
Ketika diperhatikan lebih lama, aku mulai terbiasa dengan sosok laba-laba yang menyeramkan ini. Aku bahkan
tidak tahu apa yang harus kuperbuat, yang ada justru aku hanya memperhatikan sosoknya yang mengecit-ngecit ke arahku.
Benar juga, memangnya aku bisa mengalahkan monster sebesar ini? Aku bahkan tidak memiliki senjata atau semacamnya. Kalau sesuatu yang bernama sihir itu memang ada di dunia ini, sayangnya aku belum mempelajarinya.
“Oi, laba-laba!”
Aku melambaikan tangan kepada laba-laba hitam itu. Sialnya, dia justru turun ke bawah dan menunjukkan sosok
gagahnya. Dia menjerit lagi, air liur yang menjijikkan keluar dari mulutnya.
Dia mendekat ke arahku, kemudian dengan kakinya yang berbulu, dia mencoba menginjakku. Ajaibnya, tubuhku sekarang sangat ringan, serangannya sangat mudah untuk dihindari. Kalau boleh jujur, aku bahkan melakukan banyak gerakan salto ke samping dan ke belakang.
Walau sebenarnya aku berniat menahan serangan itu, tapi tubuhku seolah bergerak sendiri untuk menghindari
bahaya.
Si laba-laba sangat kesal ketika aku selalu berhasil menghindar, serangan terakhirnya yaitu berupa pukulan yang sangat keras juga berhasil kutahan dengan mudahnya. Melihat diriku sebagai ancaman, si laba-laba mulai bertindak serius, dia menyemburkan cairan berwarna hijau dari mulutnya.
Cairan itu memiliki bau yang sangat menyengat, dan dia tidak tanggung-tanggung mengeluarkan semuanya sampai
mengenai tubuhku. Tubuhku dipenuhi dengan cairan lengket yang bau, benar-benar menjijikan. Ketika kulihat tanah di sekitarku yang juga terkena cairan itu, rupanya cairan itu memiliki efek asam.
“Sialan! Berani-beraninya kau menodai tubuh perawanku.”
Aku mungkin tidak serius untuk marah dan membentaknya, tapi ketika aku mengatakan itu, ada sentakan aura yang
keluar dari dalam tubuhku.
Daun-daun pepohonan mendadak diam walau angin kencang menerpa mereka di atas sana. Begitu juga si laba-laba yang terpaku akan sesuatu, dia sama sekali tidak bergerak setelah aku membentaknya.
Tak lama, laba-laba itu menunduk dengan penuh ketakutan, dia sempat mundur beberapa langkah sebelumnya.
Hal yang sama juga kurasakan dari pepohonan di sekitarku, walaupun mereka tidak bergerak, aku merasakan pepohonan itu menunduk dan menghormatiku.
“Apa yang terjadi?”
Gumamku pelan.
Kemudian, suara langkah dan teriakan yang menyerukan namaku terdengar dari arah desa. Aku menoleh ke belakang, rupanya para pria berotot tadi sudah berhasil masuk ke dalam hutan. Mereka melewati pagar itu untuk menemuiku, sepertinya.
“Nyonya Darren.. apakah kau baik-baik saja?..”
“T-Tubuhmu.. diselumuti cairan aneh, juga.. kenapa anda telanjang?”
Telanjang? Sepertinya ada yang aneh dengan perkataan dan ekspresi malu-malu mereka, sangat tidak singkron
dengan keadaanku yang penuh dengan penderitaan saat ini.
Ketika aku melihat ke bawah, aku sangat terkejut ketika tahu diriku sudah telanjang bulat. Cairan itu memang
berwarna hijau, tapi setidaknya itu tetap berwarna transparan.
“Tidak!! Jangan lihat!!”
-
Singkat cerita, aku meninggalkan urusan laba-laba itu kepada penduduk desa. Karena setelah kejadian itu, aku segera pergi dari sana dan menuju ke kolam. Untungnya, desa sudah sepi dan tak ada orang yang sama sekali memperhatikan sosok telanjangku.
Kini, aku sedang berendam di bawah air terjun, sambil membersihkan sisa-sisa cairan itu. Tak kusangka air ini terasa sangat hangat dan nyaman, kalau dipikir lagi sepertinya sudah lama aku tak berendam semenjak menjadi karyawan kantoran.
Setelah ini apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak bisa keluar dari kolam ini karena tidak ada yang bisa kugunakan sebagai pakaian. Aku juga tidak mungkin memanggil warga desa, seandainya mereka sadar kalau aku ada disini mungkin itu akan lebih baik.
