
Saat itu ketika aku masih berumur 8 tahun, aku pernah memikirkan tentang dunia yang luas ini, tentang siapa yang menciptakannya. Apakah benar kalau dunia ini hanya terbentuk begitu saja oleh manusia, tanpa ada siapapun yang mengaturnya?
Manusia dengan mudahnya melakukan ini dan itu hanya demi kepentingan mereka sendiri. Apakah yang dilakukan mereka benar atau salah, diriku tak akan pernah mengetahuinya.
Hanya saja, aku takut sang Pencipta akan marah.
Tidak. Kalau Pencipta memang benar-benar ada, seharusnya ia tidak perlu membuat makhluknya marah kepadanya.
***
“Reftia, kalau tidak buru-buru nanti terlambat loh!!”
Teriak Diana dari kejauhan. Dia sempat meninggalkanku beberapa meter, ketika aku menghentikan langkahku untuk mengikat tali sepatu.
“I-Iya.. sebentar.”
Aku menjawabnya dengan gugup. Tanganku yang tak terbiasa mengikat tali harus bekerja 2 kali lebih cepat dari biasanya.
Selesai mengikat, aku setengah berlari menuju Diana yang tidak tahan dengan kelambananku.
Aku memang orang yang seperti ini, selalu merepotkan orang lain. Diriku yang tidak pandai bergaul, terkadang selalu dijauhi oleh teman-temanku tanpa alasan yang jelas. Manusia terlalu mengikuti arus, satu orang saja membenciku maka yang lain juga.
Tapi Diana berbeda, dia tetap menerimaku apa adanya meskipun dirinya bukanlah orang menyendihkan sepertiku.
Sebenarnya, yang membuatku benar-benar dibenci oleh orang-orang adalah karena kecerdasanku.
***
Sesampainya di gerbang sekolah, ketika aku selangkah masuk ke dalam, kegugupan dan ketakutan sudah kurasakan. Badanku menjadi gemetar, mengingat kejahilan macam apa yang akan dilakukan teman-temanku hari ini.
Aku dan Diana berpisah ketika kami selesai mengambil buku di loker, karena memang kelasku dan Diana berbeda. Itulah yang membuatku takut, satu-satunya orang yang dekat denganku justru harus menjauh.
Sengaja aku tidak mau membuka lokerku sebelum Diana pergi, karena kalau Diana melihat isi lokerku, dia mungkin akan marah.
Tanganku gemetar, ingin sekali aku berlari dan pulang. Tapi mau dipikir bagaimanapun, aku harus menghadapinya.
Ketika loker kubuka, benar saja, yang keluar dari dalam adalah sekumpulan sampah kertas yang diremas. Ada banyak sekali sampah yang keluar, sampai-sampai itu terjatuh ke lantai dan berserakan.
Ada juga sebuah papan kecil bertuliskan ‘Bodoh! Tidak usah sekolah lagi saja! Reftia idiot!’
“Hei lihat! Itu si Reftia itu, ya? Haha, dia menyedihkan seperti biasanya.”
“Lebih baik jangan mendekati dia..”
“Hei, dia mendengarnya loh..”
Orang-orang di belakangku selalu saja menertawakanku ketika hal ini terjadi.
Tak ada alasan untuk berdiri di depan loker lebih lama, aku segera merapikan sampah itu, mengambil buku catatanku dan segera pergi ke kelas.
***
Alasan kenapa mereka melakukan hal sekejam itu sebenarnya adalah karena kesalahanku sendiri. Semuanya dimulai sejak setahun yang lalu, ketika aku berulang tahun yang ke-14, ayahku memindahkanku ke sekolah menengah ini.
Tapi di sekolah baruku, aku terlalu sering menggunakan kepalaku untuk bisa bergaul. Singkat saja, mungkin diriku ini terlalu pandai baik dalam hal pendidikan ataupun sosial. Ya, aku pandai melihat isi hati orang lain tetapi tak memahami apa yang mereka rasakan.
Terkadang ketika seseorang menyimpan rahasia, aku dengan mudah membongkarnya dan mengatakannya kepada orang lain, bukan berarti aku ingin tetapi karena aku memang tidak tahu. Rumor diriku yang selalu seenaknya sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah, pada akhirnya semua murid menjauhiku.
Disiram air, dikunci di ruang olahraga, sampai ditampar, aku selalu diperlakukan seperti itu. Tak boleh melapor ke guru ataupun orang tuaku, karena kalau aku melakukannya mereka mengancam akan membunuhku.
