
“Lapisan langit?”
Tanyaku kebingungan, ketika Hymera mulai menjelaskan tentang lapisang langit secara egois, tanpa mau memahami apakah aku mengerti atau tidak.
“Benar, kita ada di lapisan langit ke tujuh, tempat para Dewi Agung berada.”
Jawabnya sambil tersenyum.
Aku melihat ke sekeliling, tak salah lagi kalau tempat ini sangat indah. Seolah ini bagaikan surga, aku tak pernah merasakan tempat senyaman ini.
“Dewi Agung yang lain mana?”
Tanyaku lagi.
“Hmm.. Teressa mungkin ada di suatu tempat, dia mungkin tak tahu kalau ada kamu. Nivalda lebih sering bermain di semesta lain. Kalau Reftia.. dia sedang melawan Azazel sepertinya.”
“Hah?!!”
Astaga, aku lupa! Padahal aku sudah mati di tangan Azazel kenapa aku bisa setenang ini? Begitu ya, aku tak bisa bersama Rayen lagi, tapi sebagai gantinya aku akan selamanya bersama Reftia. Pertukaran yang hampa.
“Tapi.. Hymera, kenapa harus ada lapisan langit di semesta ini? Lagipula, lapisan langit itu sebenarnya apa?”
“Oh, begini, lapisan langit adalah tempat yang terpisah secara alam berdasarkan tingkat urutannya. Anggap saja seperti semesta di dalam semesta. Yah, karena berbeda alam, itu artinya lapisan langit satu tidak bisa menggapai langit dua hanya dengan kecepatan fisik saja.”
“.. itu.. aku tak mengerti loh..”
Lalu, Hymera menjelaskannya lagi kepadaku, dari poin yang sangat jauh sekali dari perbincangan utama.
Yang bisa kutangkap kurang lebih seperti ini,
Jadi, semesta yang kutinggali bersama Rayen memiliki tujuh lapisan langit, ke tujuh lapisan itu memiliki fungsi dan ukuran yang berbeda-beda.
Lapisan langit pertama, adalah tempat bagi mereka yang akan terlahir ke dunia ini,
Kedua, adalah tempat dimana mereka hidup, berarti tempat manusia melakukan aktivitasnya,
Ketiga, adalah alam kubur, singkatnya adalah tempat bagi mereka yang sudah mati,
Keempat, adalah tempat All Nothingness dan All Exsistence berada, masalah dua benda ini akan kutanyakan lagi nanti,
Kelima, adalah neraka yaitu tempat kekuasaan Azazel sekaligus tempat tinggal para iblis,
Keenam, adalah tempat tinggal para malaikat yaitu surga,
Dan terakhir ke tujuh, adalah tempat aku berada sekarang, yaitu tempatnya pada Dewi Agung.
Tak semua semesta di jagat raya memiliki lapisan langit sebanyak ini, minimal adalah dua, yang penting ada tempat untuk memisahkan Pencipta dan ciptaannya. Kalau menurut Yang Mulia Vedetta, Dewi Agung terlalu suci untuk tinggal bersama ciptaannya.
“All Nothingness dan All Exsistence itu apa?”
Tanyaku.
“Itu adalah gumpalan energi yang sangat besar. Kedua energi itu saling bertolak belakang, karena itu kami para Dewi Agung memutuskan untuk menyimpannya dan membuat lapisan langit sendiri untuk itu.”
“Apakah
energi itu adalah sebuah kesalahan?”
“Hmm.. tidak juga. All Exsistence berasal dari keinginan Reftia untuk menciptakan makhluk yang spesifik yang selalu dia idam-idamkan, sedangkan All Nothingness berasal dari keinginan Teressa untuk mencegah hal tersebut. Karena memang pada saat itu Reftia baru saja diangkat menjadi Dewi, dia terlalu egois karena ingin menciptakan makhluk yang ia cintai sendirian.”
Tak kusangka pernah terjadi hal semacam itu diantara para Dewi Agung. Sepertinya aku tak perlu memikirkan mereka layaknya makhluk-makhluk kuat yang menakutkan, kalau mereka juga bisa berdebat seperti itu, berarti mereka juga memiliki sifat manusia.
Tapi, makhluk seperti apa yang ingin diciptakan Reftia sehingga dia menentang keputusan Teressa?
“Siapa makhluk yang inign diciptakan oleh Reftia pada saat itu?”
Tanyaku.
