
Guild menyediakan sebuah penginapan di lantai atas gedungnya, awalnya aku berniat untuk menetap disana dan
membayarnya suatu saat nanti. Tapi, jangankan tidur di sana, aku bahkan tidak akan pernah lagi mencoba untuk menginjakkan kaki di lantai itu.
Lantai hotel cinta, setidaknya itu adalah lantai yang digunakan para petualang untuk menyewa pekerja seks, mereka diperbolehkan menggunakan satu kamar itu hingga pagi tiba. Semua lampu yang menghiasi lantai itu berwarna merah muda, sungguh penuh dengan godaan.
Tapi aku perempuan, andai saja aku berlama-lama di lantai itu, rusak sudah harga diriku.
Pada akhirnya, diriku yang tidak memiliki uang ini terpaksa tidur di lantai bawah Guild. Yah, lantai itu adalah tempat utama, ada resepsionis, papan misi, bar, dan juga banyak meja untuk tempat makan. Aku memohon kepada penjaga disana agar diperbolehkan tidur untuk sehari saja.
Aku sudah mengingatkan Rayen agar datang lebih awal, aku ingin dia datang ketika pintu Guild baru saja dibuka. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin orang yang masuk pertama kali adalah sekumpulan pria berengsek, dan aku diharuskan untuk menetap bersama mereka.
Tidurku sama sekali tidak nyenyak, aku tepaksa tidur dalam posisi duduk di pojok ruangan, apalagi dengan ditemani puluhan ekor nyamuk, itu adalah pengalaman tidur paling buruk menurut sejarah hidupku.
Dan kini aku sudah terbangun, menunggu detik-detik hingga pintu Guild terbuka, mungkin sekitar setengah sejam lagi. Aku menaruh kepalaku di meja dan mulai memejamkan mata, bosan.
“Hei, Corter!”
Ketika pandanganku mulai sayup, dan kesadaranku mulai melayang, kalimat sederhana itu terus terulang-ulang di
telingaku. Badanku didorong-dorong, memaksaku untuk bangun.
“Oh, apa aku tertidur lagi?”
Gumamku.
Guild sudah diisi beberapa orang, setidaknya bisa terlihat dua atau tiga orang berkumpul di satu meja. Yah, ini mungkin masih terlalu pagi untuk Guild bisa penuh. Tak banyak petualang yang bersemangat dengan pekerjaannya.
“Kau sudah lama disini?”
Kata Rayen.
Bukankah kalimatnya itu terdengar seperti sepasang kekasih yang akan mulai kencan?
“Ya, jangankan sudah lama.. aku bahkan tidak pulang terlebih dahulu.”
“Hah? Kenapa?”
“Panjang ceritanya, anggap saja untuk saat ini aku tidak memiliki tempat tinggal.”
Rayen ingin berkomentar lagi atas tanggapanku, wajahnya tampak cemas. Adalah hal yang wajar kalau lelaki polos sepertinya mengkhawatirkan seorang gadis, terlebih gadis itu adalah rekan satu tim-nya.
Yang pasti, aku menahan mulut Rayen ketika dia mulai berbicara, aku tidak ingin lebih berlama-lama lagi di dalam Guild ini.
“Sudahlah, yang penting kita harus mengambil misi dulu.. masalah itu akan kuceritakan lain kali.”
“..begitu.. baiklah.”
Papan misi adalah sejenis papan mading yang digunakan Guild untuk memajang semua misi yang mereka tawarkan. Misi-misi itu dicetak dalam selebaran kertas, dan ditempel di papan misi. Siapapun yang ingin mengambil misi, mereka harus membawa kertas itu ke resepsionis dan mendaftarkan nama mereka. Dengan kata lain, ini semacam ‘siapa cepat, dia dapat’, kalau kau ingin misi yang bagus, maka kau harus datang lebih dulu.
Nyatanya, tak banyak misi yang bisa diambil oleh petualang ranking rendah seperti kami berdua. Tapi ada satu misi yang ditunjuk oleh Rayen, dan sumpah aku aku tidak setuju dengan misi itu.
“Menyelidiki mansion?!”
“Ya! Bukankah itu bagus?”
Dengan wajah senang yang berseri-seri, Rayen menjawab dengan penuh semangat.
Mansion ya? Rumah besar yang gelap dan mewah itu? Kalau di dalam game, biasanya tempat itu dijadikan latar
permainan horor. Astaga, membayangkannya saja sudah membuatku takut. Lagipula, apa yang bisa diselidiki dari mansion itu.
Omong-omong, bahasaku dan bahasa di dunia ini sama, Bahasa Inggris. Huruf-hurufnya juga sama, alfabet,
namun mungkin hanya bentuknya saja yang sedikit berbeda. Bentuk alfabet di dunia ini seperti lebih banyak coretan atau semacamnya, tapi aku masih bisa membacanya.
