
Waktu yang telah dijanjikan tiba. Pagi ini, di tanah kosong Kardagon. Aku, Rayen, Renatta, dan Pisces berkumpul setelah terpisah beberapa meter karena efek teleportasi.
Langit yang biru, tanpa awan sama sekali, terbentang luas di atas kami tanpa terhalang pemandangan pohon ataupun gedung. Kalau ini adalah lapangan yang luas mungkin aku masih bisa berlari dan berteriak, tapi tanah ini sungguh kosong, apalagi yang kami injak saat ini benar-benar tanah saja.
Beruntung, tanahnya tidak lembab justru cenderung kering dan keras.
Aku, ketika sampai disini sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya saling pandang dengan Rayen.
“Karena tujuan awalku adalah untuk melatih Pisces.. kurasa Rayen dan Renatta bisa menunggu di tempat lain.”
Kataku kepada Rayen dan Renatta.
“Apakah tak ada yang bisa kubantu?”
“Aku juga ingin berguna untuk nona.”
Sambung Renatta dari jawaban Rayen.
“Hmm.. untuk sekarang mungkin tidak ada. Oh! Benar juga, kalau Renatta mungkin bisa sedikit membantuku!”
Mengingat akan sesuatu hal karena kemampuan es yang dimiliki Renatta, aku bisa memberikannya tugas sebagai pemberi sasaran untuk latihan Pisces.
Pisces adalah wanita yang menyukai berburu tanpa mau berburu, itu adalah keputusan orang tuanya. Pisces menghargai keputusan itu dan aku harus menghargai keputusan Pisces. Sebenarnya akan lebih mudah kalau menyuruh Pisces memanah, agar dirinya terbiasa. Tapi hal semacam itu sama saja menentang orang tuanya.
Aku memikirkan sesuatu yang lebih mudah. Yang perlu kuajarkan adalah bagaimana Pisces mengendalikan besar dan kekuatan anak panah dari sihir Magic Arrow miliknya. Kalau dia membuatnya lebih kecil, ada kemungkinan panah itu akan melesat lebih jauh.
Sebagai sasaran, Renatta akan membuat balok-balok es berterbangan dan tugas Pisces adalah mengenai balok es itu. Dengan birunya langit, maka balok es akan terlihat transparan, ini juga akan melatih ketelitian pandangan Pisces.
Betapa latihan yang sempurna.
Renatta berdiri dengan jarak 200 meter dari tempatku dan Pisces. Jarak sejauh ini kurasa cukup. Entahlah, aku juga tak pernah melihat semahir apa Pisces berburu.
Di samping Pisces, kuberi aba-aba berupa lambai tangan kepada Renatta.
Dengan mudahnya, Renatta membuat hujan es yang melesat dengan cepat dari langit tepat di depan kami. Kecepatannya lebih dari air hujan yang menetes, apalagi dengan warna yang transparan, membuat hujan itu hanya terlihat seperti cahaya yang menari.
Ini sama sekali bukan apa yang kumakud dengan membuat sasaran.
Lagipula sebenarnya Renatta itu makhluk apa sih? Setahuku dulu Reine tidak sekuat itu untuk menciptakan hujan es sedahsyat ini, apa mungkin karena pengaruh dariku? Seperti yang terjadi pada Seiren.
Dengan menggunakan skill Handless Pointing, hujan es yang diciptakan oleh Renatta kuhentikan. Kulebur semua es-nya, dan kujadikan sekitar puluhan bongkahan es berbentuk hexagon yang berjajar dari kiri ke kanan. Bongkahan itu melayang di udara kurang lebih 10 meter dari tanah.
“Baiklah, Pisces.. sekarang coba hancurkan semua bongkahannya sekaligus.”
Kataku.
Untuk tahap pertama, bongkahan es itu sengaja tidak kubuat bergerak. Tapi dengan menyuruhnya menghancurkan semuanya kupikir itu sudah menjadi tantangan.
“Semuanya? Sekaligus?”
Jawab Pisces dengan rasa tak percaya diri. Sejak tadi yang dia lakukan hanya memainkan kedua tangannya. Perempuan berambut merah ini bahkan tidak mau menatapku ketika sedang berbicara.
“Asal kamu tahu saja, aku bukanlah orang yang pandai dalam melatih seseorang. Kamu harus paham sendiri bagaimana cara mengembangkan sihirmu. Karena itulah, yang bisa kubantu hanya memberikanmu sasaran dan tugas.”
“.. t-tapi aku..”
“Kau hanya harus percaya diri, aku yakin kau pasti bisa!”
