
Beberapa hari berlalu. Mungkin ini sudah dua minggu lebih. Aku selalu membolos dari sekolah, entahlah apa yang dipikirkan teman-temanku. Orang tuaku juga tak mengetahui ini, aku berpura-pura pergi dengan Diana dan keluar dari sekolah ketika Diana masuk ke kelasnya.
Kak Darren sudah seperti guru bagiku, dia rela membolos 3 jam setiap harinya hanya untuk berbicara denganku. Dia bilang tak masalah, apapun yang dia lakukan tak akan membuatnya dipecat karena direktur Darren terlalu membutuhkannya.
“Maaf ya, setiap hari harus membuatmu membolos.”
“Tak masalah.. aku juga terkadang harus keluar dari jam kerja, direktur itu sudah seperti iblis, dia selalu menyiksa kami.”
Aku hanya menanggapinya dengan tawa kecil.
Tapi setelah itu, Darren memberikanku sebuah bingkisan berwarna coklat. Itu terjadi tiba-tiba saja, aku bahkan sempat tidak menyadari kalau dia menyodorkan bingkisan itu.
Aku bertanya benda apa ini, tetapi dia tidak menjawabnya. Yang pasti kak Darren hanya tersenyum. Dia menyuruhku untuk membukanya, setidaknya perintah itu tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari matanya.
Dengan penuh rasa heran, aku membuka bingkisan coklat yang sederhana itu.
Ternyata yang ada di dalamnya adalah sebuah kalung dengan simbol hati bertuliskan ‘Reftia’. Aku ragu kalung itu adalah kalung biasa, masalahnya berat dan warnanya membuatku percaya kalau itu terbuat dari emas asli. Kenapa kak Darren memberikanku kalung emas?
Tanganku gemetar ketika kalung itu kubentangkan, tanpa kusadari aku terharu dan menangis.
“Reftia, di manapun dan kapanpun.. kau harus kuat menjalani hidup ini. Untuk menggapai Dewi, seseorang rela menjadi iblis. Kamu yang sekarang bukanlah iblis, melainkan malaikat. Yah.. pada akhirnya Reftia tetap saja Reftia.. satu dollar tetaplah satu dollar meskipun itu sudah terbuang sekalipun.”
Air mataku semakin deras, mencerna semua kata-kata yang dilontarkan kak Darren, aku benar-benar tidak percaya akan mendengar kalimat sebaik itu dari seorang manusia.
Tanpa pikir panjang, aku memeluknya dengan erat. Menangis dengan keras di dadanya,aku meluapkan semua bahagia dan terima kasihku kepada kak Darren.
Dengan tangan besarnya yang lembut, kak Darren mengusap kepalaku. Dia juga ikut memeluk tubuhku, dan itu terasa sangat nyaman. Walaupun aku dan kak Darren selalu bicara di bangku di depan toko es krim, yang berarti itu adalah tempat umum, nyatanya aku tidak masalah kalau harus berpelukan disini.
“Reftia.. aku hanya ingin kau lebih kuat.. ketika kau melihat kalung itu, ingatlah semua momen yang membuatmu bahagia. Karena.. mungkin itu adalah hadiah perpisahan bagi kita.”
“.. eh?”
“Maaf, ya.”
“.. tadi.. tadi kak Darren.. mengatakan apa?”
“Reftia, aku dipindahkan kerja ke luar kota. Tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Karena itu.. maaf, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita.”
Darahku serasa membeku ketika mendengar kalimat itu dari kak Darren.
Bisa-bisanya kak Darren mengatakan hal sekejam itu sedangkan dia masih bisa tersenyum. Aku bahkan sama sekali tidak mengharapkan kalimat itu darinya, ini adalah kejahatan. Kak Darren sangat jahat, dia sudah menyiksaku.
Dan juga, apa-apaan bingkisan ini? Kalau kak Darren memberikanku bingkisan ini, yang ada aku hanya akan bertambah rindu dan sayang kepadanya.
Perasaan bahagiaku seketika berubah menjadi kesedihan. Diriku yang tadinya merasa bingkisan ini pertanda dari kekalnya hubungan kami, ternyata dikhianati begitu saja.
“Kau harus berjanji untuk menjadi lebih kuat..”