“Darren.. Eh??!!”
Secara tiba-tiba, Hymera menghentikan kalimatnya dan memasang wajah terkejut seolah dia melihat lelaki yang sedang telanjang.
“Hmm?.. ada apa Hymera?"
“Jangan-jangan.. kamu adalah Darren Corter? Sosok spesifik yang ingin diciptakan oleh Reftia itu?”
“Apa maksudmu?”
“Reftia.. sejak dibangkitkannya dia oleh Yang Mulia Vedetta, dia selalu mengidam-idamkan sebuah semesta. Darren Corter, dia selalu mengucapkan nama itu ketika sedang membuat semesta idamannya.”
Aku semakin tidak paham. Semesta apa yang dimaksud, dan kenapa ada namaku disebutkan oleh Reftia.
“Semesta yang mana? Apa semestanya Rayen?”
“Bukan! Itu.. pokoknya ada yang namanya komputer di semesta itu.”
Komputer? Semesta lamaku, bukan? Aku ragu Reftia menciptakan dua semesta yang sama-sama modern, tapi kalau itu memang semesta lamaku kenapa Reftia sudah mengenalku? Bukankah kami baru bertemu ketika aku mati?
“Apa kau yakin Reftia yang menciptakan semesta itu?"
“Ya, sangat yakin. Dia menciptakan semesta itu seolah dia pernah menjelajahinya sendiri, kemudian dia membuatnya dengan susah payah. Itu berlangsung bertahun-tahun, tapi dalam waktu biasa mungkin bisa sampai miliaran tahun. Dan.. suatu hari Reftia berkata ‘tiba juga saatnya’, dia pun turun ke semesta itu untuk pertama kali.”
“T-Tunggu dulu.. itu..”
“Dan setelahnya kau dijadikan Dewi? Kau juga adalah Darren Corter!!”
“Eh?”
“Astaga ini membingungkan! Bagaimana Reftia bisa merencakan ini selama bertahun-tahun?”
“.. y-yah.. aku tak begitu mengerti sih. Tapi jelas-jelas aku adalah Darren Corter.”
Hymera hanya bisa menahan keterkejutannya ketika kuakui diriku sebagai Darren Corter. Entah apa yang membuat Hymera begitu terkejut, tapi wanita ini terlalu dewasa untuk bisa terus-menerus memasang raut di wajahnya.
“Pantas saja Reftia sangat peduli terhadapmu.”
“.. kenapa?”
“Tidak ada. Yang penting, Darren Corter, aku akan mempromosikanmu menjadi Dewi Agung, bagaimana? Karena sepertinya kau cukup dekat dengan cucuku, anggap saja ini adalah hadiah.”
“E-Eh? Benarkah?!!”
Seolah tak percaya, aku memegang erat kedua bahu Hymera. Dia memakluminya dan hanya menjawabnya dengan anggukan.
Tapi syukurlah, akhirnya tiba juga dimana akhirenya aku menjadi Dewi Agung. Kupikir akan ada ujian sulit yang menungguku sebelum menjadi Dewi Agung, ternyata tidak.
“Tapi.. setidaknya kau harus mendapatkan persetujuan dari tiga Dewi Agung terlebih dahulu, itu adalah persyaratan mutlak untuk membangkitan Dewi Agung baru. Tidak perlu dari semesta ini, dari semesta lain pun boleh.”
“Itu merepotkan, apa Nivalda dan Teressa tidak mau memberikan izin?”
“Kalau Teressa sih agak sedikit keras.. kalau Nivalda..”
“Memanggilku?!!”
Secara mengejutkan, sebuah kepala muncul dari permukaan tanah di dekat kami. Kepala dengan rambut berwarna ungu, dia adalah Dewi Agung Nivalda. Kelakukannya bagaiakan tikus yang entah bagaimana bisa tiba-tiba muncul disana.
Apa yang sedang dia lakukan?
Aku dan Hymera saling pandang, tapi Hymera seolah memberikan gestur ‘dia memang seperti itu’ kepadaku.
“Kudengar Hymera ingin menjadikan Darren Corter sebagai Dewi Agung. Kalau begitu aku akan memberikan persetujuan untukmu!”
Lihat saja bagaimana cara ia berpikir, dia tersenyum lebar seperti penjahat yang memikirkan rencara buruk.
“Bagaimana kalau menjinakkan Shariest?!”
Ucap Nivalda seraya menunjukkan jarinya.
