
Lagi-lagi di sebuah tempat privasi, yang tak siapapun bisa menjangkaunya. Tempat yang melebihi kekosongan apapun, bahkan tak bisa dikatakan sebagai tempat. Ini adalah tempat dimana Reftia mengajak bicara Darren Corter disaat kematiannya.
Itu adalah Areon, tempat dimana Vedetta tinggal.
Lebih jauh dari semesta, lebih luas dari jagat raya. Areon bukanlah tempat dimana seorang Dewi Agung bisa menggapainya. Hanya orang-orang tertentu, termasuk Reftia dan Dewi Agung pertama, Rizhela yang dapat masuk ke dalam Areon.
Sendirian, di tempat yang luas. Vedetta memandangi ciptaannya saling bertarung, hidup, dan berkembang, tak ada rasa penasaran lebih jauh untuk hidup diantara mereka.
Tapi di satu titik, sebenarnya Vedetta sangat menyayangi Reftia.
Reftia adalah manusia spesial, yang kematiannya adalah takdir yang Vedetta atur, dan Vedetta sendiri yang mereinkarnasinya menjadi Dewi Agung. Bahkan diantara Dewi Agung lain, Reftia adalah yang paling dihormati.
“Tapi.. orang itu tak pernah ada di takdir yang kuatur.”
Ucap Vedetta bergumam.
Dia melihat ke sekeliling Areon, hitam, tak ada apapun.
Vedetta duduk di singgasana, di depannya terdapat Dewi Agung yang menyembahnya. Itu adalah Dewi pertama di jagat raya, Rizhela. Tanpa rasa sedikit canggung, kedua ‘sahabat’ itu saling berhadap.
“Aku tak pernah membenci ciptaan dari ciptaanku, tapi terkadang sesuatu yang tidak sesuai harus kuhapus.”
Ucap Vedetta, kepada Rizhela yang sedang menunduk di depannya.
“Apa Yang Mulia berniat untuk menghilangkan Dewi Agung Corter?”
Rizhela bertanya dengan nada yang sopan.
Vedetta menjadi bingung sendiri.
Sebenarnya apa yang dia inginkan? Dia ingin bersama Reftia, tapi itu tidak mungkin karena dia harus bertindak adil kepada seluruh Dewi. Di samping itu, Vedetta tidak suka apabila Reftida dekat dengan seseorang.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa ada Darren Corter di takdir Reftia yang seharusnya sudah Vedetta atur. Itu tidak masuk akal. Vedetta tak terkejut, ia hanya bingung.
Salah satu alasan masuk akal kenapa Darren Corter bisa muncul adalah karena Vedetta ingin Reftia bahagia. Kalau Reftia bahagia dengan keberadaan Darren Corter itu berarti sesuatu yang tak dapat Vedetta genggam.
“Reftia jatuh cinta dengan sosok itu. Menurutmu apa yang harus kulakukan?”
“.. kupikir jawabannya berada di dalam hati Yang Mulia sendiri. Apa yang ingin anda lakukan?”
“Apakah Darren Corter memiliki sesuatu yang berharga untuknya, selain Reftia?”
“Sepertinya dia memiliki kekasih, Colt Rayen namanya, dia anak dari Dewi Agung Hymera.”
“Oh.. yang merusak semesta Corola beberapa waktu itu?”
Vedetta membayangkan bentuk orang itu.
Ah, sepertinya ada sesuatu yang spesial dari Colt Rayen. Anak Hymera itu begitu polos, Vedetta tak mengerti kenapa dia begitu berpikir positif. Tapi yang pasti pria itu luar biasa. Beruntung sekali Darren menemukan orang itu.
“Rizhela, panggil Colt Rayen kemari.”
“Baik, laksanakan.”
***
Malam hari di kastil Corola.
Pisces mendapat mimpi buruk, sesuatu yang paling ia takutkan dari segala hal di dunia ini. Yaitu adalah hantu. Meskipun dia kenal dengan raja iblis, hantu adalah sesuatu yang menyeramkan. Waktu kecil, ia sering melihat gambar hantu di buku-buku lama orang tuanya, dan itu menjadi kenangan yang tak seharusnya diingat.
Singkat saja, Pisces memiliki ketakutan tersendiri terhadap hantu. Sebenarnya itu adalah ketakutan yang berasal dari pemikiran jauhnya, ia tak benar-benar cinta dengan rasa takut itu.
Pisces yang malang, di saat itu sesuatu mulai memenuhi perutnya. Dia harus pergi ke toilet. Sudah tak tertahankan bahkan ketika dia baru membuka matanya.
Awalnya Pisces ragu, dan ingin menahannya saja sampai esok hari. Tapi itu tidak mungkin, mengompol di kasur yang disediakan Dewi Agung adalah kesalahan terbesar. Harus ditaruh dimana wajahnya ketika bertemu dengan nona Darren nanti?