Gawat juga kalau begini, aku merasa sangat malu ketika dilihat oleh orang lain. Aku bahkan sama sekali tidak
merasa terangsang ketika melihat sesuatu di bawahku. Apakah hormonku juga berubah menjadi perempuan?
Ketika aku mengedipkan mataku, seketika dunia menjadi hitam putih. Tak ada suara terdengar, dan tak ada angin
berhembus. Air terjun berhenti di udara, waktu benar-benar berhenti berjalan.
“Sepertinya kau menikmati semua ini ya.. Darren Corter.”
Ketika aku sedang memastikan apa yang sedang terjadi, ternyata ada suara yang terdengar. Di atasku, sosok
dengan jubah yang indah melayang mendekat. Sosok itu adalah Dewi Reftia, dia anggun seperti biasanya.
“dewi..”
“Tak kusangka kau begitu lengah sampai-sampai menunjukkan semua bagian tubuhmu.”
“Jangan mengatakannya dengan jelas!”
Kami berdua terdiam untuk sesaat. Bagaimanapun, aku tetap berendam dan menikmati air hangat ini. Sedangkan Dewi Reftia memperhatikanku dengan seksama, ia tetap melayang sejauh 1 meter, aku ragu dia berniat menginjakkan kakinya di dunia ini.
“Kamu.. apa yang kamu lakukan tadi?”
Dewi Reftia bertanya kepadaku.
“Apa? Apa maksudmu?”
“Barusan.. ada aura pencipta datang dari semesta ini.. karena itulah aku repot-repot datang. Kau ini, bahkan
belum satu hari menetap di dunia barumu dan sudah membuat kekacauan.”
Dewi Reftia mengeluh dan menepuk dahinya. Dia tidak berniat memarahiku.
Aku membalasnya dengan tawa asam, masalahnya adalah karena aku ragu untuk bertanya tentang arti dari
perkataan yang dia maksud.
“Itu.. kekacauan apa yang kau maksud?”
Tanyaku ragu.
“Tidakkah kamu merasa aneh tadi? Perasaan seperti disembah begitu..”
Perasaan seperti disembah? Apakah itu maksudnya kejadian yang barusan itu? Maksudku ketika aku merasa semua makhluk tunduk di depanku. Seumur hidupku menjadi manusia, perasaan itu tidak pernah muncul, perasaan puas dan senang karena dipuji.
Aku menggaruk-garuk kepalaku sambil memikirkannya berulang kali. Kemudian, Dewi Reftia melanjutkan
perkataannya.
“Penduduk itu pun datang karena mereka merasakan ada yang aneh di dalam hutan sana.”
“Benar juga, para penduduk, aku meninggalkan mereka dengan laba-laba itu!”
Teriakku khawatir.
“Tenang saja, tak mungkin laba-laba itu berani menyerang setelah menerima aura dewi seperti barusan.”
Kalau memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, berarti itu bagus. Tapi aku tetap tidak bisa tenang, ini bukanlah sesuatu yang kuperkirakan sebelumnya. Memang benar menjadi sosok pencipta adalah suatu khayalan yang menjadi kenyataan. Tapi pencipta juga tidak selalu hidup dengan penuh kesenangan, ada kalanya mereka harus bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. Apalagi, di dunia ini dewi tidak hanya satu.
“Darren Corter.. dewi seperti kita adalah sosok yang menduduki tingkat teratas dari semua kekuatan, tapi sayangnya dirimu belum mencapai tingkatan itu. Yang kuberikan kepadamu adalah kekuatan setara pencipta, bukan gelar. Dengan kata lain, tingkatanmu masih di bawah diriku dan 3 dewi yang lain.”
“Tentu saja aku tahu.. aku juga
tidak berniat berdiri di tempat yang sama dengan kalian.”
“Ah, masalah itu sebenarnya kau bisa mewujudkannya. Memang benar kau tidak memiliki gelar dewi, tapi itu hanya
untuk saat ini saja. Kalau kau berhasil membuktikkan kepada kami para dewi agung, bahwa dirimu itu berguna. Maka aku akan membicarakannya dengan dewi yang lain, bahwa.. dewi agung kelima akan lahir.”
Walau terdengar serius, nyatanya Dewi Reftia tertawa dengan sadis. Dia memiliki karakter unik, dia
terlihat seperti gadis yang senang melihat penyiksaan di depan matanya. Matanya tenggelam, tetapi mulutnya selalu tersenyum. Itulah Dewi Reftia yang sebenarnya.