“Konyol sekali! Ditolak!”
Tanggap Hymera cepat bahkan ketika pernyataan dari Nivalda belum tercerna sepenuhnya di otakku.
“Shariest?”
Tanyaku kepada kedua Dewi.
“Shariest adalah hewan ciptaan Yang Mulia Vedetta untuk mengatur letak semesta agar tidak saling bertabrakan diluar sana. Ukurannya sangat besar, satu semesta bahkan tak lebih besar daripada sel tubuhnya.”
Jelas Hymera.
Apa-apaan? Satu semesta tak lebih besar daripada sel tubuh, lalu aku sebesar apa kalau harus berhadapan dengannya? Tak bisa dibayangkan ada makhluk sebesar itu di jagat raya ini, memangnya tidak ada yang takut kalau makhluk itu menabrak semesta lain ya?
Dasar Nivalda, memberikan persyaratan yang tidak masuk akal sepert itu.
“Hufft! Terserahlah, aku benci Hymera!”
Nivalda merajuk, dia kembali masuk ke dalam lubang tanah dan menghilang begitu saja ketika aku melongoknya. Melihat Nivada dan Hymera entah kenapa mereka seperti ibu dan anak. Terlebih lagi ekspresi lucu Hymera ketika merasa bersalah karena Nivalda marah kepadanya.
Tapi, karena Nivalda tak mau memberikan persetujuan berarti sisanya tinggal Teressa. Aku selalu memiliki perasaan buruk dengan Dewi seksi yang satu ini, masalahnya yang membuatku dikutuk menjadi iblis adalah Teressa.
Aku masih ingat tatapan dinginnya ketika terakhir kali bertemu denganku pada saat itu. Dia juga memusuhi Reftia, kan? Ternyata memang kita tidak bisa dekat.
“Bagaimana? Mau minta persetujuan dari Teressa? Atau mau mencari Dewi di semesta lain?”
Ucap Hymera kepadaku. Dari ucapannya sepertinya dia tidak keberatan sekalipun aku meminta bantuan dari semesta lain.
“Ya, mungkin..”
“Tidak bisa! Aku sendiri yang akan memberikanmu ujian itu!”
Lagi-lagi secara mengejutkan, muncul sosok lain. Sosok itu terbang di langit. Aku dan Hymera spontan mendongak, dan yang ada disana ternyata adalah Teressa, Dewi Agung Kehidupan dan Kematian, dia melayang sekitar 5 meter di atas kami.
Setelahnya dia mendarat, dan berpose dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Aku akan memberikanmu ujian, Darren Corter!”
“Ya.. katakan saja!”
Aku menahan napas sebelum Teressa mengeluarkan jawabannya, semoga saja apa yang keluar dari mulutnya tidak akan semengejutkan dugaaku.
“Berperanglah dengan para malaikatku!”
Untuk pertama kalinya aku melihat Teressa tersenyum, tapi itu bukan senyuman licik melainkan senyum kepercayadirian.
Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa menyombongkan dirinya sendiri dengan menyuruhku berperang dengan para malaiaktanya. Tapi sejauh yang kutahu, malaikat dan iblis memang ciptaan Teressa. Berarti yang dia inginkan adalah peperangan antara aku dan ciptaan aslinya.
“Baiklah.. kuterima tawaranmu.”
Kuteguhkan hatiku dan menjawabnya dengan kepercaya dirian yang sama dengan Teressa.
Hymera yang tidak menduga aku akan menjawab seperti itu hanya bisa salah tingkah dan berkali-kali mengingatkanku kalau tindakan yang kulakukan adalah suatu hal yang konyol. Padahal katanya aku bisa mendapat syarat yang lebih mudah kalau mencari Dewi Agung lain.
Terserahlah, yang kuinginkan adalah kepercayaan dari Dewi yang satu ini. Dibandingkan Nivalda, Teressa sepertinya akan menjadi kandidat yang paling sulit bekerja sama denganku. Karena aku tak berniat meninggalkan semesta ini ketika menjadi Dewi Agung nanti, tak ada alasan untuk menolak tawaran kepercayaan ini.
“Oke, ikutlah aku ke surga!”
***
“Selamat datang, tuanku!”
“Silahkan beristirahat terlebih dulu, tuanku, saya sudah menyiapkan banyak hidangan untuk anda!”
Kata para malaikat berparas cantik itu, menyambut kedatanganku dan Pisces yang tiba-tiba muncul di antara kerumunan mereka.
