
Sesuatu yang kubayangkan, adalah sesuatu yang nantinya akan menjadi kenyataan. Tapi itu tidak berlaku ketika aku masih menjadi manusia.
Tapi kini aku adalah seorang Dewi, seorang Pencipta, bagiku manusia hanyalah sekumpulan benda yang wajib menyembahku.
Tak terkecuali iblis sekalipun, justru para iblis itu adalah makhluk menjijikan yang lebih kotor dari sampah. Membayangkan bagaimana mereka bisa bahagia melihat orang lain menderita, itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisakupahami seumur hidupku.
Iblis Astaroth menunjukkan kesetian gilanya kepada Raja Iblis Azazel, entah cara apa yang digunakan Azazel untuk memperbudaknya, tapi itu cukup miris menurutku. Tak jarang aku merasa takut ketika orang jahat berkumpul dengan orang jahat, aku selalu menghindarinya. Tapi kini berbeda, aku sudah tidak takut lagi, aku tidak akan pernah berlari lagi. Karena, iblis adalah makhluk yang harus menyembahku!
“Apa kau yakin?..”
“Huh?!”
“Apa kau yakin menaruh kakimu di wajah seorang Dewi?”
Ucapku.
Saat itu, aku sudah mengaktifkan skill God’s Will. Sebuah kekuatan maha dasyat yang hanya dimiliki oleh seorang Pencipta. Kekuatan yang mampu memberikanku kebebasan, lebih dari makhluk manapun.
Astaroth menginjakkan kakinya dengan sangat keras, ketika kata ‘Dewi’ muncul di mulutku.Itu membuat tubuhku semakin terperosok ke dalam tanah, dan lubangan yang ia buat juga semakin besar.
Selesai menginjakku berkali-kali, Astaroth pergi ke permukaan, memandangi kehancuran yang baru saja ia buat. Dengan penuh kepuasan, ia tersenyum bahagia dan bangga, ketika padang rumput yang sangat luas itu berubah menjadi pemakaman.
“Sepertinya.. kau hanya wanita bodoh yang cukup kuat untuk menjemputku. Sebelum mendambakan kekuatan, lihatlah dulu makhluk apa sebenarnya kau ini.. bodoh!”
Baiklah, dia sudah menghinaku sampai ke titik ini. Astaroth berani melawanku, dia juga berani mengeluarkan kata hinaan. Sudah, itu sudah cukup untuk membuatnya bersujud.
Aku bangkit dari kubangan tanah itu. Perlahan berjalan menuju Astaroth yang terkejut bukan main ketika aku masih bisa berdiri tegak. Wajah sadisnya berubah menjadi wajah penuh kecemasan. Bahkan setelah menerima auraku, iblis sepertinya juga tetap mundur beberapa langkah.
“Wahai dunia, semesta ciptaan kami yang agung nan abadi. Di sini, Dewi Corter memanggilmu, atas nama gelar Dewi di hatiku. Dengan ini, aku memerintahkan semesta ini untuk bersujud. Jadikanlah kekuatan dan wujudkanlah keinginanku!”
Starlight Eternity!
Sebuah pedang panjang, berbalut emas dengan cahaya yang sangat indah. Pedang ciptaan hasil bentuk hati Dewi Corter. Itu adalah pedang yang mampu memotong segalanya, termasuk waktu dan takdir. Perwujudan abadi dari sebuah semesta yang Dewi genggam. Itulah, hasil kekuatan yang kubayangkan dari God’s Will, Pedang Agung Starlight Eternity.
Dengan cepat, aku menebas pemandangan di didepanku tanpa pikir panjang. Hasil tebasannya membuat tanah bergemetar dan hancur. Begitu juga langit di atasku, yang mulai retak dan menunjukkan warna hitam yang jelek.
Entah dengan cara apa Astaroth menghindar tadi, tapi dia sempat menghilang dan kembali lagi ketika tebasannya berakhir.
“Astaroth, sekali lagi, kuperintahkan kau untuk bersujud dan meminta maaf kepada Dewi Corter ini!”
“Cih, God’s Will ya?.. itulah kenapa kami benci Dewi.”
Jawab Astaroth angkuh. Tak ada perasaan terkejut dari dirinya walaupun aku telah menunjukkan kekuatan Dewi-ku.
Buku yang ada di tangan kiri Astaroth, aku ragu itu adalah buku biasa. Konyol sekali kalau Astaroth membawanya kemana-mana tanpa alasan yang jelas. Aku menduga kalau buku itu memiliki kekuatan tersendiri.