“Kalaupun ada orang yang mampu membantuku, sepertinya itu bukan manusia..”
Dengan sangat takut, aku memasuki ruang kelas.
Sungguh mengejutkan, ketika aku membuka pintu, tak ada air ataupun kotoran yang dilempar ke arahku. Semua orang tampak tak menyadari kedatanganku, mereka sibuk dengan percakapannya dengan orang lain.
Apakah mereka sudah berhenti menjahiliku? Aku benar-benar bahagia. Aku tersenyum dan berjalan ke mejaku.
Ketika aku duduk di kursi pun, benar-benar belum ada kejahilan yang terjadi. Ini memang baru 2 menit ketika aku masuk kelas, tetapi biasanya dalam kurun waktu itu sudah ada banyak yang menghinaku.
“Apa.. ada sesuatu di kolong meja?”
Seperti ada suara berdecit, atau menggerit di dalam mejaku. Suara kegaduhan yang pelan tapi terdengar jelas. Mejaku juga bergetar ketika aku menaruh tanganku.
Dengan berani, aku mencoba meraih apa yang ada di dalam kolong.
Ternyata, itu adalah sekumpulan tikus putih yang keluar begitu aku memasukkan tanganku. Tikus-tikus itu langsung melompat dan menjelajahi seluruh tubuhku, mereka bahkan hinggap di kepala dan rok-ku.
Aku berteriak sangat keras karena merasa jijik, walaupun tikus itu bersih sekalipun, aku selalu takut dengan tikus.
Teman-temanku dengan lebih kerasnya tertawa terbahak-bahak, ketika diriku mulai menggila untuk melepaskan tikus-tikus itu. Sumpah, itu sangat menggelikan, kaki-kaki kecil mereka yang menyentuh tubuhku, aku bisa mati hanya karena itu.
“Ahahah!!! Reftia.. bukan aku yang menyusun ide itu loh.. pffftt... bodoh sekali!!!”
“Bersihkan kolong mejamu!! Kalau tidak nanti tikusnya akan lebih banyak!”
“Gadis kotor!”
“Kenapa kau tidak mati saja?!”
Sambil menangis, aku menerima semua hinaan itu tanpa bisa membalas. Biasanya dalam cerita pembulian akan ada satu atau dua orang yang membelaku di kelas, tapi sayangnya itu tidak terjadi kepadaku. Mereka menjahiliku seperti itu adalah kewajiban mereka.
Kuberanikan diri untuk mengangkat badanku dan berlari keluar kelas, aku tak mau terlihat lebih menyedihkan lagi bersama tikus-tikus ini.
Ketika semua orang berjalan masuk ke dalam kelas, aku berlari berlawanan. Entah aku ingin pergi kemana, yang pasti aku hanya ingin pergi dari sekolah ini.
Beruntung gerbang sekolah belum ditutup, aku dengan cepatnya berlari keluar dari gerbang itu. Tak ada siapapun yang menyadarinya, karena aku berlari di kerumunan orang yang berjalan masuk. Lagipula bel sebentar lagi akan berbunyi, waktu sudah mepet, tak ada yang menoleh ke arahku.
Aku berlari di sebuah trotoar jalan, itu adalah trotoar yang berbeda dengan rute ku sebelumnya.
Dalam pelarian itu, aku menangis senyap, memikirkan terus menerus apa yang teman-temanku perbuat. Tak masalah kalau aku disiram atau disakiti, tapi tikus adalah sesuatu yang lain, aku selalu takut dengan tikus sejak dulu. Entah bagaimana mereka bisa mengetahui rahasia itu.
Ketika aku berlari sambil terus mengupsa mata, tak sengaja aku menabrak seseorang. Itu membuat diriku terjatuh.
“Maaf, apa kau baik-baik saja?”
Itu adalah pria berumur 20 tahunan, dia menggunakan jas hitam layaknya seorang pekerja kantoran. Ia tidak mengenakan dasi, tapi di dadanya ada sebuah tanda pengenal yang menggantung.
Pria itu menunduk dan menawarkan tangannya kepadaku. Tanda pengenalnya tergantung di depanku, dan terlihat nama ‘Darren C.’ disana.
Baru kali itu, seumur hidupku aku merasa dihargai oleh orang lain.
