
Keesokan harinya, ketika aku sudah beristirahat dengan tenang di kasur kerajaan yang luar biasa empuk. Malam itu adalah malam yang tidak terlupakan untuk seorang gadis, tapi sayangnya Rayen langsung pergi ketika aku mulai menggodanya lebih lama.
Yah, tak masalah, aku sudah puas dengan itu. Semua ada prosesnya.
Ada sebuah aula besar yang terletak di bagian dalam istana, seperti lapangan tertutup yang sangat besar. Ratu mengatakan kalau itu adalah tempat untuk ahli sihir kerajaan berlatih, baik fisik maupun sihir. Tapi sepertinya berlatih sihir di dalam kerajaan bukanlah ide yang bagus.
Kami sedang berkeliling di aula itu, sambil memperhatikan beberapa ahli sihir yang sedang melakukan peregangan. Mereka menggunakan seragam dengan pola yang indah. Tak seperti seorang ahli menurutku, mereka kelihatan muda.
“Apa tak masalah mengeluarkan sihir di dalam istana?”
Tanyaku.
“Oh.. tak masalah. Lagipula yang dikeluarkan juga bukanlah sihir berkekuatan besar.”
“Tapi.. itu berarti kerajaan membatasi latihan para ahli sihir, bukan? Tidakkah itu kurang efisien?”
“Aha.. jangan terlalu memandang tinggi ahli sihir kerajaan. Umumnya manusia memang tidak memiliki Reft sebesar kamu.. mengeluarkan sihir seperti Detonation saja sudah berat.”
Ucap Ratu, dia tersenyum tapi situsainya sangat canggung karena Ratu meremehkan pasukannya sendiri.
Yah, bukan berarti aku meremehkannya, masalahnya aku juga tidak tahu tingkatan rata-rata seorang ahli sihir.
“Detonation? Sihir macam apa itu?”
“Nona, Detonation adalah sejenis sihir ledakan, tetapi anda bisa mengatur sendiri seberapa besar ledakannya dari jumlah Reft. Anda yang seorang Dewi mungkin bisa membuat suhu ledakan sampai miliaran derajat panasnya.”
Jawab Seiren.
Eh? Serius? Miliaran derajat? Suhu sepanas itu bisa untuk memasak sup satu semesta, apa tak masalah kalau aku berkemungkinan untuk mengeluarkan sihir seperti itu?
Tapi memikikannya saja sudah menyeramkan, aku harus menjauhi sihir-sihir semacam itu.
“Baiklah, semuanya berkumpul! Ada yang ingin kusampaikan!”
Ratu berteriak kepada para ahli sihir. Beberapa menit setelahnya, mereka sudah berbaris rapi seperti seorang tentara.
Kurang lebih mereka berjumlah 20 orang, dengan laki-laki dan perempuan yang jumlahnya acak. Sedangkan aku, Rayen, dan Ratu berbaris di depan mereka. Cara ahli sihir memandang kami tidak secanggung para penjaga lainnya. Bagaimanapun juga mereka masih muda, Ratu tidak sehebat itu di mata mereka.
“Mulai sekarang, wanita ini akan bergabung dengan kalian sebagai ahli sihir kerajaan. Sedangkan pria ini akan membantu kalian dalam pelatihan fisik!”
Ucap Ratu.
Rayen tampak terkejut, dia tak menyangka kalau akan menjadi pelatih para ahli sihir ini. Sebenarnya alasan Rayen menjadi pelatih adalah karena aku juga. Pagi tadi ketika kami bertemu dengan Ratu, aku memintanya untuk merekomendasikan Rayen.
Tak masalah, meskipun sebenarnya kemampuan Rayen dalam berpedang tidak sebaik itu, tapi nantinya aku akan menggunakan skill tertentu untuk meningkatkan kemampuannya.
“Aku ingin..”
“Perkenalkan, namaku Darren Corter, mulai sekarang aku akan menjadi pelatih kalian!”
Aku memotong penjelasan Ratu, dan dengan percaya diri aku maju beberapa langkah dan berteriak seperti itu di depan mereka.
