Goddess Corter

Goddess Corter
Permainan Dimulai!



Rayen membasuh keringat yang membanjiri wajahnya. Kakinya sudah pegal sampai ototnya terasa panas. Rayen menjatuhakan badannya pada rimbunan rumput, menatap langit dan membuang napas tersengal-sengal.


Azazel memaklumi tingkah Rayen, dia pun ikut duduk di sebelah Rayen.


Latihan di surga dimulai, ini adalah hari ke-empat dari dua minggu latihan yang sudah direncanakan.


Karena beberapa alasan, Darren Corter memerintahkan bawahannya, Seiren, untuk menjadikan Pisces sebagai inang dan membantunya latihan. Sedangkan Rayen, akan berlatih bersama Azazel.


Para Archangel, mereka juga latihan bersama Darren, tapi mereka justru terlihat seperti sedang bermain dan bukan latihan.


Di sisi lain, Azazel memberikan pola latihan yang keras, raja iblis itu sangat senang ketika muridnya berusaha sekuat tenaga. Tapi itu tidak masalah, Rayen justru menyukai latihan seperti itu.


Beberapa menit setelah napas tersengal-sengal dibuang, Rayen dan Azazel kembali melanjutkan latihan mereka.


Sederhana, Rayen hanya perlu menyerang Azazel sekuat tenaga, jurus apapun boleh asalkan Azazel tumbang.


“Untuk sekarang aku akan bertahan saja, jadi kau tidak perlu ragu menyerangku.”


Ucap Azazel dengan wajah serius.


Kedua pria ini berdiri berhadapan dengan jarak seperti pertandingan bela diri pada umumnya.


Rayen mencabut pedang panjang dari pinggangnya, itu adalah pedang biasa yang dipakainya ketika latihan. Salah satu pedang koleksi di rumahnya.


Disinilah Rayen mengeluarkan hasil latihannya, dengan skill bernama Soul Enhance, Rayen menggunakan sebagian tenaganya untuk disalurkan ke pedangnya. Pedang yang biasa itu kini memancarkan cahaya biru yang tenang. Energi menggumpal, mengalir ke setiap bagian dari pedang Rayen.


Kemudian, dengan cepat Rayen menolakkan kakinya dan melangkah menuju Azazel. Hembusan angin yang kuat disertai dengan terpancarnya energi, sempat membuat Azazel terkejut dengan serangan baru ini.


Pedang pun diayunkan, dengan posisi yang tepat dan berbahaya, pedang itu tanpa ragu diarahkan langsung ke leher Azazel. Tanpa napsu membunuh, ataupun mengalahkan, pria polos Rayen hanya ingin menjadi lebih kuat.


Tapi, serangan seperti itu tak cukup untuk menaklukkan Azazel. Dengan hanya satu tangan, Azazel berhasil menangkisnya.


Azazel menyadari sesuatu yang sangat penting pada pola serangan Rayen, sesuatu yang ia sadari juga merupakan


alasan kenapa serangan Rayen tidak pernah fatal.


“Rayen, bisa aku melihat pedang itu?”


“Eh? Tentu.”


Rayen yang bingung segera memberikan pedangnya pada Azazel.


Dengan seksama, Azazel memperhatikan tiap sudut dari pedang itu, meraba ketajamannya, dan juga menimbang beratnya. Setelah melakukan itu semua, Azazel membuat wajah seolah ia mengerti sesuatu.


“Rayen, seranganmu terletak pada kecepatan, reflekmu juga cenderung dominan pada kaki. Pedang seperti ini, membutuhkan tenaga yang lebih besar. Cobalah membuat pedang yang kau bisa ayunkan secepat mungkin.”


Rayen mulai berpikir apakah ada pedang semacam itu. Selama ini yang ia koleksi dan ia asah adalah model yang sama. Sesuatu yang mengutamakan kecepatan..


“Oh, mungkin katana adalah pedang yang tepat!”


Rayen berseru sambil memukul tangannya.


“Katana?”


“Ya, itu adalah pedang dari benua asia. Bentuknya melengkung dengan hanya satu sisi tajam, panjang dan juga ringan, sepertinya itu pedang yang kau maksud!”


“Ah.. bolah juga. Cobalah buat!”


Ini adalah surga, tempat dimana semua keinginan menjadi kenyataan. Rayen mengharapkan sebuah pedang katana, sesuai dengan apa yang ada di bayangannya. Pedang yang tajam, keras, dan kuat, dia berharap banyak meskipun jarang melihat katana.


Latihan kembali dimulai.


