Goddess Corter

Goddess Corter
Archangel (1.5)



Mata Rayen terbelalak melihat sosok di depannya yang mengaku sebagai kakeknya. Pasangan suami istri itu tampak bahagia ketika mereka dipertemukan kembali. Atau aku harus bilang, hanya Hymera yang bahagia. Raja Albarac, tidak, Karcelus memiliki sikap yang berbeda dengan pertemuan pertama kami.


Setelah Hymera menjelaskan panjang lebar bagaimana sejarahnya ia bisa bertemu Karcelus, yang mana itu sangat tidak penting. Hymera hanya takjub dengan seorang manusia tampan, kemudian Dewi Agung itu menariknya ke langit ke-tujuh dan mereka menikah.


“Tetapi, bagaimana kakek bisa semuda ini?”


Tanya Rayen mengawali konferensi pers.


“..um.. ini dimulai dari sikap Karcelus yang lugu. Bahkan setelah ia menikah dan memiliki anak denganku, dia masih merasa kalau dia tidak pantas berada di tanah yang sama dengan Dewi. Kemudian dia melarikan diri ke dunia dimana manusia tinggal, bersama anak kita, yaitu ibumu, Rayen.”


“.. bukan itu sih yang kutanyakan.”


“Karena Karcelus adalah manusia, yang tidak mengerti bagaimana kerja langit, dia terpaksa tereinkarnasi kembali.”


“Reinkarnasi?”


Kali ini aku yang bertanya, bukan kepada Hymera tapi kepada Reftia.


“Manusia yang tanpa kehendak Pencipta tak bisa sesuka hatinya berpindah langit. Karena lapisan langit tak bisa dijangkau dengan kemampuan fisik, Karcelus dan anaknya akan berubah menjadi bentuk roh. Roh mereka akan merasuki tubuh seseorang agar bisa hidup seperti biasa. Dan tentu saja, Karcelus merasuki raja Alard Albarac dan anaknya merasuki ibu Rayen.”


Jelas Reftia.


Yah, itu sudah cukup untuk menjelaskan kenapa kakek dan ibu Rayen seumuran, atau justru lebih tua ibu Rayen.


Tapi tunggu sebentar, aku jadi teringat lagi dengan buku sihir yang pernah dipinjamkan Rayen. Aku ingat betul kalau buku itu ditulis olehnya, dimana buku itu sendiri sudah penuh dengan debu ketika aku membuka lembarannya.


Momen macam apa yang membuat Karcelus mampu memberikan buku seburuk itu kepada cucunya, maksudku umurnya bahkan belum mencapai 30 tahun. Dan juga kenapa Rayen tidak mengenal Raja Albarac sebagai kakeknya? Kenapa Karcelus tidak menegur cucunya ketika bertemu dulu?


Aku menatap Reftia dengan penuh pertanyaan di wajahku, Reftia membuat wajah malas yang tak ingin panjang lebar menjawab. Tapi dia menjelaskan,


“Buku sihir itu bukan Karcelus yang menulisnya. Tapi itu ditulis oleh kakek Rayen yang dulu, tepatnya.. ayah dari ibu Rayen yang dulu.”


“Apa maksudmu?”


Tanyaku penasaran.


Reftia menatap lekat Rayen, memperhatikan setiap gerakan otot di wajahnya seolah peneliti yang sedang bekerja.


“Sebelum Karcelus turun ke dunia, Rayen memiliki kakek dari ibunya dan orang itulah yang menulis buku sihir. Tetapi, ketika Karcelus turun ke dunia, Karcelus menggantikan status ‘kakek dari ibunya’, dikarenakan ibu Rayen juga sudah berubah status menjadi ‘anak Karcelus’.”


Aku berpikir keras untuk mencoba mencerna itu semua.


“Darren, perlu kamu ketahui kalau kakek dari ayahnya Rayen sudah meninggal. Jadi, ketika Rayen mengatakan ‘kakekku’ itu hanya merujuk ke satu sosok. Tentu saja, Karcelus.”


Ah, aku tidak paham.


***


Di sisi lain dari surga, dimana disana ada banyak pasir dan sinar matahari yang lebih terasa. Bunyi-bunyian air dan bau garam yang khas tercium secara otomatis. Ini adalah tempat dimana manusia menghabiskan waktunya selama libur musim panas, tempat untuk membuat kulit mereka menjadi coklat.


Di surga pun ada, tempat ini bernama pantai.


