Goddess Corter

Goddess Corter
Kekasihku, Rayen



Takjub melihat caraku berbicara, Pisces tiba-tiba bertepuk tangan. Tapi dia lansung berhenti ketika sadar kalau kelakuannya yang spontan itu sedikit memalukan.


Aku tak ragu ketika mengatakan ingin mengajari Pisces sihir yang lebih besar, lagipula pekerjaanku yang sekarang memanglah menjadi pemimpin ahli sihir kerajaan, sebagai pemimpin aku tidak bisa membiarkan bawahanku lemah.


Yah, walaupun aku adalah seorang Dewi menurutku tidak masalah kalau harus mengabdi pada tanah ini, karena aku sudah tahu kalau tiga ratu idiot bukanlah orang jahat. Masalah eksternal seperti kasus Kardagon adalah satu dari kesialanku, sama sekali bukan kesalahan para ratu.


Kembali menatap Pisces, aku yang baru saja mengatakan itu seketika merasa menjadi orang yang sangat penting. Maksudku, kala aku mengatakan sesuatu yang keren, spontan saja Pisces bertepuk tangan dan itu mengingatkanku dengan presentasi di kantor.


Kantor, aku rindu kantor.


“Untuk sekarang kau bisa berlatih membesarkan kapasitas Reft-mu.”


Kataku kepada Pisces, sambil membantunya berdiri.


“Tapi bagaimana caranya?”


Kami melangkahkan kaki menuju ke dalam istana. Aku tak berniat untuk membuat latihan yang lebih lama, untuk saat ini cukup dengan menilai Pisces saja.


“Benar juga.. bagaimana kalau tidur dengan busur?”


“H-Heh?!! T-Tidur dengan busur? Tapi itu sedikit..”


Tidak, yang kumaksud bukan tidur yang seperti itu. Aneh sekali kalau ada Dewi yang menyarankan untuk tidur bersama busur, astaga itu menjijikan.


“Kau salah paham. Begini.. pada dasarnya sihir itu adalah energi alam, tetapi sumbernya ada pada diri manusia sendiri, yaitu Reft. Aku juga tak tahu bagaimana cara meningkatkan Reft, tapi dengan melakukan hal yang kau suka seharusnya itu bisa membantu, bukan?”


“Aku tidak suka tidur dengan busur!!”


Strawberry itu kembali terlihat. Wajah yang sangat memerah ketika membicarakan hal yang sedikit kotor, Pisces menjadi sangat tersipu. Bagaimanapun juga terlihat jelas kalau dia adalah perempuan yang tidak memikirkan masalah seperti itu.


Aku tertawa melihat reaksinya itu, kemudian mengelus rambut merahnya perlahan. Tinggi kami tak jauh berbeda, ketika mengelusnya aku tidak berasa seperti mengelus anak-anak. Tapi sifatnya yang imut itu, siapapun pasti berpikir kalau Pisces adalah perempuan yang tidak dewasa.


“Tak usah dianggap serius, kalau kau tidak mau tidur dengan busur juga tak masalah. Bagaimana kalau.. membayangkan dirimu yang sedang berburu?”


Kataku lagi. Kalimat yang ini bersamaan dengan diriku yang membuka pintu belakang istana. Begitu aku membukanya, ada penjaga yang keluar dan mereka terkejut dengan diriku yang masuk begitu saja. Suasananya menjadi canggung, mereka merasa tidak enak karena tidak membukakan pintu.


Suasana itu membuat pembicaraan pribadi kami terhenti, diriku pun lupa kalimat terakhir yang kuucapkan. Setelahnya, aku mulai menambahkan kalimat ajakan kepada Pisces.


“Bagaimana kalau besok pagi kita ke tanah Kardagon? Kebetulan sekali karena tanahnya masih kosong.”


Kataku.


“Besok? Untuk apa?”


“Sudah jelas, untuk latihan!”


“Di tanah kosong itu?”


“Hehe.. aku akan membuat keajaiban, kau tunggu saja besok!”


***


Di kamar, Reftia merengek karena aku meninggalkannya terlalu lama. Dia bertanya-tanya dengan nada kesal kenapa aku bisa pergi selama itu. Padahal dia sendiri merasa bosan karena tidak mau keluar kamar, kenapa jadi aku yang disalahi?


Begitu masuk, aku langsung menjatuhkan badanku ke kasur. Reftia berbaring di sebelahku dan melanjutkan rengekannya. Walaupun aku tidak lelah sekalipun, siapapun pasti ingin bersantai ketika berbaring di kasur senyaman ini.


