
“Kau sendiri.. siapa namamu?”
“.. Reine.. Reine Deveralle.”
Itu adalah dialog terakhir yang terjadi antara aku dan gadis bernama Reine. Dia yang menjebakku untuk masuk ke dalam ruangan es-nya, mau tidak mau harus mundur dengan rasa malu. Aku memiliki perasaan buruk terhadap wanita itu, semoga saja ini tidak akan berakhir buruk.
Ketika ruangan es menghilang, dirinya juga ikut menghilang, tetapi syukurlah karena dunia kembali normal. Waktu kembali berjalan dan suhu juga mulai menghangat.
“Mulai.”
Ucap Rayen, melanjutkan perkataannya sebelum waktu berhenti. Sejak waktu dibekukan, dirinya tetap mengangkat tangan dan menahan kalimatnya, tidak heran kalau waktu kembali berjalan, dan Rayen tidak sadar apa yang terjadi.
Tapi, dengan hilangnya lawanku membuat seisi aula menjadi kebingungan.
Mungkin kalau dipandangan mereka, lawanku seketika menghilang walaupun kata ‘mulai’ belum selesai diucapkan, aku juga tiba-tiba berpindah posisi. Dan, ada darah juga di lantai.
***
“.. ah.. ah.. Rayen.. pelan-pelan saja..”
Tubuhku terasa sangat hangat ketika bersentuhan dengan tangan Rayen. Kami melakukan hal yang menyenangkan di kasur. Di malam hari yang dingin, aku dan Rayen saling berbagi rasa kenikmatan.
Dengan tangannya, Rayen menjelajahi sekujur tubuhku dengan nakalnya. Suara-suara imut yang tertahankan juga keluar dari mulutku.
“Rayen.. kalau kau menyentuhku seperti itu.. ah.. ah.. nanti keluar.. nanti.. nanti aku hamil!!”
“Jangan berkata yang aneh-aneh!! Aku hanya sedang memijitmu! Memijit saja!”
Ya, sayang sekali karena Rayen hanya sedang memijitku.
Lupakan saja, aku hanya bersikap sedikit feminim kepadanya, tetapi Rayen yang bodoh sepertinya tidak memahami itu. Padahal aku sengaja merayunya agar dia bergariah, kalau saja dia menyerangku saat ini pun tidak masalah.
Tubuhku benar-benar kelelahan, ketika harus meladeni semua anggota ahli sihir yang bodoh. Sayangnya tak ada dari mereka yang berhasil melukaiku, tapi berkat mereka aku justru mendapatkan banyak sihir yang bagus. Kalau aku yang menggunakannya, sihir seperti apapun bisa menjadi sihir yang mematikan.
Tak ada orang yang mengenakan baju ketika dia sedang dipijat. Karena itulah, aku melepaskan semua pakaianku dan tidur tengkurap. Aku sengaja menjebak Rayen dengan berkata ingin mengatakan sesuatu, dan dia mengikutiku ke kamar begitu saja.
“Tapi.. apa tak masalah kalau aku menyentuhmu? Kamu itu Dewi, kan?”
“.. tak masalah, kok. Asalkan itu Rayen, kamu bebas menyentuhku dimanapun.”
“B-Bercandamu sudah kelewatan..”
Wajah Rayen memerah ketika kugoda seperti itu.
Sungguh, aku ingin momen ini berlansung lebih lama. Ternyata datang ke Megaira adalah pilihan yang sangat tepat. Kalau di Tisifon, tidak mungkin aku memiliki kesempatan bermesraan seperti ini.
“Hei, Rayen.. tipe wanitamu itu yang seperti apa?”
Tanyaku dengan penuh percaya diri. Tanpa bertanya pun aku sudah mengetahui kalau Rayen jatuh cinta kepadaku.
“Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya.”
“Ayolah, hal-hal kecil saja. Misalnya berambut biru, memiliki kekuatan besar, cantik, pintar, atau semacamnya.. ayo katakan!”
“Hmm.. mungkin aku suka wanita yang bersikap dewasa.”
Sedikit meleset dari dugaanku, tapi tenang saja, bersikap dewasa adalah salah satu yang mencerminkan diriku. Aku yakin Rayen pasti hanya tidak ingin jujur.
“Contohnya siapa?”
Tanyaku lagi dengan percaya diri yang lebih besar.
“Hmm.. Ratu Megaira, mungkin?”
“Uhukk!”
Ah, jantungku berhenti berdetak sepertinya. Tubuhku serasa lemas dan nyawaku seperti melayang. Sayang sekali karena cerita petualanganku akan berakhir disini. Saat ini Dewi Corter sedang patah hati.
