
Aku terbangun di tempat yang sejuk, walaupun aku tak tahu dimana, tapi perasaan ini seolah membohongi diriku sendiri bahwa aku tengah berada di surga.
Semua yang kulihat berwarna-warni, cahaya kelap-kelip yang melayang disekitarku juga terlihat sangat indah. Tanah yang kududuki terasa seperti rambut atau rerumputan. Tempat ini sangat indah, aku benar-benar merasa seperti di surga.
“Kalau kau mencari surga, itu ada di lantai bawah loh..”
Tiba-tiba suara yang merdu memanggilku dari belakang. Aku yang terkejut segera berbalik badan.
Suara itu berasal dari seorang perempuan, dia duduk di sebuah ayunan yang tergantung di pohon yang sangat besar.
Perempuan itu sangat cantik, dia mengenakan gaun yang indah beserta rangkaian bunga yang ia pasang di kepalanya. Tersenyum manis, perempuan itu memanggilku dengan menggerakan tangannya.
“Ini dimana?”
Tanyaku gugup.
Perempuan itu jelas bukanlah perempuan biasa, auranya terlalu besar. Dia mirip seperti Reftia.
Turun dari ayunannya, dia melangkah mendekatiku. Setelah itu dia mengelus kepalaku disertai dengan senyuman yang sangat manis. Aku merasa seperti sedang menjadi pusat kebahagiaan, walau hanya tangannya yang menyentuhku tetapi berbagai emosi yang menenangkan seolah mengalir di seluruh bagian tubuhku.
“Selamat datang di langit ke tujuh, Darren Corter. Oh ya.. sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Aku adalah Dewi Agung Hymera.”
“D-Dewi Hymera?”
“Ya, belakangan ini kau cukup dekat dengan cucuku, kan?”
“Cucu?.. maksudnya itu.. Rayen? Ternyata dia benar keturunan Dewi. Tapi kenapa?”
“Kenapa, ya? Aku mencintai ciptaanku sendiri, Karcelus namanya. Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, karena aku tetap menjadikannya sebagai manusia. Bisa dibilang, aku mengangkatnya ke langit dan dia mengambil kesucianku.”
Dengan senyuman tersipu, Dewi Hymera membuat pengakuan yang tidak terduga.
Tapi aku mengerti maksud dari mengambil kesucian, itu tidak perlu ditanyakan lagi.
***
Dengan kekuatan Dewi-nya, Reftia membawa keluar semua iblis yang ada di lapisan langit kelima. Dia membawa semuanya ke angkasa lepas, tempat dimana semua bintang dan langit tinggal untuk menyembahnya.
Lapisan langit ke lima pun hancur, tak ada lagi neraka dan atau apapun disana.
Reftia dan Azazel mengambang di angkasa lepas, mereka saling berhadapan kurang lebih 10 meter. Azazel yang sadar bahwa dirinya berada di luar angkasa segera memperkuat perlindungannya, mengingat tekanan di sini dan neraka sangatlah berbeda.
“Jika kau ingin menghancurkanku, lakukan saja dengan kehendak dewimu.”
Ucap Azazel.
“.. kau adalah ciptaan Teressa, dan aku menghargainya. Karena itu, aku tidak akan menggunakan kehedakku disini.”
“Konyol sekali.”
Azazel membuat sebuah sinar yang sangat terang muncul di tangannya, ketika sinarnya menghilang, sebuah buku setebal ibu jari muncul.
Para iblis bawahan Azazel seketika berubah menjadi gumpalan energi, kemudian satu persatu masuk ke dalam buku yang Azazel pegang.
Tak salah lagi kalau Azazel sudah serius, dia bahkan sampai menyegel para bangsawan neraka di dalam buku itu. Karena Azazel tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya selain di neraka, dia harus meminjamnya ke bawahannya. Dengan buku itu, seharusnya dia sudah memiliki kekuatan setara dengan semua iblis.
Meminjam kekuatan iblis Alloces, Azazel membuat sebuah gumpalan api hitam yang sangat besar, dan dia melemparkannya ke Reftia. Api yang sangat panas itu apabila menempel di bumi, pasti akan langsung membuat semua air mengering. Gumpalan itu kini terlempar ke Reftia.
Tapi sayang sekali, bahkan ketika sosok Reftia sudah terlahap di dalam api hitam, dirinya masih tetap bersikap normal tanpa kesakitan sedikitpun. All Nothingness, adalah skill yang digunakan Reftia untuk menahan serangan itu. Itu adalah skill tingkat tinggi dimana kemampuannya adalah untuk menghapuskan eksistensi dari benda atau energi apapun.
