
Berdasarkan apa yang kudengar dari percakapan antara Rayen dan Azazel, tak salah lagi kalau Rayen bukanlah orang biasa. Tentang dirinya yang seorang Demi-God juga bukanlah sebuah kebohongan. Pertanyaannya, kenapa Rayen menyembunyikan itu? Selain itu, kalaupun dia menyembunyikannya, aku tentu sudah mengetahuinya dari mata Neutral Eyes milikku.
Saat itu aku sedang memikirkan hal yang rumit, sambil terus mondar-mandir di dalam kamar. Reftia yang hanya memperhatikanku tidak bisa berkata apa-apa selain terus menyeletuk.
Rayen yang berbicara dengan Azazel saat itu sangat berbeda dengan Rayen yang kukenal sebelumnya. Rayen yang memegang pedang agung, dia adalah sosok pria berani yang mampu menodongkan pedang kepada raja iblis.
Selain itu, kalau dilihat dari garis keturunannya tak salah lagi kalau Rayen memiliki darah Hymera. Berdasarkan dari apa yang diceritakan Reftia, fakta bahwa Hymera memiliki keturunan memang benar adanya. Tapi itu dirahasiakan oleh Vedetta dan Dewi Agung di semesta ini.
“Apa yang sih yang kamu bingungkan sejak tadi? Aku saja sudah berhenti heran dengan hal itu.. Colt Rayen, atau kekasihmu itu, tak salah lagi kalau dia memang cucu Hymera.”
Ucap Reftia dengan wajah menyebalkan, perkataan itu menghilangkan fokusku.
Aku menghampiri Reftia tanpa menghiraukan perkataannya, kedua tanganku kuletakkan di pundak Reftia. Dengan serius, aku bertanya kepadanya,
“Kenapa seorang Dewi Agung bisa memiliki keturunan?”
“Sejak kapan Dewi Agung tidak boleh memiliki keturunan?”
“Yah.. jangan membalasnya dengan pertanyaan..”
“.. di semesta ini, mungkin ini adalah hal yang rumit. Tapi di semesta sana, terkadang ada Dewi Agung yang menciptakan banyak suami untuk dirinya sendiri, dan tidak semuanya berwujud manusia.”
“Hih.. jangan mengatakan hal yang menjijikan!”
Sebenarnya aku juga tidak bisa menentang fakta ini, tentang banyaknya Dewi Agung yang menguasai semesta diluar sana. Mengingat Vedetta yang menciptakan banyak sekali Dewi Agung, dan mereka semua mampu menciptakan semesta beserta isinya dengan mudah.
Dewi Agung memiliki hak untuk memasuki dan mencuri isi semesta lain, sama seperti yang dilakukan Nivalda. Karena itulah terkadang ada satu semesta yang dikuasai oleh banyak Dewi Agung, ataupun banyak semesta yang dikuasai oleh satu Dewi Agung.
Contohnya seperti Reftia yang menguasai dua semesta, semesta ini dan semesta lamaku.
Sederhananya, kalau dalam game, semesta itu bagaikan server premium yang bisa dimasuki oleh player pro manapun. Sedangkan makhluk-makhluk lemah seperti manusia hanya bisa ikut di server random.
“Lagipula, memangnya kamu tidak senang kalau kekasihmu itu kuat?”
“Sama sekali tidak. Rencananya aku ingin mengajari Rayen ilmu sihir, sambil kadang-kadang mencuri kesempatan dengan tubuhnya.”
Jawabku spontan.
“Darren.. kamu itu sekarang adalah Dewi, kekutanmu untuk mengatur semesta ini sama denganku, hanya berbeda gelar saja. Cinta adalah sesuatu yang bisa kau ciptakan sendiri.”
Reftia menjawabnya dengan tatapan yang dramatis, dia memegang kedua tanganku.
“.. tidak. Menurutku tidak begitu. Memang benar kalau sebagai Dewi, semua hal yang kulakukan adalah benar. Tetapi.. cinta adalah hal yang tumbuh ketika aku lupa akan gelar Dewi-ku, jadi ini tidak ada hubungannya dengan kekuatan.”
