Goddess Corter

Goddess Corter
Lembaran Baru Kami



Ini sudah beberapa jam sejak pertemuanku dengan tiga Ratu Erinyes, berarti ini juga beberapa jam setelah pertarungaku dengan Astaroth. Bekas dari pertarungan itu memang tidak ada, tapi kebencian terhadap iblis semakin melekat di hatiku. Aku masih ingat bagaimana Astaroth menghina kami para Dewi.


Mungkin ini adalah bentuk dari gelarku, ‘Keegoisan’, dimana aku akan selalu membawa benci ini kemanapun. Masalahnya dulu ketika masih menjadi lelaki, aku tak pernah menyimpan dendam seburuk ini. Tapi sekarang berbeda, aku membenci para iblis, benar-benar membenci mereka.


Kalau Astaroth menghina Dewi, itu artinya dia juga menghina Reftia, itulah yang sangat tidak bisa kumaafkan. Bagiku, meskipun aku dan Reftia kini sama-sama Pencipta, sosoknya tetaplah Dewi yang patut kusembah. Reftia adalah tipe gadis yang akan membuatmu menyayanginya hanya dari tutur katanya.


Tetapi Reftia itu sepertinya memiliki sesuatu yang menyangkut di pikirannya dan dia tidak bisa mengungkapkannya. Aku juga baru menyadarinya belakangan ini saat mengingat lagi beberapa detik ketika mengobrol dengannya. Tatapannya membuatku sadar kalau dia tidak bahagia.


-


Ratu Alekto dan Tisifon sudah pergi beberapa waktu yang lalu. Anehnya Ratu Megaira masih menetap disini sambil terus meminum teh Ratu Tisifon dengan canggung. Entah kenapa, dia hanya beralasan kalau masih terlalu dini bagi dirinya untuk kembali.


Tapi itu hanyalah alasan awalnya, beberapa waktu kemudian dia mulai mengatakan tujuannya yang sebenarnya.


“Darren Corter, bergabunglah dengan ahli sihir kerajaan! T-Tentu saja, ini adalah permintaanku sebagai pemimpin kerajaan.”


Ucap Ratu Megaira, setelah beberapa waktu dia hanya diam dan memasang wajah kelam.


Aku tak terkejut dengan ajakannya, karena aku memang tidak tahu apa itu ahli sihir kerajaan. Yang terkejut justru Rayen, dia bolak-balik menatapku dan Ratu, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Ahli sihir kerajaan? Jadi inilah tujuanmu menetap disini.. ketika kedua saudarimu sudah pergi?”


Tanyaku. Dan Ratu Megaira menjawabnya dengan anggukan lemas. Ratu Megaira yang saat ini bicara denganku, adalah Ratu yang anggun dan lembut, tampaknya dia adalah tipe orang yang hanya bisa konyol ketika ada saudari-saudarinya.


“Tapi.. kenapa anda menunggu kedua saudari anda pergi?”


Tanya Rayen.


Ratu Megaira tidak menjawabnya, dia bertindak seolah tidak mendengar pertanyaan itu. Ratu hanya membuang wajahnya dan tidak mau menatap mata Rayen. Sikap itu bukanlah sesuatu yang wajar dalam diskusi tiga orang, terlebih lagi ketika ruangan ini sangat sepi tenang, jelas sekali kalau dia menghindari pertanyaan Rayen.


Setelah memikirkan itu dalam-dalam, dan memperhatikan kembali perilaku Ratu, aku baru menyadari sesuatu.


“Tunggu dulu.. Erinyes adalah kumpulan tiga kerajaan, pemerintahannya dipecah menjadi tiga.. kalau Ratu Megaira yang memintaku, berarti kau hanya memintaku untuk menjadi ahli sihir kerajaan Megaira, begitu?”


Ratu terkejut karena aku berhasil menyadarinya. Yah, dia pasti juga paham kalau nantinya di ujung obrolan ini aku akan sadar dengan maksudnya.


Mendengar pernyataan dariku, Rayen mengerutkan alisnya dan mulai bernada kesal.


“Apa kau berniat untuk memonopoli Corter, yang mulia? Hanya karena Corter adalah seorang Dewi, kau ingin dia bekerja untukmu begitu?”


