
-Leosiana, Ibukota Kekaisaran Kardagon-
Negara munafik ini sedang melakukan upacara tertutup besar-besaran bagi para petingginya. Di istana Raja, di sebuah aula besar yang terletak di bawah tanah, upacara itu dilakukan dan diketuai oleh pemimpin sekte penyembah iblis, Avanton Hobbs.
Sejarah akan tertulis mulai dari sekarang. Negara Kekaisaran Kardagon, Negara dengan populasi penyembah iblis terbanyak di dunia, siang ini akan melakukan ritual pengorbanan kepada Dewa Azazel.
Dengan menggunakan jiwa dari sosok agung, Avanton akan memanggil Azazel agar dia memakan jiwa Colt Rayen. Dengan begitu, Azazel akan memberikan kesuburan, kekayaan, dan nikmat yang lebih tinggi lagi kepada para anggota sekte.
Hal yang sangat memalukan untuk manusia adalah ketika mereka menyembah Pencipta yang salah.
***
Di sisi lain istana Kardagon, Reine Deveralle tengah menangis bahagia ketika adiknya sudah dibebaskan dari siksaan kejam selama berhari-hari. Ketika dilepas dari rantainya, Vedetta si adik terlihat seperti mayat yang hidup. Tercium bau tidak sedap dari luka di sekujur tubuh Vedetta, tetapi Reine mengabaikannya dan memeluk adiknya dengan erat.
Si adik sama sekali tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh kakaknya, kenapa kakak melakukan ini? Kakak beradik itu saling menatap satu sama lain, tapi Reine semakin menangis keras ketika dia melihat adiknya hanya memandang dengan tatapan kosong. Layaknya sebuah boneka yang tak bernyawa, adiknya bahkan tidak sedih ataupun bahagia.
Luka dan kesedihan yang dialami sang adik sudah cukup berat untuk menghancurkan hati manusianya. Yang dilihat oleh Reine saat ini tak lebih hanya sekedar raga tanpa jiwa.
***
Kembali ke aula, upacara besar yang tengah dilakukan itu mengundang banyak perhatian dari petinggi Negara di seluruh penjuru Kardagon. Tepat pada hari itu juga, semua pemimpin dari setiap daerah datang berkumpul dan bersama-sama untuk menyaksikan.
Sebuah lingkaran berlambang bintang di tengahnya, itu dibuat sangat besar di lantai dengan menggunakan darah para warga buangan.
Di tengah bintang itu, ada lelaki yang diduga bernama Darren Corter dan juga diduga adalah sosok agung. Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa, ketika dirinya dicambuk dan disalib di sebuah simbol besar. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, tanpa ada niat sedikitpun untuk berontak.
Avanton Hobbs dengan tidak malu, dia menyuarakan keagungan Dewa Azazel ke seluruh aula. Dirinya terlihat seperti orang bodoh yang sedang mabuk, dia mengangkat tangannya dan bernyanyi lagu-lagu pemujaan yang ia sendiri pun tidak tahu apa artinya.
“Dewi.. Dewi, tolong aku!”
Dengan keputusasaan, Colt Rayen berdoa di tengah ruangan iblis.
-
Ini adalah sejarah, bukan sejarah Kardagon melainkan sejarah seluruh jagat raya. Miliaran bahkan triliunan semesta akan menyaksikan sebuah kelangkaan yang hanya terjadi kepada Dewi biasa ini.
Dewi Corter namanya, dia menyimpan benci yang sangat besar kepada sebuah Negara bernama Kardagon. Kebencian yang ada di hatinya sudah lebih besar daripada surga dan neraka. Sudah tak pantas lagi dia disebut sebagai Dewi, tapi siapa yang memperdulikan hal itu.
Dewi Corter menggunakan God’s Will tanpa keraguan, ketika seseorang yang dikasihinya menghilang dan tidak terdeteksi. Dia menggunakan kemampuan Pencipta-nya untuk berpindah tempat ke Negara Kardagon.
Di Negara yang tampak makmur itu, Dewi sempat kehilangan akal sehatnya karena apa yang dia lihat tidak sesuai dengan kebenciannya. Tapi sayangnya, kemanusiaan Dewi sudah tak bisa diungkit lagi, dia bukanlah sosok yang penuh kebaikan sekarang.