Mendengar perkataanku, Reftia tersenyum hangat seraya memaklumi ketidaksetujuan dariku.
Sepasang Dewi yang saling berpegangan tangan ini terlihat sangat romantis, apalagi background momennya yang merupakan kamar. Kupikir ini tidak akan menjadi cerita yuri, Reftia terlalu cantik untuk kukotori.
Ketika kami salang membalas senyuman, tiba-tiba pintu kamarku diketuk.
“Siapa?”
Tanyaku kepada seseorang diluar.
“Itu.. Nona Corter, penduduk Half-Elf itu ingin bertemu dengan anda.”
Ah ampun, aku sampai lupa dengan penduduk Akarka.
***
Aku ragu apakah seluruh penduduk Akarka saat ini sedang berada di kerajaan Megaira, atau hanya separuhnya. Kalau dilihat, jumlah mereka tidak terlalu banyak. Atau mungkin memang aku lupa kalau desanya kecil? Kalau mereka memang hanya datang separuh, bukankah sedikit aneh kalau anak-anak juga ikut?
Penduduk Akarka menungguku di aula, mereka duduk dan menungguku naik ke panggung untuk mulai berbicara. Sambil memandangi mereka satu persatu, aku berdiri di atas panggung. Tampak wajah bingung mereka ketika aku membuat mereka menunggu dengan kalimat pembukaan dariku.
Reftia tak disini, dia sedang berbaring di kasurku. Dia bilang itu adalah keinginannya sendiri untuk tidak datang, tidak masalah menurutku.
“Sebelumnya, aku ingin bertanya apakah seluruh penduduk Akarka datang kemari?”
Tanyaku.
“Ya. Kami semua terpaksa keluar, sedangkan Akarka kami titipkan pada Mid-Spider.”
Jawab salah satu dari penduduk.
Mid-Spider yang waktu itu, ya? Musuh pertama yang kulawan di dunia ini, tak kusangka dia benar-benar menjadi
pelindung desa.
“Kalau kalian menitipkan Akarka pada monster itu, berarti kalian masih menyayangi desa, kan? Aku saat ini sedang bingung harus melakukan apa untuk kalian.”
Ucapku.
“Anda tak perlu repot-repot memikirkan kami, sebenarnya alasan kami kemari hanya untuk memastikan apakah anda baik-baik saja. Air terjun di desa tiba-tiba mendingin, pertanda sosok anda semakin jauh dari desa, kepala desa hanya khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk.”
“Tapi, apa yang bisa kulakukan untuk membuat kolamnya menjadi hangat kembali?”
“Menurut kepala desa, kalau anda lebih dekat dengan desa seharusnya itu bisa membuat kolamnya kembali hangat. Tapi anda tak perlu melakukan itu. Kami tak ingin menjadi egois dengan merebut kebebasan anda. Masalah kolam itu, memang benar kalau sekarang sudah menjadi dingin, tapi itu tetap indah.”
Aku merasa tidak enak hati kalau harus membiarkan mereka pulang dengan kolam tetap terasa dingin. Mereka menunduk dalam ketika berbicara denganku, meskipun aku berdiri di atas panggung tetapi mereka menunduk, bukankah itu aneh? Jelas-jelas ada yang mereka khawatirkan.
Kolam itu, aku sangat paham kalau siapapun akan kecanduan dengan kehangatannya. Begitu juga diriku, kalau tidak, tidak mungkin aku sampai membuat syal yang menutupi leherku ini.
Cara yang paling mudah untuk membuat kolam menjadi hangat adalah dengan God’s Will. Payah sekali, belakangan ini aku terlalu bergantung pada kekuatan Dewi-ku. Tidak masalah juga sih, tak ada siapapun yang mengekangku sekarang.
Lain kali aku akan lebih mengandalkan kekuatanku sendiri, karena ini darurat aku terpaksa.
Benar juga, sekalian saja aku membuat harta yang berlimpah untuk mereka. Karena penduduk Akarka belum bisa keluar dari hutan, setidaknya ini bisa membuat mereka bahagia.
God’s Will!
“Aku sudah membuat kolam itu kembali menjadi hangat dan.. ada beberapa yang kuletakkan disana. Untuk saat ini kalian pulanglah ke Akarka, aku berjanji akan menemui kalian suatu saat.”
