Goddess Corter

Goddess Corter
Timbal Balik



Seorang Roh Agung berkata dengan penuh percaya diri, namun dengan tatapannya yang menyebalkan. Dia menunjuk dengan menjijikan ke arahku. Perasaan campur aduk antara jijik dan kesal membuatku tidak bisa berkata apa-apa.


Seketika ruangan langsung sunyi. Roh Agung tetap dengan senyuman liciknya, dan Rayen yang menerima kejadian ini mentah-mentah juga tidak bisa langsung mengetahui apa yang terjadi.


Yah, jawabannya sederhana. Ini karena kekuatan Dewi yang ada di dalam tubuhku. Cukup tahu saja, sebenarnya aku sadar kalau Dewi Reftia membuat aura dewi-ku menghilang. Tapi itu tidak membuat kekuatanku melemah sedikitpun.


Yang jadi permasalahannya adalah kalau ada sosok yang mengetahui kekuatan sebesar itu ada di dalam tubuhku. Kalau dilihat dari jarak dekat, tubuhku ini memang memancarakan kekuatan yang sangat besar, itu juga berlaku untuk para iblis. Tapi selagi mereka tidak berada di dekatku, maka iblis tidak akan pernah menyadarinya.


“Apa maksudmu? Kau ingin Corter menjadi inangmu?”


Dengan penuh keyakinan, Rayen bertanya seperti itu. Dia mengangkat pedangnya beberapa derajat dan mulai menunjukkan wajah serius.


“Kau tahu sendiri.. kami para roh tidak mungkin melukai inang kami, yang ada justru kami melindungi mereka. Apakah kau masih ingin bilang kalau aku hanya bergurau?”


Memang benar, itu sangat masuk akal. Seandainya diriku ini menjadi inang, aku tidak pernah berkata kalau roh akan menjadi parasit. Malahan, sebenarnya orang yang dimasuki oleh roh dianggap sebagai orang terpilih yang sangat beruntung?


Lalu apa yang membuat para roh untung dengan merasuki seseorang? Itu adalah evolusi, semakin besar kekuatan inang mereka, maka semakin tinggi mereka berevolusi.


Gawat juga kalau roh ini tahu ternyata aku memiliki kekuatan seorang pencipta, dia pasti akan menjadi sosok yang sangat kuat. Walau aku tidak keberatan, tapi tetap saja dirasuki oleh roh itu adalah hal yang sedikit mengganggu.


“Kenapa kau memilih Corter? Erinyes memiliki banyak inang yang bisa kau pakai sesuka hati!”


“Wuahahah!!! Kau tidak menyadarinya ya.. bocah? Kekuatan yang keluar dari gadis itu.. aku belum pernah melihat hal semenakjubkan itu sebelumnya..”


Rayen berbalik menatapku dengan wajah penuh tanda tanya. Aku melepaskan pelukanku darinya dan mulai mundur, membuang muka dan seolah tidak tahu apa-apa.


“Hei gadis! Sudah sebaiknya kau mengatakan kepada kami siapa dirimu sebenarnya, kau tidak mau membuat rekanmu penasaran bukan?  Atau kau bisa menerima tawaranku untuk menjadi inangku. Bagaimana?”


Kata Roh Agung.


Aku semakin bingung dengan keadaan. Kalau tidak salah beberapa detik yang lalu aku sedang dilanda ketakutan karena melihat sosok berbahaya, tapi kini sosok itu menjadi jinak dan menawarkan diri untuk menjadi pelindungku.


Yah, masalah itu sudah selesai, tapi masalah yang lain justru datang. Hal yang paling kubenci di dunia ini adalah menjelaskan sesuatu, apalagi menjelaskan kesalahpahaman. Meluruskan pikiran seseorang dengan pikiranmu adalah hal yang paling merepotkan.


“Hei, Corter.. ada apa? Memangnya kamu ini sebenarnya siapa?”


Tanya Rayen.


Bagaimana ini? Apa aku harus mengaku? Seharusnya jawaban ‘tidak’ adalah hal yang paling masuk akal. Tapi kalau aku mengatakan itu, tanda tanya Rayen akan terus terbawa hingga ke masa depan. Akan repot jadinya kalau aku terus-terus bermain umpat rahasia.


“..itu.. a-aku bukan siapa-siapa! Tentu saja aku hanya gadis biasa!!..”


Aku berbalik ke arah Roh Agung, dengan satu tanganku menunjuk kepadanya.


“Baiklah.. aku akan menjadi inangmu! Tapi jangan salahkan aku kalau dirimu tidak bisa berevolusi!”


