Goddess Corter

Goddess Corter
Sedikit Jawaban



Semua orang yang kukenal di dunia ini, mendadak berkumpul di satu tempat. Mereka adalah orang-orang yang setidaknya pernah berbicara denganku. Salah satu diantara mereka adalah para penduduk Akarka. Ya, aku sangat kaget ketika sekumpulan ras Half-Elf itu berkumpul disini.


Masalahnya, Dewi Agung yang mereka sembah sekarang ada disini. Reftia berada di sebelahku tanpa penutup apapun. Ketika Rayen dan yang lainnya berlarian menuju ke sini, Reftia bersembunyi di belakangku dengan wajah yang aneh.


Para ratu idiot, dan juga para ahli sihir kerajaan Megaira. Mereka berkumpul disini dengan tersenyum. Kukira mereka akan memarahiku habis-habisan, nyatanya mereka tetap tersenyum. Apakah mereka tidak tahu apa yang terjadi? Entahlah.


“Nona.. ada yang aneh dengan jiwa yang ada tawan..”


Ucap Seiren mendadak.


Aku kembali merasakan bagaimana 20 juta jiwa terperangkap di dalam tubuhku. Diantara 20 juta jiwa itu, sebagian besar memang menyembah iblis dan jiwa mereka benar-benar kotor. Ada pula yang tidak menyembah iblis, tetapi mereka justru tidak ingin hidup.


Diantara 20 juta jiwa itu, ada salah satu jiwa yang cukup unik menurutku. Itu adalah jiwa Reine Deveralle. Ketika jiwa lain sedang menjerit untuk bisa keluar, jiwa Reine justru sibuk mencari jiwa adiknya sendiri yaitu Vedetta Deveralle.


Kenapa aku bisa menyebut nama Vedetta? Apakah karena berbeda sosok?


Jujur saja, ini agak sedikit merepotkan. Yang membuat Rayen disiksa adalah Reine Deveralle, tetapi aku bisa memaklumi perbuatannya karena dia melakukannya demi adiknya. Tapi sepertinya sang adik tidak begitu ingin hidup, Vedetta lebih senang ketika jiwanya berada di dalam tubuhku.


Astaga, drama macam apa ini?


Aku berniat untuk menghidupkan Reine dan Vedetta, tetapi Vedetta tidak boleh lagi memiliki raga karena jiwanya


terlalu takut. Karena itu kuputuskan untuk membuat satu makhluk yang raganya diisi oleh dua jiwa.


Dengan menggunakan God’s Will, aku membentuk makhluk dengan penampilan yang cantik dan manis, dengan rambut panjangnya berwarna hitam. Kemudian kuiisi makhluk itu dengan dua jiwa, yaitu Reine dan Vedetta.


Ketika makhluk itu terbangun, dia memperlihatkan kedua bola matanya yang indah. Mata kanannya berwarna merah, dan yang kiri berwarna biru. Benar-benar seperti dua sosok yang digabungkan. Aku memberikannya nama Renatta.


Omong-omong kini aku sudah tidak lagi takut untuk menggunakan God’s Will.


“Renatta, mulai sekarang kau akan menjadi pelayanku!”


Renatta memiliki ingatan baru di dunia ini, di ingatannya yang sekarang, dia adalah pelayan bagi sosok Dewi Corter. Mendengar diriku berbicara, Renatta menunduk sesaat.


Setelah itu dia berdiri di sebelahku tanpa berkata apa-apa. Pada akhirnya pelayanku bertambah satu selain Seiren.


Posisi Rayen dan kerumunan orang di belakangnya sangatlah jauh dari tempatku dan Reftia berdiri. Alasannya sederhana, karena tanah ini luar biasa besar, layaknya sebuah lautan aku melihat sosok Rayen dari sebuah titik yang lama-kelamaan membesar.


Kira-kira berapa lama lagi mereka akan sampai ke sini kalau berlari? Setengah jam, atau mungkin lebih? Yang manapun itu, aku berniat untuk berlari ke arah mereka juga. Tetapi mengingat di sebelahku kini ada Reftia, aku jadi bingung sendiri.