***
Untuk sekarang setidaknya urusanku dengan penduduk Akarka sudah sedikit terselesaikan. Walau tujuan awalku adalah membuat desa itu merdeka, paling tidak aku sudah menyelesaikan setengahnya.
Menghangatkan kolam, kemudian menciptakan banyak makanan dan harta. Kalau dua permohonan bisa dikabulkan bersamaan, seharusnya aku mencobanya sejak dulu.
Aku berjalan di lorong istana yang luar biasa panjang, maaf saja, sebenarnya aku sedang tersesat. Karena terlalu banyak yang kubayangkan ketika kembali ke kamar, tanpa kusadari aku melangkah ke tempat yang tak kuketahui. Aku juga tak melihat adanya penjaga, apa mereka sedang berisitahat ya?
Lagipula istana ini terlalu besar, untuk apa membuat istana semegah ini kalau tidak ada yang menempati?
Aku menghentikan langkahku di belakang kaca besar yang menghadap langsung keluar. Langit senja berwarna merah gelap, burung-burung yang terbang bersama, asap yang keluar dari rumah penduduk. Ketika dilihat dari atas sini, pemandangan itu sungguh menakjubkan.
“Maaf.. apakah anda, nona Corter?”
Suara wanita yang sangat lembut membuat fokusku pecah, suara itu memiliki nada yang sangat lembut, aku bisa mendengar betapa lemahnya suara itu ketika keluar dari mulutnya.
Aku menoleh, melihat kepada sosok yang memanggiku. Disana, berdirilah seorang gadis cantik berambut pendek. Dia menggunakan seragam ahli sihir kerajaan. Dengan kikuk, dia memainkan kedua tangannya ketika aku menoleh.
Tanyaku. Kalau tidak salah, aku pernah bertemu dengannya ketika baru pertama kali datang ke istana. Selesai melawan Reine saat itu, tes tetap dilanjutkan, aku sempat melawannya untuk beberapa saat. Tapi, kalau boleh jujur dia cukup lemah dibandingkan teman-temannya.
“Tidak.. aku hanya penasaran kenapa nona bisa ada disini.”
“Y-Ya.. aku hanya ingin berkeliling saja.”
Memalukan sekali kalau aku mengatakan diriku sedang tersesat. Untuk saat ini, aku harus memikirkan obrolan yang memaksanya untuk menunjukkan jalan ke kamarku.
“Tapi.. tak biasanya ada orang yang berkeliling ke sini..”
“Itu tak penting.. omong-omong, namamu?”
“Oh, aku Pisces, Pisces Byrobel.”
Pisces? Seperti nama rasi bintang zodiak saja. Apa orang-orang di masa sekarang sudah mengerti rasi bintang, ya? Terserahlah. Omong-omong, Pisces itu nama yang bagus.
Tersenyum lebar, aku menepuk pundak wanita berambut merah delima itu. Dia yang terlalu canggung tidak bisa menyembunyikan merah di wajahnya. Dengah wajah dan rambut yang merah seperti itu, aku melihatnya seperti strawberry yang hidup.
“Pisces, mau tidak ikut aku latihan? Kebetulan ada beberapa yang ingin kucoba.”
“Latihan? Sekarang juga?”
“Ya. Itupun kalau kau tidak keberatan.”
Mata Pisces berkilau-kilau seolah melihat harapan di depannya. Membalas ajakanku, Pisces mengangguk. Sebenarnya ini hanya caraku untuk menyelamatkan diriku sendiri dari ketersesatan ini.
***
Entah bagaimana, setelah berjalan cukup jauh menyusuri lorong ini dan itu, kemudian menuruni banyak tangga, kami berdua sampai di aula latihan. Gawat, aku sama sekali tidak ingat bagaimana kami bisa sampai ke sini, ada terlalu banyak belokan untuk bisa diingat.
Aula terasa sepi dan gelap. Tak ada orang selain kami yang menginjakkan kaki disini. Orang-orang di istana pasti sedang menyiapkan makan malam. Ahli sihir kerajaan juga banyak membantu ketika masak, tapi mereka juga mendapatkan sajian yang lezat pula.
