Goddess Corter

Goddess Corter
Archangel (1)



Di sisi lain dari surga.


Seorang pria berbadan kekar yang menjunjung kehormatan raja di pundaknya, pria yang memiliki wajah tampan dan bermartabat. Tak salah lagi dia adalah pemimpin yang mampu mengolah Negara kecil menjadi pesaing tangguh.


Namanya adalah Raja Alard Albarac, pemimpin kerajaan Albarac.


Ia sendiri tengah bertanya-tanya, ada dimana ini?


Oh, tidak, dia kenal tempat ini.


Ini adalah surga, tempat dimana dia pernah menghabiskan banyak waktu yang sulit ia ingat dengan otak manusianya. Ketika rumput surga menempel di telapak tangannya, banyaknya waktu yang pernah dilakukannya kembali teringat.


Tapi tak ada waktu untuk bernostalgia, karena saat ini ia tengah ditodong oleh rapalan mantra sihir tepat di depannya.


Seorang perempuan tanpa ekspresi yang mengeluarkan lingkaran sihir elemen es. Tanpa ragu, perempuan itu berdiri di hadapan raja yang tersungkur di tanah.


Raja panik ketika mendapati dirinya berada di situasi yang merugikan, sambil memegangi pedang panjang di pinggangnya, raja mulai bersiap.


***


Aku yakin puluhan jam berlalu sejak dimulainya perang antara aku dan para malaikat.


Benar kata Teressa, tak ada rasa bosan di surga. Semangatku melawan mereka masih sama seperti ketika pertama kali memulai, yang sebenarnya sama sekali tidak ada sedikitpun semangat yang kukeluarkan.


Jumlah mereka mulai menyusut. Anggap saja dalam semenit aku bisa membunuh berpuluh-puluh dan kalau beruntung bisa sampai ratusan. Sangat kecil sekali kemungkinanku untuk kalah dalam perang ini, karena sebanyak apapun mereka menyerang tak ada satupun yang berakibat fatal.


Kalau dalam game mereka mungkin seperti prajurit gratisan yang tak memerlukan waktu lama untuk dimunculkan.


Tapi meskipun begitu tetap ada tenaga yang kukeluarkan, bukan berarti aku bisa mengalahkan mereka seperti menginjak semut.


“Teressa, memangnya kau belum puas? Aku tak tahu sihir apa lagi yang harus kukeluarkan agar terlihat keren.”


“Siapa peduli, kamu lakukan saja sesukamu.”


Ya sudah, mau bagaimana lagi.


Wind Blade!


Semua malaikat yang tersisa berubah menjadi balon air yang pecah, dimana yang keluar adalah darah segar mereka. Sejujurnya sihir inilah yang kupakai untuk menghabisi sebagian besar dari mereka, sedangkan sisanya hanya untuk bermain-main.


Sekarang langit sudah bersih. Oh, setidaknya kalau tidak ada hujan darah akan menjadi ‘bersih’.


“Sudah selesai. Apa aku bisa mendapat persetujuanmu sekarang?”


Aku mendaratkan tubuhku di tanah dan mulai berbaring di rumput. Rasa lelah akibat dihantam udara terus-menerus, selama menjadi manusia aku sama sekali tidak pernah terbang. Tidak, dulu aku memang tidak mungkin bisa terbang.


“Corter, apa kamu lupa? Masih ada archangel yang harus kamu lawan..”


Teressa mengeluarkan tawa licik yang membuat siapapun gemetar mendengarnya. Tapi aku menghiarukan tawa itu.


“Pasti mereka tak jauh berbeda dengan prajurit gratisan itu kan? Bosan aku meladeninya..”


Sekarang aku mengarahkan badanku ke samping untuk membuat tidurku lebih nyaman.


Beberapa detik kemudian, ketika kesadaranku mulai melayang, aku merasakan tanah bergetar dimana getarannya


semakin lama semakin terasa. Awalnya aku menduga itu gempa bumi, tapi konyol sekali kalau ada fenomena alam di surga. Apa ini sejenis sihir?


Kemudian, dari dalam tanah yang tepat berada di depanku, sebuah ledakan terjadi. Apa ini ulah archangel Ledakan itu membuat debu yang membuatakan pandangan di sekitar, aku terpaksa harus melompat ke belakang untuk berjaga-jaga.


Ketika debu pasir mulai menghilang, aku berencana untuk mengeluarkan sihir super besar kesana. Tapi yang muncul disana adalah..


.. sekumpulan loli.


“Hiya!!”


Tujuh loli yang berbaris memanjar ke samping, mereka membuat pose masing-masing.