***
Pertemuanku dengan kak Darren, walau sebenarnya sangat lama, aku merasa seperti itu hanya terjadi beberapa saat saja. Pertemuan 3 jam selama 2 minggu, bagiku terasa tidak lebih dari semenit. Kata-kata kakak selalu terpikirkan setiap kali aku termenung.
Tetapi, aku tidak bisa membantah kalau pertemuan itu membuat sekolahku kacau. Ketika berpisah dengan kak Darren, aku menghabiskan waktuku dengan menyewa hotel, ketika jam sekolah berakhir barulah aku pulang ke rumah. Dan karena itulah juga, aku tidak pulang ke rumah, ibuku hanya tahu aku pergi ke sekolah seperti biasanya.
Masalahnya ada disini, ketika kak Darren pergi, aku memberanikan diri untuk pergi ke sekolah. Tanggapan teman-temanku jelas sangat buruk.
Pagi itu, aku tidak berangkat bersama Diana. Kami bahkan tidak bertemu selama 2 minggu ini.
Aku berjalan di koridor lantai satu, setidaknya beberapa langkah lagi untuk sampai ke kelasku.
Semua orang meneriaku dengan kata-kata kasar, aku menunduk dan bersedih, menahan air mata yang terbendung. Meskipun begitu, aku tetap melanjutkan langkahku, tidak mau lagi aku meninggalkan masalah ini.
Dengan kaki bergemetar, aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang kelas. Bahkan ketika aku masuk, mata semua orang tertuju kepadaku.
‘Apa yang dia lakukan disini? Oh, dia masih hidup? Astaga, si bodoh Reftia sudah kembali!’ Kalimat-kalimat seperti itu entah kenapa sering sekali terdengar di telingaku. Tidak mudah bagiku untuk mengabaikannya. Yang pasti aku hanya bisa menunduk dan berjalan menuju mejaku.
Ketika aku berdiri di samping mejaku, kulihat mejaku sudah penuh dengan coretan dan sampah. Tinta, krayon, sampai cairan kental berwarna hijau yang aku tidak tahu apa itu. Tapi yang paling menyebalkan adalah ketika kursiku tidak ada. Ya, aku tidak bisa duduk. Kursiku tidak ada di tempat yang seharusnya.
“A-Anu.. ap-apa.. ada yang melihat.. kursiku?”
Dengan suara lemah yang sangat pelan, aku mencoba bertanya di sunyinya kelas. Ketika semua orang memperhatikanku, mereka menahan tawa mereka. Tak ada satupun yang berniat untuk menjawab pertanyaan itu, mereka hanya diam.
Sampai seorang perempuan bernama Felicia, ia adalah teman sekelasku, parasnya cantik dan dengan pita di kepalanya, itu membuatnya terlihat imut. Tapi sebenarnya dia adalah perempuan yang selalu menjahiliku, malahan sepertinya dialah yang selalu menghasut teman-temanku yang lain.
“Reftia.. kau terlalu sering tidak masuk sih.. jadi kami membuang kursimu. Padahal aku berniat untuk membuang mejamu juga, tapi yang lain bilang mereka ingin terus mencoret-coret itu.. ya sudah, terpaksa aku meninggalkan mejanya saja.”
“.. t-tapi.. bagaimana aku bisa duduk?”
“Pfft..!! Ahahaha!!! Mana aku peduli! Kau bisa duduk di lantai, lagipula..”
Seketika saja, dia menghentikan hinaan pedasnya.
Mulut Felicia tidak lagi terbuka, dia merapatkan kedua giginya dengan tatapan kesal. Matanya tertuju kepada sesuatu yang menggantung di leherku. Itu adalah kalung, yang diberikan oleh kak Darren.
Dengan kasar, Felicia menarik kalung itu dan membuatnya lepas dari leherku. Itu membuatku marah, mengingat itu adalah kenangan yang sangat berharga. Tapi, sudah kuduga aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan ketika kenanganku dirampas, aku hanya bisa diam dan bersedih.
“Kalung emas.. berbentuk hati.. bertuliskan ‘Reftia’.. siapa yang memberikan kalung ini?”
Dengan nada yang menyebalkan, Felicia membentangkan kalungku dan menanyakan pertanyaan itu.
“.. yang memberikannya.. adalah orang.. y-yang kucintai..”