Pisces menyerah, ia memberanikan dirinya untuk menuju ke toilet.
“Ini tidak akan lama.”
Ucapnya, memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Pisces mulai membuka pintu kamarnya. Yang ia lihat dibalik pintu adalah lorong melingkar dengan banyak obor yang menempel di dinding. Obor membuat lorong itu tak begitu gelap, tapi panjang lorong membuat siapapun merinding.
Dengan gemetar, Pisces mulai melangkah menjauh dari kamarnya.
Perjalanan di lorong begitu memacu jantung, Pisces merasa seolah lorong ini begitu panjang dan tak ada ujungnya. Harus berapa lama lagi ia berjalan?
Dan ketika itu, ada seorang gadis dengan tinggi setara, berjalan dengan arah berlawanan menuju Pisces. Yang sejak awal Pisces ketakutan, ia menjadi sedikit tenang karena ada orang lain.
“Permisi.. apakah toilet masih jauh?”
Ucap Pisces kepada gadis itu.
“Kamu siapa?”
Tanya gadis itu kepada Pisces.
“Aku Pisces, salah satu orang yang ikut bersama nona Darren.”
“Begitu, kalau bisa jangan terlalu lama diluar, Dewi Corola tak terlalu suka itu.”
Gadis itu beranjak pergi setelah ia memberikan peringatan. Pisces mengangguk paham.
Pisces terlalu bodoh, ia bahkan tidak sadar bahwa pertanyaannya belum terjawab dan perempuan itu sudah beranjak pergi.
Dari peringatan itu, Pisces yang sangat berhati-hati tentu saja tak mau memiliki masalah. Ia tak peduli meskipun sesuatu sedang ia tahan, ia mencoba berlari agar cepat menemukan toilet. Jujur saja, kastil ini baru ditempati beberapa jam yang lalu setelah peperangan dan dia tak hafal tempatnya.
Setengah jam berlalu. Pisces berlari kesana kemari dengan selangkangannya yang semakin mengilu, sampai berkeringat dingin, tapi tak kunjung menemukan tempat yang ia cari.
Apa memang ada toilet di kastil ini?
Pisces menyerah, setengah jam sudah terlalu lama untuk berada di luar, ia tak ingin mengganggu orang yang tidur dengan suara langkahnya. Terpaksa ia harus menggunakan opsi terakhir, yaitu buang air di dalam lingkaran sihir.
Itu adalah opsi terakhir, sebab suatu saat benda yang dimasukkan di dalam lingkaran sihir harus dibuang. Atau kotoran Pisces akan busuk dan itu pasti sangat menjijikan.
Pisces berjalan kembali ke kamarnya sambil menekan-nekan selangkangannya, ia hampir menangis karena dalam seumur hidupnya tak pernah ia menahan buang air selama ini.
Ia melewati rute yang sama dengan sebelumnya, dimana dia bertemu dengan gadis yang memberinya peringatan.
Pisces diam mematung, memandangi koridor yang bahkan tak memiliki perbedaan di 10 meter selanjutnya.
Masa bodo, Pisces tahu dimana letak kamarnya.
Karena satu yang bisa dijadikan acuan adalah kamar dengan pintu kayu berwarna hitam, itu adalah kamar milik nona Darren dan tuan Rayen.
“Mereka sekamar.. apa yang mereka lakukan ya..”
Pisces bergurau.
Tapi gurauannya berujung pada kematian bagi dirinya sendiri.
Hal yang paling Pisces takutkan justru muncul, itu adalah hantu. Di ujung lorong, terlihat sebuah bayangan di dinding yang bergerak-gerak. Bayangan itu memiliki bentuk yang sungguh aneh, itu bukan manusia.
Pisces panik, ketar-ketir, tak tahu harus kemana ia pergi. Ujung dari lorong ini adalah bayangan yang mendekat, dan ujungnya lagi terlalu jauh untuk dicapai. Berlari pun akan membuat bayangan itu mengetahui keberadaannya.
Tapi Pisces tak mau ini menjadi sia-sia. Tak jauh dari tempat Pisces berdiri adalah kamar nona Darren, kalau Pisces bisa melangkah ke sana dan membangunkan nona, maka semuanya akan baik-baik saja.
Pisces menutup mulutnya, berlari pelan, maju ke tempat dimana kamar nona Darren berada.
Lorong di kastil ini dibuat melingkar, jadi jangkauan pandangan Pisces hanyalah sekitar 10 meter ke depan. Dan bayangannya ada di ujung, apakah ia sempat masuk ke kamar nona Darren?
Dan..
Jangankan berhasil sampai, bayangan itu justru muncul dari sosok tinggi besar yang keluarnya dari pintu kamar nona Darren. Ya, sosok monster, muncul tepat di depan Pisces ketika ia berhasil melihat pintunya.