“Tidak sudi! Tempat seperti itu sangat kotor, kau tahu!”
“Tapi, lihatlah hadiahnya.. 20 koin perunggu!”
Ya, aku melihatnya. Justru itu adalah hal pertama yang kulihat.
Dengan 20 koin perunggu, setidaknya ada beberapa barang yang bisa kubeli. Anggap saja, untuk membeli seporsi makanan, harga yang dibutuhkan hanyalah 3 koin perunggu. Tapi uang segitu tidak begitu banyak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Aku mendesah kesal.
“..huh.. memangnya apa yang kita lakukan di mansion itu?”
Aku berbicara sendiri dan menyusuri tulisan di poster itu dengan telunjukku. ‘..mengusir roh..’ adalah tugas yang harus kami lakukan untuk mendapatkan hadian 20 koin perunggu itu. Astaga, ini sudah keterlaluan, bukankah aneh kalau misi ini dibiarkan untuk rank terendah? Roh bukanlah makhluk yang mudah diajak kerja sama, itu masalahnya.
“Tidak! Pokoknya aku tidak mau! Kamu lakukan sendiri saja!”
Bantahku sambil bertolak pinggang.
“Kumohon.. sekali ini saja. Tidak perlu khawatir, aku berjanji akan melindungimu..”
Singkat cerita, aku diberikan ribuan kata-kata manis oleh pria ini, aku bertanya-tanya sebenarnya seberapa ingin dia mengambil misi ini? Yah, kalau petualang kelas rendah sepertinya sampai bersikeras, seharusnya ini bukanlah misi yang sulit.
Tapi masalahnya bukan disitu, aku pribadi juga tidak takut dengan roh atau semacamnya, yang aku permasalahkan adalah mansion yang kotor dan gelap itu. Membayangkan nyamuk, serangga, dan kotoran yang ada di sana, itu saja sudah membuatku jijik. Apa pria ini sengaja membawaku ke tempat gelap seperti itu agar dia bisa memiliki kesempatan untuk menyentuhku? Tidak, Rayen mana mungkin bisa memikirkan itu.
Ah, astaga, Dewi Reftia, aku sangat menyesal telah menjadi petualang.
Letak mansion tidak terlalu dekat dari Guild, tapi juga tidak terlalu jauh. Setidaknya, itu bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki, lagipula satu-satunya akses kesana hanyalah dengan jalan kaki saja, karena letaknya yang berada di tengah hutan membuatnya sulit dijangkau kalau dengan kendaraan.
Tak banyak yang kami bahas ketika dalam perjalanan menuju ke sana. Rayen berjalan di depan, dia selalu siap dengan pedangnya walau sama sekali tidak ada tanda-tanda monster. Sedangkan aku, dengan penuh penyesalan hanya bisa mengikutinya di belakang sambil terkadang memainkan selendang yang kuikat di pinggangku.
Mungkin sekitar setengah jam berjalan, kami akhirnya sampai di sebuah area tak berpohon di dalam hutan. Dan disitulah letak mansion itu berada.
“Baik.. ayo kita masuk!”
Sudah, tak ada lagi yang bisa kukatakan. Sosok Dewi Corter ini hanya bisa mengekor dan membuat raganya bergerak dengan sendirinya masuk ke dalam tempat yang kotor.
Kami memasuki mansion itu dengan sangat tidak berhati-hati, Rayen hanya berjalan dengan santai tanpa mau menoleh sedikitpun ke arahku. Kalau dia sesantai itu, apalagi diriku, yang ada aku hanya bisa bosan dan berharap misi ini cepat selesai.
Yah, kuharap begitu, di rumah sebesar ini aku takut kita terpisah.
“Jadi, dimana kita menemukan roh itu? Lagipula.. apa memang ada tandanya kalau dia menetap di sini?”
Tanyaku kesal.
Setelah beberapa menit berkeliling di ruangan yang berdebu, yang bisa kukatakan hanyalah kekesalan dan protes. Walau ini baru sebentar, tapi aku merasa siksaan ini sudah berlangsung lama.
“Yah.. biasanya roh memiliki lingkaran sihir sebagai rumahnya. Lingkaran sihir itu terlalu mencolok, mereka memang sengaja memilih tempat seperti ini untuk dijadikan rumah, karena tak sedikit orang yang mencoba mengusir roh..”
Jawab Rayen santai.
“Jadi, kita harus mencari benda bernama lingkaran sihir itu?”
“Begitulah. Bukankah itu mudah?”
“Mudah apanya? Kalau roh itu muncul dan menyerang bagaimana?”
“Roh tidak sekuat itu, mereka memerlukan inang untuk berevolusi. Dan kalau sudah memiliki inang, mereka tidak
perlu lagi tinggal di dalam lingkaran sihir.”
semenggiurkan ini, tapi itu tidak mengubah perasaan kesalku terhadap tempat kotor ini.