Rayen menyadari kalau mengeluarkan katana dari punggung adalah hal yang konyol, kemudian dia memindahkan pedangnya ke pinggang, dimana dia bisa mengeluarkan dan menebasnya dengan cepat.


Azazel bersiap di tempatnya, menunggu Rayen melancarkan serangan.


Dengan sikap yang tenang, Rayen mengencangkan otot kakinya, fokus hanya pada satu target.


Kemudian, Rayen berlari dengan tolakan yang sempurna, kakinya seperti melayang karena ia berlari sekuat tenaga. Tangannya menggenggam erat katana di pinggangnya.


Jarak Azazel semakin dekat, lalu saat mereka benar-benar berhadapan, Rayen mengeluarkan pedangnya dengan ditebaskan ke leher Azazel.


Serangan berakhir dengan tak lebih dari satu detik.


Rasa sakit yang luar biasa menusuk-nusuk kaki Rayen, ia tak sadar betapa kencangnya ia berlari. Rayen terkapar di tanah, dan tak sengaja mendapati pedangnya sudah berlumuran darah.


Azazel berbalik dan menghampir Rayen, kemudian Azazel menunjukkan salah satu lengannya yang sudah buntung. Bercucuran darah merah segar, dan dengan potongan yang sangat rapih, telapak tangan Azazel tergeletak di tanah berpisah dengan lengannya.


“Kerja bagus, kau menemukan cara bertarungmu sendiri!”


Puji Azazel.


Meskipun dipuji, Rayen menjadi panik karena Azazel benar-benar terluka. Tapi itu tak lama karena Azazel menunjukkan kemampuan regenerasi cepat miliknya, tangannya kembali normal.


“Terima kasih, aku berhutang padamu!”


Mendengar itu, Azazel tertawa kecil.


“Yah.. anggap saja ini adalah hal yang biasa. Aku berterima kasih kalau kau menghargaiku, tapi sekarang aku adalah pelayan nona Darren, yang berarti aku juga pelayanmu.”


“Bahkan pelayan sekalipun pantas mendapatkan rasa terima kasih bukan?”


Azazel merasa tersentuh dengan perkataan Rayen, pertama kalinya dia merasa ada orang yang nyaman berbicara dengannya.


Rayen bukanlah orang yang jahat, itulah yang Azazel pikirkan terhadapnya. Dari cara ia bertarung, bagaimana dia menebaskan pedangnya tanpa rasa ingin membunuh, Rayen pasti hidup bukan untuk melukai orang lain. Karena itulah kebaikan selalu bermunculan di sekitarnya.


Azazel mengangkat kepalanya, dalam hati ia berpikir kalau orang bernama Rayen mungkin berada di tingkatan yang berbeda dengannya, lebih baik dalam hal sikap ataupun kekuatan. Azazel lebih rendah, jauh lebih rendah.


“Hei, Rayen..”


“Hm?”


“Apa kau mau melihat sesuatu yang menarik?”


***


Dua minggu pelatihan panjang kami berlalu. Sekarang semuanya sudah menunjukkan wajah penuh kekuatan.


Sebagai hadiah karena aku mampu menaklukkan Archangel, Teressa memberikanku sebuah gelar yang sangat berharga. Walau pada kenyataannya, Dewi Agung sepertiku tak membutuhkannya.


Gelar itu adalah gelar malaikat.


Dan dengan begini, aku adalah setengah dewi, iblis, dan juga malaikat. Dan dikarenakan gelar utamaku yang merupakan Dewi Agung, gelar yang lain juga ikut berevolusi.


Gelar iblisku dari yang semula adalah Demon God, kini berubah menjadi Great Demon Lord. Aku salah menyangka kalau Demon God ternyata tidak lebih tinggi dari Demon Lord. Tapi sekarang dengan gelar Great Demon Lord, aku adalah iblis dengan status tertinggi di alam semesta.


Dan gelar malaikatku, berubah menjadi Great Angel Lord, dan ini juga lebih tinggi dari malaikat manapun termasuk para Archangel.


Terjadi juga perubahan-perubahan pada bawahanku yang mengikat kontrak denganku. Azazel tidak termasuk, dikarenakan kontraknya adalah dengan Reftia bukan denganku. Yang terikat denganku adalah Seiren dan Renatta.


Seiren berubah menjadi Great Spirit God, dan itu menjadikannya roh terkuat. Seiren yang saat ini masih berada di tubuh Pisces sampai berteriak karena kekuatan yang luar biasa merasuki tubuhnya. Dengan kekuatan yang sekarang, ia mampu mengendalikan elemen api sesuka hatinya.


