Goddess Corter

Goddess Corter
Sihir (1)



Saat itu mungkin masih pagi, entahlah, tak ada jam di dunia ini. Yang pasti, langit masih biru gelap dan jalanan belum terlalu ramai. Sesekali aku melihat keluar jendela, tetapi lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk di atas kasur.


Semalam sungguh mengerikan, aku terbangun, tertidur, terbangun lagi, dan tertidur lagi. Tanpa kusadari, hari


sudah pagi dan istirahatku sama sekali belum cukup. Yah, tidak ada pilihan selain menunggu hari cukup siang untuk datang ke Guild, jadi aku hanya bisa duduk.


Di depanku, aku meletakkan 13 koin perunggu yang kusam. Apa yang bisa kubeli dari koin ini? Baru kusadari


ternyata Dewi sepertiku tidak memerlukan makan, jadi kalau kugunakan uang ini untuk memuaskan lidah saja rasanya percuma.


Aku masih memiliki waktu menginap sampai nanti malam, itu pas 24 jam. Tidak masalah juga sih kalau aku


menggunakan uang ini untuk menambah jam menginap. Lagipula aku juga bakal sering datang kesini.


Astaga, aku bahkan tidak tahu seburuk apa kondisi di Akarka. Aku ingin memberikan uang ini kesana, tapi kalau


yang kuberikan hanya sekecil ini, kesannya seperti aku sedang membodohi mereka.


Pada akhirnya, hanya aku sendiri yang bisa menghabiskan uang ini.


Kebosanan membuatku gila, berkali-kali Seiren mengajakku bicara, tapi perbincangannya terlalu serius hingga aku merasa bosan. Belum lagi di ruangan ini, yang bisa kulakukan hanya mondar-mandir dan berguling-guling di kasur saja.


Yah, terserahlah, aku ingin mandi dulu. Kalau dipikir lagi, sejak berendam di Akarka, aku sama sekali belum mandi. Tapi tenang saja, tubuh ini terlalu suci untuk bisa menghasilkan aroma yang buruk. Walaupun ada sedikit noda, nyatanya tubuhku tetap wangi dan cantik.


Aku keluar dari penginapan, dan mulai menyusuri jalanan di kota.


Penginapan yang kutinggali letaknya sangat strategis, ada banyak penginapan juga di sekitar ini. Bahkan kalau aku menyusuri jalan lurus lebih jauh, akan ada pasar yang biasanya sangat ramai. Intinya, tujuanku saat ini adalah mengunjungi pasar itu.


Aku menduga-duga kalau pasar sebenarnya sudah ramai, dan dugaan itu tepat sekali. Baik di dunia manapun,


pasar adalah tempat yang ramainya justru di pagi hari. Yah, aku pernah mempelajari beberapa budaya pasar di Negara asing.


Seperti biasanya diriku yang selalu berjalan dengan kedua tangan di belakang, aku melihat ke sekeliling,


kiri dan kanan, menjelajahi setiap stan yang didirikan. Sayuran, buah-buahan, daging, sampai makanan jadi seperti es serut.


“Seiren, menurutmu mana yang harus kubeli, buah-buahan atau es serut?”


Tanyaku.


“Sepertinya lebih baik buah-buahan, nona.. bukan hanya manfaatnya, tetapi..”


“Ya, terserah, aku maunya es serut..”


Mengabaikan saran dari Seiren, aku berjalan sambil bersenandung ke tukang es. Pedagangnya adalah pria dewasa


yang memiliki senyum ramah, lesung pipit dan mata sipitnya membuat senyumannya terlihat sangat alami. Dia sudah selesai melayani anak-anak saat itu.


“Pak.. buatkan aku satu!”


Ucapku. Tentunya dengan senyuman yang sangat lebar.”


“Baiklah, nona muda..”


Ia mengambil sebuah balok es, kemudian menyerutnya menggunakan mata pisau yang dipasang di papan kayu. Hasil es serutannya ditaruh kedalam wadah kayu tipis, barulah di atas es itu diberikan sirup yang berwarna-warni. Yah, ada sendok kayu juga di wadah itu.


“Ini, silahkan.”


“Huwaa!!.. Berapa harganya pak?”


“1 koin perunggu saja.”


Aku memberikan 1 koin perunggu kepada pedang es. Itu adalah harga yang sangat wajar bila dibandingkan dengan


tampilannya yang menarik. Sebenarnya yang tidak wajar itu adalah harga sewa kamarku, itu terlalu murah untuk bisa berteduh dan tidur disana.


Yah, terserahlah, sekarang saatnya menikmati makanan surga ini dulu.