Aku sangat malu ketika mengatakan itu. Aku sangat yakin teman-temanku mendengar apa yang aku katakan. Anehnya mereka tidak tertawa dan hanya menunggu reaksi dari Felicia.
Felicia semakin geram denganku, wajahnya yang cantik dengan senyuman kini berubah menjadi menakutkan dengan penuh kekesalan. Dia menamparku dengan sangat keras, menjambak rambutku, mendorongku ke lantai, dan menginjak-injak wajahku.
“Mana mungkin! Mana mungkin kau bisa mencintai seseorang! Kau hanya budak!”
Kaki Felicia terasa sangat berat, tak pernah sekalipun dalam hidupku ada orang yang menyakiti wajahku. Hidungku berdarah karena diinjak berulang kali.
Ketika wajahku sudah babak belur, Felicia dengan penuh kekesalan, menarik rambutku dan menghadapkan wajahku di depan wajahnya. Aku yang sudah tidak berdaya, diseret olehnya keluar kelas.
Beberapa kali aku memberontak, tapi kebencian Felicia kepadaku membuatnya sangat kuat. Aku hanya bisa menikmati tubuhku terseret di lantai dengan rambutku yang ditarik.
Felicia menarikku menuju toilet perempuan, anehnya selama perjalanan itu tak ada satupun yang menghentikannya. Guru-guru juga tidak punya alasan untuk berjalan di koridor sebelum jam pelajaran dimulai. Dengan kata lain, ini adalah waktu yang sangat sempurna untuk menjahiliku.
Di dalam toilet, Felicia melemparku ke dalam salah satu bilik. Dia mengunci pintu bilik itu, dan mulai membuka toilet duduk yang tersedia di dalam sini. Lagi-lagi ia menjambak rambutku dan menyelupkan kepalaku ke dalam toilet.
Beberapa kali, sampai aku kehabisan napas dan tak bisa berteriak. Meskipun begitu, Felicia tetap tidak puas. Dia tidak tertawa seperti biasanya, dia selalu mengucapkan kalimat-kalimat menyeramkan.
“Kau.. tak mungkin ada orang yang memberikanmu hadiah! Apalagi kalung emas! Kau pasti membelinya sendiri! Jangan karena orang tuamu kaya, kau berhak memamerkan itu di depanku!”
Dia mendorongku ke toilet, membuatku duduk di toilet itu.
Saat itu aku sudah seperti kehilangan nyawa. Wajah yang penuh luka, kehabisan napas, sampai rambutku yang seperti mau copot. Aku tenggelam dalam penyiksaan ini.
“Reftia.. ihh.. apa kau tahu seberapa besar aku membencimu?!! Kau.. kau ini.. selalu saja merebut semuanya dariku!!”
“..apa.. apa yang pernah kurebut darimu..?”
“Semuanya! Sejak kau datang kemari, semua orang memperhatikanmu! Aku yang cantik ini dilupakan seperti sampah.. bahkan.. bahkan orang yang kusukai, Erick.. dia juga jatuh hati kepadamu!!”
“.. aku tak pernah tahu itu! Mereka tidak pernah mendekatiku.. mereka hanya..”
“Ahahah!! Tentu saja mereka tidak pernah mendekatimu! Itu karena aku membuat kebohongan tentang dirimu.. kau yang tidak pernah menggunakan media sosial, tidak akan pernah tahu kebenarannya..”
“Apa.. yang kau bicarakan?”
Seumur hidup, tak pernah sedikitpun aku tahu kalau dunia ini sangat kejam. Betapa aku menjauhi dosa-dosa semacam itu, tak pernah ada yang mau mengerti.
Ketika aku dilahirkan, maka orang yang membenciku juga ikut lahir. Itu adalah hukum yang mutlak.
Tapi membohongiku dengan berkata kalau aku adalah pelacur, itu sangat keterlaluan. Apalagi kalau menyangkut masalah kak Darren. Kak Darren bukanlah laki-laki jahat. Aku sangat menyayanginya.
Tapi kenapa? Kenapa dunia ini sangat kejam?
Aku bangun, dan mencekik leher Felicia dengan sangat keras. Dengan kekuatan yang entah datang darimana, aku mencekik Felicia sambil menangis.