Dan Renatta, ia mendapatkan gelar Queen of Clover Frost. Seorang yang ahli dan petinggi dari segala mantra elemen es. Renatta yang terbiasa dengan wajah datarnya bahkan tak mengeluarkan suara apapun ketika mendapatkan gelar barunya.


Rayen dan Pisces adalah manusia dan tidak terikat kontrak denganku.


Tapi ketika melihat Rayen, aku merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Apa yang Azazel ajari kepada Rayen?


Dengan naiknya gelar, sihir baru juga otomatis terkuasai oleh bawahanku. Ada terlalu banyak sihir, dan kemungkinan mereka akan menggunakannya di permainan milik Corola nanti.


Atas perintah dari Reftia, yang akan ikut ke semesta Corola adalah aku, Rayen, Seiren, Pisces, Renatta, Azazel, dan perwakilan Archangel yaitu Gabriel.



Bersamaan dengan rambutku yang semakin panjang dan warnanya yang beragam. Rambut bagian atasku berwarna biru muda, lalu kuning cerah sebagai bukti gelar malaikat, dan barulah warna hitam sebagai bukti gelar iblis.


“Kalau begitu, kami pergi dulu.”


Ucapku pada Reftia.


“Darren, kamu harus menjaga Rayen baik-baik dari Corola, dia mungkin akan menjadi salah satu perempuan yang kamu benci”


Aku terdiam mendengar kalimat itu, pasalnya Reftia tidak memasang wajah serius.


Yah, peringatan tetap peringatan, aku akan mengigatnya baik-baik.


Sesaat sebelum kepergian kami, aku memperbaiki semua yang ada di alam semesta. Semesta ini juga memiliki tata surya, dimana ada atmosfer dan ruang hampa, karena itulah meskipun Reftia menonaktifkan Ragnarok Collapse, masih ada beberapa planet dan bintang yang berterbangan.


Dengan skill Great Rewind, aku bisa mengembalikan semua yang ada di alam semesta. Baik itu objek ataupun konsep. Dengan itu, waktu mundur dan alam semesta kembali seperti semula.


Barulah, aku pergi ke semesta Corola.


Kalau pergi sendiri mungkin tak membutuhkan skill apapun, tapi karena kita beramai-ramai jadi terpaksa. Aku mengaktifkan skill Infinite Jumper, dimana skill ini mampu membuat seseorang berpindah ke tempat manapun yang ia suka tak peduli jarak antar planet ataupun semesta.


Dalam lingkaran sihir yang tercipta disekitarku, kami mulai menghilang dari tanah surga dan menuju ke arena peperangan.


***


Di depan kami, ada seorang ratu cantik yang duduk di singgsana. Singgasana mewah yang menggunakan banyak batu mewah sebagai aksesorisnya.


Tepat setelah kami berteleportasi, secara otomatis kami muncul disini, tepat di hadapan sang ratu. Di sekitaran kami, ada banyak orang yang bersujud kepadaku.


Ketika kulihat sekitar, tempat ini terlihat seperti kastil dimana kami berada di dalamnya. Kanan dan kiri terdapat lorong gelap yang jarak pandangnya hanya sekitar sepuluh meter hingga semuanya benar-benar hitam.


Ruangan ini terlalu besar, sangat jauh berbeda dengan istana milik Ratu Hymera.


Ratu cantik yang duduk di singgsana, mulai berdiri dan berjalan kepada kami. Dia duduk di atas, dimana ada beberapa anak tangga yang memisahkan antara kami dan dia. Dengan gaun panjangnya yang terbuka di bagian dada, ratu itu menuruni tangga dengan anggun.


“Selamat datang, Dewi Agung Darren Corter. Maaf karena duduk di atas tadi.”


“Tak masalah, aku menghargaimu.”


Kami berdua bersalaman.


“Namaku Corola, Dewi Agung Kekuatan dan Senjata. Senang bertemu denganmu!”


“Senang bertemu denganmu! Aku Darren Corter, Dewi Agung Nafsu.. dan.. Keegoisan.”


Aku mengatakan gelarku dengan wajah yang masam.


Tapi Ratu, atau sebut saja Corola, bersikap senior sebagai seorang Dewi, ia tak tertawa melainkan hanya tersenyum dengan ramah. Hingga pada akhirnya pandangan Corola tertuju pada rombongan yang ikut denganku.


“Itu para pelayangmu kah?.. salah satu dari mereka, sepertinya ada yang aneh dengannya.”


Corola mengatakan itu kepadaku, yang ia maksud adalah Rayen.


“Dia adalah setengah Dewa, memang seperti itu auranya.”


