
Yang berdiri di ujung lorong sana bukanlah makhluk biasa, tetapi iblis kelas tinggi yang mampu mematahkan kekuatan maha dasyat Gods’ Will. Ia adalah Azazel, pimpinan iblis pembelot yang merusak tatanan alam semesta.
Dia berdiri disana, dengan tatapan licik yang menyeramkan. Tampil dengan remaja yang tampan, Azazel tetaplah seorang iblis. Tidak seperti Astaroth yang mengenakan pakaian aneh, Azazael terlihat sangat menawan dengan jubah yang ia pakai.
Terlepas dari itu, nyatanya aura yang ia keluarkan sangatlah buruk.
Mataku seketika langsung sakit ketika melihat warna hitam yang hampir membuatku buta, aku segera menonaktifkan sihir Neutral Eyes.
Reftia berdiri di depan, menghadap Azazel dari kejauhan. Aku berpelukan pada tangan Rayen, dan hanya bisa berlindung pada Reftia. Seandainya tidak ada Reftia disini, sudah dipastikan kalau momen ini adalah momen paling mengerikan dalam hidupku.
“Hai, Reftia! Kau cantik seperti biasanya.”
Ucap Azazel. Reftia tidak berekspresi apa-apa dengan pujian itu.
“Sudah kuduga kalau kau sedang menyamar.. menijikan sekali menjadi monster seperti itu!”
Jawab Reftia.
“Haha, Dewi Agung memang hebat. Yah.. setidaknya akan lebih hebat kalau kau tidak menerima kutukan dari sahabatmu sendiri.”
“.. diamlah! Kenapa kau mengungkit itu?”
“.. pfftt.. ahahah!! Dewi Agung yang paling dekat dengan Yang Mulia Vedetta, justru menjadi Dewi yang terkutuk.. tampaknya kau juga tidak sepenuhnya cerdas!”
Melihat dirinya yang ditertawakan, Reftia menjadi sedikit kesal. Ia mengepalkan tangannya setelah beberapa kali menghela napas. Bagaimanapun, Reftia tampak terguncang ketika Azazel ada di depan matanya, ia sebisa mungkin menahan emosinya.
“Azazel, aku berkata serius, ini tidak ada hubungannya denganmu. Kalau kau hanya mau berlagak sombong, sebaiknya..”
“Benar sekali! Aku sangat menginginkan wajah itu! Ketika Reftia marah, itu adalah pemandangan yang sangat indah! Hihi.. setidaknya itu..”
Azazel berteriak kegirangan ketika Reftia memarahinya, meskipun Reftia menggunakan nada yang kasar, Azazel justru merasa senang. Dia merentangkan kedua tangannya dan tertawa sangat lepas, jujur saja itu tampak menjijikan.
Reftia yang merasa jijik dan geram dengan perbuatan Azazel, mulai menjetikkan jarinya, seketika sebuah pisau kaca yang terbuat di udara menusuk-nusuk tubuh Azazel. Pisau itu muncul tepat di hadapanku, kemudian meluncur dengan sangat cepat tepat menuju perut Azazel.
Walaupun pisau itu sudah menancap sekalipun, tak ada sedikitpun tanda-tanda Azazel melemah, bahkan darah juga tidak keluar dari perutnya. Azazel tetap berdiri seolah tidak terjadi apapun.
“Menjijikan! Hentikan kelakuanmu itu!”
Teriak Reftia. Ia tampaknya sadar kalau serangannya akan sia-sia, namun dengan tekad kuat ia hanya ingin menambahkan serangan itu di kalimatnya.
Yah, aku bisa paham kalau Reftia sangat merasa jijik.
Azazel tetap tersenyum seperti biasa. Tapi setelah itu dia mulai berjalan ke depan, menuju ke arah kami. Aku tetap memeluk tangan Rayen, sayangku sepertinya sama sekali tidak takut meskipun raja iblis ada di depan sana. Reftia juga tetap tenang. Apakah hanya aku yang panik dengan situasi ini?
Sambil berjalan, Azazel mengarahakan jari telunjuknya kepadaku.
“Sayang sekali Reftia, cintaku kepadamu sudah berpindah ke wanita itu! Demon God Darren Corter, satu-satunya iblis murni ciptaan Yang Mulia Vedetta. Setengah iblis, setengah Dewi, sungguh betapa menakjubkannya dirimu!”
Eh, apa-apaan itu? Menjijikan sekali. Beginikah rasanya menjadi perempuan yang digoda oleh pria nakal? Rasanya sama sekali tidak menyenangkan. Astaga, aku merinding sampai ke tulang.
Aku semakin menempel dengan Rayen, bahkan aku menjepit kaki Rayen dengan selangkanganku. Aku hanya tidak ingin melepas pelukanku dari Rayen, setidaknya ini bisa sedikit menenangkanku.