Maksudku, kira-kira apa yang akan dikatakan Ratu Alekto kalau dia melihat Reftia ada disini? Aku tidak bisa membayangkan itu.


Reftia juga memeluk tanganku erat, ia tidak tertarik dengan orang-orang yang berlarian kemari.


Tetapi tiba-tiba saja, kesialan kembali menimpa kami.


Langit yang tadinya berwarna biru laut, mendadak berubah menjadi abu-abu layaknya langit mendung. Tapi perubahannya terlalu cepat, ini tidak seperti hujan mendadak menurutku. Aku bahkan tak melihat adanya awan, seolah langitnya sendiri yang berwarna bukan awan.


Sesuai dugaanku, ini bukan hujan. Tidak ada setetes pun air yang jatuh dari langit.


Sesuatu berbentuk seperti bayangan yang sangat besar, bersembunyi di belakang langit abu-abu itu. Aku bisa melihat bayangan itu seperti ikan yang berada di dalam air. Bayangan itu bergerak kesana kemari, memiliki bentuk seperti ular yang sangat besar.


Sama sepertiku, Rayen dan yang lainnya menyadari keanehan di langit, mereka menghentikan langkah mereka dan hanya bisa memperhatikan.


Tak lama, sebuah kepala naga yang luar biasa besar, tiba-tiba saja keluar dari langit. Naga itu hanya menunjukkan kepalanya, jarak kami bahkan sangat jauh, tetapi ukurannya yang sangat besar seolah itu berada persis di hadapanku.


“Oh, Nivalda ya?”


“Eh?”


Ketika aku sedang panik, tiba-tiba saja Reftia dengan santainya menyeletuk seperti itu.


“Itu naga milik Nivalda, kau tidak perlu cemas.. dia.. hanya menyapa saja!”


“Mana ada orang yang menyapa menggunakan naga!!”


Naga itu meraung dengan sangat keras, angin yang keluar dari mulutnya terasa seperti badai yang mengguncang dunia. Aku dengan susah payah mempertahankan tubuhku agar tetap berdiri. Sedangkan Reftia, dia bahkan berdiri seperti biasa tanpa ekspresi takut sedikitpun di wajahnya.


Serius ini hanya sapaan saja?


“Reftia.. sebaiknya.. kita pergi.. saja..”


Dengan kedua tanganku di depan wajahku, aku sekuat tenaga menahan angin itu sambil mengajak Reftia pergi. Tapi suara anginnya terlalu besar, aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri.


Sialnya, naga itu melancarkan serangan. Yang tadinya dia hanya mengeluarkan angin dan suara keras dari mulutnya, kini bola api yang sangat besar juga keluar dari mulutnya. Layaknya meteor, bola api itu diterbangkan ke arahku.


“INI SAMA SEKALI BUKAN SAPAAN!!”


Reftia menjauh beberapa meter, dia tersenyum kecil sambil menonton diriku yang sedang berjuang melawan angin badai.


Sedangkan Renatta, dia tetap berdiri di sebelahku. Tetapi kondisi Renatta sepertinya lebih tertekan daripada aku. Dirinya bahkan beberapa kali harus melangkah maju untuk bisa menyamakan posisinya denganku.


Renatta mengeluarkan sihir es, dia membentuk sebuah es berupa dinding untuk mencegah tabrakan bola api dengan diriku.


Dinding yang cukup kuat kurasa, beberapa ledakan yang menabrak dinding itu terjadi kurang lebih 5 meter di atas kepalaku. Pemandangan yang sangat mengerikan kalau dilihat dari bawah.


“Terima kasih, Renatta!”


Serangan bola api berakhir, begitu juga perlindungan yang diberikan Renatta. Langit kini kembali terlihat, dan aku kembali bertatap mata dengan kepala naga.


Astaga, ini mengerikan.


Ketika aku sedang berpikir untuk menggunakan sihir, tiba-tiba saja hal itu dihentikan oleh sesuatu yang menangkap pandanganku.


Sebuah cahaya yang bersinar terang, menembus langit yang gelap. Cahaya itu terlihat seperti suar yang ditembakkan tepat ke langit. Munculnya berasal dari tempat Rayen berada. Aku bertanya-tanya, sebenarnya cahaya apa itu.