Ucap Rayen tegas, tak ada keraguan sedikitpun dalam setiap kata-katanya.


Yang dituntut oleh Ratu Megaira sebenarnya cukup sederhana, betul kata Rayan, dia sepertinya hanya ingin aku bekerja untuknya. Tak aneh kalau dia tergiur setelah mendengar diriku yang merupakan seorang Dewi. Erinyes adalah Negara yang menyembah Dewi, dengan adanya diriku dan bukti dari Ratu Alekto, tidak mungkin lagi ada orang yang ragu dengan kekuatanku.


“Nona.. Apakah Ratu ini membuatmu kesal? Perlukah saya menghabisinya?”


“Tidak, aku ingin mendengarnya lebih lama!”


Barusan aku melakukan percakapan dengan Seiren secara batin, meskipun bibirku tidak bergerak, nyatanya aku masih bisa berkomunikasi dengan baik hanya melalui pikiran.


“Memang terdengar agak kejam kalau Ratu ingin memperkerjakan Dewi sepertiku.. tapi kalau kau bersedia mendengarkan permintaanku, aku bisa memikirkannya kembali.”


Ucapku sambil tersenyum.


Ratu memasang wajah berseri-seri, dia menemukan harapan baru yang tidak bisa ia lepaskan. Jujur saja ini bukanlah sesuatu yang mudah kuucapkan, tapi tergantung bagaimana diskusi kita nanti, apakah aku akan bergabung dengan Megaira? Atau aku akan membelot dan menolaknya?


-


Aku, Rayen dan Ratu Megaira naik kereta kuda menuju ke istana besar sang Ratu. Jarak antara Tisifon – Megaira bisa ditempuh menggunakan kereta kuda dalam seharian penuh, tapi ini juga bukan kereta kuda biasa melainkan kereta kuda kerajaan.


Alasan kenapa Rayen ikut denganku berkaitan dengan permintaanku terhadap kontrak ini. Kalau Ratu menginginkan aku untuk bekerja dengannya, itu tidak masalah tapi aku juga berhak untuk menuntut hal sesuai keinginanku.


Yang kuinginkan adalah, pertama, aku ingin kehidupanku ditunjang oleh kerajaan baik diriku dalam kondisi aktif atau dalam kondisi tidak aktif, kedua, Rayen juga berhak ikut denganku dan bekerja bersamaku meskipun dirinya bukanlah ahli sihir, ketiga, identitasku sebagai Dewi wajib dirahasiakan, dan terakhir, ini berkaitan dengan kemajuan


Akarka. Aku meminta Ratu untuk memakmurkan salah satu tempat bernama Akarka di Kerajaan Tisifon, tapi itu bukanlah teritorial Ratu dan dia tidak bisa mengabulkannya. Yah, lagipula sejak awal itu adalah daerah Tisifon.


Lalu sebenarnya ahli sihir kerajaan ini pekerjaan apa? Singkatnya, itu adalah pasukan khusus pelindung Ratu dimana semua anggotanya sudah jelas merupakan ahli sihir. Umumnya akan ada ujian khusus sebelum seseorang benar-benar dilantik sebagai ahli sihir kerajaan, tapi ujian itu pengecualian bagiku. Ratu bilang dia sudah bertemu dengan ‘sosok’ yang mengagungkan kekuatanku di depannya.


Meskipun tujuan awalku adalah Akarka, tapi tak masalah kalau niatku adalah untuk mengumpulkan kekuatan dan uang. Aku ingin sekali menggunakan God’s Will untuk membuat Akarka kaya, tapi setelah Astaroth menunjukkan kekuatan Azazel, aku jadi ragu.


“Omong-omong.. apakah ada ras demi-human atau monster yang tinggal di Erinyes? Yang kulihat selama ini hanya manusia dan roh saja!”


Kataku. Suara kereta kuda yang berjalan di atas jalanan kasar membuat aku harus setengah berteriak agar Rayen dan Ratu mendengar.


“Tidak, kami bukanlah Negara bebas, yang berhak tinggal hanyalah ras manusia saja.”