Dewi berjalan di sebuah trotoar yang terletak di jantung kota, ia terus-menerus menunduk, memikirkan secercah harapan yang semoga saja bisa ia temukan.
“Hei, kau tahu? Katanya Avanton akan melakukan pengorbanan lagi. Hore!! Dengan begini Negara kita akan tambah kaya!!”
“Ahaha!! Pasti sial sekali untuk si tumbal.. ahahaha!!!”
“Puja Dewa Azazel!!”
“Puja Dewa Azazel!!”
Tapi apa yang dia dengar justru membuatnya semakin murka. Dewi Corter ditabrak oleh segerombolan orang yang berlari menuju istana. Mereka tanpa rasa bersalah membiarkan seorang wanita tersungkur, dan mereka memuja iblis di depan seorang Dewi.
Bahkan dalam hati seorang Dewi sekalipun, Dewi Corter mengutuk Negara ini,
“Sungguh, aku atas nama Dewi Corter, utusan dari Dewi Agung Reftia, kunyatakan dengan ini murkaku sebagai seorang Pencipta kepada tanah kafir ini!”
Dengan menggunakan skill Wind Blade, Dewi mencincang semua orang yang ia lewati tanpa pandang bulu. Kurang lebih radius 5 meter, semua orang yang berada sedekat itu dengan Dewi akan berubah menjadi sebongkah daging.
Tak memperdulikan apakah yang ia bunuh perempuan atau laki-laki, anak-anak atau dewasa, bersalah atau tidak bersalah. Seorang Dewi yang seharusnya menunjukkan kebaikan kini berubah menjadi kutukan.
Pembunuhan itu terus berlangsung, ketika semua orang berkumpul di depan istana untuk bersorak-sorak, Dewi Corter melewati kerumunan itu dan membelah orang-orang itu menjadi neraka darah yang menjijikan. Tak ada siapapun yang mampu menghentikan langkah Dewi
untuk masuk ke dalam istana.
***
“Vedetta.. kakak.. kakak sekarang ada untukmu.. kau, kau baik-baik saja sekarang!”
Reine Deveralle mengatakan kalimat itu dengan penuh keputusasaan, bagaimana tidak, yang bahagia dengan pertemuan itu hanya Reine saja, sang adik Vedetta tampak tak menunjukkan apapun di wajahnya.
Tatapan yang kosong, mata yang tidak bercahaya, dan wajah yang tampak mati. Benar, mungkin itu adalah mayat boneka.
“Ka.. kak?.. si.. apa?”
Sang kakak gemetar sedih ketika adiknya tak lagi mengenali dirinya sendiri. Ucapan terbata-bata sang adik yang dipenuhi kesakitan, benar-benar membuat sang kakak terpukul.
“Siapa itu Vedetta? Apa.. jangan-jangan.. nama orang yang akan menyiksaku selanjutnya?.. begitu.. semoga saja dia perempuan yang lemah..”
Tak ada lagi harapan yang tersisa. Sang kakak kini bagaikan memeluk kekosongan.
Apa yang selama ini Reine perjuangkan? Apa yang selama ini Reine coba selamatkan? Bodoh sekali. Adiknya sudah mati sejak ia dilahirkan, Reine saja yang tidak menyadarinya.
***
Masuk ke dalam istana, Dewi Corter menembus semua pertahanan yang ditunjukkan untuk menghalanginya. Semua penjaga dan prajurit, semua mati tanpa bersisa, menyisakan hanya mayat mereka saja yang tergeletak di lantai.
Semua petinggi sedang ada di aula bawah tanah, tak ada yang bisa menangani penyusupan Dewi Corter lebih lanjut. Sayang sekali untuk Kardagon, karena Dewi saat ini sedang menuju ke upacara itu. Dewi melangkah dengan sangat lambat, di setiap langkahnya ia menanggung dosa yang begitu besar dari setiap orang yang ia bunuh, tapi dari setiap langkah itu juga kebenciannya semakin besar dan membesar.
Sampai di aula, ia menyaksikan pemandangan menjijikan di depan matanya. Ruangan dipenuhi oleh manusia-manusia bodoh yang mengenakan jubah. Di tengah kerumunan berjubah itu, terdapat seorang pemuda yang disalib, dengan penuh luka di badannya.
Itulah sosok yang Dewi cari, pujaan hatinya.