Kadang kali aku mulai memejamkan mata, tapi karena Reftia terlalu berisik aku jadi tidak bisa tidur. Ini masih sore, sangat tak wajar untuk tidur di jam ini, tapi berbaring saja sudah membuatku mengantuk.


“Reftia.. apa kau berbicara dengan Rayen sejak saat itu? Apa dia mengunci dirinya  endiri di kamar, ya?”


Tanyaku dengan nada lemah. Aku bertanya tanpa makud apapun.


“Dia tidak mengunci dirinya sendiri di kamar, mungkin kamu saja yang tidak sempat bertemu dengannya. Yah.. aku mencoba berbicara dengannya, dia tak menutupi apapun. Darren, menurutku kekasihmu itu memang tidak berniat menyembunyikannya.”


“Jangan seenaknya mengatakan kalau dia adalah kekasihku, yah aku senang sih.. tapi hubungan kami masih belum sejauh itu. Omong-omong.. apa yang harus kulakukan? Aku ingin bertanya tetapi bingung harus memulai darimana.”


“Coba saja untuk mengajaknya makan malam berdua, kamu pasti tahu apa yang harus ditanyakan.”


“.. kalau memang ingin bicara, mandi bersama bagaimana?”


“Dewi Kenafsuan memang hebat, aku tidak terpikirkan sampai ke situ.”


***


Aku mengetuk pintu Rayen, memang benar saat itu dia berada di dalam. Tapi anehnya ketika Rayen menjawab ketukanku, jantungku berdegup lebih kencang. Kenapa aku jadi gugup begini? Padahal aku hanya ingin mengajaknya mandi. Benar, mengajak mandi bukanlah sesuatu yang aneh.


Begitu Rayen membukakan pintu, aku tidak bisa lagi menahan rasa gugupku. Reftia bercanda? Dia bilang ketika kami berdua, aku akan tahu apa yang harus dikatakan, tapi kalau begini pikiranku malah menjadi kosong.


“Corter, ada apa?”


“R-Rayen.. itu.. a-ada yang ingin kubicarakan..”


“Hm?”


Setelah itu hanya beberapa hal yang terjadi. Aku tak bisa menjelaskan banyak hal.


Ini sudah jelas-jelas aneh, terkadang aku merasa sangat berani untuk mendekati Rayen tetapi kadang juga merasa takut. Apa aku kembali lagi ke masa remaja labil, ya?


Aku berjalan di depan Rayen menuju ke pemandian, setiap langkahku dibayang-bayangi dengan perasaan gugup. Sesekali aku menoleh ke belakang, wajah polos kekasihku ini sama sekali tidak berubah. Tentu saja aku tidak mengatakan kalau kita akan mandi, tapi setidaknya dia bisa sedikit lebih peka.


Omong-omong, tentang Rayen yang kusebut sebagai kekasihku sebenarnya itu hanya keegoisanku semata. Hanya aku dan Reftia yang menggunakan istilah itu, nyatanya hubunganku dan Rayen belum sampai ke tahap itu.


Bahkan ketika kami sampai di depan pintu pemandian, wajah Rayen tidak berubah. Aku yang tadinya ingin segera membuka pintu dan masuk justru merasa sedikit kesal.


“Rayen, apa kamu tahu kenapa aku mengajakmu kesini?”


“.. e-ehm.. untuk..”


“Kamu tidak tahu, ya?”


“.. a-apa kamu ingin ditemani buang air?”


“Konyol! Konyol sekali! Kenapa kamu tidak mengerti juga?! Aku kemari untuk berendam bersamamu, sama seperti waktu itu!!”


Aku berteriak cukup keras hingga suaraku bergema. Tidak seperti di lorong ketika aku tersesat, disini aku bisa melihat dua orang penjaga yang berdiri di depan kamar, letaknya tak terlalu dekat dengan kami.


Mendengar aku yang berteriak seperti itu, kedua penjaga itu tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. Mereka saling tatap satu sama lain dan memasang ekspresi yang aneh. Kurasa ini sedikit wajar, wanita cantik macam apa yang dengan terang-terangan membongkar hubungan pribadinya.


Di dalam pemandian terdapat sebuah tempat duduk yang biasa digunakan ketika membilas badan dan mencuci rambut, memang lebih mudah melakukannya apabila dalam posisi duduk.