Sungguh kebohongan yang menyedihkan. Aku yakin sekali kalau diriku pasti mengatakan kebohongan itu dengan cara yang aneh. Roh Agung juga menyadari kebohongan itu, dan dia hanya tersenyum. Sedangkan Rayen, syukurlah karena dia tidak mengerti apa-apa.


Roh Agung mengangguk. Dan ritual pemasukkan roh dimulai. Mula-mula aku dan Roh Agung berdiri berhadapan, tetapi dia harus menunduk lebih rendah dariku. Setelah itu, Roh Agung mengucapkan beberapa kata-kata yang tidak kumengerti, dan selagi ia merapal sesuatu yang tidak jelas, suasana ruangan menjadi penuh dengan api hitam.


Rayen terpaksa mundur ke sudut ruangan, api di sekitar ritual kami membuat di tidak bisa mendekat.


Lingkaran sihir yang kami injak, sekarang bercahaya putih terang. Lama-kelamaan lingkaran sihir itu memudar dan menghilang menjadi kiluan cahaya yang cantik. Begitu pula dengan Roh Agung, dia juga berubah menjadi kilauan-kilauan yang terlihat seperti kunang-kunang.


Ada banyak sekali cahaya di sekitarku, berwarna-warni dan melayang-layang dengan indah. Hingga pada akhirnya semua kilauan itu masuk ke dalam tubuhku dan terserap. Api hitam yang mengelilingi kami juga ikut menghilang, dan ruangan kembali seperti semula.


“Hei, apa yang terjadi tadi?”


Kata Rayen. Dia yang tadi berada di luar lingkaran hitam, tentunya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang


terjadi denganku.


“Apa.. pemasukkan roh-nya berhasil?”


Aku mengangguk pelan.


-


Kekuatan yang sangat kuat terasa mengalir di seluruh pembuluh darahku, itu tidak merasa menjijikan walau aku tahu siapa makhluk yang ada di dalam tubuhku saat ini.


Singkat cerita, karena berhasil menghapuskan keberadaan roh, misi kami dianggap berhasil. Impianku untuk pulang


dengan selamat ternyata terwujud, yah walau ada beberapa hal yang tidakterduga.


Sepanjang perjalanan, Rayen selalu menatapku dengan perasaan curiga, pandangan itu dipenuhi dengan pertanyaan yang sepertinya akan menyibukanku. Karena itu, aku sama sekali tidak menatap matanya walaupun dia mencoba menegurku. Sebisa mungkin aku harus membuat Rayen lupa akan hal ini.


Di dalam Guild, situasi sudah mulai ramai. Tidak seperti tadi pagi yang hanya dipenuhi beberapa orang saja. Mungkin karena sudah siang juga, para petualang mulai ramai di tempat ini. Jujur, aku penasaran dengan para petualang kelas tinggi, seharusnya dengan uang yang mereka miliki, mereka tidak perlu lagi datang ke Guild dan mencari pekerjaan, atau mungkin mereka hanya datang untuk memuaskan diri? Yah, itu terserah mereka juga sih.


“Kalau begitu, aku akan mengambil hadiah kita dulu..”


Kata Rayen.


Aku mencari tempat duduk di dekat tangga menuju lantai dua, karena area itu tertutup tangga apabila dilihat


dari pintu masuk, jadi tidak banyak orang yang duduk disini. Sepertinya ini akan menjadi habitatku.


Astaga, ketika aku  mengistirahatkan tubuh, rasa pegal di kakiku benar-benar terasa. Ini pasti karena diriku berjalan terlalu jauh, kakiku rasanya seperti mau lepas.


Yang bisa kulakukan hanyalah menaruh kepalaku di meja dan menunggu Rayen kembali, tapi itu tidak akan cepat


karena resepsionis kini penuh dengan petualang yang mengantri.


“Nona.. kau baik-baik saja?”


“Eh? Siapa?”


Suara itu, entah darimana tiba-tiba muncul di dalam kepalaku. Sontak itu membuatku kaget.


“Ini aku.. Roh Agung.”


“Oh, kamu rupanya. Tak kusangka kita tetap bisa berkomunikasi walaupun wujudmu tidak muncul.”


“Ya. Tapi nona juga bisa berkomunikasi melalui pikiran, anda tidak perlu


mengeluarkan suara.”


“Terima kasih sarannya, tapi biarkan aku istirahat dulu.”