Betapa terkejutnya diriku, ketika aku melihat Rayen sedang memegang pedang Starlight Eternity di tangannya. Dia menahan pedangnya di atas kepalanya, mengumpulkan tenaga, dan menciptakan cahaya suar itu.


Ketika tenaganya berkumpul, Rayen menghempaskan pedangnya menuju tepat ke kepala naga yang melayang di langit. Jarak yang sangat jauh dari pedang ke sang naga, membuatku bisa melihat jelas bagaimana cahaya pedang itu ditembakkan.


Karena memang pedang Starlight Eternity tidak perlu menyentuh langsung sang target, pedang itu bisa dijadikan senjata jarak jauh juga.


Cahaya yang sangat kuat itu mengalahkan gelapnya langit. Tak disangka-sangka ternyata hasil tebasan pedang Rayen mampu mengenai kepala sang naga persis. Kepala itu lepas dari badannya dan jatuh begitu saja dari langit.


“HUWAA!! NAGA MANISKU!!!”


Bersamaan dengan itu, suara terikan yang berasal dari seluruh penjuru langit juga muncul. Teriakan yang sangat menyakitkan telinga karena suaranya sangat berisik. Seperti suara seorang perempuan yang sedang menangis konyol, teriakan itu membuat kami semua terdiam.


***


“Sudah kubilang ini salahmu sendiri..”


“Yah.. kau bisa menghidupkannya sendiri, kan?”


“Ahh.. kalau Reftia yang melakukannya.. diriku ini akan sangat berterima kasih loh.. hihihi..”


Apa-apaan ini?


Situasinya begini, ketika Rayen selesai menghabiskan naga itu, gelapnya langit pun berakhir. Diikuti dengan teriakan itu. Ketika langit sudah mulai kembali cerah, seorang perempuan secara tiba-tiba jatuh dari langit. Dia mendarat dengan mulus menggunakan kedua kakinya. Anggap saja itu pendaratan pahlawan.


Seorang perempuan yang tampak seperti anak kecil, setidaknya lebih kecil daripada Reftia. Dia memiliki rambut twintail berwarna ungu pastel. Wajahnya imut, tetapi agak sedikit menyebalkan karena selalu cemberut. Dia menggunakan pakaian gaun yang cantik berwarna putih dan hitam.


Dia adalah sang Dewi Agung Kebahagiaan dan Kenyamanan Nivalda. Salah satu dari 4 Dewi Agung. Paling tidak pandanganku kepadanya sedikit berbeda. Aku mengira para Dewi Agung memiliki sifat yang dewasa seperti Teressa, tapi Nivalda sangat berkebalikan. Nivalda sangat berisik dan memarahiku dengan tidak jelas ketika diriku memotong pembicaraannya dengan Reftia.


“Nivalda.. kau yang seenaknya menyerangku dengan naga itu. Bukankah seharusnya kau yang harus bertanggung jawab?!”


Ucapku.


Omong-omong, Rayen dan yang lainnya sudah sampai disini. Entahlah, Nivalda terlalu banyak berteriak sehingga aku tidak sadar kalau Rayen sudah sampai.


Tanggapan Rayen dan yang lainnya sedikit berbeda dengan dugaanku, kukira mereka akan kagum ketika dua Dewi Agung sedang berdiri di depan mereka, tetapi melihat Nivalda yang merengek-rengek ke Reftia seperti anak kecil, membuat harapan mereka hancur dan terpaksa hanya memperhatikan.


“Apanya yang bertanggung jawab? Mana mungkin aku mau melakukannya untuk Dewi terkutuk sepertimu!”


Sial, bocah ini sangat menyebalkan. Apakah Reftia tidak masalah harus bekerja satu tim dengan makhluk berisik seperti Nivalda? Kalau boleh kuakui, mungkin dia lebih menyebalkan daripada direktur.


“Meskipun itu sudah mati sekalipun, kau tampak tak sedih.. sebenarnya dimana kau menemukan naga itu?”