“Puja Dewi Reftia! Puja Dewi Agung!.. puja Dewi Corter!”
Seisi ruangan menjadi sepi senyap, tapi kesenyapan itu berubah menjadi kesenyapan yang lebih dalam dan abadi, itu disebut dengan kematian.
Manusia-manusia bodoh yang menyembah iblis itu dihabisi seketika, Dewi Corter menggunakan skill Handless Ponting untuk meremukkan semua sosok yang ada di ruangan kecuali pujaan hatinya. Darah yang keluar dari para petinggi, membuat aula menjadi lautan darah.
Tapi dengan skill-nya lagi, Dewi Corter membuat darah itu menyatu dan mengumpulkannya menjadi gelembung darah kental yang sangat besar.
Dari dalam aula bawah tanah, Dewi mengendalikan gelembung darah itu hingga terbang ke langit. Gelembung darah itu bercampur dengan awan, dan jadilah hujan darah yang membasahi seluruh istana Kardagon. Hujan di siang hari itu juga membasahi semua orang yang berkumpul di depan istana.
“Rayen.. aku.. aku datang menyelamatkanmu.”
Dewi berjalan dengan penuh kegembiraan menuju pujaan hatinya yang sedang tersalib. Dewi mengangkat wajah lelaki itu, dan menciumnya.
Terlihat sangat romantis, sepasang lelaki dan perempuan itu saling berpelukan ketika mereka selesai berciuman.
“.. meski aku menjadi iblis sekalipun.. kamu tetap akan menyukaiku, kan?”
“.. ya. Apapun yang terjadi..”
Dewi menggunakan skill God’s Will dua kali, yang pertama Dewi menyembuhkan pujaan hatinya kepada kesehatan tertinggi, yang kedua Dewi memindahkan pujaan hatinya ke tempat terbaik yaitu istana Megaira. Layaknya teleportasi, lelaki itu langsung berada di kamarnya.
Pria itu, Colt Rayen dengan penasaran melihat ke sekujur tubuhnya. Luka bekas cambukan yang sempat membuatnya gila tiba-tiba saja hilang, bahkan bekas luka pun tidak ada.
Tapi di sisi lain, pria itu dengan cemas menatap ke langit timur tempat Kardagon berada. Dia bertanya-tanya apakah Darren Corter baik-baik saja. Tidak, yang perlu dicemaskan sepertinya bukan Corter, melainkan Kardagon itu sendiri. Apakah Negara itu akan baik-baik saja?
***
Dengan penuh kebencian. Dewi Corter berdiri di atap istana, menatap dengan kesal ke arah warga yang sedang bersorak-sorak ria di depan istana. Bahkan ketika diguyur hujan darah, mereka tetap bahagia karena mengira hujan itu adalah berkah dari Azazel.
Saking bencinya Dewi dengan Kardagon, dia sampai tidak bisa berekspresi. Badannya gemetaran, ingin segera meratakan daratan ini.
Ada sebuah skill yang sangat berbahaya bernama Dead One Lightburn, itu adalah skill yang membuat langit menjadi merah, apabila seseorang melihat langit itu maka jiwanya akan terperangkap dan raganya akan mati begitu saja.
Tak tanggung-tanggung dengan resiko, Dewi segera mengaktifkan skill itu dengan radius yang luar biasa besar yaitu di seluruh penjuru dunia.
Disinilah sejarah akan tertulis. Tepat pada siang itu, langit yang seharusnya berwarna biru terang berubah menjadi merah gelap. Seperti darah yang dituang di langit-langit, bahkan cahaya matahari pun tak mampu menembus langit itu.
Benar-benar sebuah pemandangan yang mengerikan.
Tapi dalam hati Dewi ia masih khawatir dengan nasib semua orang di seluruh dunia. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan skill Disturbance, skill yang mampu merasuki jiwa sesorang.
Dewi mampu membuat skill itu ke batas tertinggi, ia merasuki seluruh orang di dunia. Pada hari itu juga, selain langit yang merah, seluruh orang di dunia kehilangan kesadarannya karena tubuh mereka sudah diambil alih oleh Dewi.
Dewi membuat semua orang di dunia itu menunduk ke bawah dan menutup matanya, kecuali Kardagon. Semua orang di Kardagon dibuat mendengak ke langit dan menatap langit merah itu dalam-dalam. Tak terkecuali orang-orang yang berada di dalam rumah sekalipun. Semua orang di Kardagon, benar-benar melihat langit merah saat itu.
