
Sebuah tempat yang hanya berisikan satu ruangan, dimana di sana ada sepasang bangku nyaman yang saling berhadapan. Pinggiran ruangan itu berwarna hitam, tak ada apa-apa disana. Hanya ada cahaya putih yang keluar dari tempat bangku berada.
Itu adalah semesta yang kuciptakan dari kekuatanku, bertujuan untuk berbincang banyak dengan diriku sendiri di masa lalu, atau sebut saja Darren.
Semesta ini hanya berisikan satu ruangan, dengan hanya dua sofa, dan tak ada apa-apa lagi selain itu.
Rayen duduk di sebelahku, bersama denganku yang mengucapkan banyak hal kepada Darren. Selayaknya diriku di masa lalu, dia sering mengangkat kakinya ketika sedang duduk. Kebiasaan itu, bahkan masih kubawa hingga sekarang.
Lucu ketika melihat cara duduk kami sama.
“Begitu.. aku tak pernah terpikirkan sampai kesitu.”
“Kau tidak terkejut?”
“.. um.. terkejut pun percuma. Aku tak akan banyak tanya kalau kau adalah aku. Tapi kenapa..”
Darren memandangi tubuhku dari bawah hingga ke atas. Bukannya tatapan nafsu yang ia berikan justru tatapan jijik.
“Kenapa aku menjadi perempuan? Apa aku bosan menjadi laki-laki?”
Darren bertanya dengan nada yang aneh. Nada yang terdengar seperti ia mengutuk dirinya sendiri.
“Yah, ada banyak yang terjadi. Tapi, inilah aku. Satu dari banyaknya Pencipta.”
Ada yang membedakan antara aku dan Darren. Itu adalah bagaimana kami bersikap.
Aku yang sekarang adalah sosok Dewi yang bisa menciptakan semesta sesuka hatiku, dan tentu saja aku memegang keagungan yang lebih dari makhluk manapun di jagat raya. Tetapi Darren adalah pekerja kantoran, ‘Apapun, yang penting aku hidup’ mungkin begitulah yang ada di kepalanya.
Ia tak mau ambil pusing. Persetan dengan Dewi, asal aku bisa menghirup oksigen dan bukannya polusi, maka aku tak tertarik dengan masalah Pencipta. Pikir Darren mungkin begitu, sekedar tambahan.
“Omong-omong, tadi kau meminta maaf kepadaku. Kenapa?”
Darren mengajukan pertanyaan yang tampaknya sudah ia tahan sejak awal aku menjelaskan.
Harus darimana aku bercerita?
Darren tampak tak terkejut bahkan setelah aku mengatakan bahwa diriku adalah seorang Dewi. Sebenarnya Darren percaya, tapi anehnya ia sama sekali tak terkejut. Memangnya dulu aku sebodoh itu? Atau memang Darren sudah tahu?
“Ini hanya masalah takdir. Dulu ketika aku berada di posisimu, yang muncul di ujung jalan bukanlah aku, melainkan Dewi Agung lain yang pernah kuselamatkan di garis waktu yang lain.”
“.. apa?”
“Ya, ada seorang Dewi Agung yang muncul dan mengerjai kita. Dia menyebrang jalan ketika lampu masih menyala hijau. Kebetulan ada mobil yang melintas, dan aku mencoba mendorongnya. Sayangnya, kami tertabrak dan..”
Aku berhenti, tak bicara lagi sedikitpun.
Tunggu sebentar, apa-apaan ini?
Aku mencoba berpikir keras untuk memikirkannya. Masalah waktu, masalah keberadaan, tapi kenapa aku yang Dewi Agung tak mampu menemukan jawabannya. Wajahku berkerut mencari jawaban dari pertanyaan yang kuajukan kepada diriku sendiri.
Kalau Darren yang sekarang tidak mati, kenapa aku yang hidup setelah kematian tetap ada?
Bukankah ini aneh, sedang aku baru ‘memulai’ hidup ketika Darren mati. Kalau Darren tak mati berarti aku tak pernah menjadi Dewi Agung. Dipikirkan seperti apapun itu adalah paradoks.
Kesampingkan masalah Dewi Agung yang tak bisa mati dengan cara apapun. Tapi lenyap oleh waktu adalah sesuatu yang berbeda. Terlebih lagi di semesta ini konsep waktu tetap dipakai. Kenapa? Kenapa takdirku tidak berubah?
“Ada apa? Wajahmu terlihat seperti bosku yang sedang menghitung tagihannya.”