Entah bagaimana, ketika aku sedang mencari Darren, seketika aku berpindah tempat kesini. Di sebelahku ada Pisces, tapi sejauh yang kami lihat adalah pemandangan pegunungan rumput hijau yang sangat cantik. Langitnya cerah tetapi tidak panas. Aku tak tahu dimana ini.
Hingga muncullah kerumunan perempuan-perempuan cantik dengan pakaian minim serba putih, terbang menghampiri aku dan Pisces yang tengah kebingungan.
“Pisces, bagaimana ini?”
“Jangan tanya aku! Bukankah tuan Rayen sendiri yang dilayani oleh mereka?”
Pisces dengan gamblang mengkhianatiku yang sedang kesusahan. Bagaimana tidak, malaikat yang tidak sempat kuhitung jumlahnya ini berdesak-desakkan hanya untuk mendekatiku.
Semakin lama mereka semakin berani dan tak mau kalah dari yang lain, hingga satu malaikat secara tiba-tiba memelukku, dan itu membuat para malaikat lain melakukan hal yang sama juga. Kini aku tengah berada di surga para malaikat, aku bisa merasakan banyak kelembutan daging yang empuk di seluruh penjuru tubuhku.
“J-Jika anda memasang wajah seperti itu, akan kulaporkan kepada nona Darren!”
Mendengar perkataan itu dari Pisces, aku baru ingat kalau sudah memiliki kekasih Dewi yang sedang kucari kesana kemari. Apa-apaan yang kulakukan ini? Aku justru menikmati gumpalan-gumpalan yang memelukku.
“S-Sebentar saja Pisces! Milik Darren tidak mungkin bisa kunikmati seperti ini soalnya..”
Saat itu, aku sadar kalau diriku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Mendadak, telingaku rasanya seperti terbakar. Rupanya ada seseorang yang menarik telingaku sampai tubuhku ikut terbawa keluar dari pelukan para malaikat.
Tentu saja aku terkejut dan ingin marah terhadap orang yang mengganggu surgaku, tapi niat itu kuurungkan ketika kulihat ternyata yang menarikku keluar adalah kekasihku sendiri, Darren Corter.
“Bagus! Bagus sekali! Lanjutkan saja acara peluk-pelukan dada itu, maaf saja kalau milikku rata seperti papan!”
Kekasihku marah besar kepadaku.
Aku bahkan tak tahu harus senang karena sudah bertemu dengannya kembali, atau harus takut karena dia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Yang manapun itu, kekasihku tetap manis walaupun dengan sikap tegasnya, apalagi pipi dan telinganya yang ikut memerah.
Aku sampai bersujud di depan Corter karena tidak berani menatap wajahnya, walaupun manis tetap saja itu wajah wanita yang sedang marah.
“Rayen.. awas saja sampai kamu melakukan hal itu lagi!”
Corter membentakku dan memelototi para malaikat sampai mereka semua terbang menjauh.
Ketika muncul di hadapanku, Corter tidak sendiri, tapi ada dua perempuan berwajah cantik di sebelahnya. Ada perempuan berwajah tegas, aku tidak mengenalnya, dan ada juga perempuan yang memiliki tatapan seperti Ratu Megaira, entah kenapa aku merasa memiliki hubungan dengan perempuan itu.
Dia bahkan tersenyum kepadaku karena aku selalu memperhatikan dirinya. Memang ada yang aneh, aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau perempuan itu adalah orang asing.
“D-Darren..!”
Suara manis terdengar dari sebelah kerumunan kami.
Ternyata itu adalah suara Dewi Reftia, dia berdiri memandangi kami. Di padang rumput yang luas ini, aku hanya bisa memperkirakan jarak antara kami dan Reftia. Entah kenapa Suasananya menjadi sangat ramai disini, sebenarnya apa yang terjadi?
“Darren.. kamu kembali!”
Sambil berjalan, Reftia menangis. Kemudian dia memeluk Darren dengan sangat erat. Sekencang-kencangnya Reftia menangis seolah-olah itu bukan dirinya yang biasa. Darren membalas pelukan itu dengan senyuman yang penuh haru.
Aku bahkan melihat air mata juga mengalir dari mata kekasihku.
Sebenarnya apa yang terjadi disini?
Aku dan Pisces hanya bisa saling tatap dan mengangkat bahu satu sama lain.