Yang berhak tinggal hanya ras manusia saja? Meskipun aku bertanya pasal demi-human (setengah manusia)? Jangan-jangan itulah alasan ras Half-Elf di Akarka tampak dikucilkan. Sial, kalau begini hukumnya, tampaknya akan merepotkan untuk kedepannya.


“Kenapa kalian menolak ras monster?”


“Bukankah sudah jelas? Hukum Dewi melarang manusia untuk berhubungan dengan monster. Memangnya kamu sebagai Dewi tidak mengetahuinya?”


Jawab Rayen.


Tapi ini agak sedikit aneh, menurutku 4 Dewi Agung tidak sejahat itu sampai-sampai bertindak rasis. Atau Reftia yang tidak mengatakannya kepadaku, sampai-sampai aku tidak mengetahuinya?


“Tapi tenang saja, meskipun kami menjauhi monster, kami tidak pernah sekalipun menyakiti mereka.”


Kata Ratu menenangkanku, ketika aku mulai menunjukkan wajah kecewa dan sedih. Bagaimana tidak, aku tadi sempat salah paham kalau kerajaan ini memusuhi monster. Rasis adalah satu dari banyak hal yang kubenci.


Tak ada dialog yang terjadi antara kami bertiga, mungkin hanya beberapa penjelasan singkat saja tentang perbedaan gaya hidup di Tisifon dan Megaira. Sebenarnya meskipun berbicara masalah gaya hidup pun, aku tidak terlalu memperdulikan itu.


Benar juga, kalau diingat aku bahkan belum bercerita kalau aku adalah Dewi hasil reinkarnasi.


Perjalanan masih cukup panjang, mungkin sekitar 4 jam perjalanan lagi. Ratu memerintahkan supir agar tidak berhenti di tempat apapun, dia ingin segera sampai ke istana hari ini juga, tanpa ada keterlambatan.


Jujur saja ini membosankan, aku bahkan sempat tertidur beberapa menit ketika kami bertiga saling membisu.


-


Singkat saja, kami sudah sampai Kerajaan Bagian Megaira. Aku sempat tidak sadar kalau kami sudah sampai, tiba-tiba kereta berhenti dan Ratu mengucapkan ‘kita sudah sampai!’.


“Padahal aku hanya duduk, tapi kenapa bisa selelah ini?”


Keluhku sambil turun dari kereta kuda, aku melakukan peregangan sedikit untuk menghilangkan pegal di punggung dan bokongku. Terutama bokongku, tubuh perempuan ini terlalu indah, pinggul dan bokongku terlalu kontras sampai-sampai kelelahannya bisa dijumlahkan.


“Wahhh!!”


Aku dan Rayen takjub dengan apa yang ada di hadapan kami.


Sebuah istana yang luar biasa megah, besar, dan cantik. Tak mungkin ada orang yang tidak takjub melihat bangunan sebesar ini. Ada banyak corak dan ornamen yang menghiasi atap-atap istana, aku bisa melihatnya dengan jelas karena matahari sudah terbenam.


“Ayo, masuk! Kita istirahat dulu!”


Ucap Ratu.


‘Ayo, masuk’? Aku terakhir mendengar kalimat itu ketika mengunjungi rumah temanku. Si Ratu berkata seolah-olah ini adalah rumah biasa yang tidak pantas dikagumi. Oh, mungkin aku terlalu memikirkannya. Bodoh, siapa peduli.


Bahkan ketika kami berjalan di lapangan istana, penjaga yang berkeliling tetap menghormati Ratu yang lewat di depannya. Mereka menggunakan baju besi minimalis, lengkap dengan helm yang berbentuk seperti topi. Karena helm itulah, aku tidak bisa melihat jelas wajah mereka yang sedang menunduk. Apakah mereka serius menunduk? Atau ada pengkhianat? Entahlah. Tapi mari berpikir positif saja.


Yah, mau dilihat bagaimanapun juga, ini sudah terlalu mewah menurutku. Terkadang ada dinding yang berhiaskan emas asli, dan lampu-lampu yang berhiaskan berlian. Ini sungguh diluar dugaanku mengingat Ratu Megaira sepertinya bukanlah sosok yang suka mengumbar kekayaan, aku bisa lihat dari pakaiannya.