Kuberikan kepalan tangan dan mata yang penuh dengan harapan kepada Pisces. Menerima segala ini dari seorang pembimbing bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, tetapi bisa juga sebagai hal yang membuatnya semakin gugup.
Tak mungkin lagi bagi Pisces untuk tetap menghindar selagi aku menaruh harapan kepadanya. Sambil menghela napas, Pisces hanya bisa mematuhiku.
“Baiklah.. akan kucoba.”
Berseru pelan, setelah itu aku bergerak cepat ke tempat Rayen berada. Rayen sengaja memilih tempat dimana dia bisa melihat semua latihan dari sudut pandang penonton. Kalau Renatta berdiri jauh di depan Pisces, Rayen ada diantaranya. Maksudnya, posisi Rayen, Pisces, dan Renatta saat ini membentuk segitiga.
Karena pada dasarnya sihir es itu adalah milik Renatta, berarti yang tahu kerusakannya adalah Renatta. Aku sengaja membiarkannya tetap berada di situ untuk mengawasi sasaran.
Pisces mulai merapal mantranya. Sama seperti saat itu, busur ajaib muncul di atas Pisces.
Kulihat Pisces sangat serius dalam merapal mantranya, sama sekali tidak ada kesalahan ketika fase sihir. Dan untuk penaruhan Reft kurasa dia sudah cukup baik. Tapi satu kesalahannya, yang merupakan kesalahan terbesar, yaitu eksekusi.
Pisces payah sekali dalam hal eksekusi, busur ajaib itu membesar dan mengecil setiap Pisces mulai tidak fokus. Salahnya Pisces adalah ketika bentuk busurnya belum sempurna, dia sudah mulai membuat anak panah.
Anak panah itu terlontar, dan sayang sekali itu sangat buruk.
Ukurannya kecil dan bagus, tetapi bergerak sangat lambat. Entah bagaimana anak panah itu bisa tetap melayang dengan kecepatan yang begitu pelan. Tapi kalau selambat itu tak mungkin bisa menghancurkan es milik Renatta.
“Apa tidak ada kalimat yang bisa memberikannya semangat, ya?”
Tanyaku kepada Rayen, selagi anak panah itu menyusuri langit. Jujur saja, kelambatannya itu membuat kami berdua bosan.
“Entahlah. Lagipula kamu adalah Dewi, sihir seperti apapun bisa digunakan dengan mudah, sedangkan manusia biasa baru bisa menguasainya setelah latihan setengah mati.”
“Ya.. dan karena hal itulah aku jadi tak mengerti bagaimana sihir itu bekerja.”
Jawabku, menyetujui perkataan Rayen.
“Kalau kamu menggunakan kehendakmu sebagai Dewi, itu sudah tak bisa lagi disebut latihan.. kupikir cara yang paling tepat adalah menemani Pisces belajar, kita harus membuat lingkungan latihan yang nyaman untuk Pisces.”
“Kita? Kamu tidak boleh ikut melatih Pisces loh.. pokoknya tidak boleh!”
“K-Kenapa ya..?”
“Habisnya, nanti Pisces pasti terpesona olehmu. Kalau sampai hal itu terjadi, aku akan membelah dunia ini jadi dua.”
“Y-Ya-Yang benar saja..”
Sambil berpura-pura merajuk, aku mengembungkan pipiku dan mengalihkan pandangan. Rayen yang panik karena mengira aku marah memiliki ekspresi yang lucu. Sudah kutetapkan, ekspresi Rayen yang itulah yang bisa membuatku senang. Aku akan lebih sering mengerjainya mulai sekarang.
Di sisi lain tanah, kulihat Pisces sedang tersungkur sambil memegangi dadanya. Mulutnya terbuka lebar seolah ia sedang membutuhkan banyak udara.
Melihat hal itu, aku dan Rayen segera berlari menghampirinya.
Benar saja, Pisces memang kehabisan napas. Ada apa ini? Padahal kemarin Pisces mengeluarkan sihir yang lebih besar, tetapi efek kehabisan napas miliknya sama dengan kemarin. Mana mungkin kemampuan sihirnya menurun.
Tapi kalau ini terjadi karena tidak fokus, aku yakin sekali kalau Pisces tadi sudah fokus. Fase sihir-nya juga hampir sempurna.
***
“Owh.. itu sih masalah alam bawah sadarnya.”
Jawab Reftia, sambil memakan kue coklat yang diberikan Raru Megaira.
“Hah? Apa?”
“..hufftt.. kubilang alam bawah sadarnya.”