Ada banyak sekali ruangan di lantai satu, semuanya dipenuhi dengan perabotan yang sudah rusak. Seperti kursi dan meja makan yang sangat besar, itu pun sudah rusak dan keropos. Yang seram adalah ketika aku menemukan piano tua yang masih utuh, itu sedikit mencekam. Tapi tenang saja, ini bukan cerita horor.
Kami menuju ke lantai dua, berharap saja lingkaran sihir itu ada disini. Dari yang Rayen katakan, lingkaran sihir hanya berbentuk lukisan di lantai yang digambar menggunakan kapur, darah, ataupun sesuatu yang berbekas lainnya. Itu tidak bersinar dan tidak beraura, karena itu kami harus melihat ke dalam ruangan satu-persatu.
Yah, aku juga berpikir itu sama sekali tidak memiliki tanda. Tapi sepertinya tidak begitu. Ketika kami menginjakkan kaki di lantai dua, aku menyadari ada sesuatu yang aneh memancar dari beberapa ruangan di sebelahku. Aku tidak langsung mengatakannya kepada Rayen. Entah kenapa aku sendiri sedikit ragu dengan perasaan itu.
“Kamu lelah? Kalau lelah, kamu bisa beristirahat terlebih dulu disini. Biarkan aku yang mencarinya saja.”
Rayen mengatakannya. Dia mundur dan berjalan berdampingan denganku.
“Apa?! Maksudmu kita harus berpisah? Tidak, terima kasih!! Kalau aku terluka memangnya kau mau tanggung jawab?!.”
Bentakku keras. Dan Rayen tidak membalasnya.
Bukan berarti aku tidak ingin ditinggal olehnya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, berpisah di tempat sebesar ini adalah hal yang merepotkan.
Tak ada lagi percakapan yang terbuat sejak balasan keras dariku. Kupikir Rayen marah, tapi sepertinya dia hanya tidak ingin membicarakan apapun. Aku berulang kali memberikan kode kepadanya, tak ada satupun yang membuatnya bicara.
Aku bisa saja menghancurkan udara canggung ini, tapi untuk seorang gadis, memulai pembicaraan dengan laki-laki terlebih dahulu adalah hal yang merepotkan.
Apa aku salah karena terlalu mengekangnya? Sejak pertama bertemu yang kulakukan hanyalah menolak pendapatnya, seandainya itu salah berarti aku harus meminta maaf. Diriku yang pernah menjadi laki-laki sudah tahu betul bagaimana rasanya menghadapi wanita yang egois.
“Rayen.. itu..”
“Hmm?”
Rayen menoleh, rasa malu dan takutku semakin menjadi-jadi. Meminta maaf.. aku sedikit buruk dalam hal itu.
Aku hanya bisa menunduk sambil tersipu, sedangkan Rayen menunggu kalimat dariku. Dan aku sudah menguatkan
hatiku, aku mengangkat kepalaku dan bersiap menghadapinya.
Tapi mataku tidak berfokus kepada Rayen ketika kepalaku mulai naik, melainkan sosok bayangan yang mengintip di ujung lorong sana.
Lantai 2 tidak seperti lantai 1, disini hanya ada lorong yang sangat panjang dengan banyak ruangan di kanan dan kirinya. Sama sekali tidak ada belokan. Dan yang kulihat disana adalah bayangan hitam dengan pantulan mata merah, mengintip dari pintu ruangan di ujung lorong.
Aku langsung meraih lengan Rayen, menutup mataku dengan pundaknya. Walaupun tidak terlihat jelas sosok seperti apa bayangan itu, pikiranku yang ketakutan menggambarkannya menjadi sosok yang menyeramkan.
“Hei, ada apa!”
Rayen juga terkejut ketika aku memeluknya, dia tidak bisa menyembunyikan tingkah gugupnya itu.
Tapi tidak ada waktu untuk memikirkannya. Aku hanya bisa bergetar ngeri dan tidak berani melihat apapun, kakiku juga lemas seperti ingin pingsan. Tentu saja aku tidak akan setakut ini kalau sebelumnya diriku pernah melihat hantu, masalahnya aku belum pernah melihat hantu seumur hidupku.
Dengan sedikit keberanian dan tenaga, aku menunjuk ke ujung lorong dimana aku melihat hantu itu. Aku selalu
memejamkan mata, entah apakah Rayen juga melihatnya atau tidak.
Perlahan, langkah Rayen melambat dan akhirnya berhenti. Aku semakin erat memeluknya karena dia tidak
mengatakan apa-apa, yang ada di sekitarku hanyalah kesunyian. Apakah yang kupeluk ini benar-benar Rayen? Dia sama sekali tidak bergerak.
“Itukah rohnya?”
Rayen berlari, membuat pelukanku lepas dari tangannya.