Oh benar juga, istana itu pasti peninggalan dari Ratu sebelumnya, tentu saja bukan Ratu Megaira sekarang yang


membuatnya.


“Omong-omong, yang mulia, dimana singgasana anda? Ah, maaf kalau pertanyaanku sedikit menyinggung.”


Tanya Rayen, setelah dia mengamati dengan seksama setiap sudut istana.


“Ada di lantai paling atas, disana sangat menyenangkan.. lebih banyak angin berhembus.”


“Aku yakin tujuannya pasti agar kalau istana ini roboh, Ratu-lah yang mati lebih dulu karena terjun dari ketinggian.”


Ucapku bercanda.


“B-Bukan! Tujuannya agar melambangkan kedudukan kami sebagai Ratu, sosok yang terus berada di puncak!”


Ya, terserah, aku juga paham akan hal itu.


Yang lebih penting, aku dan Rayen memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Ratu mengantarkan kami ke kamar yang setidaknya kosong dan bisa ditempati. Karena ada banyak sekali kamar yang sudah ditempati oleh tokoh sentral kerajaan, ataupun ruangan penting lainnya seperti perpustakaan dan ruang penelitian.


Sayangnya aku dan Rayen ditempatkan di ruangan yang berbeda, walaupun kamar kami bersebelahan, namun karena satu ruangan memiliki luas yang sangat besar, aku seolah tidak bisa merasakan keberadaan Rayen dari ruang sebelah.


“Melelahkan..”


Aku berbaring di kasur yang sangat empuk dan luas. Tapi sepertinya ada yang tidak sempurna dari istirahat


ini, biasanya untuk menikmati kenyamanan hotel, harus dimulai dari diri sendiri.


Mengingat itu, aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Aku malas mencari Ratu, dan Rayen juga mengunci pintunya, terpaksa aku mandi seorang diri. Entah kamar mandi seperti apa yang menungguku, tapi karena ini istana semoga saja tidak mengecewakan.


Akhirnya setelah lama berkeliling dan bertanya-tanya kepada para penjaga disana, mereka bersedia mengantarkanku ke kolam renang itu. Yah, mereka terlihat gugup ketika aku berkata ingin mandi. Tapi ya sudahlah.


“Wahh!!”


“Itu.. perlukah saya berjaga di depan pintu, nona?”


“Oh, tidak perlu. Terima kasih!”


Sang penjaga menundukkan kepalanya dan beranjak pergi, meninggalkan aku sendiri dengan kamar mandi ini. Jujur, aku berseru ketika melihat pintu yang luar biasa besar, inikah yang mereka sebut ‘kamar mandi’? Kurasa isinya sedikit berbeda dengan dugaanku.


Aku buka pintu besar itu, uap putih yang hangat keluar dari dalam dan mengusap wajahku. Ketika aku masuk, aku baru tahu kalau ini adalah kolam. Ya, ini adalah kolam pemandian air panas. Hebat juga kalau punya tempat seperti ini di istana.


Aku menutup pintu, melepas pakaianku dan segera melompat ke dalam kolam. Sebenarnya aku sama sekali tidak paham dengan tradisi mandi di kolam air panas, jadi kesempangkinkanlah itu dan bersenang-senang saja.


Kolam tidak berada tepat di belakang pintu, setidaknya aku berbelok dua kali untuk menemukan kolam ini. Karena yang ada di ruangan ini bukan hanya ada beberapa kolam, melainkan ada tempat bilasnya juga.


“Sudah kuduga ini sangat nyaman.. rasa lelahku hilang semua.”


Airnya tidak terlalu panas, kehangatan yang benar-benar sempurna untuk tubuh seorang gadis. Tubuhku seolah dipijat dan rasa letihku semuanya menghilang. Sebenarnya bukan benar-benar menghilang, tapi aku sudah tidak bisa merasakannya lagi karena tersamarkan oleh air hangat.


Aku menunduk, dan mulai memejamkan mata.


Benar juga, kini aku adalah seorang gadis, bukan lagi laki-laki, aku bahkan sampai mencintai seseorang. Mungkin aku harus memperbaiki sedikit kelakuanku.