Tanya Darren.
Ketika semua orang menungguku berpikir, sesuatu muncul di tengah-tengah ruangan.
Itu adalah sebuah titik cahaya yang indah, tak menyilaukan, terbang di antara kepalaku dan Darren. Kemudian cahaya itu mengatakan sesuatu dengan suara yang kukenal, suara Reftia,
“Bukankah sudah kubilang? Konsep waktu milik Vedetta tidaklah sempurna. Itulah yang terjadi kalau kau..”
Titik cahaya itu berubah bentuk, berubah menjadi sosok Reftia yang utuh dengan segala keindahan dan keagungannya. Dewi Kecerdasan berdiri di antara kami sekarang, awalnya ia memandangku. Tapi ketika ia memutar kepalanya dan melihat Darren, Reftia membeku seketika.
Wajahnya berubah menjadi merah, dan badannya gemetar,
“K-Kak Darren?”
Ucap Reftia dengan nada yang tak pernah kudengar sebelumnya. Nada pemalu yang terdengar sangat imut.
Wajah Darren berubah semakin aneh ketika mengetahui ada sosok lain yang muncul. Tak sempat pertanyaannya terjawab, pertanyaan lain sudah tercipta di wajahnya.
***
“A-Aku Reftia.. D-D-Dewi Agung.. Kebijaksanaan dan Kecerdasan.. s-salam kenal.. kak..”
Reftia duduk di sebelahku.
Aku tak tahu apa yang terjadi pada Reftia, tapi ia terlihat sangat aneh. Wajahnya berubah menjadi merah pucat, badannya gemetar dan ia bahkan tak berani memandang Darren.
Anehnya Reftia juga menjulurkan tangan kepada Darren, menunggu tangannya dijabat dan dia memperkenalkan dirinya.
Padahal dulu yang dia lakukan adalah menginjak wajahku. Ini tidak adil.
Darren menjabat tangan Reftia, dan ketika itu aku bisa melihat Reftia tersenyum konyol walaupun sedang menunduk. Dia pasti sangat senang karena berhasil menyentuh diriku di masa lalu.
Aku berbisik kepada Reftia,
“Kamu kenapa?”
“.. aku gugup. Selama ini aku hanya melihatmu secara diam-diam, tak kusangka aku bertemu dengannya disini.”
Aku tersenyum mendengar alasan itu.
“Dan, kau belum menjawab pertanyaanku, Dewi Darren?”
“Oh, yah. Dewi Agung ini, Reftia, adalah orang yang kuselamatkan dulu. Dia memberikanku satu permintaan, dan aku meminta untuk menjadi Dewi.”
Dengan bangga aku mengatakanya.
“Ahaha, memang terdengar seperti aku sekali.”
Tapi Darren justru tertawa. Dan dia menambahkan,
“Lalu kenapa kau menangis?”
“.. aku.. merasa tidak adil karena berubah menjadi Dewi. Dengan segala kekuatan ini. Sedangkan kau, aku justru menyelamatkanmu.”
Aku menundukkan kepalaku.
“Hah? Kenapa harus minta maaf?”
“Eh?”
“Lagipula aku tak bercita-cita menjadi Tuhan. Bahkan ketika kamu meminta menjadi Dewi dulu, itu pasti hanya bercanda kan? Tenang saja, aku tak menginginkan kekuatan.”
Darren mengatakannya tanpa ragu. Ia jujur ketika ia mengatakan bahwa ia tak menyesal bahwa hanya aku yang mendapatkan kekuatan Dewi. Padahal kami adalah sosok yang sama, tapi perbedaan garis waktu entah bagaimana mana bisa membedakan pola pikir kami.
Kemudian, Refita mengucapkan,
“Tapi.. kamu salah Darren.”
“Ya?”
“Ya?”
Ada dua Darren di ruangan ini. Kami berdua menghadap Reftia ketika ia mengatakan Darren. Dan karena Darren di masa lalu melihat ke arahnya, Reftia menjadi gugup lagi,
“Y-Yang kumaksud adalah Dewi Darren.”
Reftia melambaikan tangannya sambil menahan malu.
“Begini, masalah waktu adalah sesuatu yang tak pernah diselesaikan dari pertama kali Vedetta dilahirkan. Pencipta dari para Pencipta, mengatakan bahwa ia tak mampu menyempurnakan konsep itu. Dan konsep waktu yang sekarang sudah cukup untuk kebutuhan suatu makhluk, tapi tidak untuk seorang Dewi.”
“Apa maksudmu?”