Ada sebuah bangku kayu, tak jauh dari pasar itu berada. Aku duduk di bangku itu. disini sudah bukan area pasar lagi. Tapi karena satu arah dengan pasar, ada banyak orang yang lewat di depanku. Sebenarnya agak sedikit memalukan kalau harus memakan es serut dengan wajah yang tampak puas, masalahnya ini adalah makanan anak-anak.


Terserahlah, teman perempuanku di kantor juga terkadang berubah menjadi kekanakan ketika memakan sesuatu yang manis.


Aku memakannya dengan lahap, sangat lahap, sampai-sampai Seiren mengingatkanku terus menerus agar tidak


tersedak es yang masih kasar. Tanpa memperdulikan peringatan semacam itu, aku sudah terlena dengan dinginnya es dan manisnya sirup.


“Corter?”


“Hm?”


Tiba-tiba, ketika aku sedang menjelajahi surga es, seseorang memanggilku. Suara itu tak jauh dari tempat aku


duduk. Daripada dibilang tidak jauh, lebih tepatnya suara itu ada persis di sebelahku.


Sosok yang memanggilku adalah rekanku, Rayen.


“R-Rayen? Kenapa kau ada disini?”


“Eh? Seharusnya aku yang bertanya begitu. Setiap hari aku berbelanja di pasar untuk membeli bahan makan seharian. Tapi.. tak kusangka kau ada disini juga.”


Sendok kayu masih menyangkut di mulutku ketika aku mendengarkan Rayen berbicara.


Dalam sesaat, aku baru menyadari kalau yang kulakukan benar-benar memalukan. Memakan makanan anak-anak


di depan temanku, walaupun kini aku adalah perempuan, tapi rasa malu itu tetap ada. Aku segera melepas sendok itu, menyembunyikannya bersamaan dengan wadah es serut di samping tubuhku. Seharusnya Rayen tidak bisa melihatnya sekarang.


“Ya ampun, tidak usah kamu sembunyikan pun aku sudah melihatnya..”


Aku hanya bisa menahan malu karena hal itu. Tanpa memikirkan lebih jauh, aku mengambilnya kembali dan mulai


memakannya perlahan dengan penuh keraguan.


Rayen duduk di sebelahku dengan santainya, itu membuatku semakin gugup.


“Tapi, tetap saja aku tidak menyangka kalau Corter adalah wanita yang seperti biasanya.. aku kira tadinya kamu lebih misterius.”


Ucap Rayen.


“.. memangnya kenapa? Apa salah bertindak seperti wanita pada umumnya?”


“Tentu saja tidak.. aku justru lebih senang kalau kamu bersikap seperti itu.”


“..”


Rayen mengatakannya dengan senyuman yang sangat tulus. Wajahnya yang hanya berjarak satu meter saja dariku, membuat pandanganku hanya bisa tertuju kepadanya. Belum lagi, kalimat terakhirnya itu terdengar seperti pujian.


‘Aku justru lebih senang kalau kamu bersikap seperti itu’. Kalimat itu terus terdengar berulang-ulang kali di kepalaku. Apakah dia tidak mengerti? Apakah dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja dia katakan? Dasar bodoh, laki-laki ini benar-benar bodoh.


“Wajahmu memerah.. ada apa?”


“T-T-Tidak ada apa-apa..”


Sial, kalau begini jadinya justru aku yang lebih bodoh. Kenapa juga aku harus malu-malu dengan kalimat sederhana seperti itu. Rayen pasti mengatakannya tanpa tujuan, ya, aku sangat yakin itu. Tapi, entah kenapa, berulang kali aku menolak kalimat itu, aku sama sekali tidak bisa membohongi perasaanku yang sedang bahagia.


Rayen duduk dengan sopan, kakinya tidak disilangkan dan tangannya tidak berkeliaran kemana-mana. Benar-benar posisi duduk yang terlalu sopan untuk seorang laki-laki. Berbeda denganku, yang sejak sekolah sudah terbiasa duduk dengan kaki yang menyilang, sebenarnya posisi ini justru terlihat lebih bagus ketika aku menjadi wanita.


Sudah, tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Sebenarnya sejak tadi Rayen hanya diam dan menunggu es-ku habis,


tetapi setelah aku sudah menghabiskannya, yang ada sekarang hanyalah kecanggungan semata.


Rayen mungkin tampak biasa saja, tetapi diriku yang sejak awal sudah gugup dan kerepotan, terpaksa harus memikirkan sesuatu untuk diobrolkan.


“Rayen.. itu.. apa kamu tidak kesusahan dengan jumlah Reft-mu yang kecil? Maaf karena menanyakan hal ini sebelumnya.”