Setelah semua hal yang terjadi, usulan brilian dari Dewi Agung yang tiba-tiba datang bernama Nivalda, dia mengusulkan agar kami semua pergi ke pantai agar bisa lebih akrab.


Tentu saja tujuan utamannya adalah perayaan kenaikanku.


Kami semua bingung memikirkan baju renang macam apa yang harus dikenakan, karena ini di surga semua yang dibayangkan akan muncul. Dan tentu saja, semuanya menggunakan imajinasi mereka untuk membuat tampilan mereka lebih imut.


Sedangkan aku..


“Y-Yah.. itu terlihat cocok untukmu..”


“.. b-benarkah?”


Rayen memberikan reaksi postif dari baju renang yang kukenakan, dan mustahil bagiku untuk menyembunyikan kebahagian karena pujian itu.


“Baju renang berenda.. cocok untuk dada yang kecil.”


Seketika mood-ku berubah menjadi napsu membunuh. Rayen mengatakan itu seolah tanpa rasa bersalah, apalagi dengan senyuman mesumnya membuat dia tidak seperti Rayen yang biasa. Inilah yang biasanya membuatku marah.


Aku menarik kupingnya seperti biasa, membuat kekasihku ini menjerit kesakitan.


“Aku kesal kalau kamu membuat wajah mesum itu.. tapi.. aku lebih kesal kalau ada yang bilang dadaku kecil!!”


“Baiklah! Maaf! Maafkan aku!”


Aku meninggalkan Rayen bersama Karcelus yang sedang bersantai bersama Hymera di bawah payung.


Sedangkan aku pergi ke Dewi Agung lainnya dan mulai bermain di laut. Karena Nivalda yang jarang muncul itu juga ada disini, setidaknya aku ingin lebih menikmati acaranya.


Tapi, sepertinya hanya aku yang tak pantas disebut perempuan disini..


Pisces terlihat elegan dengan baju renang itu, tubuhnya juga bagus. Begitu juga Renatta dengan rambut panjangnya. Dan para Dewi Agung, tidak perlu dipertanyakan lagi betapa cantiknya mereka. Walaupun mungkin Nivalda memiliki dada yang sama denganku, tapi dia tidak memikirkannya.


Satu-satunya yang senasib denganku hanyalah para Archangel.


“Aku tidak sudi! Kenapa dadaku tidak tumbuh juga?! Ukurannya bahkan sama persis dengan loli-loli ini..”


Di tengah laut, ketika semua orang asyik bermain dengan percikan air mereka, aku justru berteriak mengucapkan doa yang tak tahu kepada siapa kutunjukkan.


Semua orang menatap kepadaku dengan tatapan miris dan kasihan. Terkecuali Teressa yang justru tertawa dengan sengaja menggoyang-goyangkan belahannya yang besarnya tak masuk akal.


Penduduk Akarka, Reftia, dan tiga ratu idiot, semuanya terlena dengan keindahan laut dan tidak bersimpati sedikitpun dengan masalah hidupku.


Aku menenangkan diri dengan berendam di laut sambil memikirkan betapa mirisnya hidupku. Mengubah tubuhku sendiri dengan kekuatan Pencipta adalah hal yang mungkin, tapi asal merubah penampilan merupakan keputusan terkonyol untuk seorang wanita.


“Kak Darren.. ada apa?”


Suara yang imut memecah kesedihanku, di sebelahku berdiri Gabriel dan para saudari Archangel yang lain. Dengan tatapa polos, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi.


“Bukan apa-apa. Gabriel.. tidak bermain?”


“Kami ingin mengajak kak Darren bermain bola karet!”


Gabriel menunjukkan sebuah bola yang ia maksud disertai dengan senyuman lebar.


“Baiklah..”


Permainan pun dimulai.


Kurang lebih peraturannya sama seperti bola voli, tetapi tak ada garis arena di permainan yang Gabriel buat. Kami hanya perlu berpencar dan memukul bola agar tak terjatuh ke tanah. Apabila bola terjatuh, maka orang terdekat dari lokasi jatuhnya bola adalah yang kalah.


Yang bermain hanya para Archangel dan aku.


Gabriel memulai permainan dengan bola di tangannya,


“Ini dia!”


Ia melempar bola ke langit, melayang jauh di atas kepalanya. Kemudian, Gabriel mengeluarkan tongkat cahaya yang pernah ia pakai melawanku. Tongkat itu ia hantam ke bola yang sedang mengambang. Dan hasilnya, bola yang tenang itu berubah menjadi ganas dengan terbang ke langit layaknya roket.