“Dewi Agung adalah keberadaan dengan kasta tertinggi, yang menguasai segala pengetahuan dari seluruh semesta. Yang mampu mengetahui kalau waktu itu tidak sempurna adalah para Dewi, dengan kata lain kita terkena imbas dari ketidaksempurnaan itu.”
“.. itu berarti..”
Mendengar penjelasan dari Reftia, pertanyaanku sudah terjawab.
Berarti sesuai dugaaku, kalau jawabannya tidak seperti itu mustahil aku bisa berbicara dengan diriku sendiri di masa lalu. Ternyata masalahnya ada pada konsep waktu itu sendiri. Aku tak begitu tertarik dengan waktu, dalam game itu mungkin seperti starter pack yang disediakan Yang Mulia Vedetta.
Tapi, aku masih penasaran. Apa benar Yang Mulia Vedetta tak mampu menyempurnakannya?
“Dengar? Itu berarti takdirmu adalah milikmu sendiri. Kau tak perlu repot-repot meminta maaf.”
Darren mengatakannya dengan senyuman yang tulus. Kemudian dia berdiri dari sofa yang ia duduki, dan hampir saja mengucapkan kalimat pamit. Tapi sebelum itu, Darren mengucapkan pertanyaan terakhirnya.
“Omong-omong, pria ini siapa?”
Tanya Darren, pertanyaannya ditunjukkan kepada kekasihku, Colt Rayen.
“Perkenalkan, aku kekasihmu, Colt Rayen.”
Rayen dengan polosnya menjulurkan tangannya pada Darren.
“B-Begitu ya.. kekasihku.. eehh.."
Benar juga, Rayen adalah kekasihku. Tapi seharusnya ia tak mengatakannya kepada aku yang masih menjadi laki-laki. Rayen terlalu polos untuk hal seperti ini, aku akan menjilatnya nanti.
“Ya sudah. Aku tak memiliki pertanyaan lain. Bisakah kau mengembalikanku Dewi? Aku memiliki sesuatu untuk diambil di kantor.”
“Baiklah.”
Aku menyiapkan sihir perpindahan kepada Darren.
Karena ruangan yang kami tempati saat ini adalah semesta. Jadi aku menggunakan sihir yang memungkinkan Darren untuk kembali ke tempat asalnya. Ruangan ini jauh lebih rumit daripada lapisan langit, aku mungkin berlebihan ketika menciptakan semesta baru hanya untuk mengobrol.
Ketika sihirnya siap dan Darren hampir menghilang, Reftia mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti.
“K-Kak Darren. S-Suatu saat nanti, a-aku pasti akan menemuimu.”
“Ya, aku juga ingin bertemu dengamu lagi,.. nona cantik.”
Dan Darren menghilang, meninggalkan Reftia dengan kata pujian itu.
Reftia..
Dia sedang mabuk dengan pujian barusan.
***
Kami kembali ke kamar dimana aku dan Rayen bermalam. Tempatnya adalah di kastil milik Corola, di semesta milik Corola.
Kalau secara garis waktu, seharusnya kami hanya pergi sekejap saja. Tak ada yang berubah dengan takdir walaupun aku berbicara dengan Darren di masa lalu. Semuanya normal.
Aku melompat ke kasur, berguling-guling manja, menikmati nyamannya kasur yang sehalus sutra ini. Corola begitu baik, tak pernah aku merasakan kasur senyaman ini sebelumnya.
Rayen memperhatikan aku yang berguling-guling, ia duduk di tepi kasur sambil menunggu aku berhenti.
“Kamu dan kamu di masa lalu tidak jauh berbeda, ya.”
“Apa itu pujian? Padahal aku yang sekarang terlihat seperti anak-anak.”
Aku merangkak menuju Rayen, kemudian memeluk perutnya dengan erat.
Rayen tak bisa berbuat apa-apa dengan tingkahku, dia membalasnya dengan mengusap kepalaku.
“Kalian mirip. Sama-sama egois.. sama-sama tak mau berpikir banyak.. dan juga.. sama-sama tak sopan.”
“Jahat..”
Rayen mengatakannya dengan nada yang begitu lembut, tetapi kalimatnya begitu pedas seolah aku sedang dihina terang-terangan.
Aku mengangkat kepalaku, melihat sepasang mata Rayen yang terdapat bayanganku di sana. Kami saling bertatap, aku sama sekali tak bisa melepaskan pandanganku sedikitpun. Lama-kelamaan, nafsuku mulai muncul.
