Goddess Corter

Goddess Corter
Reinkarnasi



Sial, sial, sial, ini sungguh gawat. Benar-benar gawat.


Aku berlari dengan sangat cepat menuju kantor, tak lagi memikirkan apa yang kulalui dan apa yang mataku tangkap. Lagipula ini sudah malam, tak banyak orang melewati trotoar.


Ponselku tertinggal di kantor, sialnya ini sudah hampir tengah malam karena aku mendapatkan giliran lembur. Setengah jam yang lalu aku masih di rumah dan melepas jas-ku, tapi sekarang aku tengah bersusah payah mengejar hal yang penting. Aku bahkan sampai melupakan mobilku, aku baru ingat punya mobil setelah setengah perjalanan.


Besok libur 3 hari, dan aku ingin menggunakan waktu itu sepuas-puasnya untuk bermain game. Cemilan dan minuman sudah kupersiapkan sebelumnya. Komputer dan game console juga sudah, tapi sayangnya hanya ponselku saja yang belum hadir. Tentu aku bisa mengambilnya esok pagi, tapi selisih waktu tengah malam itu menjadi sangat berarti kalau sesuatu yang kau sayangi ada di sebelahmu.


Aku berhenti di sebuah lampu merah, menunggu lampunya kembali menjadi merah. Sambil menunduk dan tersengal-sengal aku mulai merasakan kepalaku sangat pusing karena belum pernah berlari sejauh ini sebelumnya. Tapi tak apalah, kantorku sudah tak jauh lagi.


Beberapa menit berlalu, tapi lampu hijau itu tak kunjung berubah warna. Aku bahkan sudah kehilangan letih dan mulai menunggu cahaya hijau menjadi merah.


“Apa itu rusak?” pikirku.


Aku ingin menyebrang langsung, tapi kupikir itu bukan ide yang bagus. Tak sedikit orang yang kecelakaan hanya karena kesalahan kecil seperti itu.


Hanya ada aku sendiri di sepanjang trotoar, tetapi mobil di jalanan sebelah kiriku masih sangat ramai dan berisik. Aku memandangi lampu-lampu yang melesat dengan cepat itu untuk menghilangkan bosan.


Bersandar, duduk, sampai hampir tertidur di bawah lampu merah, semuanya kulakukan hanya karena hal konyol ini. Selalu bergumam buruk, aku ingin sekali menyebrang. Dan saat itulah, ketika aku memikirkan itu, pandanganku tidak sengaja menangkap pemandangan ujung di sebrang zebra cross.


Gadis muda, dengan rambut yang sangat indah, dia sama sepertiku yang menunggu lampu berubah menjadi merah. Tapi pakaian gadis itu cukup aneh. Tak seperti kebanyakan perempuan yang menggunakan rok pendek atau celana ketat.


Jubah? Apa dia menggunakan jubah? Yah, itu jubah yang cantik menurutku. Apa dia sedang bercosplay?


Gadis berjubah itu sama sekali tidak melirik ke arahku, pandangannya sangat kosong. Perlahan, dia melangkah ke depan, menyebrangi zebra cross dengan lampu yang masih menyala hijau.


“Hei, apa yang kamu lakukan!”


Aku berteriak seperti itu, tapi dia tidak mendengarkan.


Perlu diketahui kalau jalanan di depanku adalah jalanan yang sangat besar, karena itu aku ragu untuk menyebrang. Tapi gadis ini, seolah tidak mengetahui apa-apa, dia menyebrang dengan polosnya.


Langkahnya sangat lambat, sampai-sampai aku ingin mengambil kait dan segera menariknya.


Begitulah, sampai hal buruk terjadi. Sebuah mobil yang berbelok, entah dengan model apa, sepasang lampu mobil itu melesat dengan cepat ke arah kami. Tepatnya ke arah gadis itu.


Kakiku meronta, ingin sekali aku berlari tapi ketakutan menahanku. Tidak usah, aku tidak usah berlari menyelamatkannya, aku yakin mobil itu akan berhenti.


Tidak, mobil itu terlalu cepat untuk bisa berhenti sebelum menabrak sang gadis.


Tenang saja, aku yakin gadis ataupun mobil itu akan menghindar.


Tidak, mungkin mobil itu terlalu cepat untuk bisa dikendalikan.


Apa yang harus kulakukan? Berlari menyelamatkannya? Atau diam disini dan melihat tubuh gadis itu tertabrak.