“.. m-m-m.. monster..!”
Pisces mencoba berteriak, tapi ketakutan membuatnya bisu.
Monster itu tak menghadap ke arah Pisces, ia berjalan ke arah sebaliknya.
Tapi tunggu dulu, apa yang monster itu bawa di pundaknya?
“.. tuan.. Rayen?”
Tak salah lagi, itu adalah tubuh tuan Rayen yang monster itu bawa. Tuan Rayen pingsan, tidak, mungkin tertidur, apakah monster itu menculiknya dari kamar?
Pisces semakin takut, kakinya lemas dan dia jatuh ke lantai.
Sayangnya suara bokong Pisces yang menyentuh lantai tak teredam, dan itu mengeluarkan bunyi halus yang sedikit menggema di lorong. Hal yang buruk pun terjadi, monster itu menoleh.
Ya, menoleh ke arah Pisces.
Wajahnya sungguh jelek, menyeramkan, bahkan tak pantas disebut sebagai wajah. Ia memandangi Pisces cukup lama, entah apa yang coba ia pastikan, tapi monster itu tak bergerak sedikitpun.
Pisces menjadi gila, yah.. untuk anak seumurannya.
Maksudnya, dia mengompol.
Rasa yang mengikat itu dipaksa keluar setelah monster itu memandangi Pisces. Celana dan sekujur kakinya basah oleh cairan yang hangat. Pisces jadi bingung harus berbuat apa. Panik sudah jelas, tapi apakah ia tak bisa menyelamatkan diri?
Beruntung untuk Pisces yang malang, setelah lama monster memperhatikan, monster itu pergi tanpa alasan yang jelas. Pisces memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi ke kamar nona Darren. Ia mendorong pintunya, dan masuk karena pintunya tak terkunci.
“Nona Darren! Nona Darren bangunlah!”
Pisces berlari ke kasur nona Darren, segera ia berteriak di samping nona Darren yang sedang tertidur pulas. Tak menghiraukan celananya yang basah, Pisces terus-menerus berteriak.
“.. Rayen, aku sudah lelah.. kita lanjutkan besok saja ya..”
Sayangnya nona Darren tak kunjung bangun, ia justru melindur, mengucapkan hal-hal yang ambigu.
Pisces tak memiliki waktu untuk penasaran, dia terus menerus meneriakkan nama nona Darren.
Bukannya bangun, nona Darren malah semakin melindur. Ia menggerakan tangannya kesana kemari, kemudian memeluk Pisces, dan menariknya ke kasur.
Kini dua perempuan itu saling berpelukan, nona Darren memeluk tubuh Pisces layaknya sebuah guling yang begitu nyaman. Tak sempat bicara, Pisces dipeluk habis-habisan sampai tulang rusuknya menjadi ciut.
“.. n-nona.. c-celanaku.. masih basah.”
Itulah kata-kata terakhir dari sang Pisces.
***
Vedetta menyambut dengan tatapan hangat, sang Pencipta tertinggi itu duduk di seberang meja Rayen. Dewi Agung Pertama, Rizhela, juga ada disana. Berdiri di antara Vedetta dan Rayen, Rizhela siap menerima perintah dari mereka berdua.
Di meja panjang yang Rayen duduki, ada banyak hidangan mewah yang disiapkan. Rayen tak menyentuh salah satunya, ia justru memperhatikan Vedetta yang juga menunggu Rayen untuk segera bersantap.
Alasan Rayen tak menyentuh hidangannya adalah karena ia masih bingung, bingung bagaimana ia bisa ada disini sedangkan ia tidur dengan Darren tadi malam. Selain itu, bertemu dengan Pencipta tertinggi membuat Rayen berpikir dua kali, apakah ini nyata?
“Tak usah sungkan, silahkan nikmati saja yang kamu mau.”
Entah bagaimana Vedetta bisa begitu baik kepada Rayen. Kekasih Darren itu sudah memastikan dua kali bahwa ini adalah pertama kali mereka bertemu. Tidak sepantasnya Pencipta tertinggi menjamu manusia dengan perilaku seperti itu.
“Dewi Vedetta.. eh tidak.. Yang Mulia Vedetta, b-bagaimana bisa.. bagaimana aku bisa ada disini?”
Rayen memberanikan dirinya untuk bicara.
“Oh, kamu boleh memanggilku Vedetta kalau kamu mau. Asal kamu tahu saja, yang kuizinkan memanggil nama itu hanyalah Reftia, dan kamu seorang. Rizhela bahkan tidak kuizinkan.”
“.. b-begitu ya.. aku merasa terhormat.”
Entah perasaan senang atau khawatir yang ada pada diri Rayen, yang pasti itu sangat tidak nyaman.
“Aku boleh memanggilmu ‘Colt’?”
“Silahkan..”
