
Negara Kekaisaran Kardagon, sebuah Negara besar yang terletak di benua yang sama dengan Kerajaan Erinyes.
Walau tak sebesar Erinyes, Kardagon memiliki hubungan yang baik dengan ketiga Ratu disana. Banyak kerjasama yang terjalin antara Erinyes – Kardagon, salah satunya adalah kerjasama pertambangan emas dan logam.
Tapi, yang menjadi masalah adalah karena kedua Negara ini tidak terlalu terhubung. Satu-satunya yang
menjadi penghubung mereka hanyalah Kota Lotus, yang terletak di Kerajaan Bagian Megaira. Ratu Megaira, adalah yang menjadi penghubung langsung antara Erinyes dan Kardagon.
Sedangkan itu, yang menjadi pemisah daerah mereka adalah Kerajaan Albarac. Kerajaan Albarac sendiri adalah
Kerajaan yang tidak begitu dominan, apabila dibandingkan dengan Erinyes dan Kardagon. Karena itu, bisa dibilang letaknya sedikit mengganggu kerjasama pertambangan Erinyes – Kardagon.
Menginvasi juga bukanlah hal yang mustahil. Kalau Erinyes dan Kardagon bekerja sama secara diam-diam, mengumpulkan pasukan, dan menyerang langsung Albarac, besar kemungkinan kedua Negara itu akan memperoleh kemenangan.
Karena tidak seperti Erinyes yang memiliki hubungan bahkan dengan Negara yang berbeda benua, Albarac sama
sekali tidak memiliki hubungan semacam itu.
Letak Albarac sangatlah tidak strategis, ia bagaikan tikus kecil yang dikepung oleh harimau yang besar. Kalau para harimau mau, mereka bisa langsung saja menghabisi si tikus sampai tak bersisa. Hal inilah yang membuat Kerajaan Albarac semakin terlihat miris.
Untuk penerus Albarac, mungkin menjadi Raja disana adalah sebuah kutukan bagi mereka. Seandainya Erinyes
menginvasi mereka, yang harus bertanggung jawab adalah Raja saat itu. Perlu diketahui kalau jabatan Raja Albarac adalah seumur hidup, hal inilah yang membuat Raja Albarac menjadi sangat resah.
Dia adalah Alard Albarac, Raja keturunan ke-68. Berparas tampan dan memiliki tubuh yang bagus, dia adalah pria
bijaksana yang mampu membuat Kerajaan Albarac menjadi makmur walau ditakuti oleh ancaman. Nyatanya Raja Alard sama sekali tidak memikirkan tentang ancaman itu, yang ingin dia lihat adalah kemakmuran para rakyatnya.
Umur Raja kini menginjak 21 tahun, sebenarnya daripada disebut Raja mungkin dia lebih baik disebut pangeran. Tapi diusianya yang semuda itu, kemampuan Raja Alard tidak bisa diragukan. Tak diragukan lagi kalau dia adalah orang terkuat di Kerajannya, bukan hanya dari segi gelar, tapi juga dari segi kemampuan bertarung dan sihir.
Tidak seperti Raja yang menggunakan gelar seenaknya, yang hidupnya hanya dipenuhi dengan wanita dan
anggur, Raja Alard adalah orang yang terpelihara dari dosa semacam itu. Menurutnya wanita adalah sosok yang harus dilindungi, bukan dipermainkan. Hanya dengan sudut pandang itu, menjadikan Raja Alard sebagai sosok yang sangat baik hati.
Dan siang ini, Raja mengadakan pertemuan resmi dengan perwakilan Kerajaan Erinyes, perwakilan itu adalah Ratu
Megaira.
“Terima kasih atas jamuannya, sudah lama aku tidak datang kesini.”
Ucap Ratu Megaira setelah meminum teh hangat yang disediakan pelayan.
Di sebuah ruangan tertutup, dengan meja besar di dalamnya, pertemuan itu dilakukan. Ada banyak penjaga di
samping Ratu Megaira, begitu juga penjaga di samping Raja Alard. Para penjaga itu tentunya adalah orang yang profesional, baik di bidang sihir ataupun bela diri.
“Ya, aku juga mengucapkan terima kasih karena anda mau menyempatkan untuk datang.”
Jawab Raja Alard.
Ratu Megaira adalah sosok yang sangat cantik. Tak ada yang tahu berapa umur wanita itu, tapi dilihat bagaimanapun juga dia sangatlah cantik. Hanya dari cara dia duduk dan menaruh cangkir, orang biasa pasti akan langsung tergila-gila olehnya. Terlebih lagi rambut hijaunya yang dibiarkan tumbuh panjang, membuat Ratu Megaira menjadi sosok yang sempurna.
