuat Berchius terjatuh, dengan darah yang mulai keluar dari kepalanya. Aiken terlihat puas dengan hasilnya yang selalu memuaskan, tapi ia juga sedih ketika melihat banyak uang dan perhiasan yang kotor akan terkena lumuran darah yang keluar dari kepala Berchius.


"Ingin sekali aku mengambil uang dan perhiasan itu," Aiken beranjak berdiri. "Tapi, aku akan masuk penjara jika berada di sana. Pasti akan ada kamera cctv di sana," ucapnya, lalu ia pun pergi dari atas atap gedung itu.


"Kau hebat juga. Aku benar-benar kagum pada kemampuanmu," kedatangan tiba-tiba Galan sontak membuat Aiken yang tengah berjalan santai tersentak kaget.


"Kau? Apa tadi kau mengawasiku?" tanya Aiken dengan wajah tenang, begitu santai.


"Salah, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Ngomong-ngomong, malam ini kau terlihat berbeda."


"Berbeda?" Aiken mengerutkan dahinya.


"Aku rasa, sikapmu sedikit berubah hari ini. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja?" pikir Galan.


"Jangan pikirkan itu. Sekarang, lebih baik kau berikan bayarannya padaku."


"Aku sampai lupa itu," Galan memberikan sebuah cek dengan jumlah uang yang cukup besar, langsung membuat Aiken berubah, yang sebelumnya dingin pada Galan, ia mulai sedikit ramah padanya setelah ia mendapat bayarannya.


"Bapak Galan, kau memang cukup adil jika memberikan bayaran. Ini yang aku suka."


"Ternyata kau berubah karena itu," Galan geleng-geleng kepala, ia melihat Aiken yang begitu senangnya menerima cek dengan jumlah uang yang cukup besar.


Malam itu, ketika Aiken berjalan melewati sebuah jalan gang kecil yang tampak sunyi dan sepi, ia menghentikan langkahnya saat terdapat mayat seorang pria yang tampak begitu pucat. Bukan hanya itu saja, Aiken juga melihat jika mayat pemuda itu sudah kehilangan banyak darah, bahkan mungkin sudah kehabisan darah yang membuat tubuh juga wajahnya tampak begitu pucat.


"Ada mayat? Kenapa dia terlihat begitu pucat?" Aiken duduk berjongkok, ia memeriksa mayat yang tergeletak di tengah jalan yang kecil itu. "Dia meninggal belum lama. Tapi, kenapa sudah tampak pucat ya?" pikirnya.


Hembusan angin kencang tiba-tiba saja berhembus ke arah Aiken, membuatnya mendongakkan kepalanya. Di atas atap perumahan, ia tak sengaja melihat seseorang yang tampak misterius dengan lincah dan gesit melompati atap rumah ke atap rumah lainnya. Membuat Aiken berpikir jika orang yang ia lihat mungkin bukanlah manusia.


"Sebenarnya ada apa ini. Siapa orang itu? Bahkan aku yang sudah terbiasa melompat seperti itu, aku masih belum secepat dia. Aku yakin, dia bukanlah manusia biasa."


Karena tak ingin sampai ia terlibat dalam masalah meninggalnya pemuda itu, Aiken memilih untuk pergi meninggalkan mayat manusia itu tanpa mempedulikannya.


Berita tentang kematian Berchius langsung tersebar luas bahkan hanya dalam waktu beberapa jam saja. Berawal dari foto yang diunggah oleh salah satu pegawai apartemen yang menunjukkan mayat dari Berchius, sampai saat itu, berita mulai menyebar luas dengan waktu yang begitu singkat. Beruntung masih belum ada polisi atau pegawai apartemen yang mengetahui siapa yang telah membunuh Berchius, mereka hanya tahu jika Berchius meninggal karena terkena tembakan pada bagian kepalanya.


"Astaga, seorang ilmuwan tersohor meninggal. Kira-kira siapa sih orang jahat yang udah bunuh dia?" pikir Alvin, ia melihat berita itu dari sosial media, sudah tersebar luas.


Pelaku yang sebenarnya hanya duduk santai di bangkunya melihat luar jendela sambil mendengarkan musik tanpa melakukan apa-apa. Bahkan Aiken tak panik ketika ia tahu berita itu sudah tersebar luas.


"Apa kau sampai sepeduli itu dengan ilmuwan gadungan itu?" tanya Aiken, ia berbicara tanpa menatap ke arah Alvin.


"Ilmuwan gadungan katamu?! Dia itu ilmuwan tersohor di Tokyo lho!" seru Alvin.


"Ya, terserah kau saja."


"Kau terlalu serius menganggapnya. Kau hanya belum tahu saja tentangnya," sahut Aiken dengan wajah tenang.


"Kau kenapa? Sepertinya kau tidak menyukai profesor Berchius," Alvin berdiri di depan Aiken, mendekati wajahnya, membuat Aiken kaget.


Aiken menghela nafas pelan, "Bukannya aku tidak suka. Tapi, aku hanya tidak suka dengan hal yang berbau sains," sahut Aiken.


"Ngomong-ngomong. Ada hal yang lebih serius lagi daripada kematian si Berchius itu," Ayumi datang dan duduk di depan Aiken.


"Apa yang lebih serius dari kematian profesor Berchius?" tanya Alvin.


"Semalam warga melihat ada mayat seorang pria yang mati karena kehabisan darah. Orang-orang mengatakan jika mungkin saja itu ulah dari vampir," sahut Ayumi.


"Hah ... vampir?" Aiken mengerutkan dahinya.


"Kau gila? Vampir itu hanya ada di dalam cerita dongeng saja kan," lanjut Aiken.


"Kau benar. Lagipula, kenapa bisa-bisanya orang sampai berpikir jika itu ulah dari Vampir? Memang ada buktinya?" tanya Alvin.


"Yah, mana aku tahu. Aku kan hanya mendengar ini dari murid-murid kelas sebelah," sahut Ayumi, ia sedikit kesal pada Alvin dan Aiken.


"Kalau itu memang ulah vampir, memang ada bekas gigitan di leher mayat itu?" tanya Aiken, ia memandang Ayumi.


"Aku tidak tahu! Kenapa kau melihat ke arahku!"


"Yah, kan berita ini kau yang mulai duluan," sahut Aiken.


"Aku tidak tahu! Kau sangat menyebalkan hari ini!" dengan kesal Ayumi beranjak berdiri dan duduk di tempat duduknya sendiri.


"Nah loh. Dia marah tuh, Aiken. Kau sih!" ucap Alvin.


"Aku tidak peduli. Wanita kan memang seperti itu. Nggak suka disalahkan, tapi suka menyalahkan," sahut Aiken dengan wajah tenang, ia kembali melihat luar jendela.


"Ayumi, jangan marah dengan Aiken ya. Kata-katanya memang begitu, kadang pedas. Tapi kau kan sudah tahu bagaimana dia kan," Alvin duduk di depan Ayumi, berusaha untuk dapat meredakan amarah Ayumi.


"Tapi dia hari ini benar-benar menyebalkan!"


"Yah, aku aja yang udah kenal Aiken dari saat kelas sepuluh aja masih bisa sabar. Kau aja yang belum lama mengenalnya udah kek gitu," ucap Alvin.


"Apa dia memang begitu saat dia masih kelas sepuluh?" tanya Ayumi pada Alvin.


"Sikapnya memang begitu dari dulu. Murid-murid di sini banyak yang berpikir jika Aiken memiliki kepribadian ganda. Dia bisa merubah sikap hanya dalam hitungan detik saja," sahut Alvin.