Roh Agung terdengar lebih jinak daripada sebelumnya. Aku bisa merasakan kalau dia sudah menjadi sosok yang menahan ego-nya. Oh, mungkin tidak, sepertinya memang semua roh memiliki sifat bijak dan cerdas, mereka yang bersikap menyebalkan mungkin karena menganggap manusia yang tidak pantas menjadi inang itu lebih rendah daripada mereka.


Apapun itu, sekarang aku harus siap dengan kehidupan baruku yang selalu diperhatikan oleh roh ini. Eh.. tunggu dulu. Diperhatikan? Itu artinya semua kejadian yang kulihat juga disaksikan langsung olehnya? Yang benar saja, itu pelanggaran privasi namanya!


“Hei, aku mau tanya sesuatu.”


“Ada apa nona?”


“Tentu saja tidak. Yang kulihat di dalam sini hanyalah kekosongan sejauh mata memandang.. saya bahkan tidak bisa mengakses pikiran nona. Saya akan terus begini sampai nona memanggil saya dan meminjam kekuatan saya.”


Kalau begitu apa bedanya dia dengan dipenjara? Menunggu di dalam ruangan yang kosong, tidak bisa melakukan apa-apa, dan bahkan sampai sukarela meminjamkanku kekuatannya. Sepertinya keseimbangan pelayan dan majikan di dunia ini sedikit melenceng. Tapi aku takjub dengan makhluk sepertinya yang mampu menaruh kesetiaan seperti itu.


“Oh, benar juga.. apa kamu sudah berevolusi?”


“Ya. Sepertinya begitu. Kini saya mendapat gelar Demon Spirit, itu adalah gelar yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Nona.. maaf karena saya lancang.. tapi sebenarnya nona ini makhluk apa?”


Oh, Demon Spirit (Roh Iblis) itu adalah sebuah kemajuan besar. Walaupun sepertinya gelar itu terlalu berlebihan dan tidak pantas untuk menyandang gelar iblis. Yah, apapun itu, setidaknya ini lebih baik daripada gelarnya sebelumnya, Great Spirit (Roh Agung)


“Masalah itu, aku tidak akan pernah mau menjawabnya. Jadi kau jangan pernah menanyakan hal itu lagi!”


“Dimengerti.”


Seandainya hukum rimba juga berlaku di dunia yang sebelumnya, pasti orang-orang dengan kekuatan dominan


bisa menguasai dunia dengan mudahnya. Sayangnya, hal tersebut tidak bisa terlaksana karena para orang lemah juga tidak mau tunduk dengan mudahnya.


Ada beberapa plus dan minus dalam poin ini. Misalnya saja karena roh ini tunduk dan patuh kepadaku, maka kekuatannya tidak sia-sia, apalagi tuannya adalah diriku sosok gadis cantik yang baik hati. Bayangkan saja kalau aku tidak menemukannya, dan dia justru ditemukan oleh orang jahat. Aku tidak bisa membayangkan kehancuran apa yang akan terjadi.


Terlepas dari hal itu semua, aku sudah mulai menerima keberadaan Roh Agung di dalam tubuhku. Bagiku  dirinya hanya sebagai teman bicara, walau sedikit aneh rasanya memiliki teman bicara pria bersuara berat. Ya sudahlah, bukan berarti dia menyeramkan juga. Lagipula, aku bisa menyuruhnya mati kalau aku mau, dengan kata lain roh ini sepenuhnya milikku.


“Roh Agung.. apa kau memiliki nama?”


“Tidak, umumnya makhluk selain manusia dan dewi memang tidak bernama. Kami dipanggil


dengan sebutan gelar kami.”


“Jadi.. aku harus memanggilmu


dengan sebutan 'Demon Spirit' begitu?”


“Tak masalah, tapi kedudukan anda lebih tinggi daripada saya. Anda bisa memanggil saya roh saja.”


“Ah, tidak, aku tidak mau itu. aku ingin memanggilmu dengan sebutan.. Seiren.. itu namamu sekarang.”


“Dimengerti, namaku sekarang adalah Seiren, terima kasih atas perhatian anda!”


Bukankah begini menjadi lebih mudah? Aku bisa memanggilnya ‘Seiren’ kapanpun aku mau. Dan dia sepertinya adalah tipikal makhluk bijak yang sudi memikirkan hal besar untukku. Memang benar, inilah yang disebut dengan konsep ‘tuan dan pelayan’.


Walaupun dia ada adalah pelayanku, aku dengan tegas mengatakan kalau diriku tidak akan pernah mengeksploitasi kekuatannya. Semua yang kuinginkan akan kulakukan dengan tenagaku sendiri. Yah, mengandalkan bawahan yang kuat sepertinya tidak akan menjadi hal yang menarik.