Seperti pahlawan super yang tiba-tiba muncul dari ledakan, kemudian berpose gagah, seperti itulah pandangan mereka sekarang. Astaga, pose mereka mungkin lebih aneh.


Dengan wajah sepolos dan seimut itu, mana mungkin ada makhluk yang bisa takut dengan mereka. Dan juga, apa-apaan ini? Aku merasa dibohongi oleh buku di perpustakaan, disana tertulis archangel adalah wanita dewasa yang cantik dan anggun.


Nyatanya mereka hanyalah sekumpulan anak-anak yang masih suci.


Apa mereka adalah power rangers? Jangan-jangan power rangers di dunia lamaku referensinya di dapat dari para malaikat imut ini.


Sebenarnya apa sih yang mereka coba lakukan?


“Wahahah!! Lihatlah, ini adalah pasukan malaikat terkuatku, para archangel! Sekarang kamu akan mengerti betapa kuatnya mereka, Corter!”


“Tidak, tidak, malaikat gratisan itu justru lebih menakutkan daripada mereka.”


Beberapa menit berlalu ketika para malaikat loli memperlihatkan pose mereka. Mereka yang berpose, entah kenapa aku yang malu.


Setelah itu, mereka mulai mengganti pose mereka bersamaan dengan menyebutkan nama masing-masing, bersamaan dari kiri ke kanan.


“Aku Gabriel!”


“Aku Michael!”


“Aku Raphael!”


“Aku Zaphiel!”


“Aku Azrael!”


“Aku Uriel!”


“Aku Israfel!”


“Dan kami adalah.. pasukan archangel!!”


Ya ampun, imutnya..


Mereka benar-benar berpose seperti kelompok pahlawan. Aku tidak sedang menyaksikan wahana drama kan? Satu


saja pun boleh, aku ingin mengadopsi satu dan berkeluarga dengan Rayen.


Tanpa disadari aku tersenyum-senyum sendiri memikirkan bagaimana aku memeluk mereka. Tubuhku mulai mendekati mereka, selangkah demi selangkah, keimutan para malaikat itu sudah mengunci hatiku. Ah.. aku ingin memeluk mereka.


Tidak.. tidak jadi.


Salah satu dari mereka, yang berada di barisan ujung, kalau tidak salah namanya Gabriel. Dia mengeluarkan tongkat berwarna emas menyala yang diarahkan kepadaku.


Dia mengayunkannya dengan tanpa tenaga.


Tapi, hanya dengan ayunan sepelan itu mampu membuat tanah di surga ini terbelah.


Untungnya aku sempat menghindar. Ketika kutengok ke belakang, pandanganku terhadap mereka berubah 180 derajat. Sebuah sungai, tidak, sebuah retakan yang amat besar tiba-tiba saja muncul. Seolah dibelakangku baru saja dilewati cacing monster.


Loli gila.


“Teressa.. kau membuat senajata pembunuh dalam bentuk anak-anak? Sebentar, aku akan mencari pasal untuk menjeratmu.”


“Ahaha!! Itu namanya jenius, Dewi Kecerdasan Reftia bahkan tak mungkin memikirkan hal sehebat ini.”


Tidak, jangan mengaitkan Reftia dalam hal ini. Justru karena Reftia cerdas tidak mungkin dia mau membuat loli menjadi kelompok pembunuh.


Yang benar saja. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan setara dengan raja iblis Azazel. Kira-kira bagaimana reaksi Azazel ketika pertama kali mendengar hal ini? Hiks.. aku merasa prihatin dengan iblis yang pernah membunuhku sendiri.


“Power rangers sekalian, aku pribadi tak mungkin menyakiti anak dibawah umur. Karena perang ini tak ada


untungnya bagi kalian.. dan demi kepentingan kedua belah pihak.. aku menawarkan perjanjian perdamaian!!”


Aku mengangkat tanganku di depan tujuh malaikat itu, seolah-olah aku adalah instruktur perang yang sedang berpidato.


Melihat aku yang berpidato, mereka justru saling tatap dengan bertanya-tanya kepada sesamanya sendiri. Berbisik-bisik, mereka menutupi mulutnya agar aku tak bisa mendengar. Tapi itu tetap terdengar juga..


“Power rangers itu apa?”


“Anak dibawah umur itu kita ya?..”


“Kakak itu berpose aneh loh..”


“Kita tanyakan saja pada Dewi Teressa yuk!”


Apa aku yang bodoh karena meladeni mereka, atau mereka yang bodoh sejak lahir?


Lagian, tadi yang bilang poseku aneh itu siapa? Memangnya kalian tidak bisa berkaca?