Tanganku masuk di antara dua pahaku yang mulus, ada lubang aneh disana. Entah kenapa aku menjadi merasa malu sendiri ketika menyentuh ‘itu’. Tidak, tidak, aku tidak mau melihatnya, lagipula aku juga sudah hafal dengan bentuknya.


Sekarang masalah dadaku, ketika kusentuh sama sekali tidak ada tonjolan yang menggoda, benar-benar rata seperti punya laki-laki. Apa tidak ada cara untuk membesarkan dadaku ya? Kalau tidak salah temanku pernah berkata, kalau dada wanita diremas oleh laki-laki yang dia sukai, itu akan membuatnya semakin besar.


Eh, bodoh sekali, mana mungkin aku meminta Rayen untuk melakukannya!


Aku termenung cukup lama, membiarkan badanku membaur dengan gelombang air hangat. Saat aku sedang termenung, aku mendengar suara pintu yang terbuka. Apakah ada orang lain yang ingin mandi? Spontan aku menenggelamkan diriku sampai setengah wajah.


Suara langkah kaki yang terdengar jelas karena tercampur dengan percikan air, perlahan-lahan mulai mendekat dan memperlihatkan sosok seseorang.


“C-C-Corter?!!”


Itu adalah Rayen. Dia datang dengan menggunakan pakaiannya dan berdiri di atas kolam. Seketika dia terkejut ketika melihatku sedang berendam.


Rayen memutar badannya dan meminta maaf, tapi sepertinya dia hanya berniat untuk berpindah kolam dan bukannya pergi.


“Tunggu! Rayen.. kemarilah!”


“Heh?!!”


“A-Ada yang ingin kubicarakan!”


Rayen mundur perlahan dengan badannya masih terbalik, aku tak bisa melihat wajahnya, tapi mungkin dia tampak malu karena dia mengangkat bahunya dengan canggung. Tangan Rayen juga gemetar setelah aku memanggilnya.


“Rayen.. kamu boleh berendam disini..”


“T-Tapi itu..”


“Sudahlah, menurut saja!”


Beberapa lama aku menunggu, Rayen mulai menggerakan tangannya yang gemetar dan dia mulai melepas pakaiannya secara perlahan-lahan. Aku tak tahu ketakutan seperti apa yang membuat Rayen sampai begitu gemetarnya. Yah, dia adalah pria baik, tentu saja akan merasa terguncang kalau situasinya seperti ini.


Tak usah ditanya lagi, Rayen benar-benar telanjang, tapi tenang saja karena dia menghadap belakang aku sama


sekali tidak melihat apa-apa.


Dia masuk ke kolam dengan cara mundur, aku hanya bisa mengalihkan pandanganku, takutnya ada sesuatu yang tidak sengaja kulihat.


“Jadi.. apa yang ingin kamu bicarakan?”


Ucap Rayen gugup.


Astaga, jarak kami sangatlah jauh. Bukan hanya diameter kolam ini yang sangat panjang, tapi kami berdua sama-sama berendam di ujung dan ujung.


Aku memberanikan diri untuk berenang mendekat, permukaan air yang tetap tenang meskipun aku bergerak, itu membantuku untuk mendekati Rayen secara diam-diam. Tampaknya Rayen belum sadar ketika aku mendekatinya.


Ketika kami sudah sangat dekat, aku memeluk punggung Rayen.


“Hwaa.. C-C-Corter.. A-Apa yang kamu lakukan?!!”


Rayen berteriak kencang ketika dadaku menempel di punggungnya.


“Sstt.. jangan berteriak sekeras itu!.. huff..”


Aku berbisik tepat di telinga Rayen, kemudian dengan sengaja meniup telinganya. Itu membuat Rayen semakin gugup, aku bisa merasakan badannya menjadi panas karena malu. Wajahnya juga sangat merah ketika udara yang kutiup sampai di telinganya.


Seperti biasa, pelukan dari tubuh Rayen memang yang terbaik, aku bisa menikmati momen ini semalaman tanpa merasa bosan.


Inilah yang kumakud dengan istirahat sempurna.