Tanya Reftia kepada Nivalda.


“Maksudmu Noyerial? Hebat, kan! Aku mencurinya di semesta lain. Kalau kau mau aku bisa mengambilkannua juga!”


Hah? Mencuri dari semesta lain? Dosa macam apa lagi itu? Lagipula Nivalda itu adalah seorang Dewi Agung, kenapa dia tidak menciptakan sendiri saja peliharaannya. Semesta lain itu berarti sudah dikuasai Dewi Agung lain bukan? Kenapa Nivalda nekat mencurinya.


“Nivalda.. kau bahkan bisa membuat naga yang jauh lebih kuat hanya denga menjentikkan jari, tapi kenapa..”


“Wuahahaha!!! Menyaksikan Dewi Agung kebingungan ketika ciptaannya dicuri.. itu adalah perasaan terhebat!”


Eh? Serius? Apa ada Pencipta yang kebingungan dengan hal itu? Maksudku, apakah sang Pencipta akan kebingungan kalau seluruh kambing di dunia menghilang? Tidak, kan? Jelas-jelas tidak.


Astaga, beginikan sifat Dewi Agung Nivalda? Aku sama sekali tidak mengira dia sangat kekanak-kanakan, kalau begini berarti dia jauh lebih bodoh daripada tiga ratu idiot.


Benar juga, omong-omong soal tiga ratu idiot, kenapa mereka bisa kemari dengan sangat cepat? Padahal besar Kardagon sendiri tidak masuk akal, dan aku berada di tengah kota. Paling tidak untuk sampai kesini saja membutuhkan waktu dua jam menggunakan kereta kuda.


Ketika semua orang sedang berkumpul memperhatikan debat lucu antara Reftia dan Nivalda, aku menarik Rayen keluar dari kerumunan itu. Yang menyadari kalau kami berdua menjauh adalah Ratu Alekto, ketika aku dan Rayen berlari keluar kerumunan, sang ratu juga ikut.


Akhirnya kami bertiga membuat perkumpulan kami sendiri, untuk membahas beberapa hal yang ingin kuketahui. Salah satu dari pertanyaan yang mungkin kulontarkan adalah kenapa bisa ada penduduk Akarka disini. Sangat tidak wajar apabila ada salah satu di antara mereka yang mengenal penduduk Akarka.


“Para penduduk ras Half-Elf itu menyamar menjadi warga biasa, kemudian mereka mendatangi kerajaan milik Tisifon. Mereka bilang, utusan Dewi Agung Reftia sedang menjauh dari Tisifon. Karena itulah mereka panik dan menanyakan dimana sosok dirimu, Darren Corter.”


Ucap Ratu Alekto, ketika aku bertanya perihal penduduk Akarka.


Rayen hanya bisa menatap heran dengan perkataan Ratu Alekto. Memang kalau dari sudut pandang Rayen, setiap kalimatnya memang tidak bisa ia pahami.


“Aku memang salah karena meninggalkan mereka, tetapi kenapa mereka bisa tahu kalau aku pergi menjauh?”


Tanyaku.


“Disitulah masalahnya. Kebetulan saat mereka mendatangi Tisifon, aku berada di tempat yang sama, karena baru saja bertemu denganmu. Lalu aku bertanya kepada mereka, ‘kenapa kalian bisa yakin kalau Darren Corter sedang menjauh?’.”


“.. dan, apa jawabannya?”


“Mereka bilang.. air kolam kami menjadi dingin.”


Dengan wajah penuh keheranan, Ratu Alekto mengatakan itu sambil menggelengkan kepala.


Serius, aku sama sekali tidak mengerti situasi yang sekarang ini. Air terjun kolam Akarka menjadi dingin? Ini sangat aneh, padahal aku yakin kalau air hangat itu merupakan sumber mata air asli dari air terjun. Tapi kenapa?


Tak perlu ditanya lagi, meskipun aku bertanya apa maksud dari jawaban itu pun, Ratu Alekto tidak mungkin bisa menjawabnya. Dirinya yang belum pernah mengunjungi Akarka pasti juga merasa heran dengan sebutan kolam.