Kenyataan pahit macam apa ini? Aku tak pernah menduga kalau jawaban seperti itu akan keluar dari mulut Rayen. Pikirkan saja, dia mengatakan Ratu Megaira! Ratu Megaira, loh! Mana ada orang yang suka dengan Ratu konyol seperti dirinya.
Aku dengan penuh kekesalan, bangun dan segera memukul kepalanya.
“Bodoh! Rayen bodoh! Kenapa kamu selalu tidak peka?!”
“E-Eh.. a-apa?”
“Mana ada yang suka dengan Ratu tua itu?! Humm..”
“Y-Yah, itu kan hanya contoh kecilnya saja.. aku tidak mengerti kenapa kamu marah. Dan juga, meskipun kamu mengatakan begitu, nyatanya Ratu Megaira baru berumur 22 tahun loh.. kalau tidak salah, Ratu Tisifon 20 tahun, dan Ratu Alekto 24 tahun.. dan mereka masih perawan semuanya!”
“AKU TIDAK PEDULI!”
Rayen hanya bisa membatu ketika aku berteriak sangat keras.
Yah, sebenarnya alasan dia terdiam bukan karena aku berteriak, melainkan karena memperhatikan dua titik yang berada di dadaku.
Aku baru sadar bahwa diriku tidak mengenakan baju ketika wajah Rayen menjadi sangat merah. Astaga, meskipun aku menyukai Rayen sekalipun, dilihat telanjang olehnya seperti ini rasanya sangat malu seperti ingin mati.
Aku menamparnya dengan sangat keras sambil berteriak, sosok Rayen rubuh di kasur.
Menghela napas panjang, aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakukan pujaan hatiku ini.
Benar juga, ketika dia berbaring aku baru saja mengingat sesuatu yang penting. Ketika Rayen masih tengkurap di kasur sambil mengusap-usap wajahnya yang merah, aku mulai mengaktifkan skill ‘Create Up’.
Create Up adalah sihir yang memungkinkan seseorang untuk menaikkan status dan kekuatannya. Umumnya skill ini digunakan kepada budak monster agar status mereka bisa naik. Tapi aku nekat melakukannya kepada Rayen, semoga saja kekuatannya akan meningkat juga.
***
Namaku Reine Deveralle, mata-mata Kardagon yang ditugaskan untuk mencari informasi terkait sosok agung. Sederhana saja, aku melakukan ini bukan demi diriku sendiri, melainkan demi adikku.
Pertarunganku dengan wanita itu masih kuingat dengan jelas. Sosoknya yang anggun namun kuat, apakah dia adalah sosok agung atau bukan? Aku sangat ragu dengan itu.
Yang membuatku semakin ragu adalah karena dirinya terlalu baik. Dia mengatakan kalau dia bukan sosok agung, tentu saja aku tahu kalau itu bohong. Tapi apa yang harus kulakukan? Kalau aku melaporkan bahwa wanita itulah sosok agung, Kardagon pasti akan menangkapnya.
Wanita itu akan dijadikan tumbal untuk para iblis, agar Kardagon semakin kuat.
Aku juga bisa memberikan laporan palsu bahwa sosok agung tidak ada di istana, sepertinya mereka tidak akan percaya. Berarti satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan Vedetta dan wanita berambut biru, adalah dengan cara melaporkan bahwa sosok agung adalah lelaki berambut hitam.
“Ah.. aku bingung sekali.”
Aku menggosok-gosok kepalaku secara kasar, rambut panjangku menjadi berantakan karena itu.
“Sebenarnya.. apa sih yang kubingungkan?”
Apa yang kubingungkan? Benar juga, aku sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki itu. Jangankan peduli, aku bahkan tidak menghargainya. Kalaupun aku menulis namanya di surat laporan, itu tidak masalah untuk kehidupan pribadiku. Tapi aku merasa kalau melakukannya akan menjadi neraka bagi diriku sendiri. Seperti ada sesuatu yang menyeramkan akan membunuhku.
Dengan tangan gemetar, aku menulis laporan di secarik kertas putih.
‘Aku sudah membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri, aku bersumpah atas nama Dewa Azazel. Sosok agung itu memang nyata. Namanya adalah Darren Corter, dia adalah laki-laki berambut hitam pendek, badannya tidak terlalu bagus, tetapi aura yang dikeluarkannya jelas berbeda dengan yang lain.’
Laporan singkat, tapi aku harus mengumpulan tenaga untuk menulisnya.
Surat ini kemudian kukirimkan menuju Kardagon dengan menggunakan sihir khusus. Itu adalah sihir yang mampu memindahkan benda dalam sekejap, aku tak tahu nama sihirnya. Sekte sihir bilang sihir itu adalah sihir sekali pakai yang akan berfungsi ketika laporanku selesai.
Apa aku merasa bersalah? Tidak. Aku melakukan ini demi Vedetta, tenang saja.