Tapi memuji kecantikannya secara langsung adalah hal yang sedikit tidak sopan, karena itu Raja Alard hanya bisa saling membalas senyuman.
“Sepertinya, tempat ini sudah lebih baik sejak kau diangkat menjadi Raja.. sebenarnya cara apa yang kau gunakan untuk menyatukan rakyatmu?”
“Haha.. terima kasih atas pujiannya.”
Antara masih ingin berbasa-basi dan ingin langsung menuju ke inti, Raja Alard menjadi bimbang karena hal itu.
Seandaikan yang berdiri di depannya bukanlah Ratu yang cantik, mungkin dia sudah mengatakan banyak hal sejak tadi. Ratu Megaira terlalu anggun, bahkan aura di dalam ruangan ini lebih dominan ke sang Ratu.
“Tak usah segugup itu, bocah.. lagipula aku tidak menggigit.”
Ratu Megaira bercanda. Tetapi candaannya itu terdengar terlalu kasar untuk seorang tertinggi di Kerajaan ini.
Para penjaga di sekitar Raja Alard mulai memasang wajah kesal dan serius, dan salah satu perwakilan penjaga mulai membentak.
Tetapi Raja Alard segera mengangkat tangannya dan meredakan amarah pengawalnya. Apapun yang dikatakan
Ratu Megaira tidak terdengar seperti ancaman ataupun hinaan. Yah, mungkin Raja juga sudah tidak waras setelah melihat kecantikan sang Ratu.
“Yang lebih penting, Ratu, aku ingin membahas kerja sama kita kedepannya.”
“Oh, langsung ke intinya.. apa dirimu tidak ingin mengenalku lebih dekat lagi? Yang mulia..”
Senyuman dan tatapan yang sangat menggoda, walaupun mungkin itu hanyalah kebiasaan yang dilakukan Ratu,
tetapi Raja seperti Raja Alard pun tetap tergoda karenanya. Raja tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya.
“Y-Ya.. mungkin bisa lain kali. Itu.. aku takut mengganggu jadwal anda kalau berlama-lama disini..”
“Wah, romantis sekali.. tak usah khawatir.. aku bisa bermain denganmu seharian penuh.”
Yap, jelas sekali yang terakhir itu benar-benar menggoda sang Raja. Tidak ada alasan khusus yang menentang Raja untuk terpesona. Lagipula Raja juga belum memiliki pasangan, dengan gadis manapun dia bermain, tidak akan ada yang mempermasalahkannya.
Tetapi yang ingin dia hadapi saat ini bukanlah godaan dari Ratu cantik, tetapi bahasan mendalam mengenai
kerja sama Eriyes – Albarac. Bagaimanapun, pertemuan semacam ini sudah sangat dinanti-nantikan oleh para Raja sebelumnya.
Adalah hal yang konyol kalau seorang Raja membuang kesempatan emas hanya karena kalah dari nafsunya.
“Ratu kumohon jangan begitu lagi.. kita akan serius mulai sekarang.”
“Ya.. baiklah.”
Seorang wanita dengan pakaian pelayan, berjalan mendekati Raja Alard sambil terus menunduk. Pelayan itu
memberikan beberapa lembar kertas. Itu adalah kertas yang berisikan laporan rincian dari kerja sama yang mungkin, pernah, atau tidak mungkin terjadi antara Erinyes – Albarac.
“Ratu.. anda pasti sudah mengetahui kalau kerajaan kami ini terletak di diantara Negara-negara besar. Tentang bagaimana ketakutannya, anda pasti mengerti bukan?
“Ya.”
“Dan anda juga pasti tahu kalau selama ini Kerajaan Albarac hanya mengandalkan sumber daya dari negeri ini
sendiri. Meskipun begitu, nyatanya Kerajaan Albarac masih tetap makmur hingga sekarang, tentu saja anda mengerti bukan?”
“Ya, aku mengerti.”
“Tetapi, aku ingin menambahkan lagi keuntungan bagi Kerajaan kecil ini. Walaupun dengan sumber daya yang
melimpah, nyatanya bayang-bayang dari Kekaisaran Kardagon masih tetap ada..”
“Ratu.. saya, mewakili se-antero Kerajaan Albarac,.. memohon kepada anda untuk menyetujui kerja sama sumber daya dan militer.”