Salah satu Archangel, Raphael ikut melompat sesuai dengan arah datangnya bola. Di langit, Raphael memasang kuda-kuda terhadap bola yang melayang di depannya. Ia pun menendang bola itu sekeras mungkin hingga mengeluarkan suara ledakan.


Bola jatuh ke bawah dengan kecepatan melebihi meteor, dan itu jatuh menuju ke arahku.


Aku mengaktifkan sihir Power Boost, itu berguna untuk meningkatkan kekuatan fisikku sesuai yang kuinginkan. Sekarang, kekuatan tanganku melebihi kekuatan berjuta-juta raksasa.


Kulakukan passing terhadap bola meteor itu. Sekarang bola menjadi lebih terkendali dan bergerak perlahan, itu adalah passing yang terlalu sempurna bagi pemain voli.


Bola melambung menuju Archangel yang lain, Uriel. Dia memperhatikan bola pelan itu dengan kuda-kuda seolah ingin melakukan spike.


Ketika bola tak jauh dari kepalanya, ia berlari dan melompat, kemudian tangannya yang seperti cambuk memukul bola dengan sangat keras. Terdapat banyak percikan api yang keluar dari pukulannya.


Bola menabrak dadaku, tepat ketika aku ingin mengeluarkan sihir.


Dan, tak diduga ternyata bolanya jatuh.


“Ah.. dada kak Darren tidak bisa memantulkan bola.”


“Dada kak Daren pasti keras seperti beton.”


“Kalah karena ukuran dada, hihi! Kak Darren memalukan!”


Masing-masing Archangel mulai mengeluarkan pendapat, tidak, hinaan mereka terhadapku. Apa para loli gila itu tidak menyadari betapa rendahnya mereka?


“Berisik! Kalian juga sama! Dada kalian bahkan tak lebih menonjol dari papan!”


“Eh? Kami masih kecil, itu wajar. Tapi kak Darren yang sudah tua kenapa tidak memiliki dada juga?”


“Dada tidak ada kaitannya dengan umur dan juga aku masih muda! Haha!! Walaupun masih kecil, dada tetap akan tumbuh, kalian yang tak memiliki dada sama pecundangnya denganku!”


Beberapa waktu berlalu sejak perdebatan tak penting barusan, para Archangel menyerah karena bosan berurusan denganku. Jangan lupa kalau gelarku adalah Dewi Keegoisan, apapun perdebatannya haruslah aku yang menang.


Permainan voli yang tak masuk akal itu dilanjutkan lagi. Berbagai sihir luar biasa yang mengguncang pantai mulai dikeluarkan oleh semua pemain, aku berharap pantai ini tak akan berakhir seperti medan perang.


Hingga tanpa disadari, mulai banyak orang yang ikut bermain, termasuk Teressa dan Nivalda. Tapi kebanyakan sudah beristirahat di bawah payung, menikmati minuman jus di tangan mereka. Seperti Reftia dan Pisces, mereka lebih memilih istirahat.


Lelah bermain, aku memilih untuk menghampiri Rayen yang sedang mengobrol dengan kakeknya.


“Hei, kamu tidak bermain?”


Tanyaku.


“Aku melihatnya saja sudah puas.”


 “Puas? Apa maksudmu? Memangnya apa yang kamu lihat?”


Curiga, aku menatapnya dingin.


“T-Tidak.. maksudku bukan seperti itu!”


Aku tertawa kecil melihat reaksi panik Rayen. Kekasihku memang seperti itu ketika melihat wajah kesal dariku. Dirinya yang perhatian dan lugu, aku sangat menyukainya.


Tanpa sadar, aku sudah mendaratkan kepalaku pada pundak Rayen.


“Darren.. apa yang akan kita lakukan setelah ini?”


Tanya Rayen tiba-tiba dengan nada yang serius.


“Entahlah.. kamu sendiri, apa yang kamu inginkan?”


“Ingat ketika pertama kali kita bertemu di guild? Saat itu aku bilang kepadamu bahwa aku mengemban mimpi seseorang dari pekerjaanku sebagai petualang. Sebenarnya.. itu adalah mimpi ayahku.”


“Begitukah?”


“Ya, ayahku bilang ingin melihat anaknya mengayunkan pedang dengan gagah. Karena itulah aku memilih meningkatkan fisikku.”


“Jadi.. kamu ingin kembali menjadi petualang?”


“.. um.. tentu saja aku tetap akan mengikutimu, apapun pilihanmu aku pasti akan mengikutinya!”