“Ara, ara.. aku baru pertama kali melihat yang seperti itu.”


Ara ara? Apa-apaan sikap seorang kakak itu? Apa dia tertarik dengan Rayen?


“Kalau begitu, kau sudah tahu kenapa kami disini, kan? Bisakah langsung kau jelaskan saja, masalah perang itu.”


Corola tak menjawab pertanyaanku. Aku penasaran apakah dia tak dengar? Ketika aku melihatnya lebih seksama, ternyata Dewi itu sedang menatap Rayen dengan lekat, dengan senyuman penuh nafsu yang nakal.


Kemudian, dengan menjijikan dia menjilat bibirnya sambil tersenyum.


Aku yang merupakan kekasih Rayen jelas marah akan hal itu. Tapi, seperti kata Reftia kalau Dewi Agung bersikap dewasa, Ada bagian dari diriku yang mencegahku untuk cepat emosi.


“Corola, apa kau mendengarku?!”


Ucapku dengan nada yang lebih keras.


“Oh.. maaf.”


Disitu, Corola mulai menjelaskan peraturan dari permainan ini.


Permainan yang diselenggarakan 4 tahun sekali itu disebut dengan Great Double Royale War, dimana pesertanya adalah semua makhluk ciptaan Corola. Namun yang unik, penyelenggarannya dilaksanakan di dua planet, untuk laki-laki dan untuk perempuan.


Planet untuk laki-laki berperang dinamakan Misolar, disana para laki-laki akan diadu hingga tersisa satu pemenang.


Dan planet untuk perempuan berperang dinamakan Vesolar, sama seperti laki-laki semua perempuan yang ada disana akan diadu hingga tersisa satu pemenang.


Untuk makhluk ciptaan Corola, menolak perang ini adalah hal yang tidak mungkin. Bahkan untuk orang tua sekalipun, mereka terpaksa mengikutinya karena planet akan otomatis menjadi medan perang ketika permainan dimulai. Tetapi, tidak ada anak bayi karena Corola menciptakan makhluknya langsung diumur ke 14 tahun.


Masing-masing planet berisikan 9 miliar orang, dan semuanya wajib ikut serta.


Hadiah dari permainan ini hanya diketahui oleh Corola, tentu saja aku bisa menggnakan God’s Perception untuk mengetahuinya, tapi Corola melarangku.


Selain itu juga, di setiap planet ada sebuah benda pusaka yang tertancap di pegunungan tertinggi. Hanya orang-orang pilihan Corola yang mampu mencabut benda itu. Tetapi, karena gunungnya yang terlalu tinggi, tak banyak orang yang mau mencobanya karena takut usaha mereka akan sia-sia.


“Darren, kau hanya bisa mengutus satu orang perempuan dan satu orang laki-laki. Jadi, siapa yang akan bermain?”


Ucap Corola diakhir penjelasannya.


“Eh? Aku tak boleh ikut?”


“Tentu saja, perbedaaan kekuatannya terlalu jelas.”


Konyol juga sih kalau ada Dewi Agung yang mengikuti ajang permainan seperti ini.


Tapi aku berpikir, siapa yang pantas untuk mengikuti perang ini. Untuk perempuannya sendiri, lebih baik Gabriel, Pisces, atau Renatta?


“Aku mau! Aku mau!”


Gabriel mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan senyuman yang lebar.


Tidak, jangan Gabriel.


“Gabriel, kamu akan disini bersama denganku. Biar kak Pisces yang ikut.”


Aku melirik ke Pisces, dan Pisces mengangguk dengan serius.


Entah kenapa aku tak memilih Renatta, mengesampingkan wajahnya yang datar aku bisa merasakan kekuatan yang dahsyat di dalam dirinya. Dan sebenarnya aku lebih tertarik untuk melihat hasil kerja keras Pisces. Selain itu Seiren ada di dalam tubuh Pisces, dan itu tak melanggar peraturan.


Sekarang tinggal bagian laki-laki, sudah jelas pilihanku jatuh kepada Rayen.


“Eh? Azazel mana?”


Tanyaku ketika kulihat tak ada Azazel diantara mereka.


Tak ada yang menjawabku. Barulah, setelah kuteliti ternyata Azazel berada di dalam tubuh Rayen dengan mengubah wujudnya menjadi bentuk astral. Aku bahkan tak tahu dia bisa melakukan itu.


Berarti sekarang sudah jelas siapa yang akan bertarung.


Pisces dan Rayen maju ke depan, berhadapan dengan Corola.


“Baiklah, kita mulai permainannya!”