Benar saja, ketika Astaroth membuka buku itu dan membacakan mantra permohonan kepada Azazel, sebuah pentagram dengan motif yang cantik muncul di depan kami. Pentagram itu memiliki banyak simbol di sekelilingnya yang tidak bisa kumengerti sama sekali.
Astaroth menjulurkan tangan kanannya pada pentagram miliknya, sedangkan yang kiri tetap membuka halaman buku satu persatu.
Mantra yang berisikan kalimat-kalimat pemujaan setan yang terdengar menyakitkan di telinga manusia manapun,
“Anda adalah perwujudan dari kekuatan! Anda adalah makhluk yang patut disembah! Anda adalah Dewa kami, wahai Raja Azazel. Saya, Pangeran Astaroth, bangsawan di neraka yang anda kuasai, dengan ini memohon dengan segala penyembahan kepada anda untuk memberikan hamba kekuatan. Hancurkanlah Dewi yang menghinaku!”
Setiap Astaroth selesai menyelesaikan satu kalimat, pentagram itu semakin menunjukkan cahaya dan kekuatan yang sangat besar. Lingkaran dengan bintang di tengahnya itu semakin lama semakin besar, dia seolah ingin melahapku.
Selesai membaca mantra, dari dalam pentagram itu muncul api hitam yang luar biasa panas, seperti laser mungkin. Itu terhempaskan dengan sangat cepat ke arahku tanpa ada tanda peringatan sebelumnya. Aku yang menerima serangan itu dengan tenang pun tetap merasakan sedikit hangat dari api neraka Azazel.
Ketika serangannya berakhir, kulihat lapangan ini menjadi tandus, kebakaran dimana-mana dan langit yang kubuat retak semakin menjadi gelap. Tapi yang kupikirkan saat ini bukanlah masalah itu.
Serangan tadi tepat menuju ke arahku, melewati diriku dan meluncur lurus kebelakang. Itu artinya, serangan itu mengenai Rayen yang sedang ada di rumahnya. Rayen yang sama sekali tidak mengetahui tentang serangan itu, apakah dia sempat menghindar?
Ketika aku berbalik, sungguh menakutkan, bukan hanya rumah Rayen yang hangus dan terbakar, tetapi seisi desa juga seolah lenyap, tak ada tanda kehidupan sedikitpun.
“Kau.. Astaroth.. kalau kau sampai membunuh Rayen.. sungguh, aku akan menangkapmu dan membuatmu tersiksa di nerakamu sendiri!”
Aku mengatakan itu dengan penuh ancaman. Aura yang kukeluarkan tidak lagi suci dan indah, namun cenderung kotor dan mencekam. Apa yang kupikirkan kini tidak lagi jernih layaknya seorang Dewi. Aku terus-terusan membayangkan bagaimana Rayen mati terbakar karena serangan tadi.
Aku hampir melupakan Rayen, ketika aku menebaskan kembali pedang agung kepada Astaroth. Dengan penuh emosi dan kehampaan, yang kuinginkan hanyalah kebinasaan Astaroth.
Tetapi, berapa kalipun aku mencoba, Astaroth selalu menahannya dengan pentagram yang ia buat. Simbol tanduk kambing yang berada di sekitar pentagram itu seolah menyerap semua kekuatanku. Bahkan langitpun sampai terbelah menjadi dua. Padahal saat itu masih pagi, tetapi rusaknya langit merubah warnanya menjadi ungu gelap.
Mengetahui seranganku berakhir sia-sia, aku mendiamkan sebentar keadaan ini, mengistirahatkan tubuhku. Lagipula lapangan juga sudah penuh dengan debu dan asap, aku bahkan tidak bisa lagi melihat kakiku sendiri.
“Bahkan Dewi sekalipun tak sanggup melawan Yang Mulia Raja Azazel.. apa kau masih menganggap dirimu seorang Pencipta?”
Astaroth mengatakannya dengan wajah sombong, ketika asap sudah mulai menghilang dan sosoknya kembali muncul.
“Nona.. anda..”
Seiren yang sejak awal sudah diam, kini dia mulai bicara kepadaku.
“Seiren diam dulu!”
“Baik.”
Aku sangat lelah, tubuhku serasa melayang karena otot-ototku sudah tidak lagi terasa. Tubuhku terasa ingin rubuh dan jatuh ke tanah, tapi kalau aku melakukan itu sama saja aku menunduk kepada Astaroth.