Rayen menunjukkan senyuman tulus, senyuman yang hanya bisa dibuat oleh Colt Rayen.


Mendengar perkataan Rayen, aku kembali berkaca terhadap kejadian belakangan ini. Sepertinya aku terlalu egois dengan membuat keputusanku sendiri tanpa memperdulikan keinginan Rayen.


Kami berdua tak mengucapkan apa-apa setelah itu.


Sampai Reftia datang, dengan wajah bahagia,


“Kalau begitu, datanglah ke semesta milik Corola!”


Aku dan Rayen yang saling berdiam diri dibuat terkejut dengan perkataan Reftia.


“Corola?”


“Ya, dia adalah Dewi Agung Kekuatan dan Senjata. Di semestanya, akan ada perang untuk memperebutkan hadiah tahunan. Pesertanya adalah makhluk ciptaan Corola, tapi kalau Rayen mau, kau bisa ikut dalam perang itu.”


“Tidak.. aku tidak ingin perang.”


“Tenang saja, walaupun perang nyatanya itu hanya kompetisi. Akan ada hadiah yang menunggu kalau kau menang, bukankah itu bagus untuk meregangkan ototmu?”


Tampak jelas wajah Rayen yang tergiur dengan tawaran dari Reftia.


Aku juga turut senang kalau Rayen menganggapnya positif. Walaupun awalnya aku sedikit khawatir karena Rayen tertarik dengan peperangan, tapi aku tidak boleh lagi mengekangnya. Mulai sekarang aku harus lebih memanjakan Rayen dan tidak bersikap egois.


***


Malam di surga, kami masih berada di pantai.


Suasanya sangat hangat dengan api unggun di antara kami. Duduk berkelompok, kami berpencar di beberapa tempat namun tetap berdekatan.


Membakar ikan, jagung, dan menghangatkan diri di dekat api, ini sungguh menyenangkan. Ketika melihat ke langit, bintang-bintang dengan cahaya yang lebih terang terlihat, bersamaan dengan pantulan indah yang menari di permukaan laut.


Semua orang melepaskan lelahnya pada hangat kumpul ini. Aku dan Rayen duduk berduaan sambil berpegangan tangan. Angin pantai yang lembut membuat otot kami lemas, semuanya tak ada yang banyak gerak.


“Omong-omong, ada yang ingin kutunjukkan padamu, Darren!”


Reftia yang duduk tak jauh dari kami, mendadak berbicara kepadaku.


“Menunjukkan apa?”


Reftia memunculkan senyum lebar di wajahnya.


“Mulai sekarang dia akan menjadi pelayanmu.”


Setelah mengatakan itu, Reftia menjentikkan jarinya. Aku bisa merasakan kekuatan Reftia yang baru saja menggunakan kehendaknya sebagai Pencipta.


Mendadak, muncul lingkaran sihir di atas permukaan pasir. Di antara gelapnya pantai, lingkaran itu bercahaya lebih terang dari api unggun. Semua orang memperhatikan lingakaran itu.


Kemudian, muncul sosok dari dalam lingkaran sihir. Perlahan, dan perlahan, hingga memunculkan sosok aslinya.


Yang ada disana adalah raja iblis Azazel.


Benar, orang yang pernah membunuhku sekarang ada disini. Ketika aku bersiap untuk menyerangnya, Reftia menghentikanku. Reftia bilang ada beberapa hal yang disampaikan berkaitan dengan Azazel, dan aku harus tenang terlebih dahulu.


Di depanku, Azazel bersujud. Kemudian dia mulai mengucapkan kalimat-kalimat permohonan maaf atas semua yang ia lakukan. Aku berniat untuk ragu, tapi sepertinya permintaan maafnya bukanlah kebohongan.


Mulailah Reftia menceritakan bagaimana dia bisa menjinakkan Azazel. Karena pertarungan terakhir mereka, Azazel meminta neraka kembali dibuat tetapi dengan syarat ia harus menjadi bawahanku.


“Mulai sekarang kalian akan berlatih agar bisa bersaing di perang itu. Terutama Rayen dan Pisces yang akan menjadi peserta.”


“..eh?!! A-Aku juga?”


Pisces mendadak gugup ketika Reftia menyebutkan namanya.


“Yah, nanti kalian juga mengerti bagaimana perangnya dilaksanakan, untuk sekarang ikuti saran dariku dulu.”


Dan dimulailah latihan kami di surga.


Dengan bantuan dari Dewi Agung, dan para loli rangers, masing-masing dari kami mulai meningkatkan kekuatan.