Malam itu, setelah menulis surat, aku berkeliling istana untuk berpatroli. Syukurlah karena wanita berambut biru sepertinya tidak berpikiran buruk terhadapku, sampai sekarang identitasku masih belum diketahui.
Istana ketika malam hari sangat gelap, kalau aku menguasai sihir cahaya mungkin akan membantu, sayangnya yang menjadi peneranganku hanyalah lentera di tanganku saja, dan beberapa lampu tempel dan gantun di sepanjang lorong.
“Sial.. semakin lama semakin gelap..”
Aku mengeluh kesal kepada kegelapan yang membutakan pandanganku. Mungkin karena mengantuk juga, pandanganku sedikit kabur dan hitam.
“Maaf.. kau baik-baik saja?”
Sosok yang kutabrak menjulurkan tangannya dan menawarkan bantuan.
Tak kusangka, dia adalah pria yang menjadi pengadil tadi siang. Pria yang kulaporkan sebagai ‘Darren Corter’. Apa yang dia lakukan disini?
“Y-Ya.. aku baik-baik saja..”
Dia mengeluarkan aura yang luar biasa kuat. Kenapa ini? Padahal tadi siang aku
yakin kalau aura itu keluar dari tubuh si wanita berambut biru. Apa
jangan-jangan benar kalau dia adalah sang sosok agung?
Aku berdiri dan mengusap bokongku perlahan. Si pria dengan tenang menunggu aku berdiri.
“Omong-omong.. apa yang kau lakukan disini? Kau ahli sihir kerajaan, kan?”
“Aku.. aku hanya sedang berpatroli.”
“.. begitu. Perlu aku temani kah?”
“T-T-Tidak usah, terima kasih. Aku bisa..”
“Hei, kakimu! Ada apa dengan kakimu?”
Dia mengatakan itu sambil melihat cemas ke arah kakiku. Sebenarnya ketika bertarung melawan wanita berambut biru, dia sengaja tidak menyembuhkan lukaku. Tapi aku berhasil mengakalinya dengan membekukannya dengan es. Sebagai penutup, aku membalutnya dengan banyak perban. Memang tidak lagi terasa sakit, tapi aku sedikit susah untuk berjalan.
“Hei, mau kupanggilkan seseorang? Aku yakin dia pasti bisa menyembuhkanmu.”
Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung melangkah pergi. Tapi aku segera menahannya.
“Tidak perlu, tidak perlu.. aku baik-baik saja, sungguh.”
“.. begitu.. aku ingin mempercayaimu.. tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya!”
Pria itu tersenyum. Tersenyum sangat hangat kepadaku.
Inilah senyum terhangat yang pernah kutemui seumur hidupku. Lebih hangat daripada senyuman wanita berambut biru, atau senyuman pria dengan jas. Pria ini tersenyum seolah memelukku dengan erat.
Astaga, tubuhku gemetar ketika dia mengucapkan kata-kata manis itu. Bagaimana ini? Apa yang terjadi dengaku?
Aku tidak bisa membatalkan laporan itu, suratnya juga sudah kukirim. Maaf saja, tapi hidupnya akan berakhir.
***
Pagi itu, saatnya dimulai tragedi. Tak sampai 24 jam sejak aku memberikan laporanku kepada Kardagon, tepat keesokan harinya ketika matahari belum terbit sedetik pun, Kardagon sudah mengirim orang untuk menangkap sosok Darren Corter.
Darren Corter yang kumakud adalah pria berambut hitam itu, aku tak pernah tahu namanya yang sebenarnya.
“Dia masih tertidur di dalam kamarnya. Di lantai dua, jendela yang itu!”
Aku menunjuk ke sebuah jendela kamar yang ada di lantai dua. Malam itu ketika kami berpisah, aku baru sadar kalau dia masuk ke kamar sebelah dari tempat ia keluar. Ketika aku mengawasinya, ia tak keluar lagi dari situ, mungkin itu adalah kamar dia bermalam.
Aku melakukan pertemuan rahasia dengan orang suruhan Kardagon. Pagi-pagi sekali aku bangun dan menemui mereka di belakang istana. Ada sebuah rerumputan tebal yang dibiarkan tumbuh, setidaknya itu cukup untuk menutupi tubuh seseorang yang bersembunyi.
Ada dua orang yang disuruh untuk menculik Darren Corter, seperti biasa orang penting Kardagon mereka menggunakan jubah yang menutupi wajahnya.
Mereka mengangguk ketika selesai kuberi perintah.
“Berhati-hatilah! Mungkin dia tampak lemah.. tapi aku sudah..”
Tidak menghiraukan peringatan dariku. Dua orang itu segera menghilang secepat kilat. Udara yang tertinggal dari gerakan mereka terhemus ke arahku. Benar-benar menghilang, aku bahkan tak mendeteksi keberadaan mereka.