“Bukan itu! Maksudku, alam bawah sadar itu apa?”
Dalam hal ini, aku tak tahu apakah Reftia berpura-pura bodoh atau memang dia hanya salah tangkap saja.
Setelah melihat kondisi Pisces yang membingungkan, aku mengambil resiko dengan membiarkannya bersama dengan Renatta dan Rayen, sedangkan aku kembali ke istana untuk menanyakannya kepada Reftia. Sial, berarti saat ini sayangku sedang bersama dengan dua perempuan.
Tentu saja aku menggunakan sihir teleportasi untuk langsung ke kamar, dan sesuai dugaanku Reftia ada disana, berbaring di kasur yang sangat berantakan.
Setelah itu barulah kuberitahukan tentang keadaan Pisces, dia mengeri betul apa yang kumaksud.
Jelas Reftia.
“Kenapa? Apa karena orang tuanya?”
“Mungkin. Sejak awal dia sudah tidak berani mendekati hal yang berbau pemburuan.”
“.. lalu.. apa yang harus kulakukan?”
“Entahlah, ada banyak cara. Kamu bisa mengajarkan sihir baru kepada Pisces, atau meminta restu kepada orang tuanya.”
***
“Sihir baru atau meminta restu?”
“Begitulah yang dikatakan Reftia.”
Rayen menanggapi dengan wajah penuh heran. Ia menyandarkan tubuh Pisces di dadanya, tidak seperti sebelumnya karena sekarang Pisces terlihat lebih baikan.
Renatta tetap dengan wajah dinginnya, Pisces mencoba untuk semakin tenang dan mengontrol napasnya.
Aku juga sedang memikirkan masalah ini, apakah ingin mencoba sihir baru atau meminta restu kepada orang tua Pisces. Yang manapun itu, nyatanya semua keputusan kembali kepada Pisces. Aku sih inginnya mengajari sihir baru, karena meminta restu kepada orang tuanya agak sedikit merepotkan.
“Untuk sekarang kita berikan Pisces tenaga dulu saja.”
Ucapku kepada Rayen.
Pisces tidak pingsan, tapi dia terus memejamkan matanya untuk menghemat tenaga.
Aku menggenggam tangan Pisces, kemudian dengan perlahan menyalurkan Reft. Kalau aku adalah manusia biasa, menyalurkan Reft adalah hal yang tidak perlu diperhatikan. Tapi karena aku sekarang adalah seorang Dewi, seandainya salah pemberian, maka tubuh Pisces tidak akan bisa menerima Refti dariku.
Tubuh Pisces kini terisi penuh dengan tenaga, ia membuka matanya, tak bisa dipungkiri kalau tatapan Pisces lebih bersemangat dari sebelumnya.
“Tadi.. kau sudah dengar ‘kan apa yang harus kita lakukan? Antara sihir baru dan meminta restu.”
Kataku kepada Pisces, sambil membantunya berdiri.
Tak langsung membalas perkataanku, Pisces berdiam untuk beberapa saat dengan tundukan dalam. Beberapa hal ia pikirkan untuk menjawabnya.
“Bagaimana? Apa yang kau inginkan?"
Sambungku.
“Kupikir.. lebih baik mencoba sihir baru.”
Jawab Pisces dengan nada lirih. Ia bahkan tetap tidak menatap mataku ketika menjawabnya.
“Kenapa? Bukankah kau menyukai sihir itu? Bukankah lebih baik kalau meminta restu?”
Lagi-lagi tundukan dalam yang ia berikan.
Aku heran kenapa dua hal ini begitu membingungkan Pisces. Kalau aku menjadi dirinya, sudah jelas kalau aku tinggal menjawab salah satunya. Tidak ada yang merepotkan dari kedua pilihan ini.
Aku terkejut, juga merasa canggung karena kebodohanku sendiri, ketika kulihat tatapan Pisces tidak terlihat seperti biasanya. Dari tundukannya yang dalam, aku bisa melihat mata Pisces yang berkaca-kaca, ekspresi nya yang kelam.
“Meminta restu.. itu tidak mungkin. Orang tuaku.. orang tuaku sudah mati.”
Baiklah, kalimat yang paling tidak ingin kudengar akhirnya muncul. Dari sekian banyak teori yang kubuat ketika melihat ekspresi Pisces, pada akhirnya yang terburuk adalah yang benar.
Yang benar saja, orang tuanya sudah meninggal. Aku hanya bisa mengutuk kebodohanku sendiri karena selalu blak-blakan. Memang benar kalau Pisces hanya bilang orang tuanya tidak merestuinya, tapi ia juga tidak pernah bilang kalau orang tuanya masih hidup.