Dia tampak kesakitan, tapi Felicia segera bertindak cepat. Dia menendangku dengan keras, membuatku kembali terduduk di toilet duduk dengan perasaan sakit di perutku.
“Akhirnya.. akhirnya kau benar-benar menyakitiku.. dengan ini, akhirnya aku bisa melakukan hal yang lebih kejam.”
Felicia merogoh saku kemejanya yang tertutup oleh rompi yang ia pakai. Apa yang ia ambil dari sakunya sangat mengejutkan. Itu adalah sebuah sebuah pisau.
“F-Felicia.. apa.. apa yang kau lakukan?”
“Hihihi.. sampai jumpa di surga, Reftia!”
Felicia menusukkan pisau itu ke mataku.
Sudah, aku tak mau tahu lagi. Dunia ini sudah terlalu kejam bagiku.
Pada hari itu, sejarah hidupku berakhir. Akhirnya aku mencapai ‘titik’ dalam cerita mengenaskanku. Di toilet sekolah, dengan menggunakan pisau, seorang anak perempuan diduga tewas dibunuh. Itu adalah apa yang akan dikabarkan oleh media.
***
Aku yakin sekali kalau aku sudah mati.
Tapi entah kenapa, aku masih bisa merasakan tubuhku.
Awalnya memang dingin, ujung pisau yang menancap di kepalaku terasa dingin. Tapi lama-lama rasa dingin itu berubah menjadi hangat.
Perlahan aku membuka mataku yang sudah tak lagi terasa sakit.
“Akhirnya bangun juga..”
Di depanku, ada seorang wanita cantik dengan pakaian yang indah, duduk di sebuah kursi berlapiskan banyak permata. Aku ketika membuka mata, tengah menunduk di depannya.
Aku terbangun di sebuah tempat yang sangat aneh. Ada banyak bintang yang bertaburan di seluruh penjuru ruangan ini. Dimanapun aku memandang, pasti ada bintang disana. Seolah aku sedang duduk di jutaan bintang yang bertaburan.
Wanita itu berdiri, menghampiriku dengan senyuman yang sangat ramah. Ketika sampai di depanku, dia mengelus kepalaku dengan sangat lembut.
Pada saat itu, aku yang baru saja kehilangan harapan sampai ke titik terendah sangat bahagia karena mampu merasakan kehangatan kasih sayang dari seseorang. Ini mengingatkanku dengan kak Darren. Terlebih lagi wanita itu sangatlah cantik, melihatnya saja sudah membuatku bergumam kagum.
“Kau sudah berusaha ya.. Reftia..”
Wanita itu tersenyum, dia membungkukkan badannya dan memelukku. Di belakang kepalaku, aku merasakan tangan yang sangat lembut mengelus-ngelus rambut panjangku. Sang wanita, dia memiliki suara halus dan dia membisikkan kata-kata di telingaku.
“Sudah, tak ada lagi yang perlu kau takutkan. Wahai ciptaanku.”
Aku menangis ketika kata-kata itu terucap.
Entah karena alasan apa, aku sangat mempercayai perkataannya. Tak ada lagi yang perlu aku takutkan, aku percaya akan hal itu. Berarti semua permasalahan hidupku sudah selesai begitu? Apakah aku harus bersyukur kah? Kepada siapa rasa syukur itu harus kutunjukkan?
Dengan air mata yang bercucuran terus menerus, aku berusaha untuk menahannya. Kuberanikan diri untuk mulai membuka mulutku dan bertanya.
“S-Siapa kau?”
“Aku adalah Vedetta, sang Pencipta dari jagat raya ini. Dengan kata lain, sosok yang orang-orang sembah.”
“P-Pencipta? Dewi?”
“Aha.. ya, kau bisa memanggilku Dewi kalau kau mau..”
“Kenapa.. kenapa aku ada disini? Seingatku.. aku sudah mati.”
“Reftia.. ingat, aku tak pernah menciptakan kematian untuk para ciptaanku!”
Saat itu, tanpa kusadari, diriku ini sudah berteman atau mungkin bersahabat dengan Pencipta-ku sendiri. Hubungan yang sangat rumit.
Beberapa waktu berlalu sejak pertemuanku dengan sosok bernama Vedetta. Entah itu sudah berapa lama, yang pasti di tempat ini aku tetap merasa bosan. Apakah waktu berjalan atau tidak, aku tidak tahu.