Tanpa pikir panjang, aku segera melepas semua pakaianku dan duduk di kursi itu, membelakangi Rayen. Rayen berada tepat di belakangku. Tidak perlu ditanya, aku malu setengah mati, tapi kalau sudah sampai disini aku tidak bisa mundur.


Pertama, aku menyiram seluruh tubuhku dengan ember air, kemudian mulai mengusap rambut biru dan hitam-ku. Melihatku melakukan itu, Rayen hanya bisa menelan ludah sambil terus menahan kelakuannya.


“C-Corter.. b-b-bukankah.. seharusnya aku tidak boleh disini?”


Muncul pertanyaan dari Rayen. Pertanyaan yang sangat berantakan karena dirinya bertanya dalam keadaan setengah sadar, mungkin. Untuk lelaki sepolos Rayen, menyaksikkan wanita mandi di depan matanya bisa jadi adalah suatu siksaan yang nikmat.


Aku menyatukan semua rambutku dengan kedua tangan, kemudian menggantungnya ke depan melewati pundak sebelah kanan. Kini, punggung dan leher bagian belakangku terbuka lebar. Pemandangan tubuh wanita yang indah ini hanya bisa dinikmati oleh Rayen saja.


“Tolong.. gosok punggungku!”


Antara dosa dan nafsu kini memberati kedua pundak Rayen. Aku tak keberatan kalau dia mulai menggerakkan lengannya dan mulai menggosok punggungku, justru sedikit mengecewakan kalau Rayen menolaknya.


“C-Corter.. a-ap-apa kamu.. sedang bercanda?”


Ucap Rayen dengan nada bicara yang tak beraturan.


“Sudah cepat lakukan saja!”


Dengan sedikit membentak, aku menoleh sedikit dan menunjukkan sebagian wajahku. Wajah merona Dewi yang sedang kesal, itulah yang dilihat Rayen saat ini.


Tanpa mau membantahku lebih lama, Rayen mengambil handuk di sebelahku dan mulai mengusapkannya ke punggungku. Sama sekali tak ada tenaga yang terasa dari tangannya, mungkin karena Rayen terlalu gugup. Tapi tak masalah, ini sudah membuatku senang.


Beberapa menit berlalu, Rayen tak mengeluarkan suara apapun ketika hatinya sedang diuji. Pemandian yang tenang hanya berisikan suara handuk yang menggesek punggungku. Disaat inilah, aku mulai bicara serius dengan Rayen.


“Kamu tahu.. aku sangat senang ketika kamu melindungiku dari roh agung dulu. Masih ingat?”


“Roh agung? Maksudmu misi di mansion waktu itu?”


“Ya, ketika kamu membiarkanku memelukmu, dan ketika kamu melindungiku.. aku merasa sangat senang. Aku berpikir bahwa kamulah sosok pria sejati. Tidak keren, tidak kuat, tidak peka juga.. aku menyukai Rayen yang seperti itu.”


Rayen tertegun. Dia mulai gugup, dan tangannya bergerak dua kali lebih cepat.


“T-Tapi.. yang kulakukan saat itu hanyalah melindungi seorang gadis saja, itu adalah kewajiban pria.”


“Tetap saja, kalau aku bilang suka, maka kamu harus menurut. Karena.. aku adalah Dewi Nafsu dan Keegoisan.”


Aku membalikkan kepala, menatap dengan lekat mata Rayen. Tatapan itu membuat tangan Rayen berhenti bergerak, wajahnya juga menjadi semakin merah. Yang bisa kubayangkan adalah bagaimana bunyi detak jantung Rayen saat ini, pasti berdetak sangat kencang.


“Tolong, terima aku apa adanya, ya!”


Saat aku mengatakan itu, tubuhku sudah sepenuhnya menghadap ke Rayen. Dengan kedua tanganku menutupi dada dan selangkangan, aku menunduk dengan penuh rasa malu.


Tak ada maksud apapun dari perkataanku, semuanya murni sebuah ketulusan. Rayen mengerti hal itu, dia tidak menganggapnya sebagai sesuatu perbuatan Dewi yang menjijikan. Tatapan Rayen bukanlah tatapan pria nakal, ia cenderung mengalah dan membuang muka, disitulah aku menyukainya.


Kami melanjutkan pembicaraan ini dengan berendam di kolam. Bosan rasanya kalau aku hanya menggoda Rayen dengan hanya minta digosokkan punggung, lama-kelamaan aku menginginkan yang lebih.