“Apa urusanmu dengan Darren Corter? Asal kau tahu saja, dia adalah utusanku, sosok yang akan kulindungi!”
Reftia tegas menghadang Azazel.
Azazel menghentikan langkahnya dengan sikap yang menyebalkan.
“Reftia.. urusanku dengan Darren Corter tidak ada hubungannya denganmu. Tapi, yah.. itu tentu saja karena aku tidak bisa membiarkan seorang Dewi memiliki gelar lebih tinggi dariku!”
Tadinya Azazel selalu tersenyum seolah menganggap semua kemarahan Reftia hanya candaan, tapi kini dia mulai serius. Auranya benar-benar terasa, menusuk sampai ke tulang. Rayen juga sedikit menahan sakit ketika menerima aura yang begitu jahat.
Tatapan Azazel menjadi sangat tajam ke arahku. Dia begitu marah, tetapi wajahnya dipaksakan untuk tetap tenang.
“Aku mencintai sosok iblis Darren Corter yang begitu menawan, tetapi aku juga membencinya.. awalnya aku mau membenci Yang Mulia Vedetta karena dirinya tidak tanggung-tanggung dalam memberikan gelar, tapi kau juga tahu.. membencinya itu sama saja dengan akhir bagi hidupku!”
“Sudah kubilang, apa tujuanmu?!”
“Hehe.. tujuanku hanya satu, memiliki anak dengan Darren Corter.”
Aku, Rayen dan Reftia sama-sama membatu ketika Azazel mengatakan tujuannya dengan lantang.
Apa yang ia katakan adalah hal yang jauh lebih menjijikan daripada mendapatkan rayuan dari lelaki nakal di seluruh dunia. Perkatannya itu sama saja dengan melamarku. Tentu saja aku sangat terkejut, seumur hidupku tak pernah aku melamar ataupun dilamar.
Sial, ini sungguh menjijikan. Sekarang aku mengerti kenapa wanita begitu menjauhi pria yang ia benci.
Reftia tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya bisa bertanya-tanya apakah yang dikatan Azazel adalah sebuah kebohongan atau bukan. Tapi, mau didengar berulang kalipun sepertinya Azazel tidak berbohong, untuk apa juga ia berbohong?
Yang masalah adalah situasi canggung diriku dengan Rayen. Bayangkan saja, ketika aku sedang memeluk Rayen, justru datang pria lain yang melamarku. Aku harus memasang wajah seperti apa?
“Hiii!! Menjijikan! Menjijikan! Jangan mengatakan hal yang menjijikan seperti itu!”
Aku berteriak, menghujani Azazel dengan hinaan. Sesekali aku membungkus wajahku dengan tangan Rayen.
“Haha, justru aku menyukai sifat..”
Sebelum Azazel menyelesaikan kalimatnya, Reftia lebih dulu membuat Azazel terkekang. Reftia menciptakan empat rantai yang muncul entah darimana, empat rantai itu mengikat kaki dan tangan Azazel. Sambil terangkat di udara, Azazel jelas tidak dapat bergerak.
Kemudian Reftia mendekati Azazel, berdiri dengan tenang di depan Azazel yang terikat rantai. Meskipun dalam situasi ini Azazel lebih tinggi daripada Reftia, tampaknya Reftia tidak memperdulikan hal ini.
Reftia menyentuhkan tangannya pada pipi Azazel, seketika sebuah asap keluar dari sana. Sederhana saja, sentuhan tangan Reftia membuat wajah Azazel terbakar. Terbakarnya itu tidak terlalu cepat, aku hanya melihat asap, tapi tidak melihat bekas luka bakar yang menjalar.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Reftia, Azazel hanya bisa kehilangan senyumannya.
“Darren Corter adalah keluargaku, kalau kau mengganggunya.. aku.. aku akan..”
“Kau akan apa? Menghabisiku? Memangnya bisa?”
“.. aku.. akan meminta Vedetta menghabisimu.”
“Hwahahaha!! Bodoh! Bodoh sekali! Tak kusangka Reftia semiris ini..”
Tawa milik Azazel kali ini lebih keras dari tawa yang sebelumnya. Reftia menjadi malu, tapi ia juga kesal.
Reftia menampar Azazel dengan sangat keras, ketika tangannya menyentuh pipi Azazel, aku bisa merasakan dunia cermin ini terguncang dan terdengar suara retak di ujung lorong. Ketika kuperhatikan, hasil tamparan Reftia membuat wajah Azazel hilang setengah, yang tersisa hanya tengkoraknya saja.