Ya sudah, mereka ‘kan anak-anak.


Aku menghampiri mereka sambil tersenyum, awalnya mereka panik dan siap menyerang, bahkan Gabriel kembali mengeluarkan tongkat emasnya. Tapi sebelum dia menyerang lagi, saatnya aku mengeluarkan jurus andalanku, jurus yang tak pernah ada di dunia ini.


Itu adalah jurus yang lahir dari kepahitan hidupku, ketika aku tak sengaja salah jurusan dalam mengambil mata kuliah. Benar, jurus itu dinamakan, pendekatan.


“Tenang saja, kakak tidak berniat jahat kok..”


Kewaspadaan mereka menurun, sesuai dugaanku mereka tetaplah anak-anak. Aku membungkuk di depan anak-anak itu dan mulai mengelus kepala mereka satu per satu.


“Apakah kalian muncul untuk menghancurkan kakak?”


Tanyaku dengan nada lembut.


“Ya! Dewi Teressa bilang kami akan mendapatkan hadiah kalau berhasil membuat kakak jatuh lemas.”


Dan mereka menjawabnya dengan kilauan di mata.


Teressa sialan, apa yang kau ajarkan pada anak-anak ini?


“Tapi, mengalahkan kakak adalah hal yang sangat sulit. Kalian membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk melakukannya. Tentu kalian tidak mau kelelahan kan?”


Mereka membuat wajah melas,


“Kelelahan.. menjijikan.”


“Kami tidak ingin lelah.”


Jelas, anak-anak perempuan pada umumnya sangat benci dengan kelelahan. Teressa, seandainya kau mengerti bagaimana keseharian anak perempuan, pasti saat ini aku sudah kalah.


Karena bagaimanapun juga, ketika masih menjadi pegawai kantoran yang sibuk dulu, aku sering menghibur diriku sendiri dengan memandangi anak-anak yang berangkat ke sekolah. Wangi mereka, suara mereka, aku mengagumi itu semua lebih dari siapapun.


Kalau masalah anak-anak, tak ada yang bisa mengalahkan sang Darren Corter.


“Kalau kalian tidak mau kelelahan, bagaimana kalau kita tentukan dengan suit saja?”


“Oh.. Dewi Reftia sering melakukan suit dengan Dewi Nivalda.”


Apa yang kedua dewi itu lakukan di waktu senggang mereka?


“Kalian akan melawan kakak satu per satu, sekali saja kakak kalah maka kalian boleh menang.”


Pasukan loli itu membuka mulutnya lebar-lebar. Terlihat betapa senangnya mereka ketika aku menawarkan permainan sederhana ini.


Suit, permainan dimana kedua lawan saling tebak untuk menentukan apa yang akan lawan keluarkan. Tapi sebenarnya tidak begitu, itu bukanlah tebak-tebakan apalagi permainan keberuntungan. Semua ada perhitungannya.


Dan sekali lagi, jangan remehkan lulusan mahasiswa yang salah jurusan ini, kalau hanya sekedar membaca gerak tubuh itu jauh lebih mudah dari bernapas.


Mustahil bagiku kalah dalam permainan suit.


Dan..


Benar. Aku memenangkan semua giliran, tujuh kali menang berturut-turut tanpa kalah.


Aku menatap ke langit dengan senyuman licik.


“Bagaimana Teressa? Umat manusia yang salah jurusan ini mampu mengalahkan dewi.”


“.. terserahlah, aku sudah tak peduli. Selamat..”


Teressa menjawabnya dengan nada datar. Aku yang tadinya bersiap untuk selebrasi jadi bingung sendiri.


Tapi, dengan ini aku bisa mendapatkan persetujuan dari Dewi Teressa dan akan dinobatkan menjadi Dewi Agung. Memang ada beberapa hal yang tidak bisa kuperkirakan, tapi terkadang humor juga bukanlah hal yang buruk.


Reftia, aku berhasil melakukannya! Aku berhasil berdiri di tempat yang sama denganmu.


***


Kembali ke Raja Alard Albarac, dia mulai kewalahan menghadapi sihir es yang dikeluarkan perempuan gila ini. Bukan hanya tak berekspresi, dia bahkan tak segan-segan untuk membekukan sebagian daratan agar raja tak bisa melangkah.


Disaat pertempuran mereka, ada sosok yang cantik dengan sayap di punggungnya tiba-tiba menghampiri mereka. Seolah dikelilingi oleh cahaya, raja dan lawannya tak bisa berkata apa-apa ketika sosok itu menghentikan pertarungan. Ia sangat cantik dan anggun.


Malaikat, raja mengingat kalau sosok itu adalah malaikat.