Tentu saja ini menjadi sedikit mengejutkan, terlepas dari jabatan mereka sebagai ahli sihir, mereka semua tetaplah remaja yang mementingkan kekuatan.
“Hei, apa-apaan! Kau baru datang dan ingin menjadi pelatih kami?!”
Bentak seorang laki-laki yang berbaris di depan, badannya bagus tetapi entahlah untuk kelakuannya. Dia tipe orang yang akan mementingkan dirinya sendiri, hanya dari tatapannya saja aku sudah tahu.
Aku menghiraukannya, berpura-pura tidak mendengar.
“Dan seperti yang kalian dengar tadi, mulai sekarang pria ini, Colt Rayen, juga akan menjadi pelatih kalian.. kumohon jangan meremehkan kemampuan kami!”
Ekspresi mereka jelas bertambah kesal, mulai terdengar bisikan-bisikan menyebalkan diantara mereka. Nah, disinilah kemampuanku sebagai lulusan ilmu sosial bisa terpakai. Ketika seseorang berdebat, akan ada banyak yang mengikuti pendapat yang dominan, tapi yang bijak pasti memiliki pemikirannya sendiri.
Ada wanita yang hanya diam, menelan perkataanku mentah-mentah, tapi ada juga tipe wanita bodoh yang hanya bisa mengikuti egonya. Sumpah, tipe wanita yang hanya bisa berisik hanya akan merepotkan saja, sama seperti direktur.
“Kalau kalian memang tidak sepercaya itu kepadaku, bagaimana kalau kalian bertarung melawanku.. fisik, sihir, kalian bebas menggunakannya!”
Ucapku dengan wajah menantang.
Tak usah ditanyakan lagi, mereka tentu saja menerima tantangan itu. Perempuan baik-baik yang tidak berniat melawan juga terpaksa ikut kedalam duel melawanku, walau terlihat wajah takut disana. Maaf ya, gadis-gadis sekalian, aku harus membuktikan perbedaan kekuatan kita disini.
-
Ratu juga hanya menurut, kalau aku yang berkata, Ratu pasti akan mengabulkannya. Yah, entah kenapa Ratu Megaira tampak lebih sopan tanpa adanya Alekto dan Tisifon.
Tak ada yang perlu dipersiapkan dalam duel satu lawan satu, mereka hanya perlu menepi dan mempersilahkan dua orang kontestan untuk maju. Aku yang menjadi penantangnya, dan yang menjadi lawan pertamaku adalah seorang remaja pria berbadan kekar.
Sepertinya dia berbaris di belakang tadi, jadi aku tidak sempat melihatnya. Tapi sudah kupastikan kalau dia memang kuat, tipe orang sepertinya hanya menganggap lawan sebagai lawan, entah itu wanita atau anak kecil.
“Baiklah.. mulai!”
Rayen memberi aba-aba mulai dengan menurunkan tangannya.
Tak sempat aku bersiap, lawanku langsung melancarkan serangan. Walau dengan badannya yang sangat besar itu, dia bisa menjaga kecepatannya di tahap yang mengerikan. Lengah sedikit saja, sebuah hantaman kuat akan menghancurkan kepalaku.
Benar, dia dengan kecepatan luar biasa mampu memukulku di akurasi yang tepat. Tapi sayangnya, yang tadi itu tidak cukup untuk melawanku. Bahkan tanpa melihat pun, tubuhku akan reflek melindungi diriku sendiri. Tiba-tiba saja kedua tanganku sudah berada tepat di depan wajahku, menahan pukulan beratnya.
Terkejut melihat diriku yang berhasil menangkis pukulannya, ia mulai menggunakan tangan kirinya juga, lagi-lagi di tempat sasaran yang sama. Serangan yang kedua itu berhasil kuhindari, aku menunduk dalam, dan dengan keras memukulnya di antara dada dan perut. Maaf saja, itu pasti terasa sangat sakit. Bagaimana tidak, tubuhnya yang besar sekalipun bisa terlempar sejauh 5 meter hanya karena pukulan ringanku.
“Eh?? Yang benar saja..”
Ucapan-ucapan ketidakpercayaan dari para ahli sihir yang lain, ketika melihat rekan mereka terpental dan berbaring lemas di lantai.