Aku menerima tangannya dengan senang hati, tapi tetap tidak bisa menghentikan air mataku yang bercucuran.
“T-Terima kasih..”
Tak tahu apa yang harus kulakukan untuk saat ini, apakah berlari pergi begitu saja atau menghadapinya. Kalau boleh jujur, aku masih ingin berbicara dengan pria baik itu. Benar juga, dia adalah pria baik, aku yang bisa memahami hati orang lain seharusnya bisa menyadari itu sejak tadi.
Kami berdua saling terdiam. Ah, itu sangat canggung. Aku masih ingin bicara tapi sepertinya orang itu memiliki urusan lain. Terpaksa aku harus memikirkan cara untuk berbasa-basi.
“Itu.. bisakah.. bisakah anda menemani saya dulu?”
“EH?!!!”
Apakah ini aneh? Astaga, pertanyaanku terlalu blak-blakan, aku tidak seharusnya mengatakan itu kepada orang yang belum kukenal. Tapi tenang saja, dia adalah orang baik.
***
Kami duduk di sebuah bangku yang terletak di depan toko es krim, pria itu dengan senang hati membelikan es krim rasa vanilla kepadaku.
Kukira awalnya dia akan menolak, aku juga berniat untuk menarik kembali kata-kataku, tapi sepertinya dia tidak keberatan.
Pemandangan di depan kami adalah pemandangan yang biasanya terjadi di jam-jam orang berangkat kerja, para pejalan kaki ber-jas yang membawa koper, mobil-mobil yang berhenti di depan lampu merah, itu adalah pemandangan yang biasanya kuabaikan.
“Omong-omong.. kenapa kamu tidak bersekolah? Padahal memakai seragam..”
Seketika es krim terasa pahit ketika pertanyaan itu terlontar. Kalau boleh jujur sebenarnya ini agak menyinggung diriku. Tetapi aku tak boleh egois, dia juga tidak mengerti permasalahan pribadiku, dia hanya mencoba untuk peduli.
“Aku.. aku.. di.. jahili..”
Ucapku pelan. Suara pelanku tertutup oleh suara jilatan es krim dari lidahku.
“Hah? Dijahili?!!”
Dia terkejut. Aku menjawabnya dengan anggukan
“Kalau memang dijahili, kenapa tidak dilaporkan saja?”
“.. aku tidak bisa melakukannya..”
“Owh.. mereka mengancammu, ya?”
Lagi-lagi aku menjawabnya dengan anggukan.
Hanya dengan membahas hal ini saja rasanya sudah membuatku muak, aku tak mau banyak berkata-kata.
“Gadis cantik sepertimu.. hanya ada dua kemungkinan, pertama kau akan diperlakukan seperti ratu, kedua kau akan diperlakukan seperti budak. Ada dari mereka yang tergila-gila denganmu, ada juga yang membencimu.”
Pria itu mengatakan kata-kata motivasinya seolah dia selalu mengatakan itu setiap hari. Tidak seperti diriku yang selalu canggun, aku iri dengan sikapnya yang penuh dengan percaya diri. Hanya dari cara ia duduk menyilangkan kaki, dan tangannya yang menggantung di belakang sandaran bangku, aku merasa dia adalah orang yang cepat beradaptasi.
“Inginnya sih aku berkata ‘tidak usah dimasukkan ke dalam hati’, tapi melihat dirimu yang sampai pergi dari sekolah tampaknya itu akan percuma.”
“.. ap-apa.. apakah.. apakah yang aku lakukan ini salah?..”
“Hmm.. entahlah. Kalau aku adalah perempuan mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Tapi sepertinya kamu adalah orang yang lemah lembut, sikapmu itu terlalu terbuka dengan saran orang lain.. saking terbukanya kau sampai tidak tahu, mana yang merupakan saran, mana yang merupakan hinaan.”
Pria ini, padahal baru bertemu tak lebih dari sejam, tapi apa yang dikatakannya seolah mencerminkan apa yang selama ini menyangkut di hatiku. Aku selalu memutar otak untuk mencari kalimat-kalimat itu, dan kini aku menemukannya dengan mudah.
Kenapa pria ini mampu memahamiku dengan begitu cepat? Apakah jangan-jangan dia juga sama sepertiku?
“A-Anda cukup pandai menilai seseorang, ya!”
Aku dengan gugup menoleh ke arahnya dan mengatakan pujian itu dengan terbata-bata.
