
Aku baru menyadari sesuatu yang penting belakangan ini. Sesuatu yang kusadari ini akan membuktikan cerita Reftia bahwa sebenarnya konsep ‘waktu’ buatan Yang Mulia Vedetta itu belum sempurna, atau bisa dibilang tak masuk akal.
Ini adalah tentang Reftia yang menciptakan semestaku yang lama. Hymera bercerita bahwa Reftia adalah satu-satunya Dewi yang berupaya menciptakan semesta lama itu. Tapi yang menjadi masalah adalah kata ‘menciptakan’ itu sendiri.
Setelah kuselidiki, akhirnya Reftia berani mengaku kalau dia sama sepertiku, yaitu Dewi hasil reinkarnasi, bedanya dia diangkat langsung oleh Yang Mulia Vedetta.
Berarti prosesnya begini, Reftia menciptakan semesta itu sesuai dengan apa yang pernah ia lihat sebelum ia direinkarnasi, artinya saat ia masih menjadi manusia. Tapi bukankah itu aneh?
Pengetahuan di dunia lamaku terlalu banyak, dan tidak mungkin bagi Reftia manusia untuk mengetahui semua hal yang ada di dunia, lupakan saja masalah sejarah atau apapun, bagaimana dengan spesies tanaman dan hewan di masa purba?
Ya, ini aneh. Aku ragu ada manusia yang bisa mempelajari dan mengingat semua itu.
Kemungkinan lain berarti seperti ini, misalnya Reftia menciptakan semesta dengan perintah ‘aku ingin menciptakan semesta sesuai dengan apa yang ada di dunia lamaku’, untuk seorang Dewi seharusnya itu masuk akal.
Tapi, kembali lagi ke paradoks waktu.
Yang menjadi titik berat disini adalah karena Reftia direinkarnasi sebelum semesta lamanya diciptakan, dan dia menciptakan ‘ulang’ semesta itu.
Kalau begitu, siapa yang benar-benar menciptakannya?
Maksudku, baik aku ataupun Reftia manusia, sama-sama menikmati dunia yang dibuat oleh Reftia dewi. Sedangkan Reftia dewi menciptakan dunia sesuai dengan apa yang Reftia manusia pernah nikmati.
Dipikirkan seperti apapun ini tidak akan ada habisnya. Aku mengerti kalau yang menciptakan semesta itu adalah Reftia. Tapi semua sejarah yang ada di dunia itu berasal darimana? Apa dari Reftia manusia, atau Reftia dewi?
***
“Jangan senang dulu, malaikat-malaikat Teressa mungkin sama kuatnya dengan para iblis!”
Ucap Reftia, memberikan saran kepadaku.
“.. kalau begitu ini akan sedikit merepotkan. Dua persutujuan sudah kudapatkan darimu, dan Teressa akan menjadi yang terakhir. Ketika ini selesai, aku akan berada di puncak bersamamu, Reftia.”
Wajah Reftia merona ketika aku mengatakan itu.
Kemudian kami mengalihkan fokus ke depan kami, melihat pemandangan bukit dan rumput yang luas.
Ini mungkin merupakan pemandangan biasa bagi seorang Dewi Agung, terutama Reftia yang sering mengunjungi surga. Tapi, bagiku ini sangat menakjubkan. Aku tidak bisa menahan diri ketika melihat hamparan rumput hijau yang luas, segera aku berbaring disana. Rupanya rumput di surga pun wangi, aku sampai tidak bisa bangun.
“Malaikat bernama Gabriel, dia perlu kamu waspadai. Kuatnya mungkin sama seperti Azazel, yah.. dia adalah malaikat kesukaan Teressa.”
“.. Gabriel ya? Di semesta lama kita juga ada nama Gabriel, apa kamu yang memberitahukan nama itu ke Teressa?”
Tanyaku. Reftia menggeleng.
“Semesta ini sudah ada jauh sebelum semeta lamamu, namun dulu belum ada manusia sampai aku datang. Seharusnya..”
“Gabriel diciptakan terlebih dahulu, dan kamu tidak mengetahui nama Gabriel. Lalu.. datangnya nama Gabriel di semesta lama itu.. bagaimana itu bisa terjadi?”
“Kau masih memikirkan paradoksnya?”
Aku hanya bisa tersenyum pahit karena memikirkan hal yang tidak penting berulang kali.
Reftia ikut berbaring di sebelahku, kami merasakan kelembutan rumput yang sama, dan menatap langit surga yang sama.