Dengan penuh hormat, Raja Alard mempertaruhkan harga dirinya dengan menundukkan kepalanya. Kerja sama yang dia inginkan adalah sesuatu yang tidak terbantahkan, tetapi dengan menundukkan kepala, itu adalah sikap yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Raja.
Raja Alard bertaruh pada harga dirinya, seandainya Erinyes menyetujui kerja sama ini, maka tidak bisa dipungkiri
kalau lagi Albarac menjadi Kerajaan paling beruntung di dunia. Tetapi itu adalah tindakan yang gegabah, Raja sudah mengantisipasi kalau Ratu mungkin akan marah, karena itu dia menunduk.
Kerja sama yang dituntut oleh Raja Alard, yaitu berupa kerja sama sumber daya, maksudnya adalah kerja sama
dalam penggabungan sumber daya, baik alam ataupun manusia, ini sangat baik untuk meningkatkan lapangan kerja penduduk karena bisa dibarterkan dengan Erinyes.
Erinyes adalah Kerajaan yang penuh dengan sumber daya hutan, Kardagon adalah Kekaisaran yang penuh dengan material tambang, karena itulah kedua Negara ini melakukan kerja sama. Tetapi Albarac ada di antara mereka, tidak perlu ditanya lagi kalau Albarac memiliki apa yang dimiliki oleh Erinyes dan Kardagon.
Sedangkan untuk kerja sama militer, itu adalah perjanjian penyelenggaraan zona anti perang dan kekerasan
antara dua Negara. Ini menguntungkan bagi Albarac yang merupakan Negara kecil, tetapi tidak bagi Erinyes karena kalau hal ini disetujui maka kesempatan mereka untuk menjajah Albarac sudah tidak mungkin lagi.
Ratu mendesah, kemudian tersenyum sambil melihat Raja yang masih menundukkan kepalanya.
“Raja.. angkat kepalamu. Kalau terus begitu nantinya mungkin aku bisa terlalu toleransi dan termakan dengan sifat itu..”
Raja mengangkat kepalanya, dan tertawa kecil.
“Benarkah? Mohon maaf kalau begitu, sebenarnya saya juga bertaruh kepada sikap kemanusiaan anda.”
“Haha.. kamu licik, ya..”
“Astaga, saya tidak berniat begitu.”
Mereka berdua tertawa.
Itu hanyalah candaan yang hanya bisa dimengerti oleh para petinggi Negara. Bagi pengawal yang ada di sebelah
mereka, mungkin itu adalah kata-kata pedas yang saling berbalas, tawa kedua pemimpin mereka juga terlihat menyeramkan kalau diperhatikan lagi.
Tak lama setelah itu, Ratu mulai kehilangan senyumnya. Matanya menatap serius ke bawah, kini Ratu itu mulai menggunakan kepalanya sebagai seorang Ratu. Antara menerima atau menolak, kira-kira mana yang akan dipilih oleh Megaira?
“Raja Alard..”
“Ya?”
“Aku menuntut 2 hal dari kerja sama ini..”
“Tidak masalah, katakan saja!”
“Pertama, aku ingin kerja sama ini hanya dilakukan antara Kerajaan Bagian Megaira dan Kerajaan Albarac saja,
jadi Alekto dan Tisifon tidak termasuk.. dengan kata lain, aku mewakili Kerajaanku sendiri, bukan Erinyes.”
Terdengar mengejutkan, bahkan tuntutan pertamanya adalah sesuatu yang sangat tidak terduga. Entah apa yang
merasuki Raja, tapi dia hampir lupa kalau Erinyes berisikan 3 Kerajaan Bagian. Apa yang dituntut oleh Ratu Megaira bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah.
“Yang kedua, aku hanya menginkan kerja sama dalam bidang sumber daya saja.. sedangkan untuk militer,
aku menolak.”
Raja hanya bisa menyembunyikan kekecewaannya, padahal yang dinantikan olehnya justru kerja sama dalam bidang militer. Raja sempat berpikir negatif, tapi dia mengurungkan itu. Menurutnya, kerja sama sekecil apapun harus dilakukan agar harimau besar di sekitarnya bisa menjadi lebih jinak.
“Baiklah.. tapi sebelum disetujui secara resmi, aku ingin bertanya, sebenarnya apa alasan anda menolak kerja sama militer?”
“Itu.. karena itu terlalu menyayangkan kekuatan Erinyes.”
“Oh, aku paham. Tentu saja Erinyes tetap ingin berkuasa di benua ini, bukan? Tolong jangan salah paham dengan perkataanku.”