Tak bisa berkata apa-apa, raja iblis itu hanya bisa menerima serangan telak dari sang Dewi. Tapi setelahnya, rantai yang menjerat Azazel terlepas. Bukan Reftia yang melepasnya, tapi Azazel sendiri dengan kekuatannya. Tak satupun dari kami panik ketika rantai itu terlepas, seolah itu adalah hal yang wajar.
“Raja iblis Azazel, ada yang ingin kusampaikan.”
Ucap Rayen. Ia melangkah ke hadapan Azazel setelah melepaskan pelukanku darinya.
“Manusia? Maaf saja, tapi aku tak berniat mendengarkan sedikitpun perkataan dari makhluk sepertimu.”
“.. Corter adalah milikku, aku dan dia saling memiliki. Tak mungkin aku membiarkan iblis untuk merebutnya.”
“E-E-Eh?!!!”
Betapa terkejut dan malunya aku ketika mendengar itu dari seseorang yang kusayangi. Aku tak bisa menahan perasaan senang dan gugup, apalagi wajahku yang merona. Reftia juga sama, dia memasang wajah terkejut yang sedikit lain. Auranya seperti orang yang cemburu.
Aku yang tadinya ingin kembali memeluk Rayen seketika berubah pikiran, dengan tubuh segemetar ini tak mungkin
bagiku untuk mendekati Rayen. Kalau aku menyentuhnya yang ada diriku akan pingsan.
“Aku tak berniat untuk melawanmu, tapi Corter..”
Sambung Rayen, tapi kalimatnya itu berhenti ketika Azazel dengan cepat mencekiknya.
Azazel yang sangat marah dengan perkataan Rayen, dengan mudahnya melakukan hal itu tanpa bisa dilihat oleh mata. Jarak mereka yang lebih dari 5 meter, sangat tidak mungkin apabila Azazel secara tiba-tiba muncul di depan Rayen dan mencekiknya.
Aku dan Reftia seketika menjadi panik, ketika aku dan Reftia berniat untuk mendekat, ada sebuah lidah api yang mengekang kaki kami. Aku tak bisa mendekat selangkah pun.
“Manusia, lancang sekali kau mengatakan hal seperti itu kepadaku. Aku tak peduli kalau kalian saling mencintai sekalipun, yang kuinginkan hanyalah sosok Darren Corter.”
Rayen terlihat sedikit kesakitan, tapi itu hanya sedikit. Ia tampak tak begitu tersiksa. Aku tak tahu apakah Azazel yang sengaja mencekiknya dengan lemah, atau Rayen yang memang kuat menahan cekikannya.
Mendengar perkataan dari Azazel, Rayen tersenyum lebar.
“Sayang sekali, raja, aku bukanlah manusia. Kalau gelar Dewi itu lebih tinggi darimu.. berarti diriku yang setengah dewa ini, berarti di tingkat yang sama denganmu!”
Rayen berseru, kemudian menendang Azazel tepat di perutnya. Tendangan yang cukup keras, membuat Azazel terpental kebelakang dan melepaskan cekikannya. Lidah api yang mengekang kami juga ikut menghilang.
Tapi, apa-apaan dengan perkataan Rayen barusan? Dia bilang setengah dewa? Sejak kapan Rayen mendapatkan gelar Demi-God? Ini jelas-jelas bukan efek dari sihir Create Up milikku, lagipula memangnya gelad Demi-God itu ada?
Nyatanya Azazel hanya terpental, ia sama sekali tidak rubuh. Tubuhnya sempat melayang sedikit, namun Azazel berhasil mendarakatnnya kembali dengan mulus. Lagi-lagi ia tak tampak kesakitan.
Rayen mengangkat tangannya setinggi pinggang, kemudian sebuah berkas cahaya berwarna emas berkumpul di telapak tangannya. Lama-kelamaan cahaya itu berkumpul dan membentuk sebuah pedang panjang yang cantik. Itu adalah pedang agung, Starlight Eternity.
Ada apa ini? Aku tak pernah tahu kalau pedang itu bisa dimunculkan sesuka hati.
Ketika pedang agung sudah membentuk wujud sempurnanya, Rayen tak segan untuk menodongkannya ke Azazel.
“Ketika menyentuh pedang ini, aku bisa melihat bagaiman Corter bertarung dengan Astaroth. Dari pertarungan itu aku sadar, kalau kau tak bisa memaksimalkan kekuatanmu seperti Astaroth. Kau terlihat tanggung-tanggung walaupun kau memiliki kekuatan yang lebih besar dari iblis manapun.”
“.. apa maksudmu?”
“Azazel, saat ini kekuatan utamamu ada pada caramu memimpin. Kekuatanmu yang besar tidak bisa dengan mudah dikeluarkan. Itu karena wujudmu belum sempurna, kan? Aku tahu raja, aku tahu kalau kau dulunya adalah malaikat.”