Kupikir tidak masalah kalau aku meminjam Pisces untuk sementara.
Tapi, melihat aula yang sepi seperti ini aku jadi teringat akan sesuatu. Sepertinya dulu aku pernah berpikir kalau berlatih di ruangan tertutup seperti ini sama saja dengan mengurangi kualitas berlatih. Menurutku sihir harus dilepaskan selepas-lepasnya dalam berlatih, tidak bisa dibatasi oleh ruangan.
“Pisces, bagaimana kalau kita latihan di luar saja?”
Kataku.
“Diluar? Tapi ini sudah gelap.”
“Tidak cukup gelap untuk membatasi latihan, ayo ikut aku!”
Tanpa berbasa-basi lebih lama, aku berlari di depan Pisces menuju ke belakang istana.
Halaman belakang istana, adalah sebuah taman yang sangat besar. Ada banyak kebun-kebun bunga dan air mancur disini, begitu pula dengan lampu taman. Tapi, tempat yang kusuka adalah lapangan yang terhampar di dekat pohon besar. Lapangan itu hanya dipenuhi oleh rumput, selain itu ukurannya cukup besar untuk membuat kaki lelah ketika berlari mengelilinginya.
Sesuai dugaanku, langit memang gelap, tapi di bawah sini cukup terbantu dengan cahaya dari lampu taman. Ini masih layak untuk latihan.
“Pisces, kau ahli dalam sihir apa?”
“Hmm.. aku juga tak begitu yakin.. tapi, kupikir aku suka dengan sihir jarak jauh.”
“Bagus. Coba kau keluarkan sihir kesukaanmu itu sekuat-kuatnya. Aku ingin melihat seberapa ahli kau mengendalikannya.”
Aku menjauh dari tempat Pisces berdiri. Dengan sabar, aku menunggunya untuk bersiap-siap mengeluarkan sihir.
Pisces terlalu kikuk untuk berani menunjukkan sihirnya kepadaku, kalau dia malu-malu seperti itu, justru akan menyulitkan pengamatanku. Aku berteriak kepadanya agar tidak terlalu memikirkan orang yang memperhatikannya, fokus saja pada tenangnya langit sore seakan hanya ada dia di lapangan ini.
Mendengar kata-kata nasihat dariku, setelah itu Pisces menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya ia letakkan di dadanya, sambil merapal mantra yang tidak bisa kudengar, lama-kelamaan sebuah cahaya yang membentuk busur muncul di atas kepala Pisces. Busur itu terbentuk dari cahaya-cahaya berwarna hijau permata yang cantik.
Setelah itu, cahaya yang sama juga membentuk anak panah. Pisces mengendalikan busur itu dengan pikirannya, aku bisa merasakan dia mengontrol Reft ke busur itu.
Busur indah itu siap untuk menembakkan anaknya panahnya. Kemudian, dengan anak panah itu terhempas dengan sangat cepat ke atas langit. Tapi tak sesuai dengan dugaanku, ternyata anak panah itu langsung terjatuh ketika berjarak tak lebih dari 20 meter di depan Pisces. Begitu jatuh ke tanah, anak panah itu meledak, tetapi ledakannya begitu kecil hingga diriku pun tidak bisa merasakan hembusan anginnya.
Bersamaan dengan meledaknya anak panah itu, Pisces dengan napas tersengal-sengal bersujud di tanah. Ia tak sanggup berdiri bahkan setelah mengeluarkan sihir selemah itu.
Bukan apa-apa, menurutku ini adalah kualitas yang buruk untuk seorang ahli sihir kerajaan.
Aku menghampiri Pisces yang sedang kehabisan napas.
“Kau baik-baik saja?”
“Y-Ya.. sepertinya..”
Kalimat seperti itu, tak salah lagi kalau ini adalah kekuatan Pisces yang maksimal. Pantas saja selama ini dia begitu lemah, apalagi kalau tempat latihannya di dalam aula.
Tak mungkin aku berkata kalau sihirnya sangat lemah. Aku bisa memahami kalau Pisces adalah satu dari banyaknya orang lemah yang ada di dunia ini. Kalau aku adalah Darren yang dulu, berurusan dengan orang seperti Pisces pasti akan sedikit merepotkan. Tunggu dulu, duduk bersebelahan dengan orang lemah? Ini seperti mengingatkanku dengan suatu hal.