“Itu.. maafkan aku..”
“Tidak! Tidak apa-apa!”
Gugup, Pisces mencoba menenangkan diriku yang menyesal. Dia berulang kali melambai-lambaikan tangannya.
Astaga, ini sedikit merepotkan. Aku melihat ke Rayen, sama seperti diriku sepertinya dia juga ikut menyesal. Renatta tetap pada wajah dinginnya yang seolah tanpa ekspresi, aku tak pernah melihatnya menunduk.
“K-Kalau begitu.. bagaimana kita coba sihir baru saja?!”
Ucapku untuk memecah kecanggungan. Entah kenapa kalimat itu langsung saja keluar dari mulutku.
Pisces menanggapinya dengan positif, Ia sangat paham dengan maksudku, dan dengan segera mengiyakan.
Mencoba memikirkan beberapa sihir, kira-kira apa yang pantas untuk penyuka perburuan seperti Pisces. Kalau diingat lagi, rata-rata sihir jarak jauh memang berkaitan dengan perburuan.
Beberapa sihir yang terpintas di pikiranku adalah Long Range Bullet, Aynee Sparrow, Flare Shooter, dan masih
banyak lagi di buku sihir kakek Rayen.
Aynee Sparrow adalah sihir dari mitologi kerajaan kuno yang memiliki Ratu bernama Aynee, dan tombak yang dikeluarkan dari sihir itu adalah kepunyaan Ratu Aynee, tapi itu hanya mitologi. Sedangkan Flare Shooter adalah sihir yang menembakkan banyak bola api dengan cepat.
Dan Long Range Bullet, salah satu sihir yang kufavoritkan. Ini adalah sihir yang akan mengubah bentuk hati manusia menjadi elemen tertentu. Elemen itu dipadatkan dan akan berubah menjadi peluru tak terbatas yang dikendalikan seperti telekinesis.
Kalau hati Pisces melambangkan air, maka peluru yang ia pakai kemungkinan air, tapi kalau api berarti yang dipakai api.
“Kalau memang ingin mencoba sihir baru, bukankah akan memakan waktu lama? Yah.. bukan berarti kita memiliki batas waktu juga sih.. tapi kurasa ini akan menjadi latihan yang panjang.”
Kata Rayen mengingatkan.
“A-Anu.. aku tidak ingin merepotkan kalian.. tidak perlu repot-repot..”
“Tidak. Ini adalah tanggung jawabku terhadap ahli sihir, lagipula aku sudah berjanji dengan Ratu Megaira.”
Aku memotong ucapan Pisces.
Benar, ilmu sihir tidak seperti ilmu bela diri. Asalkan ada semangat, teknik bela diri yang sulit seharusnya bisa menjadi lebih mudah. Tapi sihir tidak seperti itu. Besarnya kemampuan sihir seseorang tergantung dari seberapa besar energi alam menyukainya.
Untuk membuat energi alam suka, butuh banyak latihan dan praktek. Anehnya, untuk orang jahat, ada beberapa dari mereka yang memperbudak energi alam. Itu mampu membuat mereka kuat, tetapi aturan alam menjadi rusak.
Neutral Eyes!
Kuaktifkan mata ini untuk melihat hati Pisces. Iseng saja, aku hanya ingin tahu elemen apa yang menetap di hati Pisces.
Kayu. Elemen Pisces ternyata kayu. Yah, sesuai sekali dengan dirinya yang pencinta perburuan. Tetapi untuk sihir ini kayu sangat tidak dominan. Tak pernah ada sejarah elemen kayu mampu menebas api atau air.
“Pisces, antara api dan air, mana yang lebih kamu pilih?”
Tanyaku.
“..hmm.. air.”
Aku tersenyum mendengar perkataannya.
God’s Will!
Dengan menggunakan kehendak Dewi. Aku membuat sebuah danau yang sangat besar, hamparan air itu membentang di depan kami.
Air yang memenuhinya berwarna biru jernih, mengkilat-kilat di bawah sinar matahari. Selain itu, aku juga membuat banyak sekali pohon rindang di pinggir danau. Seperti pepohonan kelapa yang membengkok ke arah danau, aku yang menciptakan itu semua.
“Sebenarnya elemen-mu adalah kayu.. tapi kalau kau siap untuk bertapa di danau ini, maka kemungkinan kau bisa menguasai elemen air juga.”
“B-Bertapa??”
“Haha!! Menyenangkan sekali, kan?!!”