Bayangkanlah wahai diriku, bayangkanlah darah yang keluar dari tubuhnya apabila kau tidak menyelamatkannya. Mayatnya akan menangis, dan dia akan mengutukmu seumur hidupmu.


Sial, mana mungkin aku bisa membiarkan gadis secantik dia mati!


“Hei, berhenti!!”


Aku berlari ke arahnya sambil berteriak seperti itu. Apabila dia tetap berjalan ketika aku mulai mendorongnya, mungkin itu akan berbahaya bagi tubuhnya.


Klakson mobil terdengar sangat keras, semakin keras dan semakin dekat. Aku tak mau melirik ke arah lampu itu, aku tak mau mengetahui jarak antara aku dengan bumper mobil.


Kumohon, sempatlah!


*


Sampai saat itu, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku tidak merasakan apapun. Semuanya terasa kaku, seolah aku tidak memiliki tubuh.


Apa aku sudah mati?


Semuanya nampak hitam. Benar-benar hitam pekat sejauh mata memandang, tanpa ada sedikitpun berkas cahaya di kelopak mataku.


Ini dimana? Kakiku bahkan tidak menyentuh apapun.


Kala aku sedang kebingungan dengan kondisiku, aku merasakan sesuatu yang aneh megusap rambutku. Itu terasa nyaman dan hangat, kepalaku dielus oleh sesuatu yang sangat nyaman.


Barulah, sepasang titik kecil cahaya di ujung mataku muncul. Cahaya itu semakin besar dan besar, hingga membuat mataku silau. Aku mengedipkan mataku, dan ketika aku membukanya, keanehan baru muncul.


Di depanku, gadis berjubah yang kuselamatkan tadi sedang duduk menyilangkan kakinya. Dia duduk di singgasana yang mewah. Sedangkan aku, menunduk di depannya sambil merapatkan kaki, dan dia mengelus-elus kepalaku dengan tangannya.


“Selamat datang.”


Ucap gadis tersebut sambil menahan tawa. Aku yakin dia barusan mengucapkan selamat datang, walau aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.


“Em.. ini dimana..?”


Tanyaku pelan. Tentu saja, siapapun pasti akan keheranan apabila dia baru saja tertabrak mobil kemudian bangun dan duduk menyembahnya, mana mungkin aku berdiri dan dengan gagah mengatakan “Siapa kau!” dengan nada berat yang dibuat-buat.


Walau seperti itu, ini agak sedikit menyebalkan pikirku.


“Apa jangan-jangan.. aku sudah.. mati?”


Dia tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dari kepalaku dan memangkunya di pahanya yang mulus.


“Entahlah. Aku tidak pernah menciptakan kematian untuk para makhlukku. Jiwa dan hati mereka akan tetap hidup meskipun raganya sudah menjadi abu sekalipun.”


“Hmm.. jadi inilah yang mereka sebut dengan ‘kehidupan setelah kematian’ begitu? Aku tak percaya hal ini benar-benar nyata.”


Aku menaikkan kepalaku dan menatap sosok indahnya. Gadis yang tampak seperti anak berusia 15 tahun, menggunakan pakaian yang cantik, dengan rambut silver yang indah, ia duduk dengan elegan sambil menatap manis ke arahku. Di belakangnya, bertaburan jutaan bintang yang sangat kecil. Kalau dilihat kembali sebenarnya bintang itu ada dimana-mana, sejauh mataku memandang aku selalu bisa melihat bintang itu. Seolah ini adalah tempat dengan wallpaper luar angkasa.


Si gadis menaruh kakinya di wajahku, sontak hal itu membuatku kaget. Aku berusaha untuk melepaskan kakinya, tapi entah kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan.


“Siapa yang memperbolehkanmu menatap sosok indahku? Apa kau tidak sadar dengan posisimu saat ini, wahai manusia?”


Dengan nada manis, gadis itu seolah menggodaku. Tapi biarpun menggoda seperti itu pun, aku bukan masokis yang rela wajahku ditekan oleh kaki mungil ini.


“Tidak, mana mungkin aku sadar akan posisiku.. aku bahkan sama sekali tidak tahu apa


yang terjadi.”


“Yah, kupikir tidak masalah kalau itu adalah kamu.. lagipula kamu juga sudah memeluk tubuh suciku ini.”


Memeluk? Jangan-jangan ketika aku mendorongnya tadi. Berkat kalimatnya barusan, aku kembali mengingat momen sebelum si mobil sialan itu menabrakku. Kenikmatan luar biasa yang kurasakan dari tubuh wanita setelah aku memeluknya, karena kalau boleh jujur selama ini aku membayangkan berpelukan menggunakan guling tidur.