Malaikat itu mengantar raja dan lawannya ke tempat dimana ada banyak orang yang berkumpul. Diantara para orang yang berkumpul, di depan mereka terdapat layar yang menampilkan perempuan yang sedang mengelus anak-anak.


Apakah itu film? Tanya raja dalam hati.


***


Hymera adalah yang pertama menyadari adanya orang lain di surga selain mereka.


Di sebuah padang rumput dengan tebing yang curam, semua orang menatap ke layar, memperhatikan bagaimana Darren Corter memenangkan peperangan. Walaupun ekspektasi mereka agak sedikit berbeda, tapi mereka tetap bangga. Terutama Reftia.


Adegan terakhir yang mereka lihat adalah acara peluk-pelukan yang melibatkan Darren dan para archangel. Teressa tak bisa berkata apa-apa setelah ia menelan kebodohannya sendiri.


Sebenarnya, para archangel bukannya tidak bisa melawan, tapi serangan mereka saja yang tidak mempan. ‘Pemikat’ adalah kemampuan utama para archangel untuk membuat lawannya lengah, dan justru mengagumi mereka. Tapi hebatnya itu tak bekerja pada Darren.


Semua orang bertepuk tangan, merayakan adanya kelahiran Dewi Agung baru.


Tapi diantara tepukan itu, Hymera menoleh ke arah malaikat yang dengan sopan memanggilnya. Reftia yang kebetulan ada di sebelah Hymera juga ikut menoleh.


Di samping para malaikat itu, ada sosok perempuan dan laki-laki.


Perempuan itu, yang mana Reftia mengenalnya, dia adalah salah satu bawahan Darren, Renatta. Aura dan ekspresinya sama, tak salah lagi. Tapi, laki-laki yang di sebelahnya itu siapa? Memangnya dia kenalan Darren?


Reftia tak sengaja melirik ke Hymera, dan mendapati Dewi Hymera itu sedang menitikkan air mata.


“.. Karcelus..?”


Tubuh Hymera bergetar seolah dilanda nostalgia yang berat. Matanya membelalak seolah tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.


Perlahan, ia menggerakan kedua kakinya untuk mendekati laki-laki yang Reftia pertanyakan identitasnya.


Si laki-laki, ia justru tampak risau. Matanya berkaca-kaca, dan tetesan air mata mulai jatuh dari pipinya. Entah mengapa laki-laki itu tak mau menatap langsung Hymera, dia justru cenderung menghindarinya.


Ketika hendak melarikan diri, Hymera menangkap tangan si laki-laki. Sambil terus memanggil nama Karcelus.


“Kamu.. akhirnya mau kembali.. Karcelus..”


Hymera memeluk laki-laki itu. Mereka berdua jatuh dalam pelukan yang sangat hangat.


Tanpa disadari, semua orang mulai memperhatikan mereka. Reftia tak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi, tidak, Reftia sedikitpun tidak paham. Sang Dewi Kecerdasan memutar otaknya dengan keras dan hanya mendapatkan satu jawaban.


Laki-laki itu adalah Karcelus, suami Hymera sekaligus kakek Rayen.


Hymera mendekap Karcelus muda di dadanya, sedangkan ia sendiri sedang menghabiskan air mata yang terbendung sejak ia kehilangan orang yang ia cintai. Semua orang saling bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Hymera.


***


“Suami Hymera?”


“Karcelus?”


“Kakek Rayen?”


Semua orang segera melontarkan pertanyaan yang baru saja Hymera jelaskan dengan susah payah. Kami, termasuk para archangel, mengelilingi pasangan suami-istri itu dengan tatapan tak percaya. Hymera tak melepaskan sedikitpun tangannya dari suaminya.


Reftia kembali berpikir, bagaimana bisa Karcelus terpanggil ke surga, terlebih lagi kemunculannya bersamaan dengan Renatta.


Sedangkan yang diangkat ke surga hanyalah kenalannya Darren saja.


Oh, begitu.


Itu pasti karena buku kakek Rayen, buku sihir yang pernah dibaca oleh Darren Corter.


Reftia membawa semua orang yang Darren ‘kenal’, tetapi masalahnya ada pada artian kata itu sendiri. Karcelus tak mungkin mengenal Darren, tapi Darren mengenal Karcelus walau hanya lewat buku. Berarti, definisi katanya tergantung pada Darren.


Reftia mengangguk setuju pada dirinya sendiri. Tapi, bagaimana mungkin selama ini Karcelus berubah menjadi orang lain tanpa diketahui Hymera?


Sepertinya tak ada pilihan lain selain menanyakannya langsung.