“Yah.. memang benar kau tidak menggunakan kehendakmu. Tapi dengan hanya menggunakan itu saja kurasa perbedaan kekuatan kita sudah terlalu besar.”
Azazel tetap tenang meskipun serangannya sama sekali tidak mempan. Entah dia hanya belum serius atau karena dia menerima kekalahannya, ekspresi Azazel tidak bisa dijelaskan.
Giliran Reftia menyerang, dia memikirkan sesuatu yang sangat gila. Tidak tanggung-tanggung, Reftia menarik sebuah bintang dari porosnya, kemudian dengan kecepatan cahaya, bintang itu menabarak punggung Azazel.
Karena kejadian itu, alam semesta sempat bergetar dan membuat banyak planet bergeser.
Bintang sebesar matahari itu melahap Azazel tepat di hadapan Reftia, jaraknya bahkan sangat dekat. Tapi Dewi tidak bisa disakiti oleh bintang, karena itu Reftia tidak kepanasan, pandangannya juga tidak menjadi buta meskipun dia menatap langsung bintang itu.
“Ya ampun.. setidaknya aku tahu kalau kau masih belum serius.”
Reftia terkejut, ketika dia melihat bintang yang ia lempar terserap masuk ke dalam tubuh Azazel. Seolah bukan Azazel yang dilahap, melainkan bintang itu sendiri. Sama sekali tak ada bekas terluka pada Azazel, bahkan pakaiannya masih tetap utuh.
“Reftia, siapa sebenarnya Darren bagimu? Kenapa kau begitu bersikeras untuk membalaskan dendamnya?”
Tanya Azazel mendadak.
“.. kau tidak tahu apapun! Cintaku kepadanya lebih besar daripada ke semua makhluk di semesta ini.”
“Karena sifatmu itulah kau selalu salah dalam mengambil tindakan, Reftia!
“..?”
Azazel mendekat menuju Reftia. Di luar angkasa yang tanpa gravitasi itu, Azazel tidak perlu mendayung untuk bergerak bebas, karena Azazel sendiri mampu membuat dirinya sendiri untuk terbang ketika di darat.
Jarak kedua musuh itu semakin mendekat, Reftia untuk pertama kalinya merasa tidak tenang. Badannya yang gemetar ketika membayangkan bagaimana mayat Darren, dia berusaha untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan All Nothingness lebih besar lagi.
Tapi sebagai perlindungan, Reftia memunculkan bilah cermin disekelilingnya. Dan bilah itu berterbangan langsung menuju Azazel. Jumlahnya yang tidak terbatas membuatnya terlihat menakutkan. Sayangnya, serangan itu lagi-lagi diserap oleh Azazel.
Dan ketika Azazel menyerap serangan, selalu ada waktu dimana dia membuka bukunya.
“Akan kuberi tahu arti sesungguhnya dari seorang Pencipta, Reftia.”
Tanpa disadari, sosok Azazel sudah berada tepat di depannya. Reftia yang terkejut hanya bisa bersiap. Tubuh Reftia yang kalah besar dari Azazel mengharuskannya untuk terbang lebih tinggi agar tidak perlu mendongak.
“Menjadi Pencipta, adalah tentang bagaimana kau menggunakan ciptaan-ciptaanmu untuk kebaikanmu sendiri. Untuk apa mencintai mereka? Untuk apa memperdulikan mereka? Kalau hal sekecil itu pun kau tidak paham. Hihi.. lebih baik aku yang menjadi Pencipta!”
Merasa dirinya dihina, Reftia melancarkan tinju yang sangat keras kepada Azazel. Dengan kecepatan yang lebih cepat daripada cahaya, tubuh Azazel terpental layaknya sebuh komet. Hanya dalam waktu beberapa detik, sosok Azazel sudah tak lagi terlihat.
Karena pukulan itu juga, banyak planet yang mengalami tekanan dari tempat Reftia berasal. Ada yang keluar dari orbitnya dan ada juga yang sempat berhenti berputar.
Reftia tak merasa ini semua sudah berakhir. Selang beberapa detik, sebuah energi yang besar menuju ke arahnya dengan kecepatan cahaya yang serupa. Rupanya Azazel, dia kembali dengan posisi yang menyeramkan. Terbang dengan kepalan tangan di depannya, siap untuk membalas tinju Reftia.
Persiapan seminimal mungkin, Reftia mempercepat kuda-kudanya dan melancarkan tinju yang sama.
Kedua tinju yang sangat kuat itu bertabarakan. Daripada yang sebelumnya, tekanan yang ini ribuan kali lebih kuat.
Ada banyak planet dan bintang yang terlempar, bahkan galaksi yang padat sampai menyisakan kubangan besar. Tekanan yang dahsyat itu juga sempat membuat ruang kehilangan kendali, untuk beberapa saat dunia menjadi monokrom, waktu pun berhenti. Tapi keadaannya segera kembali normal.
“Wah, wah, tak kusangka kau melakukannya sejauh ini. Apa tak masalah kau merusak semestamu sendiri?”
Azazel menunjukkan pemandangan disekitarnya. Terlihat banyak planet dan bintang semakin menjauh.
Karena pandangan Reftia dan Azazel tidak sama dengan manusia biasa, mereka bisa melihat dengan jelas dari jarak yang tak terbatas. Tapi untuk Azazel, dia memerlukan energi untuk melakukannya.
“Benar juga ya.. kenapa tidak sekalian kita jadikan medan perang saja?”
Reftia mengangkat semua makhluk yang dikenal oleh Darren ke surga, berarti termasuk Rayen dan Pisces. Ratu Megaira, dan semua penduduk Akarka juga.
Yang dirasakan Rayen saat itu tak lain adalah rasa terkejut, ketika dia sedang panik mencari Darren, tiba-tiba dia dan Pisces berpindah ke tempat yang indah.
Setelahnya, dia mencabut nyawa semua makhluk di dunia ini dengan perlahan, hingga tak ada satupun dari mereka yang sadar kalau mereka sudah mati. Tubuh mereka perlahan menjadi abu, baik itu binatang, manusia ataupun tumbuhan.
Sekarang semesta sudah kosong, hanya ada dua makhluk di semesta ini.
Azazel merasa bahayakan bahaya di depannya. Reftia yang sangat menyayangi makhluknya tak disangka sampai mengosongkan semesta ini hanya untuk melawan Azazel. Tak salah lagi, Reftia memang serius.
“Sekarang mau bagaimana? Kau ingin main lempar tangkap bintang? Atau sepak bola planet? Yang manapun asal bisa membuatmu puas.”
Ucap Azazel dengan nada kasar.
“Ragnarok Collapse!”
Sihir mematikan muncul, Reftia mengaktifkan sihir yang ia sebut dengan ‘mainan’. Ragnarok Collapse, adalah sihir yang membuat semesta berantakan, semua hukum alam tak lagi berlaku, dan elemen juga tak sesuai.
Planet mulai saling bertabrakan, jutaan bintang melayang liar seperti kunang-kunang. Bahkan unsur seperti oksigen mulai pecah di beberapa tempat, ruang, suhu, dan warna juga mulai berantakan.
Tak salah lagi, ini adalah kiamat.
Reftia maju dengan kecepatan cahaya, menyerang Azazel tepat di perutnya. Lagi-lagi raja iblis itu terpental, namun kali ini Reftia mengejarnya dengan kecepatan penuh. Ketika sudah dekat, Reftia memukulnya lagi, mengejarnya lagi, dan terus memukulnya.
Hal itu terus berlanjut, hingga tubuh Azazel seperti terpantul-pantul.
Pada akhirnya, pukulan terakhir Reftia membuat Azazel mendarat di sebuah planet tak dikenal. Planet yang berisikan batuan yang lebih keras dari berlian, tubuh Azazel tertancap disana.
Tak memberikan kesempatan, Reftia menarik sebuah bintang dan menerbangkannya menuju Azazel. Bintang berwarna putih itu bisa dilempar oleh Reftia seperti bola tenis, sangat mudah. Selain itu kecepatannya juga tidak masuk akal
“Hihi.. akhirnya.. akhirnya aku bisa melihat wajah serius itu.. Reftia!!”
Azazel kegirangan, dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Reftia. Bedanya, Azazel justru membuat sebuah bintang. Bintang yang ukurannya tak jauh beda dari milik Reftia, diarahkan untuk melindungi Azazel. Hasilnya, dua bintang itu saling bertabrakan, dan menciptakan gaya yang sangat kuat.
Fenomena menakjubkan terjadi, hipernova yang memiliki radius besar sehingga mampu melenyapkan planet dengan jarak jutaan tahun cahaya. Ledakan dengan suhu miliaran derajat itu membutakan pandangan Azazel.
Dengan All Nothingness, Reftia menghilangkan ledakan itu ketika dia membiarkannya selama 2 menit. Yang ia lihat hanyalah warna putih dan itu membuatnya terganggu.
Hasil dari ledakan itu, hampir semua planet dan benda langit di sekitar mereka bersih. Planet tempat Azazel tertancap juga menghilang. Tentu saja ledakan itu hanya terjadi selama dua menit, kalau dibiarkan lebih lama mungkin akan menyebar ke seluruh semesta.
Dari balik ledakan, terlihat sosok Azazel yang dilindungi oleh pentagram, bersamaan dengan dirinya yang membuka bukunya. Azazel tampak baik-baik saja, pakaiannya bahkan tak hangus sedikitpun.
“Kau yang menciptakan semesta ini jelas lebih tahu cara memainkannya. Kau tidak perlu seserius itu ketika bermain. Bunuh saja aku kalau kau mau, semesta ini sudah terlalu kosong bagiku!”
Ucap Azazel. Perkataan yang terdengar seperti tanda menyerah itu justru diiringi dengan senyuman licik, tak ada tanda-tanda kekalahan dari Azazel.
“Kenapa kau tidak membunuh dirimu sendiri saja? Aku akan menyaksikannya dari sini.”
“.. kau.. setiap kali menahan seranganmu aku harus mengorbankan satu bangsawan neraka. Bahkan untuk menciptakan bintang itu, aku harus mengorbankan Astaroth. Kupikir.. sudah waktunya giliranku bertindak sebagai raja.”
“Konyol, bukankah kau sendiri yang bilang, kalau Pencipta tidak perlu memikirkan ciptaannya. Kau menentang dirimu sendiri!”
Azazel tertegun, dia baru sadar kalau semua iblis di neraka adalah budak yang menyembahnya. Tapi perkataan Reftia tidak bisa ia setujui, ada hal lain dalam diri Azazel yang menolaknya.
“.. aku tak pernah menganggap Astaroth sebagai bawahanku. Dia.. dia adalah temanku.”
Reftia terkejut, perkataan Azazel tidak mungkin merupakan sebuah kebohongan. Tapi apa raja iblis memang memiliki sifat seperti itu?
Reftia perlahan mendekat ke Azazel, dia berada tepat di depannya.
“Kasih sayangmu ke bawahanmu hanya sebesar debu.. kau tidak mungkin memahami perasaanku ke Darren yang lebih besar dari semesta ini. Dasar iblis bodoh!”
Reftia menampar Azazel dengan tangan kanannya. Tak sempat menghindar, Azazel hanya bisa menerima tamparan itu dengan perasaan hampa. Tamparan yang sangat keras, hingga membuat ruang di sekitar mereka sobek. Terlihat hanya sedikit saja bekas lebam di pipi Azazel.
“Aku.. aku tidak menyayangi bawahanku. Aku menganggap mereka..”
“Kau masih menyangkalnya? Mau kutampar sekali lagi? Sikapmu itu terlalu kekanak-kanakan, jelas-jelas kau menyayangi mereka semua.”
“..”
Azazel menerima bulat-bulat pernyataan itu. Bukan karena takut akan tamparannya, melainkan karena ia tak tahu apa lagi yang harus disangkal.
Ketika pertarungan berakhir, kedua pihak akan saling mempelajari dari cara mereka menghadapi lawannya, setelahnya mereka saling memahami dan akan berteman. Begitulah seharusnya, Azazel sekarang mengerti maksud dari perkataan yang dititipkan Dewi Teressa kepadanya.
“Bagaimana? Sudahi saja? Kau ingin menjadi raja lagi kan? Kalau memang begitu, aku memiliki tawaran untukmu.”
Ucap Reftia.
“Tawaran?”
“Ya,”
Reftia menjulurkan tangan kepada Azazel.
“Azazel, jadilah pengikut setia Darren Corter. Jadilah kekuatannya, jadilah pelindungnya, kalau kau melakukannya, aku akan dengan senang hati mengembalikan neraka milikmu.”
“Tapi.. Darren sudah..”
“Dia tidak mati. Hymera melakukan sesuatu sepertinya. Jadi.. bagaimana jawabanmu?”
Sangat tak diduga. Kecerdasan Azazel yang membuatnya mampu memperhitungkan masa depan bahkan tak sanggup memperkirakan ini, ia tak menyangka pembicaraannya akan mengarah ke sini.
Api kecil di hatinya mencoba untuk berontak. Tak pernah ada negosiasi dalam perang, itulah yang selalu dipercaya olehnya. Tapi untuk memikirkan itu sekarang?
Semuanya sudah berakhir. Kenapa Azazel melakukan ini semua? Jelas-jelas tak ada yang bisa dia menangkan. Dia hanya bisa kalah dan terus kehilangan sesuatu, sama seperti ketika dia kehilangan teman-temannya yang berharga.
Ya sudah, tak masalah. Darren Corter bukan orang jahat. Kalau bukan di neraka, Darren justru lebih kuat daripada Azazel. Apalagi dia memiliki Reftia yang siap membelanya kapanpun.
“Baiklah.. kuterima tawaranmu.”