“Siapa namamu?”


Gadis itu bertanya.


“Darren Corter.”


“Begitu.. Darren Corter, ya? Aku akan mengingatnya. Manusia sepertimu sangat jarang ada, aku terharu ketika kamu menyelamatkanku saat itu. Yah.. meskipun ada dorongan nafsu juga ketika hendak menyelamatkanku tadi.”


Cih, dia menyadarinya? Meskipun sedikit, aku akui kalau kecantikannya membuatku tidak sadarkan diri. Seandainya yang di sana saat itu adalah direktur perusahaanku, walaupun tubuhnya seksi dan cantik sekalipun, aku jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam aku tidak akan menyelamatkannya. Omong-omong si direktur itulah yang membuatku lembur dan meninggalkan ponselku.


“Jarang? Tapi.. sepertinya tidak juga. Orang-orang baik masih sangat banyak, tanpa mengenal mereka pun aku akan tahu.”


Bantahku. Bukan berarti aku tidak menerima pujiannya yang mengatakan kalau aku adalah orang baik, tapi pernyataannya itu sedikit salah.


“Yang kumaksudkan bukanlah kebaikan dalam menolong orang saja.. tapi kebaikan dalam arti yang lebih luas. Kamu adalah orang paling jujur dan polos, sifat anehmu menuntunmu kepada kebaikan dan menolak kejahatan.”


Oh, sepertinya kalimat yang terakhir itu terdengar seperti dialog film. Terserahlah, aku tidak mau mengungkit masalah kebaikan dan kejahatan. Itu adalah sesuatu yang aku tidak mengerti dan tidak akan pernah kupalajari agar


mengerti. Benar juga, dia dengan mudahnya mengatakan hal itu, memangnya dia siapa?


“Omong-omong, kamu ini siapa?”


Dia hanya tersenyum, aku sedikit terkejut karena kupikir dia tidak akan menjawabnya. Tapi syukurlah, dia mulai membuka mulutnya.


“Aku? Aku adalah pencipta.”


“Hah? Apa?”


“Sudah kubilang, aku ini pencipta. Aku adalah Dewi Reftia, sosok yang melambangkan kebijaksanaan dan kecerdasan. Sekaligus salah satu pencipta dari semesta ini, termasuk kalian semua para manusia!”


Tunggu sebentar, ini tidak masuk akal. Apa tidak masalah mengatakan hal seperti itu dengan jelasnya? Kalau dia di negaraku, mengaku sebagai Tuhan mungkin sudah dianggap sebagai kejahatan besar.


Tapi, apa-apaan denga perasaan ini? Aku sama sekali tidak merasa heran. Terkejut memang, tapi setelah semua yang terjadi membuat fantasiku menjadi liar. Diriku yang duduk di atas jutaaan bintang-bintang kecil saja sudah membuatku bingung, tapi hal ini benar-benar terjadi.


Kalau begitu, mari kita dengar sedikit penjelasannya.


“Kalau kau adalah pencipta kami.. kenapa kamu menyebrang zebra cross seperti tadi, bukankah itu berbahaya? Apa yang terjadi kalau pencipta sepertimu mati.”


“Tenang saja, dewi agung sepertiku mustahil bisa mati oleh manusia bahkan dengan cara apapun. Alasanku datang ke bumi adalah karena bosan.


“B-Bosan?”


“Ya, miliaran tahun aku hanya mengamati kalian, dan tadi malam untuk pertama kalinya dalam sejarah semesta, seorang dewi agung turun ke bumi. Aku mengucapkan selamat kepadamu karena menjadi bagian dari sejarah itu!”


Miliaran tahun?! Dengan sosok lemah dan cantik seperti itu, umunya sudah miliaran tahun? Yang benar saja!


Dewi cantik, kembalikan pujianku! Kembalikan hasratku yang senang karena sudah berhasil memeluk gadis cantik. Siapa sangka ternyata yang kupeluk adalah seorang nenek tua. Memeluk nenek berumur 70 tahun saja rasanya sudah sangat berat, dan aku baru saja memeluk nenek berumur miliaran tahun? Astaga, hancur sudah masa


depanku.


“Oi! Apa yang kamu pikirkan?! Pasti kamu berpikir kalau aku adalah seorang nenek-nenek begitu, kan?”