Sebenarnya ini juga kurang realistis menurutku, bayangkan saja seorang gadis yang mampu membuat pria besar terpental, apalagi dengan tubuhku yang terbilang kecil. Aku tak tahu apakah itu memalukan atau menakutkan.
Lawan kedua maju, masih seorang pria tetapi dengan badan yang lebih kecil. Tidak, badannya memang berotot, tapi kalau dia menggunakan seragam justru terlihat samar. Kalau lawan kedua ini tampaknya adalah seseorang yang pandai dan banyak bicara. Tidak ada komentar, kita lansung bertarung saja!
“Mulai!”
Begitu pertandingan dimulai, pria ini lansung menjulurkan tangannya dan mulai merapal sihir. Sedikit demi sedikit lingkaran sihir terbentuk di depan telapak tangannya.
“Wahai Dewi.. berikanlah hambamu ini kekuatan yang engkau bekahi.. Jurus Rahasia Elemen ke-3, Rumble Lightning!”
Sebuah cahaya petir yang menjalar dengan cepat, keluar dari lingkaran sihir itu. Walau itu petir sekalipun, gerakannya agak sedikit lambat menurutku, kekuatannya juga tidak besar. Apakah dia menguasai sihir ini? Itulah yang kupikirkan.
Yah, karena sihirnya terlalu lemah, itu bisa dengan mudah ditangani oleh Seiren, ia membuat kobaran api yang melahap listrik itu untuk melindungiku.
Lalu apa yang harus kulakukan untuk mengalahkannya, ya? Dia terlalu panik ketika sihirnya kulahap, apa jangan-jangan dia tidak memiliki jurus lain? Aduh, repot kalau begini jadinya. Kalau aku menggunakan Handless Pointing itu terlalu berlebihan. Starlight Eternity? Kurasa pedang itu bukanlah hal yang bagus, omong-omong dimana pedang itu sekarang berada ya?
Kalau begitu, aku akan menggunakan kemampuan yang sama dengan miliknya saja.
“Rumble Lightning!”
Tentu saja sihir yang kuciptakan tanpa rapalan, langsung menuju ke namanya dan tahap fase sihir. Tapi sihir yang kuciptakan sangat berbeda dengan miliknya. Kalau miliknya hanya berdiameter 1 meter, milikku mungkin bisa 7-10 meter, intinya itu benar-benar menutupi pandanganku dengannya.
Sebuah sambaran petir yang 10 kali lebih kuat dari sebelumnya, terhempaskan ke arahnya dengan sangat cepat. Tentu saja dia tidak bisa menghindar, badannya gosong dan rambutnya berdiri dengan bentuk yang lucu.
Astaga, kalau begini jadinya akan membosankan. Orang-orang yang berani maju duluan ternyata adalah orang-orang lemah, tak ada artinya aku menantang mereka kalau begini. Apakah tidak ada yang bisa membuatku serius begitu? Bercanda sih, kalau aku serius mungkin satu kerajaan ini akan hancur.
Sial, perasaan tidak enak apa ini?
Wanita itu memang benar cantik, tapi tatapannya sangat dingin. Bola matanya yang berwarna biru terang seperti air, seolah merefleksikan dirinya sebagai manusia es. Dia tidak menekuk alisnya, hanya saja matanya tampak tenggelam seperti orang yang mengantuk.
Dia tidak membawa apapun di kedua tangannya, asumsikan saja kalau dia menggunakan sihir jarak jauh. Dari
cara dia berdiri, tidak terlihat sedikitpun bekas pertarungan, maksudku dia berdiri seperti wanita pada umumnya, merapatkan kaki dan kedua tangan. Ini agak sedikit membingungkan menuruku.
Masalahnya aura yang dia keluarkan sedikit berbeda dengan manusia biasa.
Astaga, aku benar-benar tidak melihat wanita ini sebelumnya. Aku bahkan tidak melihat dirinya melakukan peregangan, aku juga tidak melihatnya berbaris. Ini agak berbeda dengan pria berbadan kekar tadi, dia sempat melakukan peregangan. Tetapi wanita ini berbeda, seolah-olah dia baru datang dan muncul begitu saja.
“Mula..”
Ketika Rayen mengangkat tangannya, dan hendak menurunkannya sambil memulai pertarungan, entah kenapa itu semua tiba-tiba berhenti. Ya, semuanya benar-benar berhenti. Atau mungkin aku harus berkata kalau waktulah yang telah berhenti.
Apa Reftia menemuiku lagi? Tidak, sepertinya bukan begitu. Warna dunia ini biru muda dengan unsur-unsur putih, ini pasti bukan ulah Reftia.
Dan juga suhu semakin dingin, ada apa ini sebenarnya?
“Kau ini makhluk apa sebenarnya?”
Teriak lawanku sangat keras, suaranya menggema di ruangan yang membeku ini.
Ah, tak salah lagi kalau dia membekukan waktu. Tapi tak kusangka kalau membekukan waktu akan memberikan dampak suhu pada tubuh, kalau begini seolah-olah ruangan ini menjadi sebuah pendingin raksasa.
Aku juga tidak bisa merasakan kehangatan dari Seiren, ketika aku memanggilnya pun dia tidak menjawab. Gawat juga kalau begini.
“Ada apa?! Aku sedang tidak ingin bermain-main loh..”
Jawabku.
“Jangan bercanda, cepat jawab saja pertanyaanku.. siapa sebenarnya kau ini?!”
Barulah dia menunjukkan keseriusannya dengan menekuk alisnya. Beberapa buah pisau yang terbuat dari es, muncul secara tiba-tiba dan melayang di atas gadis itu, seolah pisau-pisau itu menodongku dan bersiap untuk menusuk.
“Kalau kau tidak menjawab, aku akan membunuhmu! Kau harus tahu kalau ini adalah ruangan kekuasaanku, aku bisa merobek semua yang ada di ruangan ini!”
“Meskipun kau mengancamku pun.. seperti yang kau lihat, aku ini adalah manusia!”
Jawabku santai. Tak ada yang perlu ditakutkan dari situasi ini. Walaupun wanita itu memiliki pandangan yang aneh, sebenarnya dia sedikit kikuk ketika berbicara di ruangannya sendiri. Apakah itu berarti dia tidak pernah menggunakan kemampuan ini, ya?
“Bohong! Tak ada manusia yang mengeluarkan aura sekuat dirimu.. kekuatan fisik yang sangat besar, jumlah Reft yang tidak terhingga, sampai sihir tanpa rapalan. Dewi mewajibkan umat manusia untuk menggunakan rapalan! Jawab aku atau aku akan benar-benar menghabisimu!”
“Lalu kalau aku menjawab, apa yang ingin kau lakukan? Dalam tahap ini aku bisa membuat banyak kebohongan dengan mengaku sebagai malaikat atau semacamnya!”
“Itu..”
Jawabnya ragu, dia mengalihkan pandangannya. Sudah kuduga, dari reaksinya itu.
“Apa ada seseorang yang menyuruhmu melakukan ini?”
Tanyaku sambil mendekat.
Wanita itu tersentak dan keseriusannya mulai meningkat. Pisau-pisau es yang mengambang di atas kepalanya semakin bertambah besar dan tebal, itu terus-menerus menghisap udara dingin di sekitarnya. Ketika aku berjalan mendekat dengan tenang, wanita itu kian panik seiring langkahku berjalan.
Berulang kali dia mengingatkanku untuk berhenti, tapi nadanya yang ketakutan justru tidak terdengar seperti peringatan. Ini aneh sekali, padahal dia-lah yang mengancamku tadi, kenapa tiba-tiba semangatnya padam begini?
Dengan wajah terpaksa, gadis itu meluncurkan pisau-pisaunya layaknya peluru. Jumlahnya sangat banyak, dan semuanya langsung mengarah kepadaku tanpa toleran. Kukira itu apa, ternyata hanya es biasa, kalau begitu ini tidak ada artinya untuk skill agung milikku.
Handless Pointing!
Semua pisau itu berhenti ketika jaraknya hanya 1 meter dari badanku. Sayang sekali karena aku telah mendapatkan kendali dari pisau-pisau itu. Meskipun yang mengaktifkan sihirnya bukanlah aku, tapi dengan Handless Pointing aku bisa menggerakan apapun. Sekarang puluhan es itu berada di pihakku, aku menodongkan semuanya kepadanya.
Tentu saja itu membuatnya takut dan gemetar.
Tanpa pikir panjang, aku menggerakan dua pisau ke kedua kakinya. Itu menusuk tepat di pahanya, tapi tenang saja lukanya tidak dalam sama sekali. Tetap saja itu membuatnya lemas dan tidak bisa berdiri. Air mata mulai keluar ketika pisau es itu menancap di kedua kakinya.
Wanita itu berteriak, tapi dengan Handless Pointing aku segera menutup mulutnya, dan dengan itu dia tidak akan bisa mengeluarkan suara apapaun.
Kenapa aku sesadis ini, ya? Seperti ada alasan tersendiri untuk itu.
Aku mengangkat wajah wanita itu dengan kasar, dia tampak kesakitan hanya karena itu.
Ah, aku paham, sangat-sangat paham. Tampaknya aku melihat ada sedikit drama dalam kasus ini, wanita ini, yang sedang kuangkat wajahnya, dia menunjukkan mata yang sangat berbeda dari sebelumnya. Mata yang berkaca-kaca, sedih dengan penuh ketulusan. Itu sama sekali bukan mata yang jahat.
Aku melepaskan cengkramanku dan mencabut pisau dari kedua kakinya. Tapi aku tetap membiarkan luka itu, takutnya dia hanya berpura-pura dan memiliki kesempatan untuk kabur. Bagaimanapun, dia jujur ketika berkata ruangan ini miliknya.
“Kau.. apa ada yang menyuruhmu untuk melakukan ini?”
Jawabku. Aku membalikkan badan dan bermain-main dengan pisau es yang ternyata tipis. Sama sekali tidak ada keinginan dari hatiku untuk melihat wajahnya. Kendali Handless Pointing juga kuperkecil, dengan begini dia bisa berbicara meskipun sedikit berat.
“Katakan saja.. siapa sebenarnya kau ini!”
Dia mengatakan itu dengan nada lemah.
Tenang saja, ini terlalu jelas untuk detektif Corter. Saatnya deduksi.
“.. begitu. Kau diancam rupanya? Kau diancam oleh seseorang yang menginginkan informasi tentangku begitu? Memangnya dia mengancammu dengan cara apa?”
Gadis itu tidak menjawab. Tampaknya masih ada keraguan dalam hatinya untuk berpindah kubu. Tapi itu tidak berlangsung lama, dia tetaplah wanita lemah.
Aku menusuk kembali dua pisau itu ke kakinya, sengaja aku tidak menusukkannya kembali di bekas luka yang sama. Dengan begitu, ada empat lubang yang tercipta di kaki indahnya.
“Dia.. dia menyandera adikku. Orang itu menyandera adikku, dia bilang akan melepaskannya kalau aku berhasil membuktikkan bahwa kau adalah sosok agung!”
Cih, padahal informasi aku seorang Dewi baru saja tersebar kemarin, tapi kenapa gadis yang tidak kukenal ini bisa mengetahuinya. Apakah ada pengkhianat diantara tiga Ratu Erinyes?
“Hentikan saja! Aku bukan sosok agung atau semacamnya.”
“T-Tapi adikku!..”
Dia memang seseorang yang tulus, kalau saja bukan karena ancaman tidak mungkin seseorang sepertinya mau melakukan ini. Kalau begitu biar sesekali aku melakukan tugasku sebagai Dewi.
“Sebut saja siapa orang yang menyuruhmu?!”
“.. itu.. a-aku tidak tahu..”
Aku menusukkan pisaunya lebih dalam, mungkin saja dia berbohong.
“Sumpah, aku tidak berbohong, aku tidak mengetahui namanya. Dia menggunakan jubah aneh, seluruh wajahnya tertutup dan dia jarang bicara.”
“.. apa tak ada petunjuk?”
“Kurasa.. dia sering menyebut nama.. Iblis Agares(?)”
Oi, oi, serius? Iblis lagi, iblis lagi, kapan permasalahan ini akan berakhir?