Tanyaku, dengan suara yang sangat pelan.


Rayen menjawabnya sambil mengelus pedang yang ia bawa. Sebenarnya sejak pertama kali bertemu, Rayen


selalu menggantung pedangnya di punggungnya, ia menggunakan tas khusus untuk itu. Tapi ketika duduk, dia menyandarkan pedangnya di sebelahnya.


“Benar juga.. kalau tidak salah jumlah Reft milikmu itu tidak diketahui.. sebenarnya ada apa? Aku belum pernah melihat yang seperti itu.”


“Y-Yah.. mungkin itu hanya kesalahan saja.”


“Ya, sepertinya itu juga bisa terjadi. Tapi.. apakah kamu sendiri mampu menggunakan sihir?”


Apakah aku mampu menggunakan sihir? Itu adalah pertanyaan sederhana dengan jawaban ambigu apabila ditanyakan kepadaku. Aku bisa menggunakan sihir, tapi itu pun kalau aku sudah mengetahui jenis sihirnya. Dengan kata lain, aku bisa tapi aku tidak tahu. Tentu saja aku tidak bisa menjawab dengan kalimat seperti itu.


Menciptakan sihir baru juga bukanlah hal yang mustahil untuk seorang Dewi, tetapi kalau Rayen meminta aku untuk menunjukkan itu, maka selesai sudah kepura-puraanku menjadi manusia biasa.


“M-Mungkin saja.. aku juga tidak pernah mencobanya.”


Jawaban yang sedikit aneh. Tapi kalau dipikirkan lagi, tidak pernah mencoba menggunakan sihir adalah sesuatu


yang logis. Yang aneh adalah, dulu aku pernah mengatakan ‘aku cukup percaya diri dengan sihirku’. Sepertinya hal itu membuat Rayen bingung.


“Bagaimana kalau kau mencoba beberapa sihir? Kebetulan aku memiliki buku kumpulan sihir.”


“Eh?”


-


Rayen mengajakku ke rumahnya, entah karena alasan apa aku tidak bisa menolak ajakan itu. Hari masih pagi, jadi


kupikir kalau melupakan pekerjaan untuk sementara bukanlah hal yang buruk.


Sama sepertiku di dunia yang dulu, Rayen juga tinggal sendiri di rumahnya, orang tuanya tinggal di Kerajaan


Bagian yang berbeda. Rayen sendiri menetap di sebuah tempat yang tidak dipenuhi oleh gedung-gedung kota. Lingkungan tempat tinggalnya lebih terlihat seperti desa.


Pedesaan yang sedikit berbeda dengan Akarka, disana ada lebih banyak orang dan ukuran desanya juga lebih


besar. Rumah disana sudah mengikuti model perkotaan, faktor itulah yang membuat desa ini sangat jauh berbeda dengan Akarka.


Sebuah rumah, dengan suara aliran sungai yang tak jauh dari rumah itu berdiri. Rumah sederhana yang terbuat dari tembok batu dan atap kayu, tak lain itu adalah kediaman Colt Rayen.


Dia mengajakku masuk ke dalam.


“Permisi..”


Aku mengatakan itu sambil melangkah masuk perlahan.


Di dalam rumah Rayen, ada banyak hiasan pedang dan tameng. Oh, mungkin itu bukan hiasan, tetapi koleksi


senjata-senjatanya. Tapi sepertinya aku pernah mengira kalau Rayen bukanlah orang yang terbiasa dengan pedangnya, apakah saat itu deduksiku salah ya?


“Wah, benar-benar rumah seorang petualang..”


“Ahaha.. benarkah? Kamu duduk saja disitu, akan aku ambilkan air.”


Ada sepasang kursi pendek yang sama-sama terbuat dari kayu. Kursi itu saling berhadapan dengan diantaranya ada meja yang kecil, kursi itu juga ditaruh di sebelah jendela. Jadi, dengan posisi sependek itu, aku bisa melihat langit yang terbentang luas di luar.


Sambil menunggu Rayen mengambilkan minum, aku duduk bersantai di kursi itu. Kian lama, aku mulai terbiasa dan menikmati suasana ruangan yang penuh dan berantakan ini. Yah, laki-laki sebaik apapun pasti akan membiarkan ruangannya berantakan.


Entah kenapa, disini rasanya hangat sekali, nyaman, dan penuh dengan aroma Rayen. Pedang, kayu, dan batu,


itu sangat mencerminkan seorang Rayen. Astaga, hanya dengan duduk di ruangan ini, aku sudah mulai merasakan panas di sekujur tubuhku. Tidak mungkin, aneh sekali kalau nafsuku muncul hanya karena duduk di ruangan yang pernah di tempati oleh Rayen.