Melihat diriku yang sedang kesusahan, Astaroth mendekat sambil menutup bukunya. Pentagram yang ada di depannya pun ikut menghilang. Dia dengan sombongnya berjalan mendekat dan terus-terusan menghinaku. Padahal seharusnya ini adalah kesempatan untuk menyerang balik, tetapi aku bahkan tak sanggup lagi menggunakan pedang agung.
“Seiren.. Seiren, bantu aku!”
Aku mengatakannya dengan penuh keputusasaan.
“Baik, nona!”
Demon Spirit Seiren keluar dari tubuhku.
Seiren melipat tangannya di depan Astaroth, itu hanyalah tindakan yang biasanya memang dia lakukan. Tetapi Astaroth tidak merasa terhina, dia juga bersikap biasa saja.
“Owh.. kau punya sesuatu untuk membantumu?”
Ucap Astaroth tenang.
“Kalau begitu.. aku juga akan menggunakan budakku, Coyote!!”
Astaroth menyebut nama Coyote dengan keras, bersamaan dengan dia yang melempar rakun di pundaknya.
Ketika terbaring di tanah, rakun itu tiba-tiba berubah menjadi sosok yang lebih menyeramkan lagi. Badannya menjadi lebih besar dan perwujudannya sudah sedikit lain. Terlihat seperti serigala, menurutku. Tapi anehnya serigala itu tidak berdiri dengan keempat kakinya, melainkan hanya dengan kedua kakinya, persis seperti manusia.
Astaga, ini semakin merepotkan.
“Tenang saja nona, saya akan membereskan iblis serigala ini untuk anda!”
Selesai mengatakan itu, Seiren melesat dan menghantam si iblis serigala. Mereka saling bertabrakan, tetapi Seiren membuatnya terdorong dan mengangkatnya. Ya, Seiren mengangkat iblis itu ke langit. Terlihat seperti meteor yang melesat cepat menuju atas, begitulah aku melihat Seiren.
-
Sekarang, masalahnya tinggal Astaroth saja.
Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku berusaha penuh untuk mengiritnya. Dan jawaban yang kutemukan dari permasalahan ini adalah skill ‘Handless Pointing’.
Menggunakan skill itu, aku membuat tanah di sekitar Astaroth terbelah, lalu ketika dia mulai jatuh ke bawah, aku menutupnya dan menekannya dengan kuat. Entah itu berhasil atau tidak, aku sudah tak punya pilihan lain.
Sialnya dugaanku tepat, itu tidak berhasil. Jangankan terluka, Astaroth terlihat sangat tenang ketika dia membuat tanah yang menjepitnya itu hancur.
“Menggunakan God’s Will sepertinya terlalu memberatkanmu ya? Ada apa? Teressa tidak pernah seburuk dirimu sebelumnya?!”
Ucap Astaroth.
“Aku dan Teressa masih jauh berbeda! Jangan rendahkan Dewi Agung, dasar iblis sialan!!”
Aku berteriak seperti itu. Bahkan dengan berteriak pun aku masih tidak kuat, aku sempat kekurangan napas untuk melontarkan kata demi kata.
“Wahai dunia, semesta ciptaan kami yang agung nan abadi. Di sini, Dewi Corter memanggilmu, atas nama gelar Dewi di hatiku. Dengan ini, aku memerintahkan semesta ini untuk bersujud. Jadikanlah kekuatan dan wujudkanlah keinginanku! God’s Will.. Handless Pointing!!!”
Dengan menggabungkan kekuatan God’s Will dan Handless Pointing, aku membuat bulan, bintang dan planet-planet bersujud. Kemudian aku memerintahkan mereka untuk memberikan sedikit bagian dari kekuatan mereka, kekuatan yang melambangkan alam semesta itu sendiri
Ketiga benda langit itu menggabungkan sedikit dari bagian mereka, dan mengumpulkannnya menjadi beberapa bagian batuan seperti meteor yang berterbangan dengan diselimuti api tebal.
Terbang dengan kecepatan super tinggi dari atas atmosfir, batuan meteor itu menghujani Astaroth secara membabi buta. Yang kali ini sepertinya aku sudah berhasil memaksimalkan kekuatan Handless Pointing, Astaroth juga tidak bisa menghindar begitu saja.