Tapi aku bertanya-tanya, apakah para penduduk Akarka bertanya dengan nada tergesa-gesa? Ketika aku ingin melontarkan perkataan itu, tiba-tiba saja aku teringat dengan suatu hal yang lebih penting.


“Rayen.. darimana kau bisa mendapatkan pedang itu? Dan kenapa kau bisa menggunakannya?”


Tanyaku kepada Rayen yang sejak tadi hanya memperhatikan.


“Pedang ini? Aku membawanya ketika kita pergi ke Megaira. Alasan kenapa aku bisa memakainya.. entahlah.. ketika aku memegang pedang ini tadi, aku merasa seperti pedang ini menuntunku untuk kembali ke Kardagon. Lalu, barusan aku merobek ruang agar kami bisa pindah ke Kardagon tapi ternyata aku merobeknya terlalu jauh dari posisimu.”


Begitu, jadi mereka datang dengan merobek ruang? Masuk akal. Lagipula aku menciptakan pedang itu sebagai pedang yang mampu memotong segalanya, tak pernah terpikirkan kalau itu mampu merobek ruang. Pujaan hatiku memang hebat, padahal dulu lemah.


Tapi kembali ke pertanyaan, kenapa Rayen mampu mengayunkan pedang Starlight? Itu bukanlah pedang yang bisa dipakai sembarangan, dan juga pedang itu sudah menyatu dengan diriku. Apakah ini karena sihir Create Up yang kuberikan pada Rayen? Tak kusangka itu benar-benar bekerja.


“Darren Corter, ini masalah serius karena kau baru saja membinasakan sebuah Negara.. aku tak ingin menyalahkanmu karena kau adalah seorang Dewi. Tapi, pertanyaannya sederhana, apa yang akan kau lakukan dengan tanah ini?”


Tanya Ratu Alekto dengan penuh keseriusan.


Jawabannya cukup sulit juga, aku tak pernah terpikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Padahal ketika Rayen sudah berhasil kuselamatkan, aku merasa kalau semuanya sudah berakhir. Tapi ternyata masih ada hal rumit seperti ini.


Tak masalah juga kalau aku menjadikannya Negara baru dengan aku dan Rayen sebagai pemimpinnya, tapi bagaimana dengan ahli sihir kerajaan? Aku masih ingin belajar banyak tentang sihir dari mereka.


Dan juga kalau aku jadi ratu, nanti hidupku jadi sangat tidak konsisten. Dari petualang yang tidak lebih dari seminggu, ahli sihir kerajaan yang hanya dua hari, lalu menjadi ratu. Setidaknya aku ingin fokus di satu bidang saja dulu dan mencari kegembiraan dari dunia baru ini.


“Gabungkan saja Negara Kardagon dengan Erinyes!”


Ucapku.


Ratu Alekto sedikit terkejut, tapi kemudian dengan tenang ia menjawab,


“Tak masalah untuk itu.. tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, tanah ini sama sekali tidak memiliki sumber daya alam, itu berarti sangat sulit untuk mengolahnya. Kedua, ini terlalu luas untuk bisa dikembangkan dengan sumber daya terbatas. Ketika dan yang paling penting, satu-satunya yang bisa bersatu dengan Kardagon hanya Megaira saja.. tapi aku tidak yakin..”


“Tidak mau! Tidak mau! Tidaku mau!”


Teriak Ratu Megaira yang muncul begitu saja dari balik badan Ratu Alekto. Dengan wajah konyolnya yang digenangi air mata, ia berteriak lucu sambil merengek seperti anak kecil.


“Mengurus daerah sebesar ini, yang benar saja! Kenapa tidak Tisifon saja yang melakukannya!”


Oh, begitu maksudnya, jadi dia hanya tidak ingin mengurus tanah ini begitu?


Yah, menurutku itu adalah sesuatu yang wajar untuk membuang hamparan tanah gersang. Tapi jawaban tentang apa yang akan dilakukan untuk tanah ini masih belum terjawab. Ya sudahlah, mungkin itu bisa diurus lain kali.


Untuk saat ini, banyak yang ingin kusampaikan dengan penduduk Akarka.