Gawat, kalau begini terus yang ada aku melakukan hal aneh.


“Maaf menunggu..”


“Hwaa!!”


“Corter? Ada apa?”


“T-Tidak.. aku hanya terkejut.”


Parah sekali, barusan aku sampai memikirkan hal yang tidak-tidak. Untungnya Rayen datang dan menyadarkanku sebelum pikiranku melambung terlalu jauh.


Rayen membawa dua gelas air di kedua tangannya. Ia meletakkan keduanya di meja, kemudian mempersilahkan aku minum.


Itu adalah air teh yang enak, tak kusangka akhirnya muncul juga lelaki yang bisa membuat teh. Sumpah, membuat


teh adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Aku saja seumur hidupku belum pernah membuat teh, kalau aku ingin meminumnya, maka aku akan membeli yang sudah jadi.


“Ini buku yang kumaksud.”


Ternyata Rayen tak hanya membawa air minum bersamanya, tetapi buku yang dimaksud juga. Sebelumnya dia


meletakkannya di pangkuannya, kini dia menyodorkannya kepadaku.


Buku itu terlihat tua, berdebu, dengan kertasnya yang sudah menguning. Sampulnya terbuat dari kulit, ketika


debunya kuusap, sampul kulitnya kembali mengkilat. Mau dilihat bagaimanapun juga, buku ini adalah buku lama yang tak pernah tersentuh.


Aku bertanya-tanya, kenapa Rayen mengingat buku ini sedangkan dia tidak pernah menyentuhnya?


“Kenapa kau memiliki buku semacam ini?”


Tanyaku, sambil membuka halaman pertama.


“Itu adalah peninggalan dari kakekku. Tidak seperti diriku, dia adalah pengguna sihir yang hebat.”


Yah, aku tak heran lagi kalau ini adalah peninggalan. Hanya dengan membuka halam pertamanya, aku bisa


merasakan perasaan emosi yang mendalam dari buku ini. Meskipun Rayen tidak memerlukan buku ini, tapi dia tetap mengingatnya. Sepertinya ini adalah buku yang begitu berarti untuk Rayen.


Secara garis besar, aku sudah tahu apa itu sihir. Ada banyak sekali game yang menunjukkan jenis sihir yang berbeda-beda. Hal itu semuanya tertuang di buku ini. Mulai dari rapalan sampai hasil dari sihir itu sendiri.


Hampir setiap sihir memiliki nama dan rapalan. Rapalan bisa dibilang sebagai kata kunci untuk membuat sihir aktif. Contohnya sihir Wind Blade, rapalannya adalah, ‘Dengan kekuatan Dewi, buatlah angin tunduk, jadikanlah senjataku!’ Itu adalah sihir yang memungkinkan seseorang untuk membuat angin di sekitarnya menjadi tajam seperti pisau.


Terdengar menakjubkan memang, tapi nyatanya itu adalah sedikir dari banyaknya sihir menakjubkan yang bisa kupelajari dari buku ini.


Awalnya aku juga sedikit bimbang karena terlalu menyia-nyiakan kekuatan Dewi-ku. Aku juga pernah memiliki niat untuk bersekolah sihir, atau berguru kepada seorang ahli sihir. Tapi sepertinya hanya dengan buku ini, aku bisa mengembangkan sihir rendah sekalipun menjadi sihir yang hebat.


Baguslah, dengan begini setidaknya aku memiliki senjata untuk membantu Rayen dalam menjalankan misi.


“Maaf ya.. karena bukunya sangat kotor begitu.. padahal aku tahu Corter tidak suka kotor.”


Ucap Rayen sambil menundukkan kepalanya.


“Ah, tidak.. tidak apa-apa. Aku senang karena kamu memberikanku buku ini.”


“Sebelum kamu mempelajarinya, aku ingin menitipkan pesan dari kakekku kepada pemegang buku itu.”


“Pesan apa?”


“Seandainya kau memiliki kekuatan sihir yang hebat, pelajarilah sampai kau melewati batasmu.. ketika kau


melewati batasmu, jangan sampai kekuatan membuatmu terlena. Begitulah yang dia katakan.”


“Benar-benar.. kata-kata itu sangat tidak cocok untukmu.”


“Ahaha.. aku sudah menyadari itu.”


Entah sosok seperti apa kakek Rayen itu. Yang pasti aku sangat berhutang budi padanya. Bukan hanya memberikan buku yang bermanfaat, tetapi juga menitipkan pesan yang begitu berarti untukku.


Apa yang akan kakek Rayen katakan, kalau seandainya dia tahu pesannya sampai terdengar ke telinga Dewi?