Jawab Raja dengan nada yang biasa.
“..mm.. sebenarnya tidak begitu juga. Kalau hanya Megaira, mungkin masih bisa bekerja sama denganmu.. tapi, itu..”
Ratu Megaira menjadi sangat bimbang, entah apa yang dia pikirkan, tetapi matanya bahkan tidak lagi saling menatap dengan Raja.
“Ada apa?”
“Dewi Agung Reftia.. dia menemuiku..”
Sontak, satu ruangan terkejut, tak terkecuali para penjaga yang berjaga di kiri kanan pemimpin mereka. Apa
yang dikatakan oleh Ratu Megaira terdengar seperti lelucon, tapi untuk apa dia bergurau di saat seperti ini.
Raja Alard hanya bisa menelan ludah, bahkan hanya dengan mendengar nama Dewi Reftia, itu sudah membuatnya takut gemetar.
“Apa anda serius?”
Tanya Raja Alard, sambil menahan rasa bingungnya.
“Ya, tepat tadi malam. Dewi muncul dengan sosok anak perempuan yang sangat cantik. Dia berkata kepadaku kalau dia sudah menitipkan utusannya di Kerajaan ini, sosok yang mampu menghancurkan apapun.. Darren Corter, namanya.”
Tidak, ini bukanlah lelucon, Raja Alard sudah sangat percaya akan hal itu. Nama Darren Corter juga sama menyeramkannya dengan nama Dewi Reftia, walaupun dia belum pernah mendengar nama semacam itu. Raja Alard sangat menantikan kelanjutan pernyataan Ratu.
“Tapi sang Dewi Agung tidak memberitahukan dimana Darren Corter berada, sayangnya dia juga menyuruhku agar tidak mengatakannya kepada Alekto dan Tisifon. Itu adalah perintah Dewi Agung, mustahil aku melanggarnya. Jadi, hanya aku saja yang tahu keberadaan Darren Corter, walaupun aku tidak tahu dimana posisinya sekarang.”
“Jadi.. kau takut Darren Corter berada di Kerajaanmu, dan kalau kita bekerja sama.. maka kekuatan dari titipan Dewi Agung itu akan terbagi.. begitu?”
“.. ya..”
“Tetapi, kalau itu terjadi tadi malam, tentu kau belum bertindak. Lalu apa yang akan kau lakukan kalau aku meminta kerja sama dengan Alekto dan Tisifon, siapa tahu Darren Corter ada disana.”
Ratu Megaira terkejut, tidak terpikirkan olehnya hal sesederhana itu sebelumnya. Benar juga, karena itu terjadi tadi malam, dia bahkan belum sempat menyuruh bawahannya untuk mencari orang bernama Darren Corter.
Dengan wajah sedih dan putus asa, Ratu Megaira berteriak dan berdiri.
“Kumohon, kumohon dengan segenap jiwaku.. jangan menjalin hubungan militer dengan kedua saudariku..”
“Yah, biarpun anda berkata seperti itupun.. keputusan ada pada saudari anda bukan?”
“Tentu saja aku tahu itu.. tapi, mereka tidak mengetahui siapa Darren Corter itu.. hanya aku saja yang tahu. Ini memang terdengar egois, tapi aku ingin melihat sendiri sosok titipan Dewi Agung itu, bagaimana kekuatannya, bagaiamana pesonanya. Aku.. ingin melihatnya sendiri.”
Ruangan yang tadinya penuh dengan kekhikmatan dan demokrasi, kini justru diselimuti aura emosi yang sangat kental. Bagaimana tidak, Ratu Megaira mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Entah tujuan macam apa yang diinginkan sang Ratu, tapi itu cukup untuk menggerakan hati Raja.
Dengan penuh ketulusan, Raja juga berdiri dan tersenyum hangat kepada Ratu. Apa yang ingin disampaikan Ratu Megaira, sudah sepenuhnya ditangkap oleh Raja Alard. Kini tak ada lagi keinginan di dalam Raja Alard untuk menjalin hubungan militer dengan Erinyes. Walau terdengar merugikan, ini lebih baik daripada kerja sama yang penuh dengan ketidaksetujuan.
Kerja sama sumber daya alam dan manusia, perwakilan Kerajaan Bagian Megaira dan Kerajaan Albarac, dengan ini kerja sama itu terwujud. Ratu Megaira menandatangi surat perjanjian. Dan hari itu, sejarah kerja sama dunia yang baru di dunia ini terjalin.