“Kau tahu, Darren, ada banyak sekali kejadian yang terjadi di jagat raya hanya dalam satu detik. Semesta yang tak terhitung jumlahnya, nyawa yang tak terhitung jumlahnya, mustahil untuk bisa memperkirakan itu semua. Tapi, itu tidak berlaku untuk Dewi Agung.”
“Hah? Apa.. jangan-jangan..”
“Ya, kami bisa mengetahui semua kejadian di semesta lain sekalipun. Ada sebuah skill bernama God’s Perception, itu berguna untuk mengetahui segalanya.. benar-benar segalanya yang ada di dunia ini. Memori kami tidak terbatas, kecerdasan kami tidak terbatas, itu adalah skill yang tidak terbayangkan.”
Kalau Reftia sampai mengucapkan ‘segalanya’ dua kali, berarti memang itulah konteksnya. Mengetahui apapun, berarti itu termasuk nama seluruh manusia di semesta, pergerakan setiap molekul, dan tentu saja pikiran per individu.
Beberapa detik kesenyapan berlalu, aku mulai menyadari sesuatu yang penting.
“Oh, iya, roh agung bernama Seiren, dia adalah rekanku.. dimana dia sekarang?”
Tanyaku.
“..um.. sepertinya ketika kamu menghilang, dia masuk ke dalam tubuh Rayen. Coba saja tanyakan padanya!”
“.. bagaimana dengan Renatta?”
“Tak tahu, kalau dia memang makhluk hidup seharusnya dia sedang berada di tempat yang sama sekarang. Tapi kamu menciptakan dia dari dua jiwa kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Kakak dan adik itu.. adiknya bisa dibilang ‘mati’, dan kakaknya bisa dibilang ‘hidup’. Aku tak tahu apakah dia termasuk makhluk hidup apa bukan. Karena perintah dariku adalah membawa semua makhluk hidup yang kamu kenal diangkat ke surga.”
“.. merepotkan juga.”
Firasatku berpikir kalau Renatta baik-baik saja. Entahlah, seburuk apapun situasinya kalau dia mati sekalipun aku pasti akan menghidupkannya lagi.
Seiren adalah makhluk hidup, itu sudah jelas. Kalau Renatta sepertinya tidak bisa didefinisikan, aku sudah tidak bingung dengan sikapnya yang seolah seperti mayat. Karena Reine sendiri, sampai rela melakukan hal kejam demi menyelamatkan adiknya.
Dan sikap Renatta sangat berbeda bila dibandingkan dengan Reine.
“Sebaiknya kamu memikirkan strategi untuk besok! Melawan malaikat bukanlah hal yang mudah!”
“.. tenang saja.”
***
Panggung mewah yang disediakan oleh Dewi Teressa, berada di sisi lain dari surga. Disediakan tempat dengan luas yang tak masuk akal, dimana aku dan para malaikat nanti akan berperang.
Seluruh kemampuan penciptaku disita, yang artinya aku tidak bisa menggunakan God’s Will. Satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menggunakan sihir yang sudah kupelajari sebelumnya. Aku juga tidak lagi abadi, tapi bukan berarti aku akan terbunuh di perang ini.
Reftia, Hymera, Teressa, Rayen, Pisces, dan lain-lainnya seperti tiga ratu idiot, mereka menonton pertandingan ini dari tempat yang jauh.
Omong-omong, penduduk Akarka juga ada di surga ternyata. Dan saat ini mereka juga sedang menonton.
Muncul di tempat yang acak, sialnya aku berada di pinggir hutan dimana ada banyak batu-batu yang tertumpuk. Ini bukan permainan, jadi tak ada peta yang bisa digunakan untuk melacak musuh. Entah dimana para malaikat itu berada.
Jumlah mereka juga tidak diketahui.
“Teressa.. Detonation bukanlah skill milik Pencipta, tapi apakah aku bisa menggunakannya untuk meledakkan surga?”
Tanyaku ke langit.
Teressa yang bertugas sebagai pengadil nantinya akan menjawab segala pertanyaan yang berkaitan dengan perang. Suaranya muncul di langit.
“Kau bisa menggunakan sihir dengan kapasitas maksimal 2 triliun Reft.. tapi tenang saja, itu bisa diisi ulang. Dan jangan berpikir jumlah Reft segitu mampu menghancurkan surga!”
“Yah.. aku pernah menggunakannya untuk meratakan satu Negara.”
“Benarkah? Sayang sekali, tanah di bumi dan surga sangat jauh berbeda. Kalau niatmu buruk, tanah surga ini tidak akan terkotori sedikitpun!”
Kalau surga tidak bisa dihancurkan, itu menguntungkan untukku. Masalahnya bertarung dengan teritori teratur adalah keahlianku.