Tapi aku yakin kalau dia adalah sosok yang baik, kalau tidak, aku ragu dunia ini masih berjalan seperti
biasanya.
“Darren Corter.. sebelum berpisah ada yang ingin kukatakan padamu.”
“Hm?”
“Kita para dewi memiliki kekuatan untuk menciptakan apapun, bahkan kau juga. Tapi aku menyarankan
“Omong-omong.. kenapa?”
“Iblis. Dewi Teressa menciptakan iblis, tujuannya adalah untuk mengatur banyak semesta. Tapi entah
bagaimana makhluk itu membelot, mereka menciptakan dunia mereka sendiri, yang bahkan kami para dewi tidak bisa menjangkaunya..”
“Begitu.. terdengar merepotkan. Tapi apa hubungannya denganku?”
“.. para iblis memang tidak bisa mengganggu kami, tapi setidaknya mereka bisa mengganggumu. Kalau mereka
tahu bahwa dirimu adalah sesosok pencipta, entah apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkanmu.”
Hah, pada akhirnya aku juga tidak bisa menggunakan kekuatan pencipta ini dengan bebas. Walaupun sudah
menjadi dewi sekalipun, tetap ada musuh yang harus kulawan. Tidak, aku tidak ingin mengganggap mereka sebagai musuh, keberadaan mereka mungkin lebih kuat dari yang kubayangkan.
Dewi Reftia juga mengatakan masalah iblis itu dengan kerutan di alisnya, aku ragu apakah ini adalah masalah
yang bisa kucampurtangai atau tidak.
“Pelajarilah dunia dan semua kekuatan yang ada di dalamnya. Selamat menikmati keseharianmu, Darren Corter!”
Aku mengangguk dengan senyuman lebar.
Dewi Reftia terbang menjauh, tetapi ketika dia hendak menghilang dan pergi, dia terlihat ingin mengatakan
sesuatu yang penting.
“Ah, benar juga.. gunakanlah kekuatan penciptamu untuk menciptakan baju.. kalau untuk masalah darurat kurasa
tidak apa-apa. Jangan terlalu sering menunjukkan tubuh sucimu, ya!”
Barulah dia menghilang.
Dunia kembali berwarna, dan waktu kembali berjalan. Air terjun juga kembali menumpahkan air hangatnya. Dengan
begini, acara berendam di air hangat milik Darren Corter bisa dilajutkan.
-
Aku menciptakan sebuah pakaian yang modelnya kudapat dari pakaian para warga sekitar. Karena para warga tidak mencariku, aku bisa dengan bebas keluar dari kolam. Ketika aku melihat ke sekeliling pun, memang tidak ada siapa-siapa. Yah, sebenarnya kolam ini tidak terlalu dekat jaraknya dengan desa.
Badanku sudah bersih dan wangi, tapi aku masih tidak bisa melupakan ingatan ketika cairan lengket itu menempel
di tubuhku.
“Tunggu.. kalau cairan itu memiliki efek asam, dan berhasil melelehkan pakaianku sebelumnya.. itu artinya
cairannya sudah menjelajahi semua anggota tubuhku!!”
Tidak, tidak, tidak, memikirkannya saja sudah membuatku jijik. Tak salah lagi yang kurasakan saat ini adalah perasaan menjadi wanita yang merasa selalu jijik. Apakah ini rasanya menjadi wanita yang terkena cairan lengket?
Pakaian ini terasa cocok denganku, ketika aku melihat diriku di cermin, diriku terlihat dewasa tetapi
tidak terlalu feminim. Biarlah, pikirku. Pakaian seperti ini juga baru pertama kali dipakai, yang biasanya kupakai hanyalah kaos dan kemeja saja.
Bahkan selama melawan monster tadi, aku masih menggunakan kemeja putih.
Syal ini juga kuciptakan untuk mengenang kehangatan air kolam Akarka, setelah keluar dari kolam itu entah
kenapa aku merasa kalau suhu hangat adalah yang terbaik.
Sambil berjalan kembali menuju desa, aku memikirkan apa-apa saja yang terjadi belakangan ini.
Dewi Reftia menyuruhku untuk mempelajari dunia ini dan semua kekuatan yang ada di dalamnya, kalau kekuatan
yang dia maksud adalah sihir, seharusnya dengan kekuatan pencipta milikku itu bukanlah masalah besar. Berarti masalahnya adalah minimnya pengetahuanku tentang dunia ini.
Aku bahkan tidak bisa dibilang telah mengalahkan Mid Spider, aku hanya menjinakannya. Seandainya aku
mengetahui satu atau dua sihir untuk menyerang, kurasa itu sudah cukup.