Tanpa kusadari wajahku sudah mendekat, dan bibirku sudah mencium Rayen.
“.. kamu jadi lebih agresif belakangan ini.”
Ucap Rayen.
Aku jadi lebih agresif?
Semoga saja aku bisa melakukan yang lebih. Selama ini aku selalu menahannya. Menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan semuanya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Selama ini aku menunggu.
Dan apakah ini saat yang tepat?
Aku benar-benar ingin melakukannya.
“.. Rayen.. apa.. apa kamu mau.. melakukannya.. denganku?”
Serius, aku mengatakan itu tanpa keberanian sedikitpun. Aku mendekap wajahku di dada Rayen ketika mengatakan itu.
Badanku panas dingin, menunggu jawaban dari Rayen. Wajahku pasti berantakan sekarang.
Aku berharap Rayen tak mendengar apa yang kuucapkan barusan, tapi di sisi lain aku juga ingin Rayen mendengarnya. Ya ampun, ini rumit untuk dijelaskan. Perasanku bercampur aduk.
“Apa tak masalah, kalau denganku?”
Aku sedikit kecewa karena Rayen menjawabnya dengan rasa tak percaya diri.
“Tidak masalah! Justru aku tidak bisa kalau bukan dengan kamu! K-Kumohon.. i-ini adalah permintaan egois. Tapi aku tak mampu menahannya lebih lama.”
Rayen berpikir sejenak.
“.. baiklah. Kalau kamu memang menginginkannya.”
Di saat itu aku merasa lembaran hidupku di perbarui. Jawaban dari Rayen membuat hatiku bergejolak tak karuan. Sedikit rasa takut, senang, dan berbagai rasa yang tak aku mengerti sama sekali. Semuanya menari di otakku, mengusai tubuhku sedikit demi sedikit.
Ketika kami berbaring bersama, dan aku mulai melepas pakaianku. Yang ada di pikiranku hanya Rayen seorang, tak ada yang bisa mengganggu kami lagi.
Aku akan memberikan semuanya kepada Rayen. Asalkan Rayen bahagia maka aku siap melakukan apapun. Aku tak peduli dengan bayarannya, Rayen adalah alasanku hidup.
Kami saling bersentuhan kulit, aku merasakan rasa hangat yang melelehkan setiap nafsu di tubuhku. Semakin aku bergerak, semakin badanku panas juga. Setiap sentuhan, aku hanya bisa menyerah terhadap kenikmatan.
Dengan aku berada di atas tubuh Rayen, aku mulai menggerakan tubuhku.
Rasanya sangat aneh, aku sedikit merasa pusing ketika sesuatu yang hangat masuk ke dalam tubuhku. Aku baru tahu ternyata begini rasanya. Menyakitkan memang, aku tak bisa menahan teriakan.
Tapi mau sesakit apapun, ini terlalu nikmat. Aku tak bisa berhenti.
“Corter, kamu baik-baik saja?”
“.. hah.. t-tak apa.. ayo kita lakukan lebih lama.”
Entah berapa lama waktu sudah berlalu. Ini terasa seperti selamanya, dan aku berharap ini benar-benar terjadi selamanya. Rasa nikmat ini, aku tak mau rasa ini menghilang. Aku ingin terus menerus merasakannya.
Hingga sesuatu mulai berdenyut. Rayen berbeda dengan sebelumnya, sesuatu mulai meleleh di dalam badanku.
“C-Corter aku sudah.. aku akan keluar..”
“.. ya! Keluarkan! Keluarkan saja!”
Aku menggerakkan badanku lebih cepat, bersamaan dengan rasa sakit yang semakin menjadi ketika sesuatu itu menggesek dinding milikku.
Rayen pun mengeluarkannya.
Sesuatu yang hangat tiba-tiba mendorong masuk ke dalam tubuhku secara paksa, ada begitu banyak, sampai itu meleleh keluar dan membasahi tubuh kami.
Ketika sesuatu itu membakar diriku dari dalam, aku sudah tidak kuat lagi. Badanku lemas, aku terjatuh berbaring di samping Rayen. Kami melanjutkannya dengan ciuman.
Sekarang aku sudah memberikan semuanya, tubuh dan kehormatanku kini milik Rayen. Begitu juga dengannya, dia adalah milikku. Terutama sesuatu yang memuaskan, itu hanya milikku seorang, tak ada yang boleh memilikinya.
Sial, ini belum lima menit dan aku sudah rindu dengan rasa itu.
“Rayen.. mau melakukannya lagi?”