“Kalau begitu Colt, alasanku mengundangmu kemari adalah murni untuk menerima perjamuan dariku. Aku melihatmu menghancurkan semesta Corola dengan sekali serang, betapa indahnya itu. Tenang saja, aku tak akan membicarakan sesuatu tentang gelarmu yang merupakan setengah Dewa, itu tak ada hubungannya. Tapi ketahuilah, bahwa ada sesuatu yang kuiinginkan darimu.”
Ucap Vedetta.
“Aku akan senang bila bisa membantu.”
Rayen tak mengucapkannya dengan nada seolah dia adalah pembantu, tapi itu diucapkan dengan nada basa-basi yang tidak benar-benar berniatan untuk menuruti Vedetta. Vedetta tahu itu, tapi dia tersenyum dan membiarkannya.
“Rizhela, bisa tinggalkan kami sebentar?”
“Dimengerti.”
Sesuai perintah dari Vedetta, Rizhela pergi keluar dari ruangan makan. Kini tersisa Rayen di hadapan Vedetta, dan ini justru menambah kegugupannya.
Vedetta di ujung meja yang panjang, mulai berdiri, meninggalkan piringnya yang belum ia colek. Vedetta berjalan menuju Rayen dengan sangat anggun, itu jelas karena Vedetta adalah pencipta dari segala kecantikan, dengan kata lain perempuan tercantik di jagat raya sedang berada di depan Rayen saat ini.
Vedetta menggeser piring Rayen, kemudian dia duduk di atas meja, menghadap Rayen. Rayen bingung, bagaimana cara menghadapi perempuan yang tiba-tiba duduk di atas meja? Setelah itu Vedetta menyilangkan kakinya, membuat Rayen semakin bingung karena pemandangan paha yang indah tepat di depan matanya.
“Reftia adalah Dewi Agung yang kucintai, semua makhluk di dunia ini wajib mengetahuinya. Tapi, Colt, aku sadar akan sesuatu. Ternyata cinta itu tak memiliki batas, begitu juga dengan Reftia, dia bukan batas cintaku. Apa kamu mengerti maksudku?”
“.. maaf, aku sama sekali tidak mengerti.”
Vedetta menggunakan kaki kanannya yang terangkat, dengan jempolnya ia mengelus bagian bawah leher Rayen. Setiap sentuhan dari Vedetta begitu seksi, Rayen hanya bisa menahannya.
“Itu artinya, ada seseorang.. seorang laki-laki yang mendapatkan cintaku lebih dari siapapun. Aku mencintainya, aku menginginkannya. Dan orang itu duduk di depanku sekarang, namanya adalah Colt Rayen.”
Rayen sedang melamun saat Vedetta mulai menjelaskan masalah cinta. Untuk pemuda seperti Rayen yang hanya merasakan cinta saat Darren hadir, ia bahkan masih tidak bisa mengartikan perasannya sendiri. Membahas cinta dengan Rayen adalah hal yang bodoh.
Tapi? Eh? Barusan Vedetta menyebut nama Rayen? Benarkah begitu?
“Y-Yang Mulia.. barusan anda mengatakan ap..”
Sebelum Rayen menyelesaikan kalimatnya, Vedetta menempelkan jari kecilnya di bibir Rayen.
“Sudah kubilang, panggil aku Vedetta. Kamu harus terbiasa, karena kamu akan berada disini untuk waktu yang lama.”
“Eh? Kenapa aku harus berada disini untuk waktu yang lama?”
“.. itu berkaitan dengan permintaanku. Colt Rayen, aku jatuh cinta padamu, aku ingin kamu menikahiku.”
“Eh?!”
“Yang kukatakan adalah mutlak, yang kuhendaki adalah mutlak. Jadi kamu tidak..”
“T-Tunggu, tunggu sebentar! Yang Mul.. Vedetta ingin menikahiku? Apa anda sedang bercanda?”
“Kamu tidak percaya? Apakah aku terlihat bercanda sekarang?”
Ini berbahaya, setidaknya Rayen berpikir untuk terus waspada.
Dia memang waspada sejak awal, tapi strateginya berubah dari bertahan menjadi melarikan diri. Tapi bagaimana caranya melarikan diri dari penciptanya para pencipta? Tak ada tempat yang Vedetta tak bisa temukan, artinya tak ada tempat sembunyi bagi Rayen.
Situasi ini juga tidak bagus. Setelah mendepat kecupan dari Corola saat itu, Rayen sadar kalau dia tidak bisa terus menerus dekat dengan perempuan. Bahkan dirinya merasa sangat berdosa ketika jatuh dalam pelukan malaikat-malaikat Dewi Teressa.
Darren tak mungkin memaafkan Rayen apabila ia menjalin hubungan dengan Vedetta.
Astaga, seandainya ini bisa sedikit lebih mudah.