Setelahnya, aku mencoba berbagai macam sihir yang pernah kupelajari. Berhubung ada banyak waktu yang tidak terpakai ketika melatih sihir dulu, ada saja tipe sihir yang kulihat dari para ahli sihir kerajaan. Dan aku mencoba semua yang kutahu.
Ketika sedang melakukannya, tiba-tiba langit dipenuhi dengan bilah-bilah pedang yang mengkilap seolah terbuat dari cahaya. Langit menjadi dua kali lebih terang, aku menutup mataku karena silau.
Bilah itu mulai berjatuhan, membabi buta menembak kepadaku. Aku yang tak sempat menghindar buru-buru menciptakan perlindungan sihir yang kuat.
“.. Handless Pointing bisa digunakan di saat seperti ini..”
Gumamku.
Tidak, itu salah.
Handless Pointing tidak bisa digunakan. Aku yang sudah berekspektasi tinggi dengan penggunaan skill itu malah tidak sempat menghindar, menyebabkan banyak bilah itu menabrak badanku.
Sakitnya seperti ditinju oleh kepalan tangan raksasa berkali-kali. Karena itulah setelah serangan berakhir aku segera mengaktifkan sihir penyembuh.
Ekspektasi yang salah membuat tragedi menjadi fatal. Selama ini aku merasa tenang-tenang saja karena darah dewi mengalir di dalam tubuhku. Sungguh, rasanya sangat menyedihkan ketika aku mendengar God’s Will tidak bisa dipakai.
Tidak, aku baru mengerti ketika kekuatan dewi tak lagi kurasakan. Seperti rasa kesepian yang setingkat dengan ditinggal oleh Rayen, begitulah rasanya ketika aku kehilangan kekuatanku.
Ah, serangannya tidak berhenti sampai disitu. Kali ini berbeda, serpihan yang terlihat seperti kristal berkumpul di udara. Kemudian terdapat lingkaran yang membakar kristal itu.
Melihat itu adalah hal yang berbahaya, aku melompat ke belakang seperti lalat yang hampir ditangkap. Terbang di atas awan dengan skill Levitation, kulihat kristal yang terbakar itu membuat sebagian lahan menjadi penuh dengan api.
“Apapun yang kulakukan mereka tidak akan memberikan celah..”
Gumamku sambil mengikat rambut panjangku yang menggangguku terbang.
Kuaktifkan sihir pendeteksi, ini berguna untuk mendeteksi setiap individual hidup yang memiliki energi rata-rata dimiliki manusia. Jadi, tumbuhan dan bakteri tidak akan terdeteksi karena energi mereka lebih rendah dari manusia. Yang dapat terdeteksi adalah roh, manusia, dan tentu saja malaikat.
Glorial Sharrot!
Itu adalah skill yang kuaktifkan.
Bentuk dari skill ini adalah memanggil sebuah naga kecil yang terbentuk dari bayangan. Ada banyak naga yang muncul, dan semuanya bergerak terpandu ke arah target. Naga-naga itu akan mengoyak target dengan hanya menyentuh mereka.
Dan, ternyata itu berhasil.
Para naga berhasil mengoyak beberapa malaiakat yang bersembunyi di rimbun pepohonan, aku mampu merasakan ada beberapa dari mereka yang tumbang.
“Berhasil!! Ahaha, ini mudah!!.. m-mudah.. astaga..”
Panik, aku langsung berbalik arah dan terbang dengan kecepatan melebihi suara. Levitation adalah skill terbang yang mengandalkan imajinasi penggunanya, selagi aku tahu berapa kecepatan suara maka itu bukanlah masalah.
Ketika serangan Glorial Sharrot berhasil, yang muncul disana adalah malaikat keluar dari persembunyian mereka di dalam hutan. Jumlahnya ada ratusan, tidak, ribuan. Mereka terbang dengan sayap lebar mereka yang cantik.
Para malaikat itu memenuhi langit dan sayap putih mereka membaur dengan cerahnya langit.
Tapi itu tidak indah, justru menyeramkan.
“Teressa, kenapa kau membuat malaikat segitu banyaknya? Kau pikir butuh berapa lama untuk mengalahkannya?!!”
Malaikat mulai menembakkan cahaya padat ke arahku, itu adalah sinar yang memiliki efek tolak. Ketika terkena sinar itu badanku akan langsung terdorong jauh ke depan.
Ada banyak sekali sinar yang muncul, membuatku tak bisa menghindari semuanya dengan hanya terbang. Aku pun mengaktifkan sihir tingkat tinggi, Gate of Universe, sihir yang membuatku mampu membuat portal ke semesta manapun.