Maaf, aku tidak bisa menyangkalnya. Jadi aku tidak mau menjawabnya.


“Jangan samakan aku dengan kalian para manusia, kami para dewi tidak mengenal yang namanya usia dan waktu. Aku tidak lahir sebagai bayi dan aku tidak akan mati sebagai seorang nenek. Dengan kata lain, aku abadi dengan sosok ini, tanpa memiliki umur.”


Ahh!! Baru saja aku kehilangan harapan. Ternyata begitu. Syukurlah yang kupeluk bukanlah nenek-nenek. Tidak pernah menjadi bayi pun tidak masalah, yang penting sosoknya cantik, itu sudah cukup.


Dia sepertinya tampak kesal, dewi yang satu ini memberikan tatapan cemberut. Ia menggembungkan pipinya, dan itu membuatnya semakin imut. Aku tertawa melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.


“Jadi, apa yang diinginkan dewi sepertimu kepada manusia biasa sepertiku? Apa semua manusia yang mati memang melakukan ini?”


“Tidak, biasanya aku mengabaikan mereka. Tapi kamu berbeda.. kamu rela menolongku, karena itu aku akan menghidupkanmu kembali di dunia yang berbeda. Tetapi kamu boleh meminta apapun yang kamu inginkan.”


Reinkarnasi begitu maksudnya? Aku tidak terlalu percaya dengan hal ini. Tapi dihidupkan di dunia yang berbeda sepertinya bukanlah hal yang buruk. Lagipula di kehidupanku sebelumnya hanya dipenuhi dengan pekerjaan saja. Selain itu, mendengar dia yang mengatakan akan mengabulkan permintaanku, itu membuatku senang apalagi seorang dewi yang mengatakannya langsung.


“Kalau begitu.. aku ingin menjadi dewa(dewi) di dunia baruku.”


(Note: Darren mengatakan "Goddess" yang artinya Dewi)


Sang dewi terlihat sangat terkejut. Aku sadar kalau ini adalah permintaan yang terlalu blak-blakan. Tapi karena dia menawarkan permintaan semenggiurkan itu, aku tidak akan sungkan-sungkan. Kalaupun dia tidak menerimanya juga tidak masalah, lagipula menjadi seorang pencipa adalah sesuatu yang aneh yang tidak dapat dibayangkan.


Setelah berdiam cukup lama, akhirnya dia mulai bicara.


“Baiklah. Tapi dewi adalah sosok yang penuh dengan keindahan dan keanggunan, dan perempuan adalah pelambangannya. Sedangkan lelaki terlalu kotor untuk menjadi sosok suci seperti itu. Kalau kau mau, aku akan merubahmu menjadi perempuan.”


Hah? Yang benar saja! Menjadi perempuan? Maksudnya segala bentuk kenikmatan dan masa depanku sebagai laki-laki akan lenyap begitu? Tidak, tidak, tidak, aku tidak menginginkan itu.


“Bagaimana?”


“Hmm.. tadi kau bilang laki-laki terlalu kotor, bukan? Kalau begitu begini saja, kau hilangkanlah kelaminku dan buat aku menjadi dewi tanpa merubahku menjadi perempuan. Dengan begitu pikiran dan nafsuku akan sama seperti laki-laki bukan?”


Masuk akal, itu sangat masuk akal. Aku tidak pernah membuat pernyataan semasuk akal itu seumur hidupku. Kalau negosiasi ini berjalan dengan baik, aku tetap akan menjadi sosok Darren Corter yang biasanya namun dengan kekuatan yang tak terhingga.


Selain itu, apakah aku lupa? Nantinya aku akan menjadi dewi, berarti kalau sesekali atau dua kali aku menjadi lelaki untuk sementara waktu, itu bukanlah hal yang mustahil.


“Kalau begitu sudah diputuskan.”


Dewi mengangkat tangannya dan menaruhnya kembali di atas kepalaku. Aku melihat bintang di sekitar tempat ini berputar-putar dan menjadi semakin cerah. Perlahan kesadaranku mulai memudar. Dalam hati aku bergumam senang karena kehidupan sebagai penciptaku akan dimulai sekarang.


Aku akan tak sadarkan diri sebentar lagi. Perasaan dilahirkan kembali menjalar ke setiap bagian tubuhku, akhirnya kehidupan baruku dimulai.


“Aku lupa, meskipun kamu adalah dewi, kamu tidak bisa sesekali atau dua kali menjadi lelaki untuk sementara.”


“Eh???!!!”