Azazel adalah malaikat? Entah kenapa aku tidak bisa menyangkalnya, melihat sosoknya yang indah tidak seperti iblis, memang benar kalau dia mirip seperti malaikat.
Tapi kenapa Rayen bisa mengetahui hal ini? Tak heran kalau aku terkejut, tapi anehnya Reftia juga ikut terkejut. Apakah Reftia terkejut karena baru tahu hal ini, atau ia terkejut karena Rayen mengetahui hal ini? Masalahnya, Azazel yang harga dirinya setinggi langit itu juga tidak bisa menyangkalnya.
Sang raja iblis hanya bisa menunduk.
“.. siapa dirimu sebenarnya?”
Tanya Azazel kepada Rayen.
“Colt Rayen,.. cucu dari petapa agung Karcelus.”
Karcelus? Siapa itu? Kalau tidak salah aku pernah melihatnya di suatu tempat. Dimana, dimana, dimana? Oh, benar juga, buku sihir. Buku sihir yang ditulis oleh kakek Rayen bertuliskan Karcelus di sampulnya.
Aku yang tak tahu apa-apa tentu saja hanya bersikap biasa, tetapi lain halnya dengan Reftia dan Azazel, mereka memasang muka seolah baru saja mendengar kalau besok dunia akan kiamat. Reftia yang tenang dan Azazel yang sombong, tak kusangka mereka bisa memasang wajah yang sangat keheranan begitu.
“Reftia, Karcelus itu siapa?”
Aku bertanya seperti itu kepada Reftia. Dengan sangat perlahan, Reftia memandangku dan mulai menjawab,
“Karcelus, manusia yang diangkat ke langit oleh Hymera. Suami Hymera.”
Heh? Suami Dewi? Yang benar saja. Selain itu apa-apaan dengan diangkat ke langit, memangnya tak masalah kalau Dewi memiliki hubungan seintim itu dengan ciptaannya sendiri? Astaga, ini semakin sulit, tak pernah kusangka kalau kakek Rayen orang yang begitu menakjubkan.
Pantas saja dirinya memiliki gelar Demi-God, dengan bantuan dari skill Create Up-ku dan mengikuti garis keturunan suami Dewi, tak heran kalau sejak awal Rayen adalah pemuda yang kuat. Kenapa dia menutupinya?
“Kakekku memintaku untuk menjadi petualang, dan nenekku yang merupakan Dewi Hymera menyuruhku untuk melawan iblis dimanapun. Sayang sekali, raja, aku mengemban mimpi seorang Dewi dari tindakanku.”
Kalau perkataan Rayen benar, bahwa Azazel tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya, maka ini adalah situasi yang sangat sulit untuknya. Tak salah kalau aku berkata Azazel saat ini sedang terpojok. Seorang Dewi Agung, Dewi biasa, dan setengah Dewa, melawan satu-satunya iblis terkuat di semesta ini. Bahkan kalaupun Azazel serius sekalipun, aku tak yakin dia bisa mengalahkan kami bertiga.
“Cucu Hymera, ya? Kenapa Darren Corter dikelilingi oleh makhluk-makhluk hebat? Ya sudahlah.. meski aku bisa mematahkan God’s Will sekalipun, nyatanya seranganku tak akan ada yang berguna.”
Azazel membalas ancaman Rayen dengan senyuman yang licik, dia memandang jauh ke arah kami bertiga.
“Darren Corter, kekasihku, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu. Lebih baik kau bersiap.”
Ucap Azazel kepadaku.
“Sudah kubilang jangan mengatakan hal yang menjijikan!”
Aku yang merasa jijik hanya bisa berteriak seperti itu.
Rayen yang merasa kesal dari perkataan Azazel, mulai melancarkan serangan jarak jauh dengan menggunakan pedang agung. Seperti biasa, sebuah cahaya keluar dari pedang itu dan mengarah cepat menuju Azazel. Tapi sebelum serangan itu sampai, Azazel sudah menghilang menjadi sebuah bayangan.
Serangan Rayen membuat dunia cermin milik Reftia terguncang, dimana-mana terdengar suara kaca yang retak. Pada akhirnya kami keluar dari dunia cermin, ketika sadar kami bertiga benar-benar terbangun di lorong.
Tapi, di lorong itu ada banyak orang yang menatap kami dengan pandangan risau. Ketika membuka mata, aku sedang duduk bersandar di dinding lorong, dan Ratu Tisifon sedang menggoyang-goyangkan kepalaku.
“Apa kau baik-baik saja, kalian bertiga pingsan tadi.”
Adalah kalimat pertama yang kudengar.
“Aku akan baik-baik saja kalau kau berhenti menggoyang-goyangkan kepalaku.”