Aku memikirkan banyak hal setelah itu, tentang bagaimana kehidupanku selanjutnya yang akan berubah bersama dengan Rayen dan Seiren. Semoga saja kehidupanku di dunia ini akan menjadi lebih indah. Dan suatu saat, aku akan membawa seluruh keindahan itu ke Akarka. Akan kubuat seluruh dunia ini mengakui ras mereka.


“Maaf menunggu!”


Rayen datang dengan sekarung uang di tangannya. Tak usah ditanya lagi, itu adalah hasil hadiah dari penyelesaian misi kami.


“Aku bernegosiasi dengan Guild, aku berkata kalau seharusnya misi itu tidak terbuka untuk petualang kelas Newbie. Dan mereka meminta maaf atas itu.”


“Oh.. jadi apa mereka memberikanmu hadiah atas permintaan maaf mereka?”


“Ya, kenaikan pangkat ke Pro.”


Benarkah? Kenaikan pangkat langsung? Astaga, aku tidak percaya ini, ternyata hanya dalam waktu singkat aku bisa naik ke pangkat Pro. Kalau begini, akan lebih mudah lagi untuk mendapatkan uang.


Dengan wajah berseri-seri, aku berdiri dan menarik tangan Rayen menuju resepsionis. Tapi Rayen menahan tanganku.


“Ayo, tunggu apalagi.. ayo kita tukarkan kartu kita menjadi petualang Pro.”


Ajakku dengan penuh kegembiraan.


Rayen tertawa asam sambil


menggaruk bagian kepalanya, dia menanggapi perkataanku dengan wajah yang aneh.


“Itu.. sebenarnya yang naik pangkat hanya aku saja.. sebagai ketua party.”


Tunggu, tunggu, apa maksudnya itu? Yang naik pangkat hanya dia saja? Apakah Guild tidak tahu perjalanan sejauh apa yang sudah kulalui? Selain itu aku juga harus menghadapi banyak debu dan kotoran untuk itu, mereka sangat tidak perhatian. Lagipula, bukankah yang menjinakkan roh Reisen adalah aku?


Tapi, Rayen juga sama menyebalkannya, sejak kapan dia menjadi ketua party ini? Tak kusangka lelaki pemalu dan


pecundang sepertinya berani melakukan hal egois kepada perempuan cantik ini.


“Apa.. apa maksudmu hanya kau saja yang naik pangkat?”


Dengan tatapan kosong, aku berjalan perlahan menuju Rayen yang ketakutan.


“..C-Corter.. ada apa? T-T-Tatapanmu mengerikan loh..”


Aku memukul perut Rayen, itu membuatnya kesakitan dan membuatnya tak bisa berkata-kata. Tapi dia tidak roboh


dan hanya memegang perutnya dengan erat saja.


Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk memakinya dengan keras.


“Bodoh! Jahat, jahat, jahat! Rayen jahat! Rayen bodoh! Aku benci kamu!”


Aku menggembungkan pipi, memutar badan dan melipat tanganku.


Walaupun aku tidak berniat melakukan ini, tapi hormon perempuanku berkata lain, sepertinya ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh wanita kalau mereka sedang marah. Ini terbukti efektif untuk membuat laki-laki sadar akan kelakukannya. Yah, jujur saja ini sedikit menyebalkan.


Semua orang di Guild mulai menaruh perhatian kepada kami, ketika aku berteriak dengan keras seperti itu.


Banyak dari mereka yang mulai berbisik dengan orang di sebelahnya.


“Lihatlah itu! Sepasang kekasih sedang bertengkar.”


Itu adalah kalimat yang bisa kutangkap dari salah satu meja.


Aku berjalan keluar dari Guild dengan pose wanita menyebalkan yang marah dengan lelaki. Rayen bukanlah pria


brengsek yang dengan mudah membiarkan wanita marah. Ia tidak henti-hentinya mengejarku dan mengucapkan permintaan maaf yang terdengar seperti kalimat putus asa.


Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kulakukan dengannya, dan itu tidak bisa dilakukan di dalam Guild.


Aku hanya diam selagi menggiring Rayen ke tempat yang aku inginkan, dan selama itu juga dia tidak bisa diam. Pada akhirnya aku membawanya ke sebuah gang yang terletak tak jauh dari Guild, gang itu adalah jarak sekitar 3 meter antara rumah dan rumah. Gang yang cukup sempit.


Disitulah, aku mulai jujur dengan perasaanku. Aku memeluk Rayen dengan sangat erat. Tubuhnya sangat hangat


dan keras, aku bisa membayangkan sosok baik Rayen hanya dari perlukan ini.