Aku melihat ke kamar tempat Darren Corter tidur. Di jendela, aku bisa melihat seseorang melambaikan tangan. Itu tandanya misinya sudah berhasil. Orang-orang Kardagon sudah berhasil menangkap Darren Corter.
“Aku yakin mereka sudah pergi sekarang.. aku.. aku harus segera pulang dan menyelamatkan Vedetta.”
***
Pagi hari yang indah dan sejuk di istana Megaira, aku membuka mataku perlahan ketika Ratu Megaira mulai mendorong-dorong tubuhku.
“Corter, bangunlah! Ini sudah siang, kau harus melatih mereka!”
Ratu Megaira sangat berisik, padahal aku masih mau menikmati kasur ini lebih lama. Aku memang terbiasa bangun siang, apalagi kalau di hari libur seperti ini. Oh, mungkin ini bukan hari libur ya.
Sambil menguap lemas, aku bangun dan mengusap wajahku perlahan. Ratu Megaira memasang wajah kesal imut ketika diriku mencoba untuk tidur lagi, dia menarikku keluar dari kasur dan menyuruhku duduk di bangku selagi dia merapikan selimut.
“Meskipun kamu Dewi sekalipun.. setidaknya cobalah untuk disiplin!”
Ratu terlihat seperti ibuku sekarang, dia banyak bicara dan selalu merepotkan. Yah, ibuku sudah tidak perawan sih.
“Rayen.. mana?”
Aku mengatakannya sambil menguap lemas, itu hanya pertanyaan spontan yang terpikirkan begitu saja di kepalaku.
“Dia masih tidur, kamarnya dikunci.. aku tidak mau masuk ke kamarnya, kamu bangunkanlah dia!”
Ratu, kau tidak akan kubiarkan masuk ke kamar Rayen, apalagi setelah Rayen mengatakan kalau Ratu adalah tipe wanita yang disukainya. Gawat juga, aku tidak bisa membiarkan mereka berdua berdekatan.
Aku mengumpulkan niat dan tenaga sebentar, kemudian dengan mata setengah tertutup aku berjalan menuju kamar sebelah, kamar Rayen.
“Rayen bangunlah.. ayo kita mandi bersama!”
Sambil mengetuk pintu, aku berteriak seperti itu. Tapi tak ada jawaban ketika aku menunggu beberapa menit. Sekali lagi aku mengetuk, tetap tidak ada jawaban.
Tunguh, ini aneh sekali, Rayen adalah orang yang akan bangun pagi karena itu adalah kebiasannya. Mustahil kalau laki-laki seperti Rayen sampai telat bangun.
Aku memfokuskan diri dan mendeteksi keberadaan Rayen dari luar kamar.
Sungguh mengejutkan, Rayen tidak ada di kamarnya.
“Rayen! Rayen, apa kau ada di dalam?!”
Aku menggebrak-gebrak pintu dan terus-terusan berteriak memanggil namanya, tapi tetap tak ada jawaban. Seisi lorong menjadi sangat berisik karena diriku, Ratu pun sampai keluar dan menanyakan apa yang terjadi.
“Rayen menghilang!”
Ratu terkejut dengan perkataanku, dengan sigap ia memanggil penjaga dan memintanya untuk mendobrak pintu kamar Rayen.
Ketika pintu terbuka, aku segera masuk dan mencari ke sudut-sudut ruangan. Seperti orang gila yang mencari barang hilang, aku mencarinya ke sudut manapun termasuk lemari dan bawah kasur. Tetap tak ada yang kutemukan, Rayen benar-benar menghilang dari kamar ini.
Tetapi, jendela kamar Rayen terbuka.
Aku dan Ratu sama-sama menatap ke jendela itu sambil membuat kesimpulan masing-masing. Diriku yang panik bahkan tidak bisa lagi memikirkan sesuatu yang logis.
“Apakah.. Rayen kabur dari istana?”
Tanyaku. Walaupun aku tahu kalau Rayen tak memiliki alasan untuk melakukan itu.
Ratu hanya diam, dia juga tak tahu apa yang terjadi disini.
Ketika aku mulai menangis, Ratu seolah terkejut dan melihat ke arah meja yang terletak di bawah jendela. Meja semacam itu juga ada di kamarku, tapi meja Rayen dipenuhi dengan buku-buku yang berantakan.
Tapi di buku itu, terdapat sebuah apel busuk berwarna coklat dengan siraman tinta yang tebal, yang tergeletak di atas tumpukan-tumpukan buku,
Kenapa ada apel busuk di dalam kamar?
Ratu dengan tatapan kosongnya, menunjukkan apel itu kepadaku dan menjelaskan artinya.
“Ini.. ini tanda dari Kardagon..”