Selagi meteor terus menghujani Astaroth, aku dengan segala keinginanku untuk menghapuskannya, terpaksa untuk kembali menggunakan God’s Will. Aku menggunakan kekuatan God’s Will untuk menjadikan pedang Starlight Eternity sebagai bagian dari tubuhku sendiri, dengan begini aku dan pedang agung saling membagi kekuatan. Sedangkan Starlight Eternity adalah benda mati yang tak memiliki batasan kehidupan atau abadi. Dengan kata lain, aku juga abadi.
“Kepada iblis Astaroth, salah satu bangsawan neraka yang menundukkan kepalanya di depan Azazel. Dengan ini Dewi Corter sebagai Pencipta-mu akan menghapuskan dirimu dari semesta agung kami!!”
Aku berteriak seperti itu, walaupun tanpa arti setidaknya itu bisa membuat semangatku kembali pulih. Apalagi setelah tubuhku menjadi lebih sedikit segar ketika pedang agung bersatu denganku.
Dari jarak jauh, aku kembali menghempaskan tebasan Starlight Eternity kepada Astaroth. Sebuah gumpalan cahaya yang sangat besar muncul dari pedangku. Itu membuat dunia dan semesta ini bergemetar.
Pada akhirnya, semua serangan itu juga tidak bisa terus-terusan kulancarkan, masalahnya semesta ini bisa rusak kalau terus kuperintah.
Semua kekacauan sudah berakhir, wujud Astaroth kini terbaring lemah di tanah bebatuan yang mengeras akibat panas meteor yang luar biasa.
Aku melompat dan berdiri tepat di hadapan Astaroth, dia melihatku dengan tatapan jengkel.
“Kini kau tak lagi terlihat seperti bangsawan neraka, ada apa? Apa kau tidak sanggup membawa nama baik Azazel di hadapanku? Sungguh bodoh ya, dirimu ini! Berani-beraninya menantang Dewi sepertiku.”
Ucapku pada Astaroth.
Aku menusukkan pedang agung pada perut Astaroth, itu membuatnya sangat kesakitan, ia bahkan sampai memuntahkan darah berwarna hitam karena itu. Apapun itu, dia sepertinya sudah mencapai pada batasnya. Sepertinya ini sudah selesai.
“Sialan.. tak pernah kusangka kalau Dewi baru.. akan benar-benar lahir.”
Astaroth berkata dengan penuh penderitaan, dia memaksakan kalimatnya hanya untuk mengatakan itu.
“Bukankah sudah kubilang sejak awal? Kalian saja para iblis selalu membangkang kepada kami, apa kalian tidak malu berbuat seperti itu kepada pencipta kalian?”
“.. puja Raja Azazel!”
Tanpa menjawab pertanyaanku, Astaroth menghilang dan berubah menjadi bayangan yang menguap. Sosoknya kini sudah tak lagi tampak, pedang agung sempat jatuh ke tanah karena tubuh Astaroth menghilang.
Tapi meskipun begitu aku masih tidak yakin apakah dia benar-benar mati atau tidak.
Aku melihat ke arah Seiren, dia masih fokus bertarung dengan Coyote di angkasa, tampaknya mereka sengaja memilih tempat yang berjauhan dari lokasi meteor. Itu juga tidak berlangsung lama, Coyote juga berubah menjadi bayangan dan menghilang, sama seperti Astaroth.
Seiren menoleh ke arahku, aku membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.
-
Semuanya sudah berakhir, kebodohanku karena sudah memanggil Astaroth ke dunia ini juga harus segera diselesaikan.
Dengan menggunakan kekuatan God’s Will sekali lagi, aku membuat dunia ini kembali seperti semula. Termasuk pemandangan, langit dan tentu saja desanya Rayen. Seperti waktu yang diputar kembali, semuanya kembali dibangun dari ulang.
Rumah Rayen juga kembali berdiri kokoh tepat di depan sana. Aku dengan cepat berlari menuju rumah kayu itu, berharap saja Rayen juga kembali selamat.
“Syukurlah!”
Gumamku pelan, ketika kulihat Rayen sedang tertidur di bangku tempat dia membersihkan pedang. Ternyata dia baik-baik saja. Aku sangat bersykur.
Terserahlah, sepertinya kalimat bersykut itu terkesan aneh. Dulu sebagai manusia aku masih bisa bersyukur kepada Tuhan, tetapi kini kepada siapa lagi aku harus bersyukur?
Tidak, aku memang harus bersyukur. Aku bersyukur kepada Rayen karena dia sudah memberikanku harapan.