“Aku pernah masuk ke dalam ilmu jurusan sosial dulu.. yah, walaupun itu bukan jati diriku sih..”
“B-Begitu..”
“.. seumur hidup, aku selalu salah dalam membuat pilihan. Bahkan hal-hal besar yang mampu mengubah sejarah hidupku sekalipun.. aku selalu salah dalam memilihnya. Tetapi, kalau kau mampu mengubah kesalahan itu menjadi sebuah kebenaran, maka secara teknis kau tidak pernah salah!”
Astaga, pria ini terlalu bijak apabila dibandingkan denganku. Semua perkataan yang keluar dari mulutnya mencerminkan seberapa banyak pengalaman dalam hidupnya. Seolah kata-kata itu adalah jalan keluar dari setiap kepahitan hidupnya, karena itulah ia bisa mengatakannya dengan jelas.
Sedangkan diriku, jangankan mencari penyelesaian, aku bahkan tak mampu menghadapi masalahku sendiri. Diriku yang terlalu lemah ini sepertinya memang pantas untuk dihina.
Kami berdua saling membalas senyum. Tidak seperti seorang motivator yang mengatakan hal dengan serius, pria ini mengatakannya dengan wajah penuh senyuman dan gerak tubuh yang menyenangkan.
“Itu.. aku belum tahu nama bapak?”
Tanyaku. Aku baru sadar kalau kami belum saling memperkenalkan diri.
“Astaga, jangan memanggilku bapak, umurku baru 21 loh..”
“M-Maaf.”
“Aku Darren Corter, kau bebas memanggilku apapun.”
“.. kalau begitu kak Darren saja. N-Namaku Reftia..”
“Reftia? Unik juga namamu!”
“Aha.. banyak yang bilang begitu.”
Saat itu, aku tidak tahu hubungan seperti apa yang kami buat.
Rasanya cukup aneh kalau kami dibilang berteman, perbedaan umur dan jenis kelamin kami terlalu aneh untuk bisa disebut berteman. Kalau dibilang orang tua dan anak pun rasanya juga aneh, Darren masih terlalu muda untuk memiliki anak sepertiku. Kakak beradik? Ya, mungkin saja kakak beradik.
Tapi perasaan macam apa ini? Dadaku berdegup kencang ketika mengingat jarakku dengan Darren tak lebih dari dua meter. Ini bukan lagi perasaan senang, ini lebih aneh dari hanya sekedar kebahagiaan.
“Orang-orang seperti Reftia itu cenderung rapuh.. kalau mereka lemah maka mereka akan jatuh, tapi kalau mereka kuat maka mereka akan bangkit. Reftia sendiri ingin jatuh atau bangkit?”
“..a-aku.. entahlah.. aku tak ingin jatuh.. tapi aku tak ingin bangkit juga.”
“..pfftt.. ahaha.. jawaban macam apa itu!”
Pria itu tertawa kecil ketika aku selesai menjawab.
Tapi cara dia tertawa tidak sama dengan orang-orang yang menjahiliku, dia tertawa dengan natural. Justru tawanya bisa membuatku tersenyum juga, meskipun begitu aku kurang suka dengan cara dia yang tidak menghargai jawabanku.
“T-Tolong jangan tertawa!”
Aku membuang muka, menggembungkan pipi dan menjilati es krimku dengan lebih cepat. Tentu saja aku tidak marah, ini hanya kekesalan biasa yang sering dialami wanita.
“Maaf, maaf.. aku hanya sedikit terkejut saja. Tapi.. jawaban Reftia itu tidak salah, kamu tidak ingin jatuh tapi juga tidak ingin bangkit, kalau memang itu maumu.. maka kau harus berjuang untuk mencari makna dari perkataanmu.”
Sudah kuduga, Darren bukanlah pria jahat, ia terlihat tulus ketika menemaniku. Kalau saja aku mengenalnya lebih lama, mungkin kehidupanku tidak akan sesuram ini.
Aku tak pernah mendapatkan keberuntungan sebesar ini sebelumnya. Tak pernah aku menemukan pria sebaik Darren sebelumnya. Kalau menemukan orang sepetinya, seolah diriku ini menyesal sudah hidup 15 tahun dan baru bertemu dengannya sekarang.
Bodoh sekali, kalau mendengar perkataan darinya saja sudah membuatku bahagia, seharusnya aku bertemu dengannya dari dulu.