Jantungku serasa mau lepas ketika tangan Rayen tak lagi kugenggam. Aku ingin menangis dan berteriak karena
terlalu takut. Kulihat, sosok Rayen sedang berlari menuju ke ujung lorong dan bersiap dengan pedang di tangan kanannya.
“R-Rayen.. tunggu aku!!”
Aku berlari seperti zombie, dengan kedua tanganku kuulurkan ke depan. Aku ingin segera memeluk Rayen dan mengumpat. Tapi semakin kukejar sepertinya aku semakin yakin kalau itu mustahil, dia terlalu semangat hingga tidak menghiraukanku.
Ketika sampai di ujung, Rayen berbelok ke kamar di sebelah kanan. Dengan tergesa-gesa aku masuk ke kamar yang sama dengannya, sosoknya berhenti di depan pintu, membuatku menabraknya dan spontan memeluknya.
“Astaga.. jangan tinggalkan aku!”
“Corter, ini dia.. roh yang kita cari.”
Di depan kami, terlihat sebuah lingkaran sihir yang sangat besar. Itu terbuat dari kapur putih. Dengan pola geometris yang indah, lingkaran sihir itu memang tidak bersinar. Jendela ruangan terbuka, membuat cahaya matahari langsung masuk dan menyorot. Sosok bayangan yang tinggi besar, terlihat melayang di atas lingkarang sihir itu.
Itu adalah sosok yang membuatku takut sebelumnya. Setelah diperhatikan, dia tidak begitu menyeramkan. Tidak, dia memang menyeramkan, tapi dalam artian yang lain. Bayangan itu memiliki warna mata merah, dengan api menyala-nyala di sekitar tubuhnya.
Dengan sombong dan dengan tatapan dingin, dia melipat tangan di hadapan kami.
Aku mengambil posisi di sebelah Rayen, tapi tetap tidak membuatku melepaskan pelukanku darinya. Kulirik ke
wajah Rayen, tampaknya dia tidak gentar, wajah yang penuh keberanian terlukis pada sosok Rayen. Aku yang memeluk tangan kirinya dari samping merasa sangat aman karena itu.
“Jadi, apa tujuan kalian mengganggu tempat tinggalku?”
Roh, sebut saja begitu, mengatakan kalimat pertamanya dengan suara yang keras dan berat. Seperti orang berbadan besar pada umumnya, suaranya tidak imut seperti suara Rayen. Hanya dengan suara itu, seseorang bisa lari dan ketakutan.
Apa Rayen pernah mengatakan kalau roh tidak sekuat itu? Apa dia membodohiku, ya?
“Tenang saja, Tuan Roh. Kami tidak bermaksud buruk.”
Tidak bermaksud buruk darimana? Kita kemari untuk mengusirnya, apa Rayen lupa akan hal itu? Kalau ini adalah strateginya untuk memenangkan hati sang roh, aku tidak akan tanggung jawab kalau dia merasa dikhianati nantinya.
Rayen menunjukkan kartu identitas petualangnya kepada si roh.
“Itu.. kami kemari untuk membuatmu pergi. Kami sungguh mohon maaf atas kelancangan kami.. tapi ini perintah kerajaan.”
“Wuahahaha!!”
Roh itu tertawa sangat keras ketika Rayen menyelesaikan kalimatnya. Dunia seolah berguncang karena tawanya itu. Ketakutanku semakin menjadi-jadi, dan hasilnya adalah aku semakin erat memeluk lengan Rayen. Mungkin ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku memegang benda seerat ini.
“Kalian? Cecunguk kecil macam kalian mau mengusirku? Yang benar saja!”
Rayen tampak tenang setelah mendengar jawaban negatif dari sang roh. Kurasa ia ingin masih mencoba bernegosiasi. Yah, terserahlah, aku hanya ingin ini cepat selesai dan pergi dengan selamat.
“Kumohon, atas nama kerajaan. Aku sangat tak menyangka roh agung sepertimu bisa tinggal disini, izinkanlah kerajaan memberikanmu tempat yang lebih layak, wahai Tuan Roh Agung.”
“Hoho? Kerajaan berani memberikanku tempat yang lebih layak? Apakah itu termasuk inang untukku?”
Rayen menahan jawabannya, aku merasakan sedikit keraguan dari gelagatnya. Tapi, itu tidak menghalanginya
untuk menyerah.
“..ya. Itu termasuk inang. Ratu akan memberinkanmu inang yang kau inginkan.”
“Wuahahaha!! Baiklah, baiklah.. kuterima tawaranmu. Lagipula inang yang kuiinginkan sudah ada disini.”
“Hah?”
Aku merasakan perasaan semenjijikan neraka, ketika sang roh menunjuk ke arahku dengan senyuman jahatnya.
“Aku ingin gadis itu menjadi inangku!”