Tak lama, semua orang pingsan dan lemas. Seperti mayat yang tak direlakan, mereka mati dengan mata terbuka dan mulut mengangap.
Dewi yang berdiri di atas istana, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan sedikit kepuasan.
“Ini masih belum cukup. Mereka belum benar-benar mati..”
Gumam Dewi kepada dirinya sendiri.
Masih ingat dengan pelindung sihir yang melindungi Akarka dari dunia luar? Sebenarnya sihir itu bukan berguna untuk membuat sebuah kamuflase, melainkan untuk membuat dinding pembatas antara daerah dengan daerah.
Menerapkan skill itu disini, Dewi membuat pelindung sihir yang memisahkan Kardagon dengan Negara di sekitarannya. Pelindung sihir itu memiliki ketinggian 1000 meter dari tanah dan kedalaman 100 meter dari tanah, dengan bentuknya mengikuti bentuk Negara Kardagon. Intinya, pelindung itu benar-benar memenjarakan Kardagon dari dunia.
Pelindung yang sangat tebal karena diciptakan Dewi, bahkan tabrakan planet pun tak mampu menghancurkannya.
Dewi menggunakan skill Detonation untuk meledakkan dalam pelindung itu. Tak tanggung-tanggung, dengan kebenciannya Dewi mampu menciptakan ledakan yang suhunya tak terhingga. Triliunan derajat, atau mungkin lebih panas. Seandainya tidak ada pelindung yang memisahkan, mungkin ledakan itu bisa menghancurkan tata surya.
Pelindung itu memiliki warna hijau transparan, tetapi dengan ledakan sebesar itu, membuat pelindung itu lebih terang daripada matahari. Tapi tenang saja, semua orang di dunia saat ini sedang menunduk dan memejamkan mata.
***
Neraka itu berakhir, semua skill yang diaktifkan Dewi juga sudah selesai.
Semua orang di dunia, terutama yang berada di benua Koukous mulai sadar kalau Kardagon kini hanya berupa tanah yang rata. Abu, puing-puing, bahkan mayat sekalipun tidak ada yang tersisa.
Saat itu, sejarah pembantaian terbesar di dunia sedang ditulis oleh orang-orang tertinggi. Bahwa 20 juta orang yang meninggali tanah Kardagon, tepat pada hari itu, dibantai dan dihilangkan hanya dalam waktu kurang dari 1 jam.
Itulah kenapa seorang Dewi tidak boleh sampai marah, kekacauan yang dibuatnya terlalu besar.
***
Aku terduduk di sebuah padang tanah tandus yang sangat luas. Tidak seperti ketika aku melawan Astaroth, dataran ini lebih mengerikan dari hanya sekedar ledakan bom. Meskipun begitu, nyatanya aku berhasil menyelamatkan planet ini dari ledakan besar, dengan cara menaruh pelindung sihir di bawah permukaan tanah Kardagon.
Lalu sekarang apa? Ketika aku selesai memenjarakan 20 juta jiwa manusia, dan menghabisi mereka tanpa bersisa, aku bahkan sama sekali tidak merasa puas.
Aku bahkan tidak menangis, walaupun aku tahu bahwa manusia yang kubunuh juga berisikan orang yang tidak bersalah. Biarkan saja, menurutku lahir ke dunia adalah sebuah kesalahan bagi takdir mereka.
“Aku.. ini adalah hak-ku sebagai Pencipta.”
Aku memandang langit biru tak berawan yang mengatapi kepalaku dengan tenangnya. Tidak, langit itu tidak tenang, langit itu menangis dan takut dengan kekuatanku.
Biarpun aku tidak merasa bersalah sekalipun, nyatanya tetap akan ada hukuman bagi Dewi yang membantai umat manusia hanya karena urusan cinta.
Saat itulah, aku melihat sosok Pencipta tertinggi dari jagat raya ini. Sosok itu adalah yang menciptakan para Dewi Agung, menciptakan kekuatan, bahkan juga menciptakan diriku. Sosok itu berdiri di depanku dengan wajah tenang.
Ia adalah Yang Mulia Pencipta Tertinggi, Vedetta.