Vedetta menjelaskan kepadaku tentang jagat raya ini, tentang semesta-semesta yang ada di dalamnya dan para Dewi Agung yang mengatur itu semua. Vedetta sendiri adalah Pencipta tertinggi, dia adalah makhluk yangt terlahir begitu saja di ruang hampa tanpa warna. Dia merasa bosan setelah berdiam diri selama bertahun-tahun dan mulai mengisi kebosanaan itu dengan membentuk makhluk.
Makhluk dengan bentuk yang sama dengannya, cantik, dan kuat, itu adalah Dewi Agung. Barulah saat itu Vedetta menciptakan bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan ciptaannya, untuk mengidentifikasinya Vedetta memberi nama ciptaannya ‘Rizhela’.
Rizhela adalah ciptaan sekaligus Dewi Agung pertama di jagat raya ini, Vedetta meminta Rizhela untuk memberikannya nama. Dan nama Vedetta sendiri adalah pemberian dari Rizhela.
Pada dasarnya hubungan Vedetta dan Rizhela tidak seperti sahabat, lebih seperti majikan dan pelayan. Karena Vedetta tidak tahu apa yang harus ia ciptakan lagi, ia menyuruh Rizhela untuk melakukannya. Dan saat itu, semesta dan warna hitam tercipta untuk pertama kali.
Vedetta merasa senang, ia mulai membentuk banyak sekali Dewi Agung dan menyuruh mereka untuk mengisi jagat raya yang kosong ini.
Dan miliaran tahun berlalu, ketika Vedetta membuat konsep yang dinamakan ‘waktu’, dirinya yang merupakan makhluk paling jenius karena kesalahannya menjadikan konsep itu tidak sempurna. Terlalu banyak celah dalam sebuah waktu.
“Aku membangunkanmu di waktu sebelum semesta-mu ada.”
Ucap Vedetta.
“Apa maksudnya?”
“Maksudnya. Ini adalah waktu sebelum dunia yang kau tinggali itu diciptakan. Kau bisa menyebutnya tahun nol atau semacamnya. Intinya, duniamu itu belum diciptakan untuk saat ini.”
“.. tidak masuk akal! Kenapa kau membangkitkanku di waktu ini?”
“Sederhana saja, aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah kau ingin duniamu itu ada? Atau kau ingin duniamu itu lenyap?”
Pertanyaan yang sangat sederhana, tapi jawaban untuk pertanyaan itu tidak bisa diperoleh sembarangan. Aku memiliki alasan untuk meninggalkan dunia busuk itu, tapi aku memiliki alasan juga untuk tetap menjaganya.
Benar, kak Darren ada di dunia itu. Sosok yang kucintai ada di dunia itu.
“Aku.. ingin dunia itu tetap ada.”
“Aha.. bagus.. kalau begitu buatlah!”
Dengan menyandang gelar Dewi Agung, dan persetujuan dari Vedetta, aku membangun sebuah semesta hasil ciptaanku sendiri.
Semesta itu memiliki benda yang disebut dengan planet, bintang, dan benda-benda yang pernah ada di duniaku sebelumnya. Terutama bumi, aku membangun sejarah bumi sejak jaman dinosaurus. Memberikan pengetahuan kepada bumi dan menciptakan manusia.
Darren Corter, aku akan menciptakannya di waktu yang sangat jauh dari sekarang.
***
Miliaran tahun berlalu, penantianku selama miliaran tahun bersama Vedetta akhirnya berakhir. Sosok bernama Darren Corter yang sudah kutakdirkan akhirnya lahir ke dunia.
Dengan begini, aku sudah memenuhi keinginanku sebagai seorang Reftia. Aku yang menginginkan sosok Darren Corter entah bagaimanapun caranya. Miliaran tahun penantianku membuatku semakin rindu dengannya.
Dan pada malam itu. Aku untuk pertama kalinya turun ke bumi, untuk membuat takdir baru bagi Darren Corter dewasa.
Dengan menginjakkan kakiku di bumi, aku mengingat kejadian buruk yang menimpaku. Aku mengetes Darren Corter dengan menyebrangi jalanan yang berbahaya, dan sesuai dugaanku dia ternyata menolongku.
Syukurlah, aku bisa bertemu kembali dengan kak Darren.