Aku menunggu hingga Pisces sedikit baikan, ketika napasnya sudah mulai membaik, dia duduk seperti biasa di sebelahku.
“Pisces, kenapa kau menyukai serangan jarak jauh? Bukankah itu membutuhkan banyak Reft?”
Tanyaku berbasa-basi. Hanya dari pertanyaan sederhana ini, aku berharap akan ada banyak perbincangan khusus yang lebih terbongkar. Pendekatan seperti ini sangat penting untukku menilai seseorang, kalau-kalau Pisces ternyata adalah orang yang kuat seperti Rayen, paling tidak aku bisa mengantisipasinya.
“Ayahku, dia adalah seorang pemburu. Aku sangat kagum dengan dirinya yang selalu membawa banyak hewan santap ketika sore hari. Aku selalu bertanya, ‘bagaimana ayah bisa menangkap hewan hanya dengan menggunakan alal itu?’ sambil menunjuk ke busur yang selalu dibawanya. Itulah awal mula ketertarikanku.”
“Dan kau menjadi pemburu?”
“.. tidak. Ibuku terlalu memanjakanku, ayah juga bukan orang yang keras, mereka tidak memperbolehkanku berburu. Suatu saat, aku mengintip bagaimana ayah menggunakan busurnya. Aku mencoba mempraktekkan itu dan berlatih seorang diri. Terus-menerus, sampai latihan itu terbawa hingga ke mimpi. Dalam mimpiku, aku memiliki sebuah busur besar yang melindungiku dengan ajaibnya. Yah.. walaupun itu hanya mimpi.”
“Pisces, apa kau kesal karena orang tuamu tak mengizinkanmu untuk berlatih panahan?”
“T-Tidak, s-sama sekali tidak.. aku menghargai keputusan mereka.”
Ketika aku menyeletuk seperti itu, Pisces dengan lucunya membantah dengan ekspresi yang aneh. Aku menertawakan ekspresi itu.
Sebenarnya, Pisces berbohong tentang dirinya yang tak kesal. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia kurang setuju dengan metode kedua orang tuanya yang terlalu protektif. Walaupun begitu, tak ada sama sekali niatan dirinya untuk menentang keputusan itu. Mungkin, karena itulah ia mengembangkan sihir yang berhubungan dengan panahan.
Masalah mimpinya, aku yakin itu adalah tanda-tanda kelahiran sihir Pisces yang memang berfokus kepada sihir jarak jauh. Terkadang ada juga kasus seperti Pisces yang kekuatannya bangkit dari keinginan alaminya.
“Pisces, sebutkan nama sihir yang kau pakai barusan!”
“I-Itu.. Magic Arrow.”
Aku berdiri. Bersiap untuk mengeluarkan sihir serupa, aku mengumpulan banyak Reft di dalam tubuhku. Setidaknya aku sudah tahu sihir macam apa Magic Arrow itu, tinggal eksekusinya saja yang diperlukan.
Busur yang sama dengan milik Pisces, ketika aku menoleh ke atas ternyata itu berwarna biru muda. Sama indahnya, tetapi ukurannya sangat berbeda jauh. Milik Pisces hanya seukuran dua buah busur, sedangkan milikku puluhan kali lebih besar. Kemudian anak panah pun muncul, aku mengarahkan tembakannya ke langit.
Layaknya peluru yang terlontar, anak panah itu terhempaskan sangat cepat ke langit dengan kecepatan yang tak terhingga. Mata siapapun tak akan bisa mengikuti kecepatan panah itu, namun tembakannya menimbulkan bekas langkah garis berwarna biru.
Di atas sana, anak panahku meledak dengan sangat keras. Suara dan hembusan anginnya bahkan terasa hingga ke ujung kakiku.
Aku menoleh ke Pisces, dia sangat takjub dengan sihir yang barus saja kukeluarkan.
“Aku akan mengajarimu bagaimana cara mengeluarkan Magic Arrow yang lebih besar dari itu.”