Kusuruh Rayen untuk menutup matanya, kemudian perlahan aku mulai melangkah dan masuk ke dalam kolam. Sudah masuk ke dalam kolam, aku mengajak Rayen untuk ikut masuk juga. Pria polos itu awalnya menolak, mengingat aku memilih kolam berukuran kecil, Rayen mungkin merasa terganggu dengan jarak antara aku dan dia.


Tak menyerah, aku memaksa Rayen dengan berpura-pura merajuk. Karena tak ingin membuatku marah, Rayen menurut saja.


Perlahan ia melepas pakaiannya, ia menyuruhku untuk menutup mata, tapi nyatanya dia juga menutup matanya sendiri. Beberapa kali aku ingin mengintip tapi rasanya terlalu berat untuk seorang gadis. Membayangkan apa yang ada di tubuh Rayen saja aku sudah gila, apalagi melihatnya langsung.


Tak beberapa lama, kami berdua berenang berhadapan di kolam kecil itu. Ujung kakiku bisa menyentuh dinding tempat Rayen bersandar, kalau kugeser kakiku maka aku bisa menyentuh Rayen. Tapi Rayen sengaja menjauh dari kakiku.


“Omong-omong Rayen, kenapa kamu menyembunyikan identitasmu sebagai setengah dewa?”


“Bukan berarti aku menyembunyikannya.. hanya saja, itu.. kupikir bukan sesuatu yang bisa dibicarakan.”


Jawab Rayen.


“Selain itu, aku masih tidak yakin kalau Dewi Hymera adalah nenekku. Kalaupun benar, kenapa jumlah Reft-ku kecil? Selama ini aku memikirkan itu.”


Sambung Rayen.


“Kalau begitu, kenapa ketika melawan Azazel kamu terang-terangan mengatakan kalau kamu adalah setengah dewa?”


Tanyaku, dengan nada yang menggoda. Apapun itu, aku sudah bisa menebak jawaban dari Rayen.


“I-Itu.. karena Azazel mengancammu.. aku menjadi sedikit kesal.”


Tak bisa menyembunyikan wajah merahnya, Rayen mengalihkan pandangannya dariku.


Melihat ketulusannya yang sangat dalam itu, aku tidak mau lagi segan-segan dengan perasaanku. Yang kuperlukan adalah percaya diri. Percaya diri kalau Rayen juga memiliki perasaan yang sama denganku.


Aku mendekati Rayen pada jarak yang sangat ekstrim. Tubuh kami hanya berjarak beberapa senti saja. Tak bisa lari kemana-mana, Rayen mencoba menjauhkan wajahnya dariku. Tetapi mundur pun percuma, di dalam kolam ini meskipun dangkal, tempat ini bagaikan penjara karena ukurannya.


Kugenggam kedua tangan Rayen. Dengan tatapan serius, aku melawan mata lemah Rayen yang dia coba alihkan.


“Rayen.. a-aku.. hanya berpikir kalau kamu menyukaiku.. ka-karena itu.. karena itu.. bagaimana kalau mencoba lebih dekat..?”


“Ap-Apa maksudmu?!”


“Kamu.. apa mau menjadi kekasihku?”


“E-Eh?!!!”


“Kumohon, jawablah sekarang juga.”


Semasa hidupku, tak salah lagi kalau ini adalah pertama kalinya aku menyatakan cintaku kepada seseorang. Meskipun saat ini aku adalah perempuan, tak masalah, cinta tetaplah cinta. Yang kutakutkan adalah kalau cinta ini ternyata pengaruh dari gelarku.


Sesuai dugaan, Rayen hanya bisa diam dengan wajahnya yang memerah. Aku tetap menggenggam tangannya dan mencoba lebih dekat, berharap semoga saja Rayen menjawabnya positif.


“B-Bagaimana?”


“.. k-kupikir.. kalau hanya menjadi kekasih, itu tidak masalah.”


Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Aku berteriak senang karena Rayen menerima cintaku. Tanpa berpikir lebih lama, langsung kutarik kepala Rayen dan menciumnya tepat di bibirnya.


Walaupun Rayen menolak dan mencoba untuk melepaskan bibirnya, aku tidak peduli, aku tetap ingin menciumnya. Sungguh menakjubkan, bibir Rayen yang gemetaran terasa sangat nikmat, tidak mungkin aku bisa bosan dengan ciuman ini.