Dan itu adalah masalah pribadi, masalah umumnya adalah tempat ini sendiri. Aku ragu kalau aku bisa mempelajari
banyak sihir di tempat ini, dari apa yang dikatakan kepala desa kepadaku, sepertinya tempat ini disembunyikan dari dunia luar.
Itu berarti aku harus pergi dari desa ini dan mengembara keluar.
Bagaimana? Apakah aku harus meninggalkan surga Akarka? Tidak, yang penting bukanlah itu. Sepertinya warga
di sini tidak merdeka, karena itu mereka menyembunyikan diri mereka sendiri. Menerima keberadanku di antara Half Elf lainnya pasti adalah hal yang merepotkan bagi kepala desa.
Namun desa ini adalah titipan Dewi Reftia, aku memiliki kewajiban untuk membuat seluruh warga desa bahagia.
Aku memikirkan banyak hal dan tanpa kusadari aku sudah sampai di desa. Di sana, para warga sedang
bersorak-sorak riang, di antara para kerumunan warga yang sedang berteriak, laba-laba yang kujinakkan terlihat sedang diiikat dengan tali yang kuat. Mereka tidak membunuhnya.
Ada kepala desa di antara
kerumunan itu, dia hanya memperhatikan tanpa memiliki semangat untuk bersorak.
Aku menghampirinya dan menegurnya.
“Kepala desa.. ada yang ingin kubicarakan.”
Kami kembali ke rumah kepala desa seperti saat pertama aku datang ke sini. Tanpa berbasa-basi, aku langsung
mengatakan tujuanku datang kemari.
“Dewi Reftia telah mengijinkanku untuk mempelajari dunia ini.. karena itu, dengan berberat hati, aku meminta izin untuk pergi merantau dan keluar dari desa ini..”
“Apa yang anda katakan? Tentu saja anda tidak perlu meminta izin.. saya bahkan tidak memiliki hak untuk mengatur anda. Apalagi setelah desa ini berhutang keselamatan kepada anda. Sungguh, terima kasih banyak.”
Kepala desa menundukkan kepalanya, aku tidak bisa menerimanya begitu saja dan menyuruhnya untuk tidak
perlu seformal itu.
“Apakah ada sesuatu yang ingin anda bawa dari desa kami? Kalau anda mau, kita bisa menyiapkan beberapa warga untuk menjadi pengawal anda.. bagaimanapun juga, anda adalah utusan dewi bukan?”
Tawaran yang tidak buruk. Ya, tidak buruk untukku, tetapi itu buruk untuk mereka. Seandainya ras Half Elf keluar dari desa, aku ragu mereka akan mendapatkan perlakuan yang baik di luar sana. Aku bisa saja membuat telinga mereka seperti orang biasa dengan kekuatan pencipta, tapi setelah membuat pakaian tadi, berarti aku sudah menggunakannya dua kali. Aku tidak bisa terlalu sering menggunakannya.
“Tidak, terima kasih atas bantuanmu.. tapi sepertinya tak ada yang harus kubawa."
“Begitu..”
Aku menetap di desa itu selama satu hari. Pak kepala desa mengijinkanku untuk tidur di rumahnya. Tak banyak
yang terjadi setelah obrolan singkat kami itu.
Pak kepala desa sebelumnya menyarankan kepadaku untuk melakukan pesta perpisahan terhadap utusan dewi,
tapi sepertinya hal itu tidak usah dilakukan. Karena aku juga berjanji akan menyelamatkan desa ini suatu saat nanti. Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi, maka aku akan segera datang.
Pagi harinya, aku diantarkan ke sebuah tempat yang jauh dari desa. Tempat itu adalah ujung dari area pelindung
sihir yang menutupi seluruh bagian Akarka. Bentuk sihir pelindung itu seperti kubah yang sangat besar, dan kini aku sedang berdiri di antara perbatasan itu.
“Ketika anda keluar dari desa ini.. anda tidak akan melihat Akarka lagi. Tapi kami selalu menyambut anda
kalau anda ingin datang.”
“Ya, terima kasih. Aku menitipikan Mid Spider, laba-laba itu akan melindungi kalian. Tenang saja, aku
berjanji dia tidak akan menyerang.”
Aku keluar dari pelindung itu, dan benar saja, orang-orang yang sebelumnya mengantarku sudah tak terlihat
lagi, dan pemandangan hutan Akarka berubah menjadi pemandangan hutan biasa.
Aku menghela nafas pertamaku diluar Akarka.
Baiklah, saatnya berpetualang.