Ini bukanlah kekuatan dewi, melainkan sihir tingkat tinggi yang mampu dilakukan manusia. Dan karena jumlah Reft yang diperlukan terlalu banyak, tak ada satupun orang yang pernah mencobanya. Tapi, kalau dengan jumlah Reft sebanyak ini, aku tidak perlu khawatir.
Portal itu kuhubungkan ke semesta acak dimana aku tak punya waktu untuk memikirkannya. Benar saja, hampir semua sinarnya tak ada yang mampu menembus portal itu.
Barulah, Teressa menjawab,
“Memangnya kau sedang terburu-buru? Di surga tak ada konsep waktu seperti yang diciptakan Vedetta. Tak ada waktu berarti tak ada penuaan, tak ada rasa bosan, tak ada rasa kantuk. Kau tetap bisa bergerak bukan karena waktu berjalan tapi karena aku mengizinkanmu untuk bisa bergerak.”
“Tidak, bukan itu yang kumaksud!"
“Kalau kau mempermasalahkan jumlah, tenang saja, itu hanyalah malaikat murahan yang tidak berguna.”
Ah, sepertinya kalimat yang barusan itu menusuk hati para ribuan malaikat yang mengejarku.
“Nanti juga pasti akan kukeluarkan, para malaikat kesukaanku, para Archangel!”
Archangel, tujuh malaikat agung yang menyembah Dewi Teressa. Nama mereka tertulis di buku sejarah yang kubaca di perpustkaan kerajaan. Tak kusangka mereka benar-benar ada.
“Kalau begitu cepat keluarkanlah mereka!! Aku tak ingin perang ini menjadi lebih lama.”
Teressa tertawa sendiri. Suaranya yang muncul di langit bergema ke seluruh penjuru surga.
“Kalahkan dulu mereka semua, barulah nanti kukeluarkan! Anggap saja mereka sebagai bos terakhir.”
Tambahnya.
Tapi bagaimana cara aku mengalahkan mereka? Akibat dari portal yang kubuat tadi, serangan mereka menjadi tidak berpola dan serangan sinar itu tidak beriringan lagi. Dengan begitu, menghindarinya dengan hanya ke kiri dan kanan, ke atas dan bawah, menjadi sangat mudah.
Meskipun begitu, untuk mencari mencari waktu yang pas untuk menyerang adalah hal yang sulit.
“Mungkin mereka butuh sedikit kejutan.”
Aku memperlambat laju terbangku sampai sebagian dari mereka berkumpul.
Beberapa dari mereka mengikutiku, mereka menjadi waspada karena mendadak kecepatakanku menurun. Pertahanan mereka menjadi kuat dengan jumlah mereka yang kian membanyak. Tidak, ini tidak merugikan, justru ini bagian dari strategiku.
Aku membalik badanku dan mempercepat fokus pemikiranku. Ketika aku membalikkan badan, yang mana itu terjadi tak lebih dari satu detik, aku mengaktifkan sihir Rumble Lightning.
Rumble Lightning adalah sihir listrik yang dikeluarkan dari dalam lingkaran sihir. Dengan kedua tanganku, aku membuat lingkaran sihir sesimpel mungkin, dan listriknya sengaja kubuat menggumpal. Jadi, bisa dibilang di kedua tanganku terdapat bola listrik.
Dengan kecepatan suara, aku terbang berlawanan arah menuju kerumunan malaikat. Mereka yang tak mengira aku akan bergerak seperti itu tak sempat menghindar. Serangannya sempurna, listrik itu berhasil menjalar di antara para malaikat.
“20.. tidak, sekitar 30. Hanya sekitar 30 malaikat yang kena serangannya. Dan..”
Aku menatap langit dimana ada banyak sekali malaikat yang menatap dingin ke arahku. Banyaknya malaikat membuat mereka terlihat seperti pasir yang tercecer di lantai. Darimana aku harus mulai menyerang?
“Kalau sudah begini, berarti aku harus lebih keras kepada diriku sendiri..”
Kuhirup napas dalam-dalam, meningkatkan fokusku secepat mungkin.
Detonation!
Detonation adalah sihir ledakan yang kapasitasnya bisa diatur oleh pengguna. Aku menciptakan sihir itu dengan menggunakan 2 triliun Reft, dengan aku sebagai pusatnya. Suhunya mungkin hanya mencapai miliaran derajat, tapi itu sudah cukup.
Entah ada berapa malaikat yang mati